"Huhh ...." Gea membuang napas dengan kencang. "Akhirnya sampai rumah juga."
Radit dan Via membawa barang-barangnya. Ia menyimpannya dengan keras seraya memegang punggungnya yang kesakitan.
"Akhirnya ... aduhh," melas Via.
'Dregg ... Dregg'. Suara tubuh Radit menggretak.
"Ibu buatkan air dahulu ya," ucap Sera, lalu pergi ke dapur.
"Jangan Bu ... sama camilannya kalau ada, heheh ...." Radit menyenderkan tubuhnya.
Via memukul pundak Radit. "Kau ini ...."
"Kau juga menginginkannya, kan? Tak usah berpura-pura ... gengsimu mengalahkan tinggi badanmu," ucap Radit.
"Ya memang, lalu apa salahnya? Apa semua itu mengganggu hidupmu?" kesal Via. "
"Jelas," sahut Radit.
"Memang hidupmu penuh dengan iri dan dengki, sehingga kekurangan orang pun engkau permasalahkan," ucap Via seraya memelet. Via teringat sesuatu. "Ah ... aku tahu, pasti kau iri karena prestasiku melebihi tinggi badanku, ya? Sudah kutebak sejak awal."
"Aku juga memiliki prestasi."
"Apa? Sebutkan apa prestasimu?"
"Berdebat."
"Debat? Maksudmu berdebat dengan orang tua? Itu kesalahan," timpal Via.
"Banyak .. aku memiliki banyak prestasi. Aku pernah memenangkan olahraga maraton." Lagak Radit mengucapkannya dengan bangga.
"Berlari maksudmu? Berlari dari kenyataan?" Via kekeh masih dengan ejekannya.
"Ck! Kau memang ... memang kau memiliki kelebihan apa? Sombongnya selangit," ketus Radit.
"Aku memiliki kelebihan yang kau tak mampu meraihnya, kau mau apa?"
"Apa? Aku mampu melakukan semua hal," jawab Radit.
"Dicintai orang yang aku cintai," ceplos Via. "Kau mahu apa?"
Radit tak lagi berucap. "Oke ... kali ini aku membiarkan kau lolos. Aku akan mencari pasangan yang sempurna, lalu aku akan menikahinya, memiliki anak yang lucu, lalu hidup bahagia di luar negeri."
"Ya semoga harapanmu terkabul, tidak hanya berhalusinasi saja," timpal Via.
'Tok ... tok ... tok'. Suara ramai-ramai dari tetangga berkunjung ke rumah Gea.
"Permisi Bu Sera, Gea," ucap salam dari beberapa rombongan Ibu-ibu seraya membawa parsel buah.
"Eh ... silakan masuk Ibu-ibu," jawab Ibuku dengan sangat santun. "Ayo ... silakan duduk." Sera menyimpan beberapa camilan dan air minum yang di bawanya di meja. "Radit, tolong simpan semua barang-barangnya di kamar Gea ya ...."
"Baik Bu." Radit langsung bergegas pergi menyimpannya.
"Terimakasih banyak ya sudah menjenguk Gea ...."
"Ini dari kami untuk Gea ... maaf hanya bisa memberi ini, semoga Gea lekas sembuh," ucap Fani, isteri dari ketua rukun tetangga.
"Aduh ... jadi merepotkan, padahal tidak usah membawa apa-apa," ucap Sera dengan sungkan.
Diantara yang menjenguk, Lasmi juga ikut menjenguk. Ia menatap Gea dengan tajam seraya sesekali raut wajahnya terlihat ketakutan.
"Bagaimana kondisinya, Gea?" tanya salah satu tetangganya.
"Sudah jauh membaik, hanya ada beberapa luka lagi yang harus lebih diperhatikan," jawab Gea.
"Syukurlah ... mendengar kabarmu saat pertama kali, itu benar-benar mengejutkanku."
Terlihat Radit kembali duduk di sampingku.
"Iya ... kejadiannya begitu cepat, aku melihat beberapa korban yang kukenal rasanya tak percaya," timpal salah satu dari mereka.
"Kau memang sangat beruntung sekali, Gea."
"Bukan kau orangnya," sahut Lasmi. Tatapannya begitu kosong. "Dia tidak jadi memilihmu."
Gea mengerutkan keningnya seraya menatap Lasmi.
"Sekarang tidak, kalau nanti tidak tahu ... kalian harus pergi," ucap Lasmi, suaranya mengecil.
"Sekarang bukan kau waktunya, nanti tidak tahu!" Tatapannya masih menatap ke arah Gea. "Kau haru sangat berhati-hati!" Matanya terbelalak. "Sekarang tidak ... nanti tidak tahu."
"Kalian harus pergi ...."
"Kalian harus pergi sekarang ...."
"Mereka sudah mengincar, kalian tak ada waktu untuk itu ...."
"Sudah kubilang, Lasmi tidak perlu diajak," bisik beberapa dari tetanggaku. "Dia membuat semuanya menjadi kacau."
Tatapan masih kosong, raut wajah Lasmi berubah. Ia ketakutan. "Tidak! Tidak! Tidak ... cepat! Kalian harus pergi!" Lasmi kini mengamuk, mengacak rambutnya. "Kalian harus pergi! Kalian tidak akan selamat."
"Sudah Mbak Lasmi ... tidak akan terjadi apa-apa."
"Sudah, tenangkan dirimu Lasmi."
Beberapa dari tetangga Gea memegang tubuh Lasmi, karena Ia mulai menyakiti dirinya sendiri.
"Bawa Lasmi pulang sekarang," ucap Bu Fani.
"Kalian harus bisa menyelamatkan dirimu sendiri! Sebelum waktunya habis, pergilah." Lasmi mengatakan itu seraya berteriak. "Kau tidak akan selamat, pergilah dan jangan kembali!"
Gea mengingat-ingat kembali ucapannya seperti yang pernah Suryo ucapkan.
"Sudah Lasmi, pulanglah ...."
Beberapa orang telah menopang tubuh Lasmi untuk pulang ke rumahnya.
"Mohon maaf ya Bu Sera dan Gea, malah membuat keributan dan kegaduhan," ucap Fani.
"Tidak apa-apa Bu, saya sangat memakluminya, oh iya ... silakan diminum, maaf ... hanya ada minuman dan beberapa camilan ini saja," ucap Ibu.
****
"Ya ... kau sudah bekerja keras, terimakasih untuk itu. Aku pamit," pamit semua para tukang dan pekerja lain.
"Terimakasih semuanya, sampai esok," pamit Feri.
"Ya ... semangat untuk menyelesaikan proyek ini."
Matahari hampir tenggelam. Bangunan itu kini tampak sepi. Tak ada aktivitas lagi.
Feri langsung bergegas pulang. Sesekali memikirkan untuk mencari uang sampingan.
Feri mendatangi beberapa toko kelontong.
"Tidak ada lowongan," ucap pemilik toko kelontong pertama yang Feri datangi.
"Masih belum dibutuhkan," ucap pemilik toko kelontong kedua yang Feri datangi.
"Mungkin kau bisa kembali hari esok? Pemiliknya masih dalam perjalanan pulang, aku tidak tahu informasi tentang itu," ucap penjaga toko kelontong ketiga yang Feri datangi.
"Toko ini buka berapa jam?"
"Dua puluh empat jam."
"Baiklah terimakasih atas informasi yang kau berikan," ucap Feri.
Feri berjalan kaki menuju kostnya. Seraya berjalan, tatapan Feri penuh dengan lamunan.
"Ibu, dahulu cita-citaku bukan ini ...."
Feri membuka sepatunya dan menyimpannya di rak depan dekat pintu. Ia membuka tas selempang dan menyimpannya di gantungan belakang pintu. Tubuhnya terlihat begitu lesu. Ia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Feri mulai menghidupkan keran airnya. Suara air mulai terdengar mengalir. Satu guyuran air mulai membasahi tubuhnya.
Feri keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya.
'Tok ... tok ... tok'. Suara ketukan pintu terdengar.
Feri dengan cepat membuka pintu itu.
Terlihat Ibu kost sudah berdiri ketus di hadapan Feri.
"Kau akan membayar uang sewanya kapan, Feri?" Kalimat pertama yang diucapkan Ibu pemilik kost.
"Maaf ...."
"Lagi? Lagi-lagi kau begitu Feri. Kau memang pribadi yang tidak tahu malu. Setidaknya, kalau kau mahu menyewa, tentunya kau harus membayarnya juga. Masih banyak orang yang mahu tinggal di sini, kemasi barangmu sekarang. Esok hari kulihat, semuanya harus sudah kosong."
"Tunggu ...." Feri mengambil dompet di saku belakang celananya. "Aku tahu bahwa ini tidak akan cukup, tetapi kumohon ... sisanya aku akan membayar lunas besok." Feri mengeluarkan uang seratus lima puluh terakhirnya untuk satu minggu ke depan.
"Kau akan mencari ke mana? Memangnya aku akan mempercayaimu? Lagi-lagi berjanji, tetapi tidak kau tepati!" murkanya.
"Tidak. Kali ini aku benar-benar berjanji." Feri tetap meyakinkan. "Kumohon, beri aku kesempatan terakhir kalinya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments