Bab 3 Ditinggal Sendiri

   Halwa menatap Cakar menantikan jawaban. Rambutnya yang basah, tak ayal mengakibatkan tetesan air dari kepalanya. Cakar yang merasa ketahuan akan pergi, sejenak terperangah lalu menatap Halwa yang berbalut bathrobe.

   "Aku harus pergi. Kamu tunggulah di kamar ini dan jangan ke mana-mana," ucapnya memberi tahu.

   "Tapi ke mana, Mas? Bukankah kita baru sampai dan ini adalah hari pengantin kita?" ujar Halwa menatap nanar lelaki yang baru saja berstatus suami.

   "Kamu tidak perlu tahu ke mana aku pergi, dan jangan terlalu berharap. Aku sama sekali tidak mencintai kamu, aku terpaksa menerima perjodohan ini karena desakan kedua orang tua aku. Dan ingat, ya, kamu bukanlah tipeku. Apalagi perempuan caper seperti kamu, aku tidak pernah tertarik secantik apapun kamu," tegas Cakar sembari membuka pintu kamar hotel dan berlalu.

   Halwa sedih dengan ucapan ketus Cakar. Dia berdiri mematung menatap kepergian Cakar yang entah ke mana? Tetesan air mata kini jatuh bersama tetesan air dari rambut Halwa.

   Perasaan gelisah terus menyelimuti Halwa, terlebih saat Hp nya berdering. Sebuah panggilan telpon berdering nyaring. Tentu saja Halwa penasaran dari siapa panggilan itu. Halwa segera meraih Hp nya yang tergeletak di atas meja rias hotel itu.

   "Mama Fajarani?" kagetnya seraya menatap nama yang tertera di layar Hp yang kini menyala dan berdering. Halwa bingung harus berbuat apa, mengangkat atau membiarkan saja. Ketakutan Halwa adalah, jika mama mertuanya menanyakan Cakar, maka dia harus jawab apa?

   Panggilan itu berhenti, Halwa lega. Namun, beberapa menit kemudian Hp nya kembali berdering. Nama yang sama tertera di sana.

   Dengan tangan yang sedikit bergetar, Halwa terpaksa mengangkat panggilan itu.

   "Assalamualaikum, Ma."

   "Waalaikumsalam, Halwa. Bagaimana, apakah kalian sudah sampai di hotel? Maaf mama terpaksa menghubungi kamu, sebab sejak tadi Hp nya suamimu tidak aktif. Mama jadi khawatir. Syukurlah jika kalian sudah sampai. Lalu Cakar sedang apa dan kenapa Hp nya tidak aktif?" cecar Bu Fajarani.

   "Kami sudah sampai setengah jam yang lalu, Ma. Hp Mas Cakar sepertinya kehabisan batre dan sedang dicas. Mas Cakar sekarang sedang di kamar mandi, Ma," jawab Halwa terpaksa berbohong

   "Baiklah kalau begitu, mama tutup telponnya."

   "Iya, Ma.Terimakasih Mama sudah mengkhawatirkan kami." Halwa bermaksud menutup sambungan telpon itu, akan tetapi Bu Fajarani segera menyela.

   "Halwa, sebentar. Mama ada yang ingin disampaikan," tahan Bu Fajarani.

   "Iya, Ma."

   "Kalau perlakuan Cakar belum baik sama kamu, mama minta kamu sabar, ya. Kamu janji harus bisa merebut hati Cakar. Mama yakin, dia pasti akan bisa mencintai kamu pada akhirnya," ujar Bu Fajarani lega di ujung telpon, karena sudah mengungkapkan isi hatinya kepada Halwa.

   Seperti yang Bu Fajarani tahu, Cakar menerima perjodohan ini hanya terpaksa. Dan Cakar sempat berkata bahwa ia tidak akan pernah mencintai Halwa, untuk itu Bu Fajarani memilih berkata jujur pada Halwa.

   Halwa tertegun tanpa merespon, di sini ia seakan dituntut untuk menerima perlakuan Cakar apapun itu. Sementara dihari pertama pernikahannya saja, sikap Cakar sudah menunjukkan kebencian. Apakah Halwa akan sanggup bertahan dengan sikap Cakar seperti itu?

  Salahnya sendiri, ia memang menyukai Cakar, malah tempo bulan yang lalu, Halwa pernah berceletuk di depan teman-temannya bahwa ia menyukai Cakar yang saat itu sudah menduda beberapa bulan setelah ditinggalkan Seli.

   Celetukan ini kemudian menyebar bagai jamur di musim hujan, teman-teman Halwa yang iseng yang kebetulan memiliki kekasih seorang anggota, menyampaikan celetukan Halwa pada pasangannya masing-masing dan ada juga yang menyampaikan langsung pada Cakar bahwa Halwa menyukai Cakar dan kirim salam pada Cakar.

   Dari situ Cakar salah paham, dia menduga Halwa memang sengaja mengirim salam dan menyatakan suka padanya lewat teman-temannya, padahal Halwa sama sekali tidak pernah meminta teman-tamannya untuk menyampaikan salam pada Cakar. Jika pun dia pernah beramah-tamah dan memberikan senyuman pada Cakar, itu hanya sekedar adab dan keramahan yang ditunjukkan terhadap pria tampan bertubuh atletis itu, ketika kebetulan bertemu secara tidak sengaja.

   Sementara rasa sukanya pada Cakar, tidak pernah sengaja dia umbar atau ditunjukan langsung. Namun, keramahan dan senyuman Halwa, justru disalah artikan Cakar, sebab Cakar sudah kemakan omongan teman-teman Halwa yang terlanjur menyampaikan bahwa Halwa menyukai dan selalu menitip salam untuknya.

   Cakar tidak suka sikap Halwa yang dinilainya caper dan sok kecantikan, menurutnya Halwa tidak perlu menyampaikan salam buatnya segala seakan tidak punya harga diri sebagai perempuan.

   Sedangkan teman-teman Halwa, selain iseng, mereka memang mendukung jika Halwa bisa duduk bersanding dengan Cakar yang dinilainya sedikit angkuh diantara kekasih-kekasih tentara mereka. Bahkan mereka punya cita-cita ingin menghadiri acara Persit bersama-sama kelak.

   "Janji, ya. Kita kelak akan bertemu dalam rangka menghadiri rapat ibu-ibu Persit," celoteh Rani kala itu sembari terkekeh. Ia memang sudah tunangan dengan kekasih tentaranya, bahkan sebulan lagi dia menyusul ke pelaminan. Sedangkan teman Halwa satu lagi, Diva, akan menikah enam bulan lagi di awal tahun, dua bulan setelah kakaknya Diva menikah.

   Halwa terkenang kembali dengan tiga sahabatnya, yang super iseng dan kadang menjahilinya dengan menjodoh-jodohkan ya dengan beberapa laki-laki, terakhir paling gencar menjodohkan dengan Cakar.

   "Kalian memang sering bikin rusuh," batinnya sembari menyunggingkan senyum.

   "Halwa, kamu tidak kenapa-kenapa, Nak?" tegur Bu Fajarani dari ujung telpon. Halwa tersentak, tersadar dari lamunannya.

   "I~iya, Ma. Maaf, barusan Halwa sempat ambil air minum dulu, haus," gugupnya memberikan alasan bohong lagi.

   "Baiklah. Kamu janji ya akan bersabar menghadapi Cakar," ucap Bu Fajarani mengulang permintaannya tadi.

   "Iya, Ma. Insya Allah," jawab Halwa sembari menutup panggilan telpon setelah di sebrang sana menyudahi panggilan dengan mengucap salam.

Setelah mengakhiri panggilan dan meletakkan kembali Hp nya di meja rias, Halwa menuju lemari dan memilih pakaian tidur yang sudah disiapkan pihak hotel khusus untuk pasangan pengantin.

Malam semakin larut, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 21.00 Wib. Mata Halwa sudah mulai mengantuk. Namun Cakar yang sejak tadi ditunggu, belum kunjung pulang. Perlahan Halwa membaringkan tubuhnya pelan di atas ranjang setelah ia singkirkan bunga mawar merah dan putih itu ke samping ranjang.

Karena ngantuk dan tubuh yang lelah sehabis berdiri dan menyalami tamu tadi, Halwa dengan cepat tertidur pulas tanpa ingat lagi dengan Cakar yang entah jam berapa akan pulang.

Deru nafas teratur tapi lelah itu, terdengar oleh Cakar, kala Cakar mulai memasuki kamar nomer 44 itu. Cakar masuk semakin dalam, dia menuju ranjang yang sudah terbujur tubuh Halwa yang terlelap. Ditatapnya lelap tubuh perempuan muda itu, jarak perbedaan usia dengannya lumayan jauh yaitu enam tahun.

Wajah cantik dan tubuh yang seksi karena baju tidurnya tersingkap secara tidak sengaja itu, masih ditatap dengan lekat oleh Cakar. Terbersit rasa sesal di dalam hatinya, karena telah membiarkan pengantinnya terkurung sendiri di kamar hotel yang dirancang sebagai kamar pengantin, sementara dirinya pergi menemui rekan seprofesinya yang saat ini sedang dekat dengannya.

"Maafkan aku Halwa, tapi tadi wanita itu benar-benar membutuhkan aku. Semoga saja kamu tidak mengatakan semua ini pada kedua orang tuaku," bisiknya berharap seraya bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Terpopuler

Comments

Binti Choirur

Binti Choirur

membaca namanya pemeran laki²,jadi teringat kaki ayam dalam bahasa Jawa🙈🙈🙈

2025-01-16

2

mei

mei

awas y ingat kata2mu ini! jgn menjilat ludah sendiri akhirnya 😡

2024-12-07

1

Eri Erisyah

Eri Erisyah

kenapa ga Cakra ajj sih Thor...bc ny JD agak gimn gitu

2024-12-20

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pernikahan
2 Bab 2 Fakta Seli
3 Bab 3 Ditinggal Sendiri
4 Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5 Bab 5 Bohong Lagi
6 Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7 Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8 Bab 8 Halwa Ketiduran
9 Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10 Bab 10 Hijau Pangkat
11 Bab 11 Malam Pertama
12 Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13 Bab 13 Kemarahan Cakar
14 Bab 14 Ketagihan
15 Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16 Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17 Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18 Bab 18 Ada yang Cemburu
19 Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20 Bab 20 Seragam Persit Bekas
21 Bab 21 Halwa Linglung
22 Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23 Bab 23 Acara Persit
24 Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25 Bab 25 Pengagum Halwa
26 Bab 26 Cemburukah?
27 Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28 Bab 28 Merawat Cakar
29 Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30 Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31 Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32 Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33 Bab 33 Cakar Khawatir
34 Bab 34 Cakar Vs Aldian
35 Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36 Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37 Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38 Bab 38 Menengok Bayi Rani
39 Bab 39 Menyosor Istri Orang
40 Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41 Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42 Bab 42 Ada Yang Berbeda
43 Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44 Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45 Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46 Bab 46 Pergi
47 Bab 47 Surat Dari Halwa
48 Bab 48 Kebingungan Cakar
49 Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50 Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51 Bab 51 Merasa Bersalah
52 Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53 Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54 Bab 54 Titik Terang
55 Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56 Bab 56 Sosok Halwa
57 Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58 Bab 58 Hamil
59 Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60 Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61 Bab 61 Ketahuan
62 Bab 62 Dihubungi Aisyah
63 Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64 Bab 64 Pertemuan
65 Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66 Bab 66 Boyong Dua
67 Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68 Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69 Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70 Bab 70 Ulang Tahun Persit
71 Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72 Bab 72 Bertemu Nilam
73 Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74 Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75 Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76 Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77 Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78 Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79 Bab 79 Tanda Melahirkan
80 Bab 80 Melahirkan
81 Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82 Bab 82 Besanan
83 Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84 Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85 Karya Baru
86 Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1 Pernikahan
2
Bab 2 Fakta Seli
3
Bab 3 Ditinggal Sendiri
4
Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5
Bab 5 Bohong Lagi
6
Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7
Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8
Bab 8 Halwa Ketiduran
9
Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10
Bab 10 Hijau Pangkat
11
Bab 11 Malam Pertama
12
Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13
Bab 13 Kemarahan Cakar
14
Bab 14 Ketagihan
15
Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16
Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17
Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18
Bab 18 Ada yang Cemburu
19
Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20
Bab 20 Seragam Persit Bekas
21
Bab 21 Halwa Linglung
22
Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23
Bab 23 Acara Persit
24
Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25
Bab 25 Pengagum Halwa
26
Bab 26 Cemburukah?
27
Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28
Bab 28 Merawat Cakar
29
Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30
Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31
Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32
Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33
Bab 33 Cakar Khawatir
34
Bab 34 Cakar Vs Aldian
35
Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36
Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37
Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38
Bab 38 Menengok Bayi Rani
39
Bab 39 Menyosor Istri Orang
40
Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41
Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42
Bab 42 Ada Yang Berbeda
43
Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44
Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45
Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46
Bab 46 Pergi
47
Bab 47 Surat Dari Halwa
48
Bab 48 Kebingungan Cakar
49
Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50
Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51
Bab 51 Merasa Bersalah
52
Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53
Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54
Bab 54 Titik Terang
55
Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56
Bab 56 Sosok Halwa
57
Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58
Bab 58 Hamil
59
Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60
Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61
Bab 61 Ketahuan
62
Bab 62 Dihubungi Aisyah
63
Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64
Bab 64 Pertemuan
65
Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66
Bab 66 Boyong Dua
67
Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68
Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69
Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70
Bab 70 Ulang Tahun Persit
71
Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72
Bab 72 Bertemu Nilam
73
Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74
Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75
Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76
Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77
Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78
Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79
Bab 79 Tanda Melahirkan
80
Bab 80 Melahirkan
81
Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82
Bab 82 Besanan
83
Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84
Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85
Karya Baru
86
Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!