Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru

   Halwa menatap hamparan danau di belakang kamar hotel. Dari balkon hotel, ia bisa melihat view hotel yang indah. Meskipun bukan hamparan lautan, karena di kota ini tidak ada laut, akan tetapi suasana danau cukup membayar keinginan hati Halwa yang ingin melihat hamparan lautan.

   Deburan ombak buatan di danau itu, mengombang-ambing para selancar yang berselancar. Mereka begitu asyik dengan pasangannya menikmati ombak di danau yang sengaja diciptakan. Untuk sejenak kesedihan Halwa terendap oleh pemandangan di depannya.

   Suasana di pinggir danau semakin ramai, para pengunjung hotel seakan tumpah ruah memenuhi tepi danau. Mereka menikmati berbagai permainan di danau itu selain berselancar di ombak buatan.

   Halwa mendesah, terbersit inginnya dalam dada bisa menikmati indah dan hangatnya suasana danau di kawasan Hotel Daisy ini bersama pasangan. Namun, sepertinya itu semua tidak mungkin, sebab Cakar nyatanya tidak pernah membersamai kehadirannya di dalam kamar hotel ini. Dia pergi entah ke mana.

   Cakar pergi setelah tadi menerima panggilan dari seseorang, sama halnya saat siang itu ketika baru sampai hotel, setengah jam kemudian Cakar pergi setelah menerima panggilan dari seseorang.

   "Sabar, kamu harus sabar Halwa. Resiko menikah dijodohkan dengan orang yang tidak menyukai kita, ya seperti ini. Kamu harus tetap semangat dan bertahan sampai kamu tidak sanggup bertahan lagi nanti." Halwa bergumam kecil, menguatkan dirinya sendiri.

   "Salah aku juga, kenapa aku menerima permintaan Mama Fajarani kala itu? Dan kini terbukti, Mas Cakar sama sekali tidak pernah menganggap pernikahan ini." Halwa mendengus sedih dan menyesali keputusannya kala itu yang menerima permintaan Bu Fajarani untuk dijodohkan dengan Cakar.

   Untuk membunuh bosan, Halwa masuk ke dalam kamar, lalu membuat kopi seduh yang sudah tersedia di bar mini dalam kamar itu. Wangi kopi seketika menguar seisi kamar itu.

   Halwa sesekali memang menyukai kopi, baginya efek kopi sangat efektif menghilangkan sakit kepala karena memikirkan suatu masalah.

   Halwa kembali ke balkon, di sana dia menikmati kopi itu dengan nikmatnya.

   Tidak lama dari itu, pintu hotel dibuka. Cakar masuk dengan perlahan seakan tidak ingin mengganggu penghuni kamar. Wangi kopi langsung tercium saat memasuki kamar hotel. Mata Cakar mengedar ke sekeliling ruangan. Namun, tidak ditemukan keberadaan Halwa. Ruangan terakhir yang belum ia lihat hanyalah balkon. Cakar segera mengayun langkah kakinya ke sana. Dan benar saja, Halwa ada di sana dengan secangkir kopi yang masih ngebul.

   Cakar menatap lekat ke arah Halwa yang menikmati kopi dengan tatapnya ke arah danau. Cakar biarkan Halwa tanpa ingin mengganggunya. Pikirannya melayang-layang antara Halwa dan wanita seprofesinya yang dia temui tadi di RS.

   Beberapa saat kemudian, Halwa sudah menghabiskan kopinya. Dia menyudahi kesendiriannya di balkon. Tubuh Halwa bangkit dan berbalik menuju kamar. Pintu balkon terdengar dibuka, sehingga mengejutkan Cakar yang tengah membaringkan tubuh di ranjang.

   "Mas Cakar sudah pulang, Mas?" Halwa terkejut saat mendapati kaki Cakar menjuntai di ranjang. Dia tidak menyadari sejak kapan Cakar pulang.

   "Mas, mau aku ambilkan kopi?" tanya Halwa membuat Cakar bangkit dan duduk di bibir ranjang.

   "Tidak perlu. Siapkan dari sekarang barang bawaanmu untuk kepulangan kita besok," ucapnya seraya berdiri lalu menuju kamar mandi. Halwa menatap miris kepergian Cakar, sikapnya sama sekali tidak hangat dan merasa bersalah.

   Saat Cakar sudah memasuki kamar, tiba-tiba sebuah panggilan di Hp Halwa berbunyi. Salah satu nama temannya tertera di sana.

