Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua

    Subuh menjelang, Halwa terbangun. Gema orang mengaji dari mesjid yang letaknya berjauhan sudah mulai terdengar.

   Sejenak ia melihat ke samping kanannya. Tubuh Cakar masih belum ada pergerakan, wajahnya memancarkan kelegaan. Entah karena hal tadi malam, sehingga subuh ini Halwa melihat wajah suaminya begitu adem dan tenang.

   Halwa mencoba bergerak. Namun seketika ada rasa perih yang menggigit persis gigitan semut di daerah vitalnya. Terbayang betapa gagahnya Cakar menguasainya semalam, sampai dua kali permainan. Ketika Cakar meminta untuk ketiga kalinya, dia tidak tega, sebab Halwa menangis dan memohon untuk beristirahat karena rasa sakit di bawah sana luar biasa.

   Halwa bangun menuruni ranjang, rasa perih seperti gigitan semut itu, kini kadang hilang kadang timbul. Tapi dia tidak menunda lagi untuk segera ke kamar mandi dan melakukan mandi besar. Di sana linangan air mata tumpah. Entah apa yang dirasakan Halwa, yang jelas setelah ia utuh telah dimiliki Cakar, bukan rasa bahagia yang dia rasakan. Tapi sedih yang dalam.

   Halwa menyudahi mandinya dan segera keluar kamar mandi. Bersamaan dengan itu, kumandang azan pun mulai diperdengarkan dari mana-mana. Halwa keluar kamar dan lebih memilih sholat di mushola loteng itu.

   "Ya Allah, semoga setelah kejadian tadi malam, Engkau hadirkan cinta dari Mas Cakar untukku. Aamiin." Halwa berdoa setelah menyelesaikan sholatnya. Seperti biasanya setelah sholat Subuh, ia akan berkutat di dapur menyiapkan sarapan dan ngopinya Cakar.

   Sementara itu, Cakar baru saja bangun saat mendengar kumandang azan bersahutan. Tubuhnya terasa enteng dan pegal yang biasa dideritanya kalau bangun tidur, kini seakan sirna. Terlebih ada perasaan lega di dalam dadanya saat membayangkan kejadian tadi malam.

   "Ternyata Halwa masih original. Aku yang pertama kali menyentuhnya," gumamnya bahagia. Juga noda darah yang tertinggal di sepre itu menandakan bahwa Halwa masih perawan, dan dia orang pertama yang berhasil membuka segelnya.

   Cakar berjalan menuju kamar mandi dengan senyum di wajahnya. Terbayang kembali jeritan dan penolakan keras dari Halwa saat tubuhnya dihentak kuat-kuat olehnya menandakan dia sangat kesakitan. Namun, Cakar tidak mengindahkan penolakan dan jeritan Halwa, ia terus berpacu sesuai hasrat yang melandanya.

   "Ternyata gadis caper itu pandai menjaga dirinya. Sungguh diluar dugaan," gumamnya segera membilas semua sabun dan sampo yang memenuhi kulit dan rambutnya.

   Cakar segera menuruni tangga dan menuju dapur. Di sana dia melihat punggung Halwa yang bergerak-gerak di wastafel. Sepertinya Halwa kini sedang mencuci piring.

   Wangi soto kali ini memenuhi ruangan dapur. Seperti biasa, Cakar memang harus sarapan pagi dengan makanan berat, sebab di kantor kadang kegiatan fisik sering dilakukan di pagi hari, sehingga ia butuh asupan karbo.

   "Terimakasih untuk semalam," bisiknya di pinggir pipi Halwa yang seketika memerah. Wanita muda itu tersentak, tanpa dikompromi kedua pipinya merona. Ia benar-benar malu atas kejadian semalam.

   Halwa tidak mengatakan sepatah kata pun, ia sangat malu jika mengingatnya.

