Bab 14 Ketagihan

   "Ya ampun Cakar, apa-apaan kamu? Kamu mau melakukan KDRT?" sentak Bu Fajarani memasuki kamar dan menepis tangan Cakar dari lengan Halwa. Bu Fajarani menatap Cakar tajam, ia tidak suka anak lelakinya melakukan tindakan kasar terhadap siapapun terlebih perempuan dan ini seorang istri.

   "Ibu? Kenapa Ibu tiba-tiba masuk dan mencampuri urusan Cakar? Aku sedang mendidik istriku, Bu. Aku bukan mau memukulnya, tapi mengangkat lengannya supaya bangkit dan turun ke bawah menyambut Ibu dan Ais." Cakar memberikan alasan.

   "Mengangkat bagaimana, lihat istrimu menangis. Beraninya kamu kasar sama perempuan. Kalau berani melakukan itu, langkahi dulu mayat ibu. Baru kamu bisa sewenang-wenang padanya," dengus Bu Fajarani marah. Lalu kini meraih Halwa dan membawanya bangkit dan duduk dengan benar.

   "Dengar dulu alasan Cakar, Bu. Kenapa Cakar marah. Dia itu baru saja pulang kerja. Dan pulangnya tidak biasanya telat dan justru Cakar lebih dulu pulang. Dia seenak jidat pulang malam, tapi tidak kasih kabar dulu ke aku. Pesan WA atau telpon kek. Mau bagaimanapun, harusnya dia kasih kabar bahwa dia lembur hari ini. Aku ini kan suaminya. Mana pulangnya malam, makanan belum ada, mau jadi apa dia kalau dibiarkan seperti ini?" dumelnya meluapkan kekesalan di depan ibunya.

   "Ya ampun Cakar, baru saja sekali Halwa pulang telat dibanding kamu, maklumi saja. Mungkin saja Halwa tadi lupa tidak memberi kabar sama kamu," tukas Bu Fajarani membela menantunya yang kini mulai reda isaknya.

   "Ibu bela terus dia, nanti melunjak kalau dibela terus. Aku ini kesal, dia pulang telat dan pastinya belum masak apa-apa."

   "Tidak perlu marah seperti ini. Kan tinggal menghangatkan lauk sisa pagi. Masih bagus juga bukan? Lagipula ngapain mikirin masakan yang belum dibuat. Ibu dan Ais datang kemari sengaja membawa makanan banyak untuk kalian, masih fresh. Tadi sore ibu sengaja masak. Ayolah turun, kita makan bersama. Ibu dan Ais sengaja ingin makan bersama kalian berdua untuk merayakan sesuatu," jelas Bu Fajarani seraya meraih tangan Halwa dan membawanya keluar kamar.

   "Ayo Halwa, ikut ibu. Kamu siapkan makanan bawa ibu di meja makan bersama Aisyah." Bu Fajarani membawa Halwa keluar kamar supaya menantunya itu turun ke bawah dan menyiapkan makan malam.

   "Halwa, sudah, ya. Jangan pikirkan sikap Cakar tadi. Lebih baik siapkan masakan bawa ibu di bawah bersama Ais," hibur Bu Fajarani sembari mengusap bahu Halwa.

   "Baik, Bu. Halwa ke bawah dulu." Halwa patuh lalu bergegas menuruni tangga. Bu Fajarani kembali masuk kamar Cakar, di sana Cakar terduduk di sofa dengan wajah yang kusam.

   "Bu, jangan manjakan Halwa, Cakar sedang mendidik dia supaya benar." Cakar langsung bicara saat ibunya memasuki kamarnya lagi.

   "Mendidik tidak seperti itu Cakar. Jangan membuat istrimu takut. Jangan-jangan selama ini sikap kamu memang seperti itu pada Halwa? Dia itu perempuan lembut dan baik. Jangan kamu kasari," nasihat Bu Fajarani lagi nampak kesal dengan sikap Cakar yang ngeyel.

   "Ah, sudahlah, Bu. Cakar tahu mana yang baik dan benar. Cakar juga tidak mungkin melakukan KDRT tanpa sebab. Ngomong-ngomong dalam rangka apa Ibu dan Ais ke sini? Dan tadi Ibu bilang sengaja masak banyak dan ingin makan di sini untuk merayakan sesuatu. Sesuatu apa maksud Ibu?" heran Cakar mengalihkan topik pembahasan sang ibu.

   Bu Fajarani melemparkan senyum penuh arti, sebelum bicara.

   "Berikan ibu dan bapakmu cucu yang cantik dan tampan, agar kami tidak kesepian lagi di rumah. Sebentar lagi Ais menikah, maka rumah akan sangat sepi. Maka dari itu, ibu minta kamu dan Halwa jangan menunda untuk punya anak. Ibu tunggu kabar baik dari kalian," tuturnya membuat Cakar tidak paham.

   Bu Fajarani segera keluar kamar setelah mengatakan itu pada Cakar.

   "Bu, tunggu. Apa maksud perkataan Ibu tadi, Cakar tidak paham?" Cakar menyusul ibunya yang kini sudah menuruni tangga. Namun, Bu Fajarani tidak mempedulikan Cakar yang dilanda penasaran.

   Tiba di meja makan, semua menu makanan favorit Cakar ada di sana. Dan Cakar makan dengan lahap malam itu karena bagaimanapun masakan ibunya jauh lebih istimewa dibanding masakan siapapun, termasuk masakan Halwa sekalipun.

   "Kak Cakar, kemarin pacar aku sempat melihat kakak jalan dengan seorang KOWAD di mall, apakah itu benar Kakak?" singgung Aisyah tiba-tiba. Cakar terbatuk seketika.

   "Uhuk-uhuk."

   Halwa dengan sigap menyodorkan air putih untuk Cakar. Sementara bu Fajarani menatap lekat ke arah Cakar.

"Mas, ini minumnya."

   "Ya ampun, Ais. Lihat-lihat dulu kalau bicara itu. Katanya Guru tapi ada saja cara ingin menjatuhkan aku di depan Ibu." Cakar berkata dalam hati dengan wajah yang gelisah.

   "KOWAD yang mana lagi yang dimaksud adikmu itu, Cakar?" tanya Bu Fajarani dengan tatap menusuk. Melihat situasi yang cukup gelisah dan menegangkan di wajah Cakar, Halwa pun ikut gelisah, ternyata suaminya masih jalan dengan perempuan lain meskipun dia sudah memiliki istri.

   "Siapa sih yang dimaksud pacarmu itu, Ais? Kakak tidak ke mall kemarin. Bisa saja itu orang yang mirip dengan Kakak. Tubuh atletis dan rambut cepak seperti ini, banyak dimiliki tentara lain bukan kakak saja," tepis Cakar pandai bersilat lidah.

   "Tapi kata Mas Irsan, mirip benar dengan Kakak," yakin Aisyah.

   "Si Irsan dipercaya. Banyak yang mirip dengan Kakak, jangan gampang menyimpulkan kalau itu Kakak. Sudahlah, lebih baik segera selesaikan makanmu, jangan banyak ngoceh kalau makan." Cakar balik marah saat Aisyah masih berusaha meyakinkan bahwa yang dilihat pacarnya kemarin adalah benar sang kakak.

   Makan malam itu berakhir. Bu Fajarani dan Asiyah kembali pulang. Sebelum pulang, seperti biasanya ia akan menasehati Cakar dan Halwa. Setelah itu baru mereka berpamitan dan pulang.

   Setelah ibu dan adiknya pulang, Cakar menaiki tangga menyusul Halwa yang sudah ke kamar. Saat memasuki kamar, dilihatnya Halwa sedang membersihkan wajahnya dengan pembersih muka dan sudah berganti pakaian dengan piyama.

   Sejenak Cakar menatap dalam punggung istrinya itu, tiba-tiba ada hasrat yang kembali muncul dan rasanya tidak bisa dia tunda sampai besok.

   Tiba-tiba Halwa berdiri menyudahi membersihkan wajahnya, dan kini dia bersiap menaiki ranjang. Namun dengan cepat tangan kekar Cakar menangkap pinggang Halwa dan menariknya kuat merapatkan dengan tubuhnya yang menegang.

   "Aduhh." Halwa mengaduh cukup terkejut. Sayangnya, Cakar tidak membiarkan bibir Halwa menganga lama. Dengan cepat Cakar melabuhkan sebuah kecupan hangat penuh hasrat di bibir Halwa.

   Halwa susah bernafas, Cakar terpaksa melepaskan pagutannya. Ia menatap dalam wajah bening Halwa yang diakuinya memang begitu cantik.

  "Halwa," bisiknya sendu seraya membawa tubuh Halwa ke atas kasur dan membaringkannya. Dengan hasrat yang sudah membara, Cakar kembali membawa Halwa ke dalam dekapannya.

   Halwa yang sempat berontak, kini hanya bisa pasrah menerima perlakuan Cakar. Pertautan itu terulang kembali, dan Cakar seperti ketagihan untuk menyatukan jiwanya bersama Halwa.

   "Tapi, aku hanya membutuhkannya bukan mencintainya. Halwa istriku, tapi hanya untuk ku jadikan pelampiasan saja."