   "Assalamualaikum. Iya Ran ada apa?" sambut Halwa pada orang yang berada di dalam telpon.

   "Nggak. Aku cuma mau nanya sama kamu. Tapi maaf ganggu bulan madu kamu. Ini tentang suami kamu. Apakah dari kemarin, kamu selalu bersama suami kamu di hotel itu?" tanya Rani.

   Sesaat setelah Rani bertanya, Cakar sudah keluar kamar mandi dan menatap lurus ke arah Halwa yang kini sedang menerima sebuah panggilan.

   "Memangnya kenapa Ran?" Halwa melontarkan pertanyaan balik pada Rani. Sementara Cakar masih menatap Halwa dan mendekat.

   "Kamu tidak kehilangan suami kamu sejak kemarin di kamar hotel? Soalnya kemarin aku sempat lihat suami kamu mendatangi salah satu rumah sakit. Sepertinya dia sedang menjenguk seseorang deh," ujar Rani lagi.

   Halwa terperangah setelah mendengar berita dari salah satu teman dekatnya itu. Berita dari temannya serta kepergian Cakar kemarin dan tadi, cukup menjawab kebingungan Halwa, ke manakah Cakar pergi. Namun, tatapan Cakar, memaksa Halwa berkata bohong.

   "Ti~tidak Ran. Suami aku tidak pergi ke mana-mana. Aku tidak kehilangan suami aku sedetikpun. Mungkin saja itu orang yang mirip dengan suami kamu," kelit Halwa dalam tatapan mata Cakar. Setelah mendengar ucapan Halwa seperti itu, Cakar terlihat lega.

   "Tapi, beneran itu mirip suami kamu Hal," teguhnya meyakinkan Halwa.

   "Mungkin itu orang yang mirip saja Ran. Sudah, biarkan saja, tidak usah dipikirkan." Halwa kembali menutupi kebohongan suaminya.

   "Oh ya udah jika itu bukan suami kamu. Kalau gitu aku tutup telponnya ya. Selamat menikmati bulan madu," ucap Rani menutup perbincangannya dengan Halwa.

   Sejenak Halwa mematung, sembari menatap ponselnya yang sudah terputus dari sambungan telpon.

   "Kenapa, masih memikirkan jawaban kamu tadi? Kamu menyesal sudah membohongi teman kamu itu?" sentak Cakar seraya menatap lebih tajam ke arah Halwa.

   "Ti~tidak, Mas," jawabnya gugup.

***

  Besoknya seperti apa yang diucapkan Cakar, Halwa kini sedang membereskan barang-barangnya ke dalam koper untuk pulang. Cakar sudah siap dan kini dia tengah berdiri menantikan Halwa menyelesaikan paking barang-barangnya.

   "Bisakah kamu cepat sedikit. Aku tidak biasa menunggu lama. Ubahlah ritme gerakan kamu itu supaya lebih gesit, tida seperti kura-kura begini," kesalnya tidak sabar dengan Halwa yang dianggapnya lambat.

   "Iya, Mas," patuhnya seraya mempercepat gerakannya. Tidak lama dari itu, keduanya kini mulai keluar dari kamar hotel dan bersiap cek out.

   Di parkiran hotel, mobil yang kemarin mengantar mereka sampai hotel Daisy, sudah ada bersama dengan Supirnya. Cakar dan Halwa segera memasuki mobil dan duduk tanpa ada yang bersuara.

   Mobil pengantin itupun segera melaju dan keluar dari area hotel. Kini tujuannya adalah ke rumah baru yang akan ditempati Halwa dan Cakar.

   Satu jam kemudian, mobil pengantin tiba di depan sebuah rumah yang kelihatannya resik dan asri. Rumah yang terlihat bikin betah penghuninya.

   Cakar menuruni mobil, disusul Halwa yang memang masih bingung dengan rumah yang kini di depan matanya.

   "Cepatlah Halwa," seru Cakar seraya menarik tangan Halwa supaya mendekat dengannya. Cakar dan Halwa berjalan bersamaan menuju depan pintu.

   Tiba di depan pintu, Cakar mulai meraih handle pintu dan menarik tuas pintu. Perlahan pintu itu terbuka. Saat celah pintu semakin membesar, serabutan suara sebagai kata sambutan, terdengar begitu riuh.

   "Selamat datang di rumah baru pengantin baru."