   Cakar sudah berada di meja makan sembari memainkan Hp nya. Tanpa lama, Halwa segera mewadahi nasi di piring Cakar, ditambahi balado telur dan sambal.

   "Mas, sotonya mau dipisah atau disatukan?" tanya Halwa meyakinkan.

   "Lakukan saja seperti biasa," jawabnya masih datar, padahal semalam dia begitu lekat dan menikmati setiap lekuk tubuh Halwa. Halwa patuh, lalu menaruh sop di wadah lain. Mereka makan diam tanpa kata seperti hari biasanya.

   Setelah sarapan, Cakar bangkit dan bergegas meninggalkan ruang makan. Halwa mengikuti Cakar dan seperti biasa mengantar kepergian suaminya dari muka pintu.

   Cakar berhenti di sofa ruang tamu, dia memakai sepatu olah raga di sana. Kebetulan hari Jumat, memang jadwalnya olah raga. Cakar nampak mengenakan sepatu pemberian Halwa. Halwa senang, dalam hati ia berpikir mungkin ini pertanda kalau cinta mulai tumbuh di hati Cakar.

   "Mas Cakar," sapanya seraya meraih tangan Cakar untuk disalimnya. Ini kali pertama lagi Halwa berani meraih tangan Cakar dan menciumnya.

   Setelah itu, Cakar pergi tanpa pamit. Halwa tadinya berpikir kalau Cakar akan pamit dan mengucap salam. Halwa hanya mampu mencelos menatap Cakar yang kali ini pergi bekerja dengan mobilnya kembali.

  Mobil Cakar pergi dengan tatap nanar dari Halwa. Halwa segera membalikkan badan, diapun harus segera bersiap untuk pergi bekerja.

   Sebelum bekerja, seperti biasa ia merapikan kamar dan menyapu lantai. Alangkah terkejutnya Halwa, saat ia mengangkat selimut bekas tidur semalam, di atas sepre itu terdapat bercak darah segar. Halwa segera membongkar dan terpaksa mengganti sepre itu yang padahal baru seminggu diganti.

   Setelah kamar sudah kembali rapi dan wangi serta dandanannya rapi, Halwa keluar, tidak lupa sepre dan sarung bantal juga selimut itu dibawanya ke bawah menuju ruang cuci baju.

   Tiba di bawah tangga, pintu rumah terdengar diketuk. Halwa melepaskan sejenak keranjang yang berisi sepre dan selimut kotor bekas semalam. Dengan cepat ia memburu pintu.

   "Ibu," kagetnya saat melihat siapa yang datang. Rupanya Bu Fajarani beserta Bi Rona dan Mang Dani.

   "Assalamualaikum Halwa, kamu pasti mau berangkat kerja."

   "Waalaikumsalam, Bu. Iya, nih Bu, Halwa baru saja mau berangkat. Tapi masih ada setengah jam lagi untuk bersantai di rumah.

   "Masuk Bu. Bi Rona dan Mang Dani, masuk Bi, Mang." Bu Fajarani masuk diikuti kedua pembantunya.

   "Ibu duduklah dulu, biar Halwa ambilkan minum."

   "Tidak usah Halwa, biarkan nanti kami sendiri yang ambil minum. Duduklah dulu, ibu mau cerita sedikit masalah Bi Rona dan Mang Dani yang sempat ibu singgung dihari kepulangan kalian dari bulan madu kala itu," ujar Bu Fajarani mencoba mengingatkan Halwa pada pembicaraan sebulan lebih yang lalu.

   "Iya, Bu. Padahal tidak usah merepotkan Bi Rona dan Mang Dani. Halwa masih sanggup membersihkan rumah dan membersihkan taman. Setiap Minggu Halwa membersihkan taman, jadi taman saat ini tidak terlalu banyak rumputnya," jelasnya sudah bisa menebak maksud kedatangan Bi Rona dan Mang Dani ke rumah Cakar.

