Bab 8 Halwa Ketiduran

   Tepat jam 22.30 malam, Cakar pulang dengan motornya dalam keadaan sangat lelah. Sehabis pulang dari kantor siang tadi, dia bersama teman-temannya merayakan ulang tahunnya yang ke-28 di kafe miliknya.

   Hampir semua teman se-letting maupun adik letting, ikut merayakan ulang tahun Cakar. Tidak lupa beberapa KOWAD adik letting berada dalam keramaian perayaan ulang tahunnya. Sebagain dari mereka ada yang memberi kado ada juga yang tidak.

   Biasanya jika ada salah satu anggota yang ulang tahun di kesatuannya, maka mau tidak mau harus mentraktir makan. Kebetulan Cakar memiliki usaha kafe, jadi dia tidak perlu mentraktir teman-teman se-letting maupun adik letting di luar kafenya.

   Hari itu semua menu di kafenya khusus disajikan hanya untuk mentraktir teman-temannya. Dan hari itu otomatis kafe miliknya ditutup untuk umum atau libur.

   Semua kado pemberian teman-temannya ia bawa ke rumah. Padahal Cakar tidak mengharapkan kado apapun dari mereka. Kalaupun mereka memberi kado, sudah bisa ditebak dalamnya adalah benda-benda tidak asing kebutuhan saat menjadi siswa pendidikan pertama kali. Yakni sabun, odol, celana kolor, handuk kecil. Ada juga kaos kaki.

   Semua kado itu walaupun harganya tidak seberapa, tapi mampu mengingatkan pada momen besar dan tidak terlupakan saat pendidikan menjadi siswa bintara.

   Cakar masuk rumah dengan kunci serep yang selalu dia bawa. Saat pertama kali membawa Halwa tinggal di rumahnya, Cakar sudah mewanti-wanti, jika dia pulang melebihi jam delapan malam, maka Halwa tidak perlu menunggunya. Selain itu kunci rumah harus dicabut setelah dikunci, agar saat Cakar pulang ia tinggal membuka pintu dengan kunci serep yang dia bawa.

   Cakar langsung menuju tangga. Suasana sepi begini sudah dipastikan kalau Halwa sudah terlelap. Namun, anehnya lampu ruang tengah masih menyala. Biasanya kalau lampu tengah masih menyala, itu tandanya Halwa masih menunggu dan terjaga. Padahal Cakar pernah mewanti-wanti tidak perlu menunggunya jika kepulangannya di atas jam delapan malam.

   "Buat apa dia menunggu sampai selarut ini? Bukannya sudah aku ingatkan jangan sampai menunggu? Lagipula tidak ada gunanya dia menunggu, toh dia tidak akan memberikan surprise ulang tahunku. Dia sama sekali tidak akan mengingat ulang tahunku," duganya sembari mengayun langkahnya menuju tangga.

   Namun, Cakar mengurungkan niatnya menaiki tangga. Wangi kuah bakso dari arah dapur yang menguar di dalam ruangan, memaksanya untuk pergi ke dapur. Jangan-jangan Halwa saat ini sedang di dapur dan menghangatkan kuah bakso yang tadi pagi disiapkan untuk sarapannya.

   "Wanginya kuah bakso ini, aku jadi lapar dan ingin makan bakso. Sepertinya si Halwa saat ini sedang di dapur dan sengaja menghangatkan kuah bakso tadi pagi," duganya seraya berjalan ke dapur.

   Tiba di dapur, wangi bakso itu semakin menggugah selera. Cakar tidak sabar ingin segera menyantapnya. Lampu dapur masih menyala, pertanda Halwa memang di sana.

   "Halwa, kamu di sini?" ujarnya bertanya. Akan tetapi tidak ada jawaban. Cakar masih yakin kalau Halwa ada di dapur, dan dia kini mencarinya ke kamar mandi dapur. Namun, Halwa tidak ada.

   "Ke mana dia? Kompor saja masih menyala," bisiknya seraya melihat ke atas kompor yang ternyata teronggok kuah bakso. Sepertinya Halwa sengaja menghangatkan kuah bakso itu untuk makan malam.

   Cakar mematikan kompor itu, lalu dia membalikkan badan. Mendapati Halwa tidak ada di dapur, Cakar mengurungkan niatnya. Tadinya dia ingin menyantap bakso, tapi melihat Halwa tidak ada di sana ia tidak berselera lagi.

   "Kenapa kompor ditinggalkan menyala? Kenapa si Halwa?" tanyanya sepanjang menaiki tangga. Tiba di depan pintu kamar, Cakar segera membuka pintu lebar-lebar. Bahkan lampu kamar saja masih menyala. Dugaannya Halwa memang belum tidur dan masih menunggunya.

