Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada

   "Ingat, kamu harus dandan yang cantik saat di pernikahan Rani. Soalnya di sana ada cewek KOWAD yang selalu mentel-mentel di sisi suami kamu." Diva memberi peringatan untuk Halwa di sebuah panggilan telpon.

   Halwa jadi pesimis mendengar pengakuan Diva. Itu artinya KOWAD yang selama ini selalu mendekati suaminya akan hadir di pernikahan Rani nanti.

   "Kalau begitu, sepertinya Mas Cakar tidak mungkin ajak aku berangkat bareng, Div. Jadi, aku akan datang ke pesta pernikahan Rani malam saja setelah acara selesai," sahut Halwa pesimis.

   "Ih apaan sih kamu ini Halwa? Kasihan dong Rani, dia nanti merasa tidak spesial kalau temannya kurang satu. Kamu ini harus datang dan tunjukan pesonamu di depan cewek pelakor itu, meskipun tanpa diajak suamimu," tegas Diva memberi semangat untuk Halwa.

  "Pokoknya kamu harus datang, jam satu siang. Urusan kamu, kan, menghadiri pernikahan Rani. Tapi kalau sampai suami kamu tidak ngajak kamu, tega benar deh dia," lanjut Diva lagi masih di sambungan telpon.

   "Kita lihat besok, Div. Lagian aku bingung harus pakai baju yang mana," balas Halwa masih pesimis.

   "Kamu kan punya gaun long dress di atas mata kaki yang warna hijau sage itu. Pakailah gaun itu! Lagipula gaun itu pantas dan cocok saat kamu pakai. Kamu tahu sendiri, kamu ini tidak bodoh-bodoh amat dalam urusan dandan dan fashion. Bukankah selama ini di salon tempat kamu bekerja, kamu sudah banyak belajar memadu madankan make-up dan pakaian?" urai Diva lagi.

   "Baiklah Diva, kamu tidak usah ngegas begitu," protes Halwa sembari cemberut.

   "Maafkan hamba nona cantik. Habisnya kamu ini sebelum berperang, sudah rendah diri duluan. Lagipula kamu itu istrinya Mas Cakar yang statusnya lebih kuat daripada cewek KOWAD itu. Jadi, jangan menyerah dulu sebelum berjuang," omel Diva masih belum puas.

   "Ok, ok. Semoga saja besok kita ketemu ya."

   "Halwaaaa ...." Teriakan Diva langsung menghilang setelah Halwa memutus sambungan telpon.

***

Malam hari

   Setelah makan malam, Halwa segera menaiki tangga dan memasuki kamar. Di dalam kamar ia sejenak menyiapkan gaun hijau sage yang akan dipakai ke pernikahan Rani besok. Gaun itu sudah rapi dan masih sangat bagus, sebab Halwa baru memakainya satu kali saat ulang tahun Diva dua tahun lalu.

   "Masih bagus," gumamnya seraya mengayun langkah ke kamar mandi. Dari kamar mandi, Halwa tidak pernah lupa kebiasaannya, yaitu membersihkan mukanya dengan susu pembersih dan toner.

   "Kriek."

   Pintu kamar terbuka, bayangan Cakar sudah terlihat dari kaca meja rias. Jantung Halwa langsung berdebar, ia sungguh menyesal kenapa tadi harus lama di kamar mandi dan buang air besar, sehingga kini ia belum selesai mencuci wajahnya.

  "Besok pernikahan temanku dan juga temanmu. Aku harap kamu tidak mempermalukan aku saat kamu menghadiri pesta pernikahan mereka." Tiba-tiba Cakar berbicara yang mampu menghenyakkan dada Halwa seketika. Belum apa-apa Cakar sudah menudingnya kalau dirinya bisa saja mempermalukan Cakar di pesta itu, meskipun Cakar tidak secara langsung mengatakan demikian.

   "Kita tidak perlu pergi bersama-sama, Mas, kalau kamu merasa malu," tukas Halwa sembari berdiri dan bermaksud menaiki ranjang.

   "Bagus kalau kamu tahu diri." Ucapan Cakar semakin menusuk ulu hatinya. Tanpa perasaan, dia tega berkata begitu.

   "Aku tahu diri, karena aku bukan seorang cewek berseragam seperti yang selama ini kamu dekati," balas Halwa lagi berusaha menumpahkan sakit hatinya karena ucapan Cakar.

   "Kamu cemburu?" tuding Cakar menatap tajam.

   "Tidak. Hanya menyayangkan saja, kenapa seorang perempuan single masih rela mengejar lelaki yang sudah beristri. Padahal dia berseragam dan pasti berpendidikan tinggi," balas Halwa seraya menaiki ranjang dan berbenah. Air mata yang sempat ingin jatuh, dipaksanya untuk tetap di sudut mata dan tidak tumpah di depan Cakar.

  Cakar tidak membalas, dia mendengus seraya melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Beberapa saat kemudian Cakar keluar, menarik tali lampu sehingga lampu berubah lima watt dan menaiki ranjang.

   Sementara Halwa yang sudah berbaring lebih dulu, masih susah untuk memejamkan mata dan ngantuk. Dia justru baru saja menyelesaikan tangisan singkatnya saat Cakar masih di kamar mandi.

   Tiba-tiba, sebuah tangan menggerayang di punggung Halwa, lalu memeluknya. Halwa sungguh terkejut, tidak salah lagi Cakar pasti mau minta jatah. Sayangnya akibat ucapan Cakar tadi, Halwa masih sakit hati dan terpaksa berbohong.

   "Maaf Mas, aku sedang halangan," ucapnya seraya menepis tangan Cakar lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

   Cakar kecewa, padahal dia pengen banget malam ini.

***

   Hari yang dinantikan tiba, jam menunjukkan pukul 12.00 siang. Halwa segera memasuki kamar setelah sholat zuhur di mushola tadi.

   "Halwa, bukankah semalam kamu bilang sedang halangan, tapi kenapa barusan aku lihat kamu sholat?" Halwa menahan langkahnya dan menoleh.

   "Halangannya hanya tadi malam saja Mas, sekarang aku sudah bersih," jawabnya seraya berlalu memasuki kamar dan bersiap merias diri.

   Cakar menatap Halwa kesal. Namun sepertinya tidak ada waktu lagi untuk marah. Cakar menyusul ke kamar, ia pun harus bersiap untuk menghadiri pesta pernikahan teman se-lettingnya, Rian.

Di dalam kamar, Halwa sudah memakai gaun hijau sagenya, sekilas Cakar melihat dengan ujung mata, Halwa terlihat cantik meskipun belum memoles wajahnya dengan make-up.

"Ganti bajunya, pakai baju lain yang senada dengan yang kupakai," ujar Cakar memaksa Halwa membelalakkan matanya.

"Tapi Mas, aku tidak ada pakaian yang pantas lagi yang senada dengan kemeja yang kamu pakai," tepis Halwa dengan wajah bingung.

"Cari di lemari kamar sebelah. Banyak gaun bekas mantan istriku yang masih tergantung rapi. Di sana ada banyak gaun yang senada dengan kemejaku," ucap Cakar menunjukkan kamar sebelah.

Halwa berdiri mematung, ucapan Cakar tanpa terasa menorehkan luka. Tanpa perasaan, Cakar justru menyuruhnya memakai gaun bekas almarhumah istrinya.

"Tidak perlu Mas, aku pakai gaun yang ini saja. Aku tidak perlu senada dengan kamu, mungkin kamu sudah janjian dengan yang lain dan gaunnya terlanjur sama dengan kamu," ujar Halwa seraya bergegas menuju meja rias dan meraih semua alat make-upnya. Halwa memilih keluar kamar dan merias wajahnya di beranda loteng itu.

"Halwa, patuhi permintaan aku," teriak Cakar, tapi sayang Halwa sudah menjauh.

Tiga puluh menit kemudian, Halwa sudah menuntaskan dandanannya. Gaun hijau sage membalut tubuhnya. Halwa nampak lebih tinggi dan semakin ramping dengan sendal high heel senada dengan gaunnya. Di bahunya tersampir tas hijau toska yang soft, menambah penampilan Halwa semakin anggun. Jangan lupakan rambut Halwa yang diurai dengan ujungnya dicurly, kesannya sangat menggemaskan.

Cakar keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah tampan sempurna. Aroma wangi parfum yang maskulin tercium sampai ke beranda loteng itu. Tepat saat Halwa akan berdiri dan berjalan menuju tangga.

Halwa terkejut ketika melihat Cakar sudah rapi, wangi dan tampan dengan kemeja hijau senada dengan gaun yang dipakainya.

"*Kenapa Mas Cakar mengganti kemejanya*?" batinnya heran.

Suara high heel yang bersentuhan dengan ubin, kemudian menimbulkan ketukan di lantai, cukup membuyarkan fokus Cakar. Seketika Cakar menoleh ke arah suara itu dan menatap ke arah Halwa.

Halwa yang diduganya akan berdandan menor dan memalukan, nyatanya di depan matanya mampu menjelma menjadi seorang perempuan yang sangat anggun dan cantik. Penampilannya sungguh sempurna.

Cakar mengedipkan matanya, sadar tatapnya telah diketahui Halwa. Halwa semakin mendekat dan berjalan melewati Cakar dan mendahuluinya tanpa memperlihatkan rasa kagum.

"Halwa, kita pergi bersama."

Mobil Cakar sudah keluar dari halaman rumah, di dalamnya baik Halwa maupun Cakar tidak sepatah katapun berbicara. Mereka fokus dengan pikirannya masing-masing.

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

Cakar yg belum oernah di cakar.. nyatanya emang manusia munafik yg egois tingkat dewa...

2025-02-14

1

Lita Pujiastuti

Lita Pujiastuti

si Cakar ayam itu, bener tak punya hati. mulutnya jg kaya cabe saja klo ngomong ...

2025-01-01

0

Dewi Oktavia

Dewi Oktavia

malas x perkataan yang pedas

2025-03-02

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pernikahan
2 Bab 2 Fakta Seli
3 Bab 3 Ditinggal Sendiri
4 Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5 Bab 5 Bohong Lagi
6 Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7 Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8 Bab 8 Halwa Ketiduran
9 Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10 Bab 10 Hijau Pangkat
11 Bab 11 Malam Pertama
12 Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13 Bab 13 Kemarahan Cakar
14 Bab 14 Ketagihan
15 Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16 Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17 Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18 Bab 18 Ada yang Cemburu
19 Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20 Bab 20 Seragam Persit Bekas
21 Bab 21 Halwa Linglung
22 Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23 Bab 23 Acara Persit
24 Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25 Bab 25 Pengagum Halwa
26 Bab 26 Cemburukah?
27 Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28 Bab 28 Merawat Cakar
29 Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30 Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31 Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32 Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33 Bab 33 Cakar Khawatir
34 Bab 34 Cakar Vs Aldian
35 Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36 Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37 Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38 Bab 38 Menengok Bayi Rani
39 Bab 39 Menyosor Istri Orang
40 Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41 Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42 Bab 42 Ada Yang Berbeda
43 Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44 Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45 Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46 Bab 46 Pergi
47 Bab 47 Surat Dari Halwa
48 Bab 48 Kebingungan Cakar
49 Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50 Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51 Bab 51 Merasa Bersalah
52 Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53 Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54 Bab 54 Titik Terang
55 Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56 Bab 56 Sosok Halwa
57 Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58 Bab 58 Hamil
59 Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60 Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61 Bab 61 Ketahuan
62 Bab 62 Dihubungi Aisyah
63 Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64 Bab 64 Pertemuan
65 Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66 Bab 66 Boyong Dua
67 Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68 Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69 Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70 Bab 70 Ulang Tahun Persit
71 Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72 Bab 72 Bertemu Nilam
73 Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74 Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75 Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76 Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77 Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78 Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79 Bab 79 Tanda Melahirkan
80 Bab 80 Melahirkan
81 Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82 Bab 82 Besanan
83 Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84 Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85 Karya Baru
86 Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1 Pernikahan
2
Bab 2 Fakta Seli
3
Bab 3 Ditinggal Sendiri
4
Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5
Bab 5 Bohong Lagi
6
Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7
Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8
Bab 8 Halwa Ketiduran
9
Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10
Bab 10 Hijau Pangkat
11
Bab 11 Malam Pertama
12
Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13
Bab 13 Kemarahan Cakar
14
Bab 14 Ketagihan
15
Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16
Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17
Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18
Bab 18 Ada yang Cemburu
19
Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20
Bab 20 Seragam Persit Bekas
21
Bab 21 Halwa Linglung
22
Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23
Bab 23 Acara Persit
24
Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25
Bab 25 Pengagum Halwa
26
Bab 26 Cemburukah?
27
Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28
Bab 28 Merawat Cakar
29
Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30
Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31
Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32
Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33
Bab 33 Cakar Khawatir
34
Bab 34 Cakar Vs Aldian
35
Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36
Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37
Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38
Bab 38 Menengok Bayi Rani
39
Bab 39 Menyosor Istri Orang
40
Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41
Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42
Bab 42 Ada Yang Berbeda
43
Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44
Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45
Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46
Bab 46 Pergi
47
Bab 47 Surat Dari Halwa
48
Bab 48 Kebingungan Cakar
49
Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50
Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51
Bab 51 Merasa Bersalah
52
Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53
Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54
Bab 54 Titik Terang
55
Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56
Bab 56 Sosok Halwa
57
Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58
Bab 58 Hamil
59
Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60
Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61
Bab 61 Ketahuan
62
Bab 62 Dihubungi Aisyah
63
Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64
Bab 64 Pertemuan
65
Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66
Bab 66 Boyong Dua
67
Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68
Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69
Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70
Bab 70 Ulang Tahun Persit
71
Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72
Bab 72 Bertemu Nilam
73
Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74
Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75
Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76
Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77
Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78
Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79
Bab 79 Tanda Melahirkan
80
Bab 80 Melahirkan
81
Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82
Bab 82 Besanan
83
Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84
Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85
Karya Baru
86
Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!