   "Kamu jangan khawatir. Meskipun kamu sudah menyelesaikan pekerjaan rumah ini tiap hari dengan baik, tapi jangan larang ibu untuk tetap datangkan Bi Rona dan Mang Dani, untuk membersihkan rumah dan taman bunga di sekitar rumah ini."

   "Halwa jadi merepotkan Ibu, terutama Bi Rona dan Mang Dani," ujar Halwa basa-basi, ia sungguh merasa tidak enak dengan perhatian Bu Fajarani yang mendatangkan dua asistennya untuk beres-beres di rumahnya.

   "Sudah, sebaiknya kamu berangkat kerja. Biarkan Bi Rona dan Mang Dani menjadi tanggung jawab ibu," suruh Bu Fajarani.

   "Tapi, Bu." Halwa merasa tidak enak dengan semua rencana mertuanya, dan ia langsung terdiam ketika jari telunjuk Bu Fajarani menempel di bibirnya.

   "Kalau begitu Halwa terserah Ibu saja. Tapi mohon maaf, terpaksa Halwa tinggal karena Halwa harus bekerja."

   "Kamu pergi saja, urusan rumah jangan kamu pikirkan," ujar Bu Fajarani dengan wajah yang tulus. Karena Halwa harus bekerja, sebelum berangkat ia bergegas meraih keranjang tadi untuk diantar ke tempat cuci baju. Setelah itu dia berpamitan pada ibu mertuanya untuk bekerja.

   "Halwa pamit, ya, Bu. Maaf sudah merepotkan Ibu, Bi Rona maupun Mang Dani. Assalamualaikum." Halwa berpamitan tidak lupa mencium tangan mertuanya.

   Seperginya Halwa, Bu Fajarani langsung memberi arahan pada kedua asistennya untuk segera melaksanakan tugas yang telah diperintahkan tadi.

   Sementara Bu Fajarani bergegas menuju dapur, melihat suasana dapur yang memang sudah rapi. Dalam hati Bu Fajarani memuji kalau menantunya ini memang rajin dan pandai memasak.

   Lalu kini Bu Fajarani menyisir kamar mandi dan ruang cuci baju. Bu Fajarani merasa terketuk untuk mencucikan baju-baju kotor yang berada di keranjang baju kotor. Pakaian itu tidak banyak ditumpuk, sepertinya Halwa memang tidak membiarkan pakaian kotor menggunung baru dicuci.

   Satu persatu baju kotor itu dimasukkan ke dalam mesin cuci termasuk sepre putih yang Halwa letakkan tadi di ruang ini. Bu Fajarani membeberkan sejenak sepre itu. Secara tidak sengaja, Bu Fajarani menemukan bercak darah masih baru.

   "Sepertinya ini masih baru. Ya ampun, sepertinya Cakar baru tadi malam memberikan nafkah batinnya untuk Halwa. Semoga saja sejak kejadian itu, Cakar bisa mencintai Halwa dengan tulus," harapnya seraya menyunggingkan senyum bahagia.

Terpopuler

Comments

Luluk Isnaini

Luluk Isnaini

bagus karyanya thor,tp utk nama tokoh "cakar"sangat kurang sreg.ganti nama tokohnya thor biar nyaman bacanya,dan buat pelajaran utk karya selanjutnya,maaf thor/Pray/

2024-12-11

1

Eri Erisyah

Eri Erisyah

ganti Thor jangan cakar, Cakra lebih baik thor

2024-12-20

1

Lita Pujiastuti

Lita Pujiastuti

kasihan Halwa, kaya jd pelampiasan nafsu sj..