   "Halwa, kamu di mana?" teriaknya menggema seisi ruangan. Namun tidak ada jawaban. Cakar menyisir kamarnya. Rupanya Halwa tidak jauh dari situ, dia justru terbaring di atas sofa dengan sangat lelap.

   Cakar menggelengkan kepalanya, kelakuan Halwa benar-benar membuat dia marah. Terlebih mengetahui kompor dalam keadaan menyala, sementara Halwa saat ini sedang terbaring dan tidur nyenyak.

   "Halwa, Halwa?" teriaknya sembari menggoyang bahu Halwa kuat, sehingga saat itu juga Halwa langsung menggerakkan tubuhnya. Halwa terbangun dengan matanya yang belum melek sempurna. Sejenak Halwa mengumpulkan nyawanya untuk sadar sepenuhnya. Ketika nyawanya sudah terkumpul sepenuhnya dan matanya terbuka penuh, Halwa terkejut karena sudah didapatinya Cakar berdiri dengan wajah yang marah.

   Cakar menaruh kantong yang isinya merupakan kado-kado kecil dari teman-teman di kesatuannya, dengan sedikit kasar. Ia menatap tajam wajah Halwa yang kaget.

   "Mas Cakar, sudah pulang, Mas?" tanyanya dengan wajah yang masih kaget juga gugup, lalu Halwa bangkit.

   "Jam berapa ini? Kenapa aku bisa ketiduran?" ujarnya terdengar menyesal.

   "Ketiduran? Sejak kapan kamu ketiduran, dan sejak kapan kuah bakso kamu hangatkan di atas kompor?" Cakar bertanya dengan kening mengkerut dalam.

   Halwa bukan menjawab, dia segera mengayun kakinya menuju pintu kamar sembari berujar, "Kuah bakso." Halwa terperangah seakan baru diingatkan. Langkah kakinya terhenti kala tangan Cakar berhasil menahan lengan Halwa.

   "Mau ke mana? Mau matikan kompor yang sejak sore kamu nyalakan?" sengornya dengan tatap tajam. Halwa menunduk, dia merasa kebablasan dan ketiduran lalu lupa mematikan kompor sebelum naik ke kamar.

   "Maaf, aku lupa, Mas. Tadi, setelah sholat isya, kuah bakso ini aku panaskan sembari menunggu kamu. Aku lupa dan ketiduran," jawabnya sejujurnya.

   Cakar semakin kesal mendengar pengakuan Halwa. Dia marah karena Halwa sampai lupa menyalakan kompor lalu ditinggal ke kamar.

   "Ya ampun Halwa, kamu ini bodoh banget sih. Masa iya kamu tinggalkan kompor ke kamar sedangkan kompor dalam keadaan menyala? Kamu tidak khawatir terjadi kebakaran dan menghanguskan seisi rumah ini? Mending jika hanya isi rumah ini saja yang hangus, kalau kamu ikut terbakar, apakah kamu mau?" sentaknya lagi semakin tajam menatap Halwa.

   Halwa menunduk takut dengan amarah Cakar. Meskipun Cakar mengatakan akibat kompor lupa dimatikan itu bisa terjadi kebakaran dan menghanguskan rumah atau membakar dirinya, akan tetapi bagi Halwa ucapan Cakar yang menyentak ibarat intimidasi dan membuatnya takut.

   "Maafkan aku, Mas. Aku benar-benar lupa. Tadi sangat ngantuk setelah menunggu Mas Cakar belum pulang-pulang," alasannya lagi dengan tubuh masih merunduk.

   "Alasan. Lagipula ngapain juga kamu nunggu aku? Sudah kubilang kalau aku tidak pulang lebih dari jam delapan malam, kamu tidur saja. Tidak ada gunanya menunggu, toh aku tidak akan peduli sama kamu," tegasnya menyakiti hati Halwa.

   "Aku sengaja menunggu kamu Mas dari sore tadi, hanya untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun. Namun sayangnya aku kebablasan dan tertidur. Maafkan aku," tuturnya sembari berlalu keluar kamar dengan mata yang mulai berair.

   Cakar tersentak, ia benar-benar kaget. Karena tidak dia duga, Halwa ternyata ingat akan hari lahirnya.

   "Benarkah dia sengaja menungguku karena ingin mengucapkan selamat ulang tahun padaku?" tanyanya pada diri sendiri seraya matanya bergulir menuju bufet yang di atasnya teronggok sebuah kotak kado yang dibungkus.

   "Apakah itu kado dari Halwa?" Cakar menghampiri kado itu dan membukanya. Saat dibuka, ia sangat terkejut. Kira-kira kado apa yang diberikan Halwa untuk Cakar?

   Yang mau nebak, ayo komen di bawah ya.

Terpopuler

Comments

⋆.˚mytha🦋

⋆.˚mytha🦋

klu gua jadi halwa, gua kasih kado kopi yg udah gua kasih sianida biar dia koid sekalian 😤

2025-02-14

1

Rumah Aman

Rumah Aman

kalau akooh kasih aje ular kobra biar mampos tu laki tidak sadar diri hahaha

2024-12-05

1

Sandisalbiah

Sandisalbiah

jika pun tdk bisa menerima pernikahanya dgn Halwa tp gak harus bermulut tajam kan.. Cakar... seorang aparat tp gak bisa menjaga sikap ke istri...

2025-02-14

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pernikahan
2 Bab 2 Fakta Seli
3 Bab 3 Ditinggal Sendiri
4 Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5 Bab 5 Bohong Lagi
6 Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7 Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8 Bab 8 Halwa Ketiduran
9 Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10 Bab 10 Hijau Pangkat
11 Bab 11 Malam Pertama
12 Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13 Bab 13 Kemarahan Cakar
14 Bab 14 Ketagihan
15 Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16 Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17 Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18 Bab 18 Ada yang Cemburu
19 Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20 Bab 20 Seragam Persit Bekas
21 Bab 21 Halwa Linglung
22 Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23 Bab 23 Acara Persit
24 Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25 Bab 25 Pengagum Halwa
26 Bab 26 Cemburukah?
27 Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28 Bab 28 Merawat Cakar
29 Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30 Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31 Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32 Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33 Bab 33 Cakar Khawatir
34 Bab 34 Cakar Vs Aldian
35 Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36 Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37 Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38 Bab 38 Menengok Bayi Rani
39 Bab 39 Menyosor Istri Orang
40 Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41 Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42 Bab 42 Ada Yang Berbeda
43 Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44 Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45 Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46 Bab 46 Pergi
47 Bab 47 Surat Dari Halwa
48 Bab 48 Kebingungan Cakar
49 Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50 Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51 Bab 51 Merasa Bersalah
52 Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53 Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54 Bab 54 Titik Terang
55 Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56 Bab 56 Sosok Halwa
57 Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58 Bab 58 Hamil
59 Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60 Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61 Bab 61 Ketahuan
62 Bab 62 Dihubungi Aisyah
63 Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64 Bab 64 Pertemuan
65 Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66 Bab 66 Boyong Dua
67 Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68 Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69 Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70 Bab 70 Ulang Tahun Persit
71 Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72 Bab 72 Bertemu Nilam
73 Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74 Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75 Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76 Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77 Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78 Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79 Bab 79 Tanda Melahirkan
80 Bab 80 Melahirkan
81 Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82 Bab 82 Besanan
83 Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84 Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85 Karya Baru
86 Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1 Pernikahan
2
Bab 2 Fakta Seli
3
Bab 3 Ditinggal Sendiri
4
Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5
Bab 5 Bohong Lagi
6
Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7
Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8
Bab 8 Halwa Ketiduran
9
Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10
Bab 10 Hijau Pangkat
11
Bab 11 Malam Pertama
12
Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13
Bab 13 Kemarahan Cakar
14
Bab 14 Ketagihan
15
Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16
Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17
Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18
Bab 18 Ada yang Cemburu
19
Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20
Bab 20 Seragam Persit Bekas
21
Bab 21 Halwa Linglung
22
Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23
Bab 23 Acara Persit
24
Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25
Bab 25 Pengagum Halwa
26
Bab 26 Cemburukah?
27
Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28
Bab 28 Merawat Cakar
29
Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30
Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31
Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32
Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33
Bab 33 Cakar Khawatir
34
Bab 34 Cakar Vs Aldian
35
Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36
Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37
Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38
Bab 38 Menengok Bayi Rani
39
Bab 39 Menyosor Istri Orang
40
Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41
Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42
Bab 42 Ada Yang Berbeda
43
Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44
Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45
Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46
Bab 46 Pergi
47
Bab 47 Surat Dari Halwa
48
Bab 48 Kebingungan Cakar
49
Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50
Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51
Bab 51 Merasa Bersalah
52
Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53
Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54
Bab 54 Titik Terang
55
Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56
Bab 56 Sosok Halwa
57
Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58
Bab 58 Hamil
59
Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60
Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61
Bab 61 Ketahuan
62
Bab 62 Dihubungi Aisyah
63
Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64
Bab 64 Pertemuan
65
Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66
Bab 66 Boyong Dua
67
Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68
Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69
Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70
Bab 70 Ulang Tahun Persit
71
Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72
Bab 72 Bertemu Nilam
73
Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74
Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75
Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76
Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77
Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78
Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79
Bab 79 Tanda Melahirkan
80
Bab 80 Melahirkan
81
Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82
Bab 82 Besanan
83
Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84
Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85
Karya Baru
86
Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!