Subuh menjelang, Halwa terbangun. Gema orang mengaji dari mesjid yang letaknya berjauhan sudah mulai terdengar.
Sejenak ia melihat ke samping kanannya. Tubuh Cakar masih belum ada pergerakan, wajahnya memancarkan kelegaan. Entah karena hal tadi malam, sehingga subuh ini Halwa melihat wajah suaminya begitu adem dan tenang.
Halwa mencoba bergerak. Namun seketika ada rasa perih yang menggigit persis gigitan semut di daerah vitalnya. Terbayang betapa gagahnya Cakar menguasainya semalam, sampai dua kali permainan. Ketika Cakar meminta untuk ketiga kalinya, dia tidak tega, sebab Halwa menangis dan memohon untuk beristirahat karena rasa sakit di bawah sana luar biasa.
Halwa bangun menuruni ranjang, rasa perih seperti gigitan semut itu, kini kadang hilang kadang timbul. Tapi dia tidak menunda lagi untuk segera ke kamar mandi dan melakukan mandi besar. Di sana linangan air mata tumpah. Entah apa yang dirasakan Halwa, yang jelas setelah ia utuh telah dimiliki Cakar, bukan rasa bahagia yang dia rasakan. Tapi sedih yang dalam.
Halwa menyudahi mandinya dan segera keluar kamar mandi. Bersamaan dengan itu, kumandang azan pun mulai diperdengarkan dari mana-mana. Halwa keluar kamar dan lebih memilih sholat di mushola loteng itu.
"Ya Allah, semoga setelah kejadian tadi malam, Engkau hadirkan cinta dari Mas Cakar untukku. Aamiin." Halwa berdoa setelah menyelesaikan sholatnya. Seperti biasanya setelah sholat Subuh, ia akan berkutat di dapur menyiapkan sarapan dan ngopinya Cakar.
Sementara itu, Cakar baru saja bangun saat mendengar kumandang azan bersahutan. Tubuhnya terasa enteng dan pegal yang biasa dideritanya kalau bangun tidur, kini seakan sirna. Terlebih ada perasaan lega di dalam dadanya saat membayangkan kejadian tadi malam.
"Ternyata Halwa masih original. Aku yang pertama kali menyentuhnya," gumamnya bahagia. Juga noda darah yang tertinggal di sepre itu menandakan bahwa Halwa masih perawan, dan dia orang pertama yang berhasil membuka segelnya.
Cakar berjalan menuju kamar mandi dengan senyum di wajahnya. Terbayang kembali jeritan dan penolakan keras dari Halwa saat tubuhnya dihentak kuat-kuat olehnya menandakan dia sangat kesakitan. Namun, Cakar tidak mengindahkan penolakan dan jeritan Halwa, ia terus berpacu sesuai hasrat yang melandanya.
"Ternyata gadis caper itu pandai menjaga dirinya. Sungguh diluar dugaan," gumamnya segera membilas semua sabun dan sampo yang memenuhi kulit dan rambutnya.
Cakar segera menuruni tangga dan menuju dapur. Di sana dia melihat punggung Halwa yang bergerak-gerak di wastafel. Sepertinya Halwa kini sedang mencuci piring.
Wangi soto kali ini memenuhi ruangan dapur. Seperti biasa, Cakar memang harus sarapan pagi dengan makanan berat, sebab di kantor kadang kegiatan fisik sering dilakukan di pagi hari, sehingga ia butuh asupan karbo.
"Terimakasih untuk semalam," bisiknya di pinggir pipi Halwa yang seketika memerah. Wanita muda itu tersentak, tanpa dikompromi kedua pipinya merona. Ia benar-benar malu atas kejadian semalam.
Halwa tidak mengatakan sepatah kata pun, ia sangat malu jika mengingatnya.
Cakar sudah berada di meja makan sembari memainkan Hp nya. Tanpa lama, Halwa segera mewadahi nasi di piring Cakar, ditambahi balado telur dan sambal.
"Mas, sotonya mau dipisah atau disatukan?" tanya Halwa meyakinkan.
"Lakukan saja seperti biasa," jawabnya masih datar, padahal semalam dia begitu lekat dan menikmati setiap lekuk tubuh Halwa. Halwa patuh, lalu menaruh sop di wadah lain. Mereka makan diam tanpa kata seperti hari biasanya.
Setelah sarapan, Cakar bangkit dan bergegas meninggalkan ruang makan. Halwa mengikuti Cakar dan seperti biasa mengantar kepergian suaminya dari muka pintu.
Cakar berhenti di sofa ruang tamu, dia memakai sepatu olah raga di sana. Kebetulan hari Jumat, memang jadwalnya olah raga. Cakar nampak mengenakan sepatu pemberian Halwa. Halwa senang, dalam hati ia berpikir mungkin ini pertanda kalau cinta mulai tumbuh di hati Cakar.
"Mas Cakar," sapanya seraya meraih tangan Cakar untuk disalimnya. Ini kali pertama lagi Halwa berani meraih tangan Cakar dan menciumnya.
Setelah itu, Cakar pergi tanpa pamit. Halwa tadinya berpikir kalau Cakar akan pamit dan mengucap salam. Halwa hanya mampu mencelos menatap Cakar yang kali ini pergi bekerja dengan mobilnya kembali.
Mobil Cakar pergi dengan tatap nanar dari Halwa. Halwa segera membalikkan badan, diapun harus segera bersiap untuk pergi bekerja.
Sebelum bekerja, seperti biasa ia merapikan kamar dan menyapu lantai. Alangkah terkejutnya Halwa, saat ia mengangkat selimut bekas tidur semalam, di atas sepre itu terdapat bercak darah segar. Halwa segera membongkar dan terpaksa mengganti sepre itu yang padahal baru seminggu diganti.
Setelah kamar sudah kembali rapi dan wangi serta dandanannya rapi, Halwa keluar, tidak lupa sepre dan sarung bantal juga selimut itu dibawanya ke bawah menuju ruang cuci baju.
Tiba di bawah tangga, pintu rumah terdengar diketuk. Halwa melepaskan sejenak keranjang yang berisi sepre dan selimut kotor bekas semalam. Dengan cepat ia memburu pintu.
"Ibu," kagetnya saat melihat siapa yang datang. Rupanya Bu Fajarani beserta Bi Rona dan Mang Dani.
"Assalamualaikum Halwa, kamu pasti mau berangkat kerja."
"Waalaikumsalam, Bu. Iya, nih Bu, Halwa baru saja mau berangkat. Tapi masih ada setengah jam lagi untuk bersantai di rumah.
"Masuk Bu. Bi Rona dan Mang Dani, masuk Bi, Mang." Bu Fajarani masuk diikuti kedua pembantunya.
"Ibu duduklah dulu, biar Halwa ambilkan minum."
"Tidak usah Halwa, biarkan nanti kami sendiri yang ambil minum. Duduklah dulu, ibu mau cerita sedikit masalah Bi Rona dan Mang Dani yang sempat ibu singgung dihari kepulangan kalian dari bulan madu kala itu," ujar Bu Fajarani mencoba mengingatkan Halwa pada pembicaraan sebulan lebih yang lalu.
"Iya, Bu. Padahal tidak usah merepotkan Bi Rona dan Mang Dani. Halwa masih sanggup membersihkan rumah dan membersihkan taman. Setiap Minggu Halwa membersihkan taman, jadi taman saat ini tidak terlalu banyak rumputnya," jelasnya sudah bisa menebak maksud kedatangan Bi Rona dan Mang Dani ke rumah Cakar.
"Kamu jangan khawatir. Meskipun kamu sudah menyelesaikan pekerjaan rumah ini tiap hari dengan baik, tapi jangan larang ibu untuk tetap datangkan Bi Rona dan Mang Dani, untuk membersihkan rumah dan taman bunga di sekitar rumah ini."
"Halwa jadi merepotkan Ibu, terutama Bi Rona dan Mang Dani," ujar Halwa basa-basi, ia sungguh merasa tidak enak dengan perhatian Bu Fajarani yang mendatangkan dua asistennya untuk beres-beres di rumahnya.
"Sudah, sebaiknya kamu berangkat kerja. Biarkan Bi Rona dan Mang Dani menjadi tanggung jawab ibu," suruh Bu Fajarani.
"Tapi, Bu." Halwa merasa tidak enak dengan semua rencana mertuanya, dan ia langsung terdiam ketika jari telunjuk Bu Fajarani menempel di bibirnya.
"Kalau begitu Halwa terserah Ibu saja. Tapi mohon maaf, terpaksa Halwa tinggal karena Halwa harus bekerja."
"Kamu pergi saja, urusan rumah jangan kamu pikirkan," ujar Bu Fajarani dengan wajah yang tulus. Karena Halwa harus bekerja, sebelum berangkat ia bergegas meraih keranjang tadi untuk diantar ke tempat cuci baju. Setelah itu dia berpamitan pada ibu mertuanya untuk bekerja.
"Halwa pamit, ya, Bu. Maaf sudah merepotkan Ibu, Bi Rona maupun Mang Dani. Assalamualaikum." Halwa berpamitan tidak lupa mencium tangan mertuanya.
Seperginya Halwa, Bu Fajarani langsung memberi arahan pada kedua asistennya untuk segera melaksanakan tugas yang telah diperintahkan tadi.
Sementara Bu Fajarani bergegas menuju dapur, melihat suasana dapur yang memang sudah rapi. Dalam hati Bu Fajarani memuji kalau menantunya ini memang rajin dan pandai memasak.
Lalu kini Bu Fajarani menyisir kamar mandi dan ruang cuci baju. Bu Fajarani merasa terketuk untuk mencucikan baju-baju kotor yang berada di keranjang baju kotor. Pakaian itu tidak banyak ditumpuk, sepertinya Halwa memang tidak membiarkan pakaian kotor menggunung baru dicuci.
Satu persatu baju kotor itu dimasukkan ke dalam mesin cuci termasuk sepre putih yang Halwa letakkan tadi di ruang ini. Bu Fajarani membeberkan sejenak sepre itu. Secara tidak sengaja, Bu Fajarani menemukan bercak darah masih baru.
"Sepertinya ini masih baru. Ya ampun, sepertinya Cakar baru tadi malam memberikan nafkah batinnya untuk Halwa. Semoga saja sejak kejadian itu, Cakar bisa mencintai Halwa dengan tulus," harapnya seraya menyunggingkan senyum bahagia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Luluk Isnaini
bagus karyanya thor,tp utk nama tokoh "cakar"sangat kurang sreg.ganti nama tokohnya thor biar nyaman bacanya,dan buat pelajaran utk karya selanjutnya,maaf thor/Pray/
2024-12-11
1
Eri Erisyah
ganti Thor jangan cakar, Cakra lebih baik thor
2024-12-20
1
Lita Pujiastuti
kasihan Halwa, kaya jd pelampiasan nafsu sj..
2024-12-31
1