Bab 2 Fakta Seli

  Perhelatan pernikahan yang dilaksanakan di sebuah gedung itu, kini usai. Kedua mempelai digiring menuju sebuah mobil pengantin yang sudah dipersiapkan untuk keberangkatan bulan madu di sebuah hotel.

   Meskipun pada awalnya Cakar sudah menolak, akan tetapi kedua orang tua Cakar sudah menyiapkan segalanya, sehingga Cakar tidak bisa menolak lagi. Dengan terpaksa, Cakar mengikuti prosesnya.

  "Aku akan ikuti kemauan ayah dan ibu, tapi jangan harap aku bisa mencintai gadis caper itu. Aku tidak sudi menyentuhnya," dengus Cakar kala itu dengan perasaan kesal.

  Mobil pengantin itu mulai berjalan setelah keduanya berada di dalam, antara keduanya tidak terjadi pembicaraan. Sedikit pun Cakar tidak mau menatap ke arah Halwa. Meskipun Halwa sudah berias dengan sangat cantik, akan tetapi tidak mengalihkan pandangan mata Cakar dari ponselnya.

   Satu jam kemudian, mobil pengantin itu sudah tiba di sebuah hotel bintang lima, yang sengaja sudah dipesan oleh kedua orang tua Cakar. Supir membuka pintu untuk Cakar. Cakar turun duluan, setelahnya ia berdiri menatap hotel megah bintang lima di hadapannya.

   Sementara Halwa, masih duduk di dalam menunggu Cakar menghampirinya. Namun, harapannya sirna setelah ia melihat keluar, ternyata Cakar tengah sibuk menerima panggilan telpon.

   Tadinya Halwa sudah percaya diri, bahwa pintu mobil itu akan dibukakan Cakar. Sayang, di luar ekspektasinya, Cakar cuek tanpa peduli. Tidak mau terlalu membuat Cakar menunggu lama, Halwa akhirnya membuka pintu mobil itu dan menuruni mobil dengan perlahan.

   Gaun pengantin ala kebaya sunda itu memang tidak begitu menyulitkannya, akan tetapi ia perlu berjalan hati-hati, karena kain bawahan kebaya pengantin itu sedikit menghambat langkahnya, karena bawahnya sempit.

  "Silahkan pengantin baru, selamat datang di Daisy Hotel." Seorang Pelayan hotel itu tiba-tiba menyambut kedatangan Cakar dan Halwa, mereka menunjukkan kamar yang sudah dipesan untuk Halwa dan Cakar.

   Tiba di lantai lima hotel ternama dan bintang lima itu, tepatnya di kamar nomer 44, Pelayan itu berhenti dan mengarahkan tangan ke pintu kamar itu.

   "Ini kamar Anda, silahkan masuk dan nikmati kenyamanan hotel kami. Melayani dengan sepuas hati," ucap Pelayan itu ramah, sembari menyebutkan kalimat motto hotel itu diakhir kalimat.

   Cakar dan Halwa tersenyum membalas sambutan Pelayan itu, mereka kini memasuki kamar. Cakar lebih dulu masuk, sementara Halwa di belakang. Kaki Halwa mulai melangkah. Satu langkah dua langkah, tiga langkah, tiba-tiba.

"Gubrakkkk."

Halwa hampir saja terjerembab ke lantai kalau tidak ditahan oleh punggung Cakar yang berada tepat di depannya. Apa yang terjadi, ternyata kaki Halwa menginjak salah satu kain bawahan pengantin yang panjangnya melebihi tumit. Tadi saat menggunakan kelom pengantin, panjang kain bisa ditunjang dengan hak tinggi kelom, tapi setelah kelom dilepas, kain itu menjuntai sehingga tanpa sadar terinjak Halwa saat berjalan.

"Ya ampun Halwa, apa-apaan sih kamu ini? Baru saja masuk kamar pengantin, sikap kamu sudah seagresif ini," ketus Cakar sembari melepas tubuh Halwa yang masih menimpa punggungnya.

Halwa terkejut bukan main, dia sungguh-sungguh tidak menduga bakal menginjak kain bawahan kebaya pengantin, sehingga dia terjerembab.

"Maaf, Mas," ucapnya seraya berdiri dengan benar lalu mengangkat sedikit kain bawahan kebaya pengantinnya.

Cakar mendilak kesal, dia sungguh benci melihat Halwa yang seakan sengaja pura-pura kakinya kesandung. Dari pertama melihat gadis ini, Cakar sudah kurang respek, sebab Halwa sering dengan sengaja mencuri-curi pandang dan dengan berani menitipkan salam padanya lewat teman-teman atau ibunya.

Bukan hanya itu saja, bagi Cakar Halwa memang bukan tipenya. Cakar tidak pernah tertarik dengan gadis biasa yang tidak bekerja di salah satu instansi pemerintahan. Obsesinya sejak dulu ingin mendapatkan pasangan hidup minimal Pegawai Negeri Sipil, sehingga sampai kini obsesi itu terbangun begitu kuat, tidak jarang Cakar menyepelekan suatu pekerjaan hanya karena dia bukan pegawai negeri.

Entahlah mental apa yang sudah terbangun dalam diri Cakar. Dia seorang pengayom masyarakat, seharusnya tidak pandang bulu menghargai profesi orang lain. Tapi apa yang dilakukannya diluar tugasnya sebagai pengayom, dia justru membangun arogansi yang kuat dalam dirinya, yakni tidak menyukai gadis yang pekerjaan bukan di instansi pemerintahan.

Namun, entah bagaimana awalnya, Cakar pada akhirnya mau menerima perjodohan dengan Halwa. Bisa jadi karena terlalu sering dicomblangi seluruh keluarganya, sehingga dengan terpaksa dia menerimanya.

"Tidak perlu ke sesama teman seprofesi juga tidak masalah Cakar, yang penting perempuan itu setia dan mampu menjaga marwah suami baik saat dekat atau jauh. Kamu terlalu terobsesi dengan pikiran kamu dan hanya ingin menikah dengan perempuan yang berada dalam instansi pemerintahan. Itu tidak baik mengkotak-kotak profesi seseorang," tegas Pak Diki beberapa hari sebelum pernikahan ini terjadi.

"Lagipula apakah kamu tidak tahu, saat kamu jauh almarhumah istri kamu bagaimana?" ceplos Bu Fajarani tidak sadar sudah mengundang rasa penasaran dalam diri Cakar.

Setelah mengatakan itu, Bu Fajarani langsung menghindar dan meninggalkan Cakar yang dilanda penasaran. Sepertinya ada yang disembunyikan oleh ibunya darinya tentang almarhumah istrinya.

Tidak mau penasarannya kian membesar, Cakar mencoba mencari tahu dari adik maupun dari teman dekatnya Seli. Ada apa dengan Seli dan kenapa ibunya seolah menyembunyikan sesuatu tentang Seli.

Cakar terkejut, setelah menjalankan penelusuran, ia menemukan fakta bahwa almarhumah Seli pernah menduakan cintanya saat dia satgas ke Lebanon. Sejak menemukan fakta yang baginya sangat menyakitkan, akhirnya Cakar mau menerima perjodohan dengan Halwa. Namun, walaupun Cakar sudah menemukan bukti perselingkuhan mendiang istrinya, Cakar tetap tidak percaya kalau Seli seperti itu.

Lalu apakah kini pandangannya terhadap Halwa berubah setelah mendapatkan bukti perselingkuhan almarhumah Seli terkuak? Tidak, justru Cakar kini membangun image baru dalam diri Halwa, bahwa gadis seperti Halwa yang caper, justru lebih parah dan bad girl dibanding gadis yang dia impi-impikan selama ini.

Cakar melepas lelah sejenak di atas ranjang yang dihiasi ala kamar pengantin. Sepasang angsa sedang berhadapan dikelilingi taburan bunga mawar merah dan putih.

Seperti tidak ada yang istimewa di dalam kamar yang megah ini bagi Cakar. Ia sama sekali tidak tertarik. Bulan madu yang direncanakan kedua orang tuanya selama dua hari ini sungguh memuakkan dan terasa lama.

Halwa berjalan menuju sofa di dalam kamar itu. Di sampingnya ada meja kecil yang sudah terhidang makanan pembuka dan minuman yang menyegarkan sebagai sambutan pertama dari pihak hotel. Lalu di samping meja itu, terdapat bar mini yang tersedia berbagai minuman, jamu-jamuan juga ada di sana. Jika ingin minum, maka ia bisa membuatnya sendiri di bar mini itu.

Namun sebelum Halwa meraih satu gelas minuman yang begitu menggiurkan, Halwa pergi ke kamar mandi untuk mengganti baju pengantinnya dengan baju yang sudah tersedia di sana untuknya.

"Apa, Sersan Nilam sakit?" Cakar terperanjat saat mendengar seseorang menghubunginya dan memberitahu bahwa salah satu rekan seprofesi di kesatuannya masuk rumah sakit.

Halwa ternganga ketika dengan buru-buru, Cakar sudah mengganti pakaian pengantinnya dengan celana jeans dan jaket kulit, seperti akan pergi. Baru saja sampai di kamar hotel, Cakar dengan tega akan pergi dari sana.

"Mas mau ke mana?" Langkah kaki Cakar terhenti dan menoleh ke arah Halwa yang rambutnya sudah basah.

Terpopuler

Comments

Titiez Larasaty

Titiez Larasaty

jahate cakar ayam tar bucin tau rasa

2024-11-29

4

Lita Pujiastuti

Lita Pujiastuti

ya Allah gusti nu agung ...ogah aq nikah dg cara seperti itu. sakitnya tuh ...parahh...

2024-12-31

1

Titik Martiyah

Titik Martiyah

pingin tertawa...jahat nggak sih....nama kok cakar thor....bukan cakra....??

2024-12-11

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pernikahan
2 Bab 2 Fakta Seli
3 Bab 3 Ditinggal Sendiri
4 Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5 Bab 5 Bohong Lagi
6 Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7 Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8 Bab 8 Halwa Ketiduran
9 Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10 Bab 10 Hijau Pangkat
11 Bab 11 Malam Pertama
12 Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13 Bab 13 Kemarahan Cakar
14 Bab 14 Ketagihan
15 Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16 Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17 Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18 Bab 18 Ada yang Cemburu
19 Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20 Bab 20 Seragam Persit Bekas
21 Bab 21 Halwa Linglung
22 Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23 Bab 23 Acara Persit
24 Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25 Bab 25 Pengagum Halwa
26 Bab 26 Cemburukah?
27 Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28 Bab 28 Merawat Cakar
29 Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30 Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31 Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32 Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33 Bab 33 Cakar Khawatir
34 Bab 34 Cakar Vs Aldian
35 Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36 Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37 Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38 Bab 38 Menengok Bayi Rani
39 Bab 39 Menyosor Istri Orang
40 Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41 Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42 Bab 42 Ada Yang Berbeda
43 Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44 Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45 Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46 Bab 46 Pergi
47 Bab 47 Surat Dari Halwa
48 Bab 48 Kebingungan Cakar
49 Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50 Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51 Bab 51 Merasa Bersalah
52 Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53 Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54 Bab 54 Titik Terang
55 Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56 Bab 56 Sosok Halwa
57 Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58 Bab 58 Hamil
59 Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60 Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61 Bab 61 Ketahuan
62 Bab 62 Dihubungi Aisyah
63 Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64 Bab 64 Pertemuan
65 Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66 Bab 66 Boyong Dua
67 Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68 Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69 Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70 Bab 70 Ulang Tahun Persit
71 Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72 Bab 72 Bertemu Nilam
73 Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74 Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75 Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76 Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77 Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78 Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79 Bab 79 Tanda Melahirkan
80 Bab 80 Melahirkan
81 Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82 Bab 82 Besanan
83 Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84 Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85 Karya Baru
86 Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1 Pernikahan
2
Bab 2 Fakta Seli
3
Bab 3 Ditinggal Sendiri
4
Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5
Bab 5 Bohong Lagi
6
Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7
Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8
Bab 8 Halwa Ketiduran
9
Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10
Bab 10 Hijau Pangkat
11
Bab 11 Malam Pertama
12
Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13
Bab 13 Kemarahan Cakar
14
Bab 14 Ketagihan
15
Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16
Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17
Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18
Bab 18 Ada yang Cemburu
19
Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20
Bab 20 Seragam Persit Bekas
21
Bab 21 Halwa Linglung
22
Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23
Bab 23 Acara Persit
24
Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25
Bab 25 Pengagum Halwa
26
Bab 26 Cemburukah?
27
Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28
Bab 28 Merawat Cakar
29
Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30
Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31
Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32
Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33
Bab 33 Cakar Khawatir
34
Bab 34 Cakar Vs Aldian
35
Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36
Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37
Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38
Bab 38 Menengok Bayi Rani
39
Bab 39 Menyosor Istri Orang
40
Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41
Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42
Bab 42 Ada Yang Berbeda
43
Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44
Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45
Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46
Bab 46 Pergi
47
Bab 47 Surat Dari Halwa
48
Bab 48 Kebingungan Cakar
49
Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50
Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51
Bab 51 Merasa Bersalah
52
Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53
Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54
Bab 54 Titik Terang
55
Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56
Bab 56 Sosok Halwa
57
Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58
Bab 58 Hamil
59
Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60
Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61
Bab 61 Ketahuan
62
Bab 62 Dihubungi Aisyah
63
Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64
Bab 64 Pertemuan
65
Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66
Bab 66 Boyong Dua
67
Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68
Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69
Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70
Bab 70 Ulang Tahun Persit
71
Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72
Bab 72 Bertemu Nilam
73
Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74
Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75
Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76
Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77
Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78
Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79
Bab 79 Tanda Melahirkan
80
Bab 80 Melahirkan
81
Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82
Bab 82 Besanan
83
Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84
Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85
Karya Baru
86
Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!