2024-12-31

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pernikahan
2 Bab 2 Fakta Seli
3 Bab 3 Ditinggal Sendiri
4 Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5 Bab 5 Bohong Lagi
6 Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7 Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8 Bab 8 Halwa Ketiduran
9 Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10 Bab 10 Hijau Pangkat
11 Bab 11 Malam Pertama
12 Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13 Bab 13 Kemarahan Cakar
14 Bab 14 Ketagihan
15 Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16 Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17 Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18 Bab 18 Ada yang Cemburu
19 Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20 Bab 20 Seragam Persit Bekas
21 Bab 21 Halwa Linglung
22 Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23 Bab 23 Acara Persit
24 Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25 Bab 25 Pengagum Halwa
26 Bab 26 Cemburukah?
27 Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28 Bab 28 Merawat Cakar
29 Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30 Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31 Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32 Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33 Bab 33 Cakar Khawatir
34 Bab 34 Cakar Vs Aldian
35 Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36 Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37 Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38 Bab 38 Menengok Bayi Rani
39 Bab 39 Menyosor Istri Orang
40 Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41 Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42 Bab 42 Ada Yang Berbeda
43 Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44 Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45 Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46 Bab 46 Pergi
47 Bab 47 Surat Dari Halwa
48 Bab 48 Kebingungan Cakar
49 Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50 Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51 Bab 51 Merasa Bersalah
52 Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53 Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54 Bab 54 Titik Terang
55 Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56 Bab 56 Sosok Halwa
57 Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58 Bab 58 Hamil
59 Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60 Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61 Bab 61 Ketahuan
62 Bab 62 Dihubungi Aisyah
63 Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64 Bab 64 Pertemuan
65 Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66 Bab 66 Boyong Dua
67 Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68 Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69 Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70 Bab 70 Ulang Tahun Persit
71 Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72 Bab 72 Bertemu Nilam
73 Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74 Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75 Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76 Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77 Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78 Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79 Bab 79 Tanda Melahirkan
80 Bab 80 Melahirkan
81 Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82 Bab 82 Besanan
83 Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84 Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85 Karya Baru
86 Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1 Pernikahan
2
Bab 2 Fakta Seli
3
Bab 3 Ditinggal Sendiri
4
Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5
Bab 5 Bohong Lagi
6
Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7
Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8
Bab 8 Halwa Ketiduran
9
Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10
Bab 10 Hijau Pangkat
11
Bab 11 Malam Pertama
12
Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13
Bab 13 Kemarahan Cakar
14
Bab 14 Ketagihan
15
Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16
Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17
Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18
Bab 18 Ada yang Cemburu
19
Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20
Bab 20 Seragam Persit Bekas
21
Bab 21 Halwa Linglung
22
Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23
Bab 23 Acara Persit
24
Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25
Bab 25 Pengagum Halwa
26
Bab 26 Cemburukah?
27
Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28
Bab 28 Merawat Cakar
29
Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30
Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31
Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32
Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33
Bab 33 Cakar Khawatir
34
Bab 34 Cakar Vs Aldian
35
Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36
Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37
Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38
Bab 38 Menengok Bayi Rani
39
Bab 39 Menyosor Istri Orang
40
Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41
Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42
Bab 42 Ada Yang Berbeda
43
Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44
Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45
Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46
Bab 46 Pergi
47
Bab 47 Surat Dari Halwa
48
Bab 48 Kebingungan Cakar
49
Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50
Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51
Bab 51 Merasa Bersalah
52
Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53
Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54
Bab 54 Titik Terang
55
Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56
Bab 56 Sosok Halwa
57
Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58
Bab 58 Hamil
59
Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60
Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61
Bab 61 Ketahuan
62
Bab 62 Dihubungi Aisyah
63
Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64
Bab 64 Pertemuan
65
Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66
Bab 66 Boyong Dua
67
Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68
Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69
Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70
Bab 70 Ulang Tahun Persit
71
Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72
Bab 72 Bertemu Nilam
73
Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74
Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75
Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76
Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77
Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78
Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79
Bab 79 Tanda Melahirkan
80
Bab 80 Melahirkan
81
Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82
Bab 82 Besanan
83
Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84
Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85
Karya Baru
86
Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!