   Halwa menatap nanar tubuh Cakar dari atas sampai bawah. Keringat dingin timbul di keningnya, sepertinya Cakar sedang bermimpi sampai impiannya terbawa ke alam bawah sadarnya lalu mengigau.

   Hati Halwa begitu hancur berkeping-keping. Seperti debu yang berhamburan, tidak ada harapan untuknya dari Cakar. Halwa segera bangkit dan menuruni ranjang perlahan. Walaupun hatinya hancur, tapi dia harus tetap ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengadukan sakit hati ini pada sang illahi.

Terpopuler

Comments

Dewi Oktavia

Dewi Oktavia

astaghfirullah, jahat perkataan suami

2025-03-02

1

s

s

sebentar

2024-11-10

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pernikahan
2 Bab 2 Fakta Seli
3 Bab 3 Ditinggal Sendiri
4 Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5 Bab 5 Bohong Lagi
6 Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7 Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8 Bab 8 Halwa Ketiduran
9 Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10 Bab 10 Hijau Pangkat
11 Bab 11 Malam Pertama
12 Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13 Bab 13 Kemarahan Cakar
14 Bab 14 Ketagihan
15 Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16 Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17 Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18 Bab 18 Ada yang Cemburu
19 Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20 Bab 20 Seragam Persit Bekas
21 Bab 21 Halwa Linglung
22 Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23 Bab 23 Acara Persit
24 Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25 Bab 25 Pengagum Halwa
26 Bab 26 Cemburukah?
27 Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28 Bab 28 Merawat Cakar
29 Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30 Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31 Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32 Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33 Bab 33 Cakar Khawatir
34 Bab 34 Cakar Vs Aldian
35 Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36 Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37 Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38 Bab 38 Menengok Bayi Rani
39 Bab 39 Menyosor Istri Orang
40 Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41 Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42 Bab 42 Ada Yang Berbeda
43 Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44 Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45 Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46 Bab 46 Pergi
47 Bab 47 Surat Dari Halwa
48 Bab 48 Kebingungan Cakar
49 Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50 Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51 Bab 51 Merasa Bersalah
52 Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53 Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54 Bab 54 Titik Terang
55 Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56 Bab 56 Sosok Halwa
57 Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58 Bab 58 Hamil
59 Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60 Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61 Bab 61 Ketahuan
62 Bab 62 Dihubungi Aisyah
63 Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64 Bab 64 Pertemuan
65 Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66 Bab 66 Boyong Dua
67 Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68 Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69 Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70 Bab 70 Ulang Tahun Persit
71 Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72 Bab 72 Bertemu Nilam
73 Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74 Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75 Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76 Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77 Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78 Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79 Bab 79 Tanda Melahirkan
80 Bab 80 Melahirkan
81 Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82 Bab 82 Besanan
83 Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84 Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85 Karya Baru
86 Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1 Pernikahan
2
Bab 2 Fakta Seli
3
Bab 3 Ditinggal Sendiri
4
Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5
Bab 5 Bohong Lagi
6
Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7
Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8
Bab 8 Halwa Ketiduran
9
Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10
Bab 10 Hijau Pangkat
11
Bab 11 Malam Pertama
12
Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13
Bab 13 Kemarahan Cakar
14
Bab 14 Ketagihan
15
Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16
Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17
Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18
Bab 18 Ada yang Cemburu
19
Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20
Bab 20 Seragam Persit Bekas
21
Bab 21 Halwa Linglung
22
Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23
Bab 23 Acara Persit
24
Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25
Bab 25 Pengagum Halwa
26
Bab 26 Cemburukah?
27
Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28
Bab 28 Merawat Cakar
29
Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30
Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31
Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32
Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33
Bab 33 Cakar Khawatir
34
Bab 34 Cakar Vs Aldian
35
Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36
Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37
Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38
Bab 38 Menengok Bayi Rani
39
Bab 39 Menyosor Istri Orang
40
Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41
Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42
Bab 42 Ada Yang Berbeda
43
Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44
Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45
Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46
Bab 46 Pergi
47
Bab 47 Surat Dari Halwa
48
Bab 48 Kebingungan Cakar
49
Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50
Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51
Bab 51 Merasa Bersalah
52
Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53
Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54
Bab 54 Titik Terang
55
Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56
Bab 56 Sosok Halwa
57
Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58
Bab 58 Hamil
59
Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60
Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61
Bab 61 Ketahuan
62
Bab 62 Dihubungi Aisyah
63
Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64
Bab 64 Pertemuan
65
Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66
Bab 66 Boyong Dua
67
Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68
Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69
Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70
Bab 70 Ulang Tahun Persit
71
Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72
Bab 72 Bertemu Nilam
73
Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74
Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75
Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76
Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77
Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78
Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79
Bab 79 Tanda Melahirkan
80
Bab 80 Melahirkan
81
Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82
Bab 82 Besanan
83
Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84
Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85
Karya Baru
86
Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!