   Halwa cukup terkejut kala mendapati seluruh keluarga Cakar berada di sana dan menyambutnya

Terpopuler

Comments

Alivaaaa

Alivaaaa

sabar ya Wa, tapi kalo kamu sudah tak sanggup lagi mending pergi...

2024-12-14

2

Lita Pujiastuti

Lita Pujiastuti

aq kok jd kezel sm Cakar.....pengen tak cakar aja....klo mmg gk suka. gk perlu ketus juga...

2024-12-31

1

Rosmah Asrul

Rosmah Asrul

sabar ja halwa

2024-12-02

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pernikahan
2 Bab 2 Fakta Seli
3 Bab 3 Ditinggal Sendiri
4 Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5 Bab 5 Bohong Lagi
6 Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7 Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8 Bab 8 Halwa Ketiduran
9 Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10 Bab 10 Hijau Pangkat
11 Bab 11 Malam Pertama
12 Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13 Bab 13 Kemarahan Cakar
14 Bab 14 Ketagihan
15 Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16 Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17 Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18 Bab 18 Ada yang Cemburu
19 Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20 Bab 20 Seragam Persit Bekas
21 Bab 21 Halwa Linglung
22 Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23 Bab 23 Acara Persit
24 Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25 Bab 25 Pengagum Halwa
26 Bab 26 Cemburukah?
27 Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28 Bab 28 Merawat Cakar
29 Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30 Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31 Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32 Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33 Bab 33 Cakar Khawatir
34 Bab 34 Cakar Vs Aldian
35 Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36 Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37 Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38 Bab 38 Menengok Bayi Rani
39 Bab 39 Menyosor Istri Orang
40 Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41 Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42 Bab 42 Ada Yang Berbeda
43 Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44 Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45 Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46 Bab 46 Pergi
47 Bab 47 Surat Dari Halwa
48 Bab 48 Kebingungan Cakar
49 Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50 Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51 Bab 51 Merasa Bersalah
52 Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53 Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54 Bab 54 Titik Terang
55 Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56 Bab 56 Sosok Halwa
57 Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58 Bab 58 Hamil
59 Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60 Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61 Bab 61 Ketahuan
62 Bab 62 Dihubungi Aisyah
63 Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64 Bab 64 Pertemuan
65 Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66 Bab 66 Boyong Dua
67 Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68 Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69 Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70 Bab 70 Ulang Tahun Persit
71 Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72 Bab 72 Bertemu Nilam
73 Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74 Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75 Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76 Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77 Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78 Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79 Bab 79 Tanda Melahirkan
80 Bab 80 Melahirkan
81 Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82 Bab 82 Besanan
83 Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84 Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85 Karya Baru
86 Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1 Pernikahan
2
Bab 2 Fakta Seli
3
Bab 3 Ditinggal Sendiri
4
Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5
Bab 5 Bohong Lagi
6
Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7
Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8
Bab 8 Halwa Ketiduran
9
Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10
Bab 10 Hijau Pangkat
11
Bab 11 Malam Pertama
12
Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13
Bab 13 Kemarahan Cakar
14
Bab 14 Ketagihan
15
Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16
Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17
Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18
Bab 18 Ada yang Cemburu
19
Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20
Bab 20 Seragam Persit Bekas
21
Bab 21 Halwa Linglung
22
Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23
Bab 23 Acara Persit
24
Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25
Bab 25 Pengagum Halwa
26
Bab 26 Cemburukah?
27
Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28
Bab 28 Merawat Cakar
29
Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30
Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31
Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32
Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33
Bab 33 Cakar Khawatir
34
Bab 34 Cakar Vs Aldian
35
Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36
Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37
Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38
Bab 38 Menengok Bayi Rani
39
Bab 39 Menyosor Istri Orang
40
Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41
Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42
Bab 42 Ada Yang Berbeda
43
Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44
Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45
Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46
Bab 46 Pergi
47
Bab 47 Surat Dari Halwa
48
Bab 48 Kebingungan Cakar
49
Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50
Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51
Bab 51 Merasa Bersalah
52
Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53
Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54
Bab 54 Titik Terang
55
Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56
Bab 56 Sosok Halwa
57
Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58
Bab 58 Hamil
59
Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60
Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61
Bab 61 Ketahuan
62
Bab 62 Dihubungi Aisyah
63
Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64
Bab 64 Pertemuan
65
Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66
Bab 66 Boyong Dua
67
Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68
Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69
Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70
Bab 70 Ulang Tahun Persit
71
Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72
Bab 72 Bertemu Nilam
73
Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74
Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75
Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76
Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77
Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78
Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79
Bab 79 Tanda Melahirkan
80
Bab 80 Melahirkan
81
Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82
Bab 82 Besanan
83
Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84
Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85
Karya Baru
86
Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!