"Jadi ... kau benar akan bekerja di sini?" ucap pemilik toko.
"Ya ... benar, Pak."
"Gajinya tidak banyak, kau bekerja juga cukup berat. Bagaimana?" tanya pemilik toko lagi.
"Ya ... aku akan mengambil pekerjaannya."
"Kugaji sekitar dua juta perbulan menjaga toko dua belas jam? Kau sanggup? Kalau kau ingin me-nego, katakan saja ... kau bebas melakukan itu, santai saja. Kau masih cukup muda."
Feri terdiam. "Bagaimana kalau part time? Aku bekerja sebagai tukang. Sekarang aku hanya mencari sampingan."
Pemilik toko itu berpikir. "Bagaimana kalau delapan jam?"
"Ya ... aku akan mengambilnya," ucap Feri.
****
Sedari tadi, belum ada pembeli. Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam.
"Hoammmm ...." Feri lagi-lagi hampir ketiduran. Matanya tak mampu lagi untuk terbuka lebar.
"Sepi sekali ... kalau aku tidur, bagaimana kalau ada rampok yang mengendap-endap?" kata Feri.
Feri langsung berjaga. Mengamati sekitar. Tetapi tetap saja, semuanya tampak hening dan sepi.
Feri menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Huh ... sepi sekali, kalau begini, bagaimana aku bisa mencari uang," kata Feri.
Sayup-sayup mata Feri mulai terkatup. Udaranya sangat dingin, cocok sekali untuk tidur di malam itu.
Hingga, terbesit dalam tidurnya teringat bahwa Feri harus membayar kosnya. Hal itu membuat Feri terkejut dan terbangun.
"Sial ... tidur nyenyak pun aku tak bisa. Hidupku memang sangat malang," gerutu Feri. "Ingin sekali kuberleha-leha. Sekarang itulah cita-citaku."
Feri menatap sekitar. Pemilik toko sudah tertidur di sofa. Feri mengalihkan pandangannya lagi. Ia menatap pada laci berisikan uang yang terbuka lebar.
"Tidak Feri! Hidupmu memang susah dan miskin! Tapi kau tidak boleh melakukan hal itu." Feri meyakinkan untuk tidak mengambil uang di dalam laci. "Setidaknya kau tidak boleh mengambil hak orang lain."
Lagi-lagi Feri teringat dengan janji pada pemilik kos.
Feri menatap jam. Waktu sudah menunjukkan pukul satu lebih tiga puluh menit.
"Mungkin akan kukembalikan saat aku sudah memiliki uang." Tatapannya menatap pada pemilik toko. "Badannya besar ... kalau dia tahu aku mencuri, aku bisa mati. Tapi kalau tidak—aku akan diusir Ibu kos ...."
"Ah ... bagaimana ini?" Pikirannya terus berkelahi.
Tanpa berlama-lama lagi Feri langsung mengambil seraup uang. Ia masukkan ke dalam saku jaketnya dan saku celananya. "Maaf ... tapi aku harus melakukan ini."
Feri langsung berlari.
"Aku akan bertanggungjawab dengan semua ini, nanti ...."
Sayangnya, satu lemparan benda keras melayang mengenai pundak Feri.
BUGGG
Hingga Feri terjatuh dan tak sadarkan diri.
****
"Aku tidak bisa tidur malam ini ... kurasa karena ada teman mengobrol sehingga kantukku hilang," ucap Via.
"Teringat saat berkemah dua bulan yang lalu ... aku kira temanku yang tidur di sampingku. Tak lama, temanku memanggilku di luar."
"Memang ... banyak sekali cerita-cerita mistis. Saat aku berkemah di sekolah dari kepramukaan, kulihat Bella sedang berlari-lari di gedung atas seraya tertawa. Itu pukul satu malam. Saat kulihat lagi, Bella sedang tertidur," timpal Via.
"Kurasa kita harus tidur ...." Gea melihat jam di dinding. "Sudah pukul dua malam."
"Kau tidur duluan saja, aku masih ingin bercerita," ucap Radit.
"Kau pernah mendengar tidak kalau dahulu gedung tua itu bekas kebakaran?" ucap Gea. Kalimat itu membuat Via dan Radit langsung menoleh ke arahnya. "Dahulu gedung itu bekas penyimpanan beras-beras. Istilahnya gudang beras."
"Serius?" tanya Via terkejut.
"Ya ... ibuku berkata seperti itu. Konon, hanya ada satu korban. Seorang nenek tua bernama Mak Piah."
Radit tercengang. Raut wajahnya terlihat tegang. "Tunggu—siapa namanya?"
"Mak Piah ...." Gea menyelonjorkan kakinya. "Hidupnya sulit ... kata Ibuku, Mak Piah dahulu Mak Piah sering sekali mengambil beras-beras yang berjatuhan."
Radit menimpal. "Namanya persis sekali ... seperti nenek Mbak Lasmi." Kalimat itu kini mengejutkan Gea dan Via.
"Bukankah kau bilang bahwa neneknya korban dari kebakaran?" tanya Gea, Ia terdiam seraya berpikir keras.
"Ya ... benar sekali. Menurut logika saja, kalian coba berpikir ... dari semua ucapan Mbak Lasmi, semua itu berkaitan kalau berhubungan dengan gedung itu."
"Maksudmu tumbal?"
"Ya ... maksudku tumbal. Tidak hanya satu dua orang yang berkata bahwa kita harus berhati-hati." Radit mulai berpikir keras. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Bagaimana kalau kita jadi korban selanjutnya?"
"Hushh—kau tidak boleh berkata seperti itu," ucap Via. Raut wajahnya terlihat khawatir.
"Kita harus berjaga-jaga saja ... lagi pula, itu belum terbukti benar, kan? Bisa saja itu hanya sebuah mitos dari mulut ke mulut ...." Gea berusaha melerai semuanya.
"Kau benar ... lebih baik tak usah memikirkan hal yang belum pasti kebenarannya." Via menoleh ke arah Radit. "Coba kau tanyakan esok kepada Ibu-ibu rumpi itu ... bawa aku."
****
Satu ember air membasahi wajah Feri.
BUSHHH
"Bangun!"
Samar-samar terdengar teriakan dari seorang pria.
"Bangun pecundang!"
"Akh ...."
BUGG
Satu tamparan melayang di wajah Feri.
"Rasakan! Kau pantas mendapatkan ini semua. Sudah kuberi pekerjaan ... tak tahu malu!"
BUGG
Tamparan kedua mendarat di pipinya. "Kau harusnya mati saja! Bedebah sepertimu hanya menyusahkan orang-orang saja!"
Pemilik toko itu menendang tubuh Feri.
"Akhh ...."
"Enyahlah ... mati saja!"
Wajahnya sudah memar dan bonyok. Hidungnya mimisan lagi-lagi Feri hanya bisa menahan rasa sakitnya.
BRUGG
Terdengar suara pintu.
Ditengah kesadarannya Feri hanya bisa menangis. Napasnya sudah tak beraturan. "Ibu maafkan aku ... aku sudah tidak kuat menjalaninya ... akh—"
****
"Kalian belum tidur?" Ibu tiba-tiba saja membuka pintu kamarku.
Seketika semuanya terdiam.
"Cepet tidur! Nggak mahu tahu kalian harus tidur sekarang!" Ibu membenahi semuanya. Termasuk posisi kami untuk tertidur. "Via dan Gea di kasur atas ... Radit di kasur bawah." Ibu langsung mematikan lampunya. "Kalau kalian masih belum tidur ... Ibu tak akan segan-segan menghukum kalian."
Ya kami semua hanya bisa terdiam, pada akhirnya menuruti perintah Ibu.
BLUGGG
Suara pintu tertutup.
"Sudah kubilang ... lebih baik kita tidur saja, sangat sensitif kalau malam. Ibu pasti marah."
"Iya ... aku akan tertidur sekarang. Tapi, bisakah kau tidak menggangguku terus, Via? Tanganmu sangat kasar, dari tadi terus memegang keningku." Radit menggerutu. "Lagi pula, kau ini kenapa."
"Hah? Siapa? Tanganku sedang kutumpuk menopang kepalaku. Kau memang harus cepat tertidur. Kalau tidak terus saja mengkhayal," balas Via.
Bauk gosong dan melati seketika tercium.
Seketika masing-masing dari kami terdiam dengan perasaan tak karuan.
"Aku akan tidur sekarang," ucap Via. Langsung mencari posisi tidurnya.
"Aku juga," balas Radit.
"Ya sudah tidurlah," timpalku. Kututup langsung mataku.
"Ayo bercerita lagi tentangku ...."
Mata yang sudah terkatup kini terbuka kembali. Suara itu mengejutkan kami.
"Kau dengar tidak?" tanya Radit.
Seketika semuanya berteriak. Masing-masing dari kami berlomba-lomba untuk cepat sampai meraih pintu.
Hal itu membuat Ibu mendatangi kami lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments