Dratttt-dratt-drattt-drattt
Maura tersentak sakit saat mendengar suara ponselnya dan Maura dengan cepat merogoh tasnya dan ternyata yang menelpon dengan kontak Ellin.
"Maura ada apa? kenapa kamu tadi malam menelponku? Maaf aku ketiduran dan tidak bisa mengangkat panggilan kamu," ucap Elin
"Aku ingin bertemu dengan kamu. Ada yang ingin aku tanyakan," jawab Maura.
"Kamu serius sekali, membuatku jadi takut saja," ucap Elin yang ternyata sedang di kantor yang fokus pada komputer sembari menelpon.
"Kita harus bertemu!" ucap Maura dengan sangat buru-buru.
"Boleh-boleh! Baiklah nanti jam istirahat kita akan bertemu di dekat kantorku," ucap Elin.
"Baiklah!" sahut Maura yang langsung mematikan panggilan telepon tersebut.
"Aku harus mengurus ini satu persatu. Agar semua berjalan dengan lancar dan untung aku punya Elin yang bisa membantuku," batin Maura merasa lega.
Entah apalagi yang akan dia lakukan untuk membalas rasa sakit yang di dapatkan dari keluarganya yang membuat dia selama ini tidak berdaya.
******
Suara langkah heels yang menuruni anak tangga siapa lagi jika bukan Maura yang berjalan dengan elegan.
"Mau kemana kamu?"
Suara itu mampu membuat langkahnya terhenti Jessica yang memang sejak tadi berada di ruang tamu dan sudah diabaikan oleh Maura.
"Mau keluar," jawab Maura singkat.
"Kamu jangan mencari masalah di rumah ini. Putuskan hubungan halusinasi kamu dengan Rafa. Kamu jangan bermimpi menikah dengan Rafa!" tegas Jessica penuh dengan penekanan.
Maura menghela nafas dan langsung pergi yang tidak peduli dengan apa yang dikatakan Jessica.
"Maura!"
"Maura!" Jessica semakin terbakar melihat Maura yang benar-benar tidak peduli dan seperti menantang dirinya.
"Anak kurang ajar! Lihat apa yang aku lakukan!"
"Argggghhh!"
Lama-lama Jessica bisa gila melihat tingkah Maura.
Saat keluar dari rumah, Maura juga berpapasan dengan Jesslyn dengan langkah mereka berdua yang sama-sama terhenti dan menatap begitu tajam.
"Kenapa Kakak melakukan semua ini kepadaku? Aku ini adik kakak, saudara kakak dan keluarga kakak!" tegas Jesslyn menekankan.
"Hah!" Maura mendengus mendengar kata-kata Jesslyn.
Eksperesi wajah Maura begitu jijik melihat wanita yang di hadapannya yang sekarang penuh kesedihan, kekecewaan dan seolah sebagai korban. Kata-kata itu bahkan membuat perutnya sangat mu.
"Apa katamu, saudara dan keluarga. kenapa sekarang baru menganggap jika aku adalah bagian dari keluargamu," sahut Maura.
"Apa maksud Kakak? Kakak masih berpikiran jika aku dan kak Bian punya hubungan. Kenapa pikiran Kakak begitu pendek sekali. Kakak tahu sendiri. Jika sejak dulu kita memang dekat dan seharusnya itu tidak menjadi alasan untuk Kakak memutuskan pernikahan Kakak dengan Kak Bian lalu merebut calon suamiku!" tegas Jesslyn.
"Sudahlah Jesslyn aku muak melihat wajahmu yang terlihat begitu menyedihkan. Mau kau mengatakan apapun tidak akan mengubah pendirianku untuk tetap membatalkan pernikahan itu dan akan menjalankan pernikahan dengan Rafa. Lagi pula kau harus bersyukur dengan aku membatalkan pernikahan itu. Kau bisa bersama dengan kekasih gelap itu dan tidak perlu sembunyi-sembunyi padaku!" tegas Maura.
Maura hendak pergi dari hadapan Jesslyn, namun menghentikan langkahnya saat berdiri di samping Jesslyn.
"Jadi perempuan jangan maruk. Jangan semua mau di ambil!" sinis Maura dan langsung pergi.
Nafas Jesslyn naik turun mendengar kata-kata maulah yang membuat dirinya mengepung tangan dengan mengumpulkan semua emosi.
"Argggghhh!" teriak Jesslyn seperti orang gila dan sama saja seperti ibunya.
Langkah Maura sampai terhenti mendengar suara teriakan yang membuat telinganya sakit dengan Maura membalikkan tubuh yang melihat Jesslyn seperti orang gila membuat Maura tersenyum dengan penuh kemenangan yang berhasil membuat Jesslyn kesetanan.
"Dasar sinting," ejek Maura geleng-geleng.
*********
Maura berada di salah satu kafe dengan seorang wanita yang duduk di hadapannya yang sekarang makan begitu lahap.
"Ada apa Maura? kenapa mengajakku bertemu? Jika sudah mengajak bertemu pasti ada hal yang penting?" tanya Elin penasaran dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah.
"Aku akan menikah dengan Rafa," jawab Maura to the point.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.
Ellin langsung tersedak makanan yang begitu sangat terkejut. Elin yang langsung minum untuk meredakan tenggorokannya dan sementara Maura hanya geleng-geleng sembari minