Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas

   "Ke mana istrimu, kenapa belum muncul-muncul dari dapur? Bukankah tadi hanya membantu Bi Rona membereskan piring yang kotor di meja? Coba panggilkan Ais, kakak iparmu," suruh Bu Fajarani pada Aisyah.

   Aisyah berdiri dari kursi. Akan tetapi Halwa tiba-tiba muncul dengan wajah yang berseri. Sisa tangis yang tadi berhasil dia lepaskan, sudah tidak terlihat lagi.

   "Ini orangnya datang. Kita sudah nunggu kamu lho Mbak." Meskipun Aisyah dua tahun lebih tua dari Halwa, Aisyah tetap memanggil Halwa dengan panggilan Mbak, sebagai bentuk penghargaan untuk istri kakaknya.

   "Terimakasih Ais. Maafkan Halwa, Bu, Pak. Tadi Halwa tiba-tiba kebelet dan lama di kamar mandi." Halwa memberi alasan.

   "Baiklah. Duduklah Nak. Kita ngobrol sejenak sebelum kami meninggalkan kalian berdua di rumah ini. Kalian mulai sekarang akan tinggal di sini, di rumah Cakar yang dulu pernah ditempati bersama almarhumah istrinya." Ucapan Bu Fajarani mendapat tatapan dari Pak Diki, Pak Diki merasa tidak enak atas ucapan istrinya yang menyinggung almarhumah istri Cakar.

   "Maaf, ibu tidak bermaksud mengingatkan kamu tentang almarhumah istri Cakar."

   "Tidak apa-apa, Bu." Halwa membalas dengan wajah yang tetap menunduk.

   "Cakar, sekarang kamu sudah memiliki pendamping. Perlakukan istrimu dengan baik. Jangan sakiti dia. Jika dia melakukan kesalahan dan perbuatannya tidak mengena di hati kamu, maka bapak harap kamu bisa memberitahunya dan mengajarinya dengan baik." Pak Diki memberi nasihat pada Cakar yang sejak tadi duduk menghadap kedua orang tuanya.

   "Pergauli istrimu dengan baik. Berikan haknya dan tunjukkan kewajibannya, supaya hubungan rumah tangga kalian selalu diberikan kelancaran dan keharmonisan," lanjut Pak Diki mewanti-wanti.

   "Lalu Nak Halwa sebagai istri dan sebagai orang yang lebih muda dari Cakar, harus bisa menjaga marwah suami di manapun suami berada. Turuti apapun perintahnya selama itu baik. Jika ada masalah, maka bicarakan terlebih dahulu dari hati ke hati. Kalian tentu sudah dewasa, jadi selesaikan semua masalah secara dewasa dan kepala dingin." Bu Fajarani kini yang memberi nasihat untuk Halwa.

   "Bagaimana apakah kalian sudah siap menjalaninya? Dan yang terpenting, kalian berdua harus saling terbuka satu sama lain. Jangan ada hal yang disembunyikan. Intinya kalian harus saling hormat menghormati pasangan. Maka hubungan rumah tangga kalian, insya Allah akan bertahan lama serta melahirkan keturunan-keturunan yang saleh dan saleha," sambung Pak Diki sangat adem didengar.

   "Insya Allah siap, Pak." Halwa menjawab, sementara Cakar hanya diam saja.

   "Oh iya, apakah kalian butuh asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumah?" tanya Bu Fajarani menatap Cakar dan Halwa bergantian.

"Sepertinya tidak perlulah, Bu. Si Halwa pasti sudah terbiasa mengurus rumah yang tidak terlalu luas ini. Lagipula dia bisa membersihkan ruang ke ruangnya tidak harus setiap hari dan sekaligus selesai dalam satu hari. Bukankah begitu Halwa?" Cakar melemparkan pertanyaan terhadap Halwa.

"I~iya, Mas. Tentu saja," balas Halwa sedikit gugup.

"Tidak maksud ibu, kalau memang kalian tidak butuh pembantu tiap hari, setidaknya dua minggu sekali biarkan Bi Rona dan Mang Dani datang ke sini untuk beberesih. Biarkan mereka jadi urusan ibu, kalian tidak usah memikirkan kehadiran mereka di sini saat melakukan tugasnya," ujar Bu Fajarani lagi.

"Baiklah terserah Ibu saja," ujar Cakar menyerahkan semua kepada ibunya.

   "Baiklah kalau begitu, sepertinya tugas kami sudah selesai menyampaikan apa yang ingin kami sampaikan terhadap kalian. Kami harap kalian dapat menjalankan rumah tangga ini dengan sebaik-baiknya. Yang terpenting, jaga rumah tangga kalian dari sebuah perdebatan yang akan mengeruhkan hubungan rumah tangga. Kamu Cakar sebagai yang lebih tua dan sebagai suami, harus banyak mengalah dan mengayomi. Kamu harus siap, hindarkan setiap kekerasan dalam rumah tangga. Meskipun kamu sebagai anggota, tapi kamu harus perlakukan istrimu dengan baik dan lembut," ujar Pak Diki lagi sedikit mengulas ucapannya yang tadi.

   Pak Diki mulai bangkit untuk kembali pulang, diikuti Cakar dan yang lain. Pak Diki menuju pintu keluar duluan, sementara Bu Fajarani masih bertahan di ruang keluarga. Dia justru mendekati Halwa dan berbicara empat mata dengan menantunya.

   "Halwa, kalau sikap Cakar sedikit keras, ibu mohon kamu sabar dan kuat, ya. Dia memang sedikit keras kepala. Namun, dia bisa melunak jika kamu terus memberi perhatian dan memberi kelembutan untuknya," tutur bu Fajarani saat ruang keluarga hanya tinggal mereka berdua saja.

"Dan jangan lupa, kamu harus janji dan bisa mencuri hati Cakar. Buat dia jatuh cinta sama kamu. Sepertinya kamu memang gadis yang tulus, ibu yakin kamu bisa menaklukan hati Cakar. Perjuangkan, ya." Bu Fajarani untuk yang terakhir kalinya memberi nasihat untuk Halwa.

"Iya, Bu. Terima kasih atas nasihat dan perhatiannya. Halwa akan berusaha mejadi istri yang baik bagi Mas Cakar," ujar Halwa bertekad.

Bu Fajarani tersenyum senang, dia mengusap bahu gadis didekatnya dengan penuh berbagai harapan.

Setelah berbicara empat mata dengan Halwa, Bu Fajarani berpamitan untuk pulang.

Setelah kedua orang tua Cakar dan beberapa kerabat dari Cakar pulang, kini rumah itu sepi.

"Ayolah, ikuti aku. Kamu masih mau bengong di sudut ruang tengah dengan segala kebingungan kamu?" tegur Cakar mengagetkan Halwa.

Halwa membalikkan badan, lalu meraih koper bawaannya tadi dan dibawa menaiki tangga mengikuti Cakar.

Tiba di loteng rumah, Cakar melangkahkan kaki pada sebuah kamar yang berada di paling ujung ruangan ini. Ada dua kamar di loteng ini, ada balkon juga ruang keluarga.

"Masuklah, jangan mematung terus di situ. Meskipun aku tidak mencintai kamu, tapi aku tetap membawamu satu kamar denganku. Tapi ingat, jangan harap kamu bisa mendapatkan nafkah batin dariku, sebab aku sama sekali tidak tertarik dengan gadis caper seperti kamu," tandasnya lagi penuh tekanan.

Halwa hanya mengangguk dan mengikuti kamar milik Cakar yang kini sudah menjadi miliknya juga.

Kamar ini tidak terlalu sempit atau luas. Namun, terlihat sangat tertata rapi dan bersih. Sepertinya Cakar memang rajin membersihkan rumah ini termasuk kamarnya.

"Kamu boleh tidur di ranjang itu. Tapi tidak perlu mengutak-atik letak benda apapun di kamar ini, sebab itu adalah privasi aku. Ingat itu!" tegasnya lagi.

"Iya, Mas," sahutnya pendek.

"Oh ya. Aku patut berterimakasih sama kamu, karena dengan lihainya, hari ini kamu mampu mengarang dengan sempurna. Kamu bakat jadi pengarang yang handal."

Halwa paham maksud Cakar, dia sejak di Daisy Hotel sudah beberapa kali berbohong demi Cakar. Dan tadi di rumah ini, dia kembali berbohong. Semua itu demi kebaikan Cakar.

"Iya Mas, sama-sama. Semua itu untuk kebaikan Mas Cakar juga." Jawaban Halwa mampu membalikan tubuh Cakar yang tadinya sudah melangkah keluar kamar.

Terpopuler

Comments

Etha Drianti

Etha Drianti

halwa dan cakar kompak didepan orang tua

2025-01-03

1

Rosmah Asrul

Rosmah Asrul

nda usa peduliin halwa si cakar

2024-12-02

2

gah ara

gah ara

pengen ku hantam koper kamu ceker ayam bau kagak di cuci !!!!

2024-11-10

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pernikahan
2 Bab 2 Fakta Seli
3 Bab 3 Ditinggal Sendiri
4 Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5 Bab 5 Bohong Lagi
6 Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7 Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8 Bab 8 Halwa Ketiduran
9 Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10 Bab 10 Hijau Pangkat
11 Bab 11 Malam Pertama
12 Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13 Bab 13 Kemarahan Cakar
14 Bab 14 Ketagihan
15 Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16 Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17 Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18 Bab 18 Ada yang Cemburu
19 Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20 Bab 20 Seragam Persit Bekas
21 Bab 21 Halwa Linglung
22 Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23 Bab 23 Acara Persit
24 Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25 Bab 25 Pengagum Halwa
26 Bab 26 Cemburukah?
27 Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28 Bab 28 Merawat Cakar
29 Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30 Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31 Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32 Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33 Bab 33 Cakar Khawatir
34 Bab 34 Cakar Vs Aldian
35 Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36 Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37 Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38 Bab 38 Menengok Bayi Rani
39 Bab 39 Menyosor Istri Orang
40 Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41 Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42 Bab 42 Ada Yang Berbeda
43 Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44 Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45 Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46 Bab 46 Pergi
47 Bab 47 Surat Dari Halwa
48 Bab 48 Kebingungan Cakar
49 Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50 Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51 Bab 51 Merasa Bersalah
52 Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53 Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54 Bab 54 Titik Terang
55 Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56 Bab 56 Sosok Halwa
57 Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58 Bab 58 Hamil
59 Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60 Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61 Bab 61 Ketahuan
62 Bab 62 Dihubungi Aisyah
63 Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64 Bab 64 Pertemuan
65 Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66 Bab 66 Boyong Dua
67 Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68 Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69 Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70 Bab 70 Ulang Tahun Persit
71 Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72 Bab 72 Bertemu Nilam
73 Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74 Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75 Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76 Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77 Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78 Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79 Bab 79 Tanda Melahirkan
80 Bab 80 Melahirkan
81 Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82 Bab 82 Besanan
83 Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84 Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85 Karya Baru
86 Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bab 1 Pernikahan
2
Bab 2 Fakta Seli
3
Bab 3 Ditinggal Sendiri
4
Bab 4 Pulang Bulan Madu Menempati Rumah Baru
5
Bab 5 Bohong Lagi
6
Bab 6 Semua Demi Kebaikan Kamu, Mas
7
Bab 7 Hadiah Ulang Tahun Untuk Cakar
8
Bab 8 Halwa Ketiduran
9
Bab 9 Kado Ulang Tahun Spesial
10
Bab 10 Hijau Pangkat
11
Bab 11 Malam Pertama
12
Bab 12 Senyum Bahagia di Balik Bibir Mertua
13
Bab 13 Kemarahan Cakar
14
Bab 14 Ketagihan
15
Bab 15 Pertengkaran di Ruang Makan
16
Bab 16 Rasa Bersalah Rani dan Diva
17
Bab 17 Kemeja Cakar yang Senada
18
Bab 18 Ada yang Cemburu
19
Bab 19 Kecewa Halwa Diabaikan Cakar
20
Bab 20 Seragam Persit Bekas
21
Bab 21 Halwa Linglung
22
Bab 22 Jahitan di Seragam Persit Halwa
23
Bab 23 Acara Persit
24
Bab 24 Memori Taman Soemarmo, Cakar Dibakar Cemburu
25
Bab 25 Pengagum Halwa
26
Bab 26 Cemburukah?
27
Bab 27 Cakar Sakit/ Penemuan Foto di Laci Lemari Cakar
28
Bab 28 Merawat Cakar
29
Bab 29 Kenangan Seli di Kamar Itu
30
Bb 30 Kedatangan Teman-teman Cakar
31
Bab 31 Rindu Menyatukan Rasa
32
Bab 32 Hp dan Dompet Halwa Tidak Ada
33
Bab 33 Cakar Khawatir
34
Bab 34 Cakar Vs Aldian
35
Bab35 Pertemuan Cakar dan Nizam
36
Bab 36 Mengungkap Fakta Seli
37
Bab 37 Membuang Semua Kenangan Tentang Seli
38
Bab 38 Menengok Bayi Rani
39
Bab 39 Menyosor Istri Orang
40
Bab 40 Cakar Datang, Aldian Gagal Mengantar
41
Bab 41 Kenapa Aku Harus Cemburu?
42
Bab 42 Ada Yang Berbeda
43
Bab 43 Abang Tidak Bisa, Dik!
44
Bab 44 Ingin Makan Yang Segar
45
Bab 45 Sesuatu Yang Beda
46
Bab 46 Pergi
47
Bab 47 Surat Dari Halwa
48
Bab 48 Kebingungan Cakar
49
Bab 49 Kemarahan Orang Tua Cakar
50
Bab 50 Penyesalan Dan Janji Cakar
51
Bab 51 Merasa Bersalah
52
Bab 52 Kabar Halwa Yang Dibocorkan Helmi
53
Bab 53 Menghubungi Ibu Mertua
54
Bab 54 Titik Terang
55
Bab 55 Belum Menemukan Petunjuk
56
Bab 56 Sosok Halwa
57
Bab 57 Pulang Dengan Tangan Hampa
58
Bab 58 Hamil
59
Bab 59 Ada Yang Rindu Halwa
60
Bab 60 Lelah Fisik Dan Pikiran
61
Bab 61 Ketahuan
62
Bab 62 Dihubungi Aisyah
63
Bab 63 Kabar Baik Untuk Cakar
64
Bab 64 Pertemuan
65
Bab 65 Apakah Halwa Hamil?
66
Bab 66 Boyong Dua
67
Bab 67 Pulang dan Sebuah Hasrat Rindu
68
Bab 68 Danton Aldian Bikin Emosi
69
Bab 69 Menjumpai Ibu dan Orang Tua Cakar
70
Bab 70 Ulang Tahun Persit
71
Bab 71 Cemburu dan Perhatian Cakar
72
Bab 72 Bertemu Nilam
73
Bab 73 Siapakah Teman Masa Kecil Itu?
74
Bab 74 Danton Aldian, Teman Masa Kecil Halwa?
75
Bab 75 Pertemuan Cakar dengan Danton Aldian di Rumah Bu Aminah
76
Bab 76 Antara Masa Lalu Dan Cakar
77
Bab 77 Bukti Cinta Halwa
78
Bab 78 Acara Aqeqahan Abang leting
79
Bab 79 Tanda Melahirkan
80
Bab 80 Melahirkan
81
Bab 81 Danton Aldian Menjenguk Halwa
82
Bab 82 Besanan
83
Bab 83 Kebahagiaan Cakar dan Halwa
84
Bab 84 Mencoba Saling Melepaskan (E N D)
85
Karya Baru
86
Karya Baru Judu ; Pengobat Cinta Letnan Angkuh Yang Patah Hati

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!