Bab 5 Bohong Lagi

   Semua keluarga Cakar ada di sana menyambut kedatangan mereka dari bulan madu. Tepatnya bulan madu semu. Tidak ada aktifitas sentuhan fisik hubungan suami istri antara mereka berdua. Apalagi Halwa, selama di kamar Hotel Daisy, dia hanya sendiri. Sementara Cakar pergi entah ke mana.

   "Kalian pastinya capek telah melakukan perjalanan pulang dari bulan madu. Bagaimana, apakah suasana di sana sangat indah?" Bu Fajarani membuka obrolan.

   "Alhamdulillah, Ma. Pemandangannya sangat indah dan menyenangkan."

   "Pasti sangat menyenangkan saat menikmati berbagai wahana di danau itu. Wahana apa saja yang kalian nikmati selama di danau?" tanya Bu Fajarani antusias.

   Halwa menoleh sekilas ke arah Cakar. Cakar mendelikkan mata sebagai isyarat. Halwa paham, terpaksa untuk kali ini dia harus berbohong lagi, mengarang cerita demi kebaikan Cakar.

   "Kami hanya menikmati wahana perahu angsa, Ma. Selebihnya hanya jalan-jalan saja melihat-lihat indahnya danau," jawab Halwa setelah beberapa jenak berpikir.

   "Ya ampun, kalian di danau itu hanya menikmati satu wahana saja, sayang banget. Padahal masih banyak lagi wahana lain yang lebih menantang adrenalin," tukas Bu Fajarani.

   "Bu, sudah, jangan diajak ngobrol terus menantu kitanya. Mereka pasti lapar, kita ajak makan saja sekarang. Bukankan Ibu tadi sudah masak banyak di dapurnya Cakar dibantu Bi Rona?" singgung Pak Diki.

   "Oalah, benar apa yang Bapak katakan. Lebih baik kalian makan dulu. Makanannya sudah dihidangkan dan masih panas. Ayo Cakar, langsung saja. Kalian berganti pakaiannya nanti setelah makan," ajak Bu Fajarani sembari berjalan menuju ruang makan.

   "Iya, Bu." Halwa mengikuti mertuanya yang sudah duluan menuju meja makan. Di atas meja makan sudah terhidang berbagai hidangan yang lezat, sepertinya Bu Fajarani memang sengaja memasak banyak untuk menyambut kedatangan Halwa dan Cakar.

   "Banyak banget makanannya." Halwa berkata di dalam hati.

   Adik dan beberapa saudara sepupu Cakar yang kebetulan hadir di sana dan ikut menyambut kepulangan mereka dari bulan madu semu, ikut duduk di meja makan dan menikmati hidangannya.

   Mereka sudah menempati kursinya masing-masing. Suasana hangat begitu terasa di meja makan ini. Halwa bersikap layaknya istri, dia berusaha melayani Cakar meskipun sikap Cakar begitu dingin.

   "Mas, lauknya mau apa?" Halwa mengarahkan matanya ke arah Cakar. Piring untuk Cakar yang sudah terisi nasi, sudah mengayun di udara menunggu diisi lauk lainnya.

   "Sayur asam, sambal cumi, dan bacem tahu," ujarnya menyebutkan makanan yang ingin dia santap. Sangat sederhana pilihan Cakar. Tidak jauh dengan Halwa, meskipun di atas meja makan ini ada terhidang ayam kerapu dan asam manis pedas udang, tapi Halwa lebih memilih makanan yang sederhana yang sering ia santap.

   Halwa meletakkan piring Cakar yang sudah diisi lauk di depannya. Bu Fajarani dan Pak Diki sekilas memperhatikan interaksi Halwa dan Cakar. Walau masih kaku, tapi mereka bersyukur, antara menantu dan anaknya sudah terjalin komunikasi dua arah.

   Mereka semua makan dengan sangat menikmati, terlebih masakan buatan Bu Fajarani memang enaknya tidak bohong.

   "Ayo, Halwa. Tambah lagi lauknya. Asam pedas manis udangnya, dicoba," tawar Bu Fajarani begitu perhatian.

   "Sudah, Ma. Halwa sudah kenyang," sahutnya seraya menyudahi makannya. Disusul yang lain. Halwa berdiri dari meja, lalu membereskan sisa piring kotor bekas makan mereka.

   "Sudah, tidak perlu kamu bereskan. Biar Bi Rona saja," cegah Bu Fajarani. Tapi Halwa tidak berhenti, ia tidak mau membiarkan Bi Rona sibuk sendiri di dapur, sebab setahunya Bi Rona merupakan pembantu di rumah mertuanya.

   "Tidak apa-apa, Ma. Halwa hanya membereskan yang ada di meja saja," ujarnya sembari terus membereskan piring kotor bekas makan mereka.

   "Baiklah, terserah kamu saja. Setelah membereskan meja, susul kami di ruang keluarga. Kita akan ngobrol-ngobrol ringan," ucap Bu Fajarani dengan senyum khas yang selalu mengembang setiap berbicara pada Halwa.

   Halwa mengangguk, lalu segera menuju wastafel menyimpan piring kotor di sana, padahal di sana sudah ada Bi Rona.

   "Tidak perlu Non. Ini tugas saya, lagipula ini hanya sedikit. Biar saya saja," cegah Bi Rona tidak mau Halwa sibuk membantunya.

   "Tidak apa-apa kok, Bi. Saya hanya membereskan meja saja."

   "Baiklah." Akhirnya Bi Rona menyerah, dia membiarkan Halwa membereskan meja yang tadi banyak piring kotor. Sementara Bi Rona, mencuci piring.

   Setelah meja kembali rapi dan bersih dan piring kotor sudah dicuci Bi Rona. Halwa berpamitan pada Bi Rona untuk menyusul keluarga suaminya ke ruang tamu.

   "Bi Rona, saya tinggal dulu. Saya akan menyusul keluarga suami saya di ruang tamu," ujarnya.

   "Baik Non. Terimakasih atas bantuannya. Non Halwa jadi repot," balas Bi Rona merasa tidak enak. Halwa tersenyum lalu segera bergegas meninggalkan ruang makan menuju ruang keluarga.

   Bi Rona menatap kepergian Halwa dengan haru dan bangga, sebab Bi Rona baru menemukan seorang majikan yang baik dan rela turun tangan membantu pekerjaan pembantu.

   "Baik banget Non Halwa, sudah cantik, rajin pula," pujinya sembari tersenyum.

   Sementara itu, Halwa kini berjalan menuju ruang keluarga rumah yang disebutkan tadi sebagai rumah Cakar. Sebetulnya Halwa belum tahu, di mana letak ruang keluarga. Namun suara riuh orang ngobrol sudah terdengar dari ruangan ujung rumah itu.

   Langkah kaki Halwa mulai mendekat ke ruangan itu. Obrolan itu semakin lama semakin terdengar. Kaki Halwa berhenti tepat di balik tembok ruangan itu, Halwa menahan kakinya sejenak untuk masuk saat sebuah obrolan yang menyangkut dirinya terdengar jelas.

"Kapan kalian akan mengadakan pesta hasta pora, sekalian memperkenalkan istrimu sebagai bagian dari keluarga TNI?" singgung Pak Diki. Hasta pora merupakan perayaan pernikahan di kalangan bintara atau tamtama TNI.

"Buat apa, Pah? Toh itu tidak wajib bukan? Lagipula buat apa aku harus mengenalkan istriku pada teman-temanku, tidak penting banget." Jawaban Cakar sungguh menancap di ulu hati Halwa, ia sangat sedih mendengarnya.

"Jangan bilang seperti itu. Halwa akan sangat penting, karena kini dia sudah menjadi istri kamu. Nanti kehadiran dia saat rapat ibu-ibu Persit, pasti sangat ditunggu kehadirannya," timpal Bu Fajarani tidak setuju dengan ucapan Cakar.

"Kalau perlu dia tidak usah hadir dalam acara Persit, aku takut dia membuat malu, sebab Halwa hanyalah gadis caper. Di mana-mana pasti sikapnya akan selalu caper dan memalukan," tandas Cakar sampai membuat dada Halwa sesak. Halwa memundurkan kakinya dari balik tembok itu, dia urung masuk ke dalam ruang keluarga. Halwa tidak kuasa menahan tangis saat mendengar perkataan Cakar yang tandas itu.

Halwa kembali ke dapur dan pura-pura mengambil minuman, supaya tidak dicurigai Bi Rona. Halwa sungguh kecewa dengan ucapan Cakar tadi di ruang keluarga, sehingga tetes air mata itu mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah.

Terpopuler

Comments

Lita Pujiastuti

Lita Pujiastuti

Sabar banget, Wa.....klo aq lgsg keluar dr rmh itu dan pulang ke ortu

2024-12-31

1

Uthie

Uthie

bikin nyesel nanti dia 💪😡

2024-11-18

2

Dewi Oktavia

Dewi Oktavia

astaghfirullah,tega x suami bicara seperti itu

2025-03-02

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pernikahan
2 Bab 2 Fakta Seli
3 Bab 3 Ditinggal Sendiri
4 Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5 Bab 5 Bohong Lagi
6 Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7 Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8 Bab 8 Halwa Ketiduran
9 Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10 Bab 10 Hijau Pangkat
11 Bab 11 Malam Pertama
12 Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13 Bab 13 Kemarahan Cakar
14 Bab 14 Ketagihan
15 Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16 Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17 Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18 Bab 18 Ada yang Cemburu
19 Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20 Bab 20 Seragam Persit Bekas
21 Bab 21 Halwa Linglung
22 Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23 Bab 23 Acara Persit
24 Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25 Bab 25 Pengagum Halwa
26 Bab 26 Cemburukah?
27 Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28 Bab 28 Merawat Cakar
29 Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30 Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31 Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32 Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33 Bab 33 Cakar Khawatir
34 Bab 34 Cakar Vs Aldian
35 Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36 Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37 Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38 Bab 38 Menengok Bayi Rani
39 Bab 39 Menyosor Istri Orang
40 Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41 Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42 Bab 42 Ada Yang Berbeda
43 Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44 Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45 Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46 Bab 46 Pergi
47 Bab 47 Surat Dari Halwa
48 Bab 48 Kebingungan Cakar
49 Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50 Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51 Bab 51 Merasa Bersalah
52 Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53 Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54 Bab 54 Titik Terang
55 Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56 Bab 56 Sosok Halwa
57 Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58 Bab 58 Hamil
59 Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60 Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61 Bab 61 Ketahuan
62 Bab 62 Dihubungi Aisyah
63 Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64 Bab 64 Pertemuan
65 Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66 Bab 66 Boyong Dua
67 Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68 Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69 Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70 Bab 70 Ulang Tahun Persit
71 Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72 Bab 72 Bertemu Nilam
73 Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74 Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75 Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76 Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77 Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78 Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79 Bab 79 Tanda Melahirkan
80 Bab 80 Melahirkan
81 Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82 Bab 82 Besanan
83 Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84 Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85 Karya Baru
86 Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1 Pernikahan
2
Bab 2 Fakta Seli
3
Bab 3 Ditinggal Sendiri
4
Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5
Bab 5 Bohong Lagi
6
Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7
Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8
Bab 8 Halwa Ketiduran
9
Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10
Bab 10 Hijau Pangkat
11
Bab 11 Malam Pertama
12
Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13
Bab 13 Kemarahan Cakar
14
Bab 14 Ketagihan
15
Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16
Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17
Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18
Bab 18 Ada yang Cemburu
19
Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20
Bab 20 Seragam Persit Bekas
21
Bab 21 Halwa Linglung
22
Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23
Bab 23 Acara Persit
24
Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25
Bab 25 Pengagum Halwa
26
Bab 26 Cemburukah?
27
Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28
Bab 28 Merawat Cakar
29
Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30
Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31
Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32
Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33
Bab 33 Cakar Khawatir
34
Bab 34 Cakar Vs Aldian
35
Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36
Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37
Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38
Bab 38 Menengok Bayi Rani
39
Bab 39 Menyosor Istri Orang
40
Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41
Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42
Bab 42 Ada Yang Berbeda
43
Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44
Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45
Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46
Bab 46 Pergi
47
Bab 47 Surat Dari Halwa
48
Bab 48 Kebingungan Cakar
49
Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50
Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51
Bab 51 Merasa Bersalah
52
Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53
Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54
Bab 54 Titik Terang
55
Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56
Bab 56 Sosok Halwa
57
Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58
Bab 58 Hamil
59
Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60
Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61
Bab 61 Ketahuan
62
Bab 62 Dihubungi Aisyah
63
Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64
Bab 64 Pertemuan
65
Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66
Bab 66 Boyong Dua
67
Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68
Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69
Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70
Bab 70 Ulang Tahun Persit
71
Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72
Bab 72 Bertemu Nilam
73
Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74
Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75
Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76
Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77
Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78
Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79
Bab 79 Tanda Melahirkan
80
Bab 80 Melahirkan
81
Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82
Bab 82 Besanan
83
Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84
Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85
Karya Baru
86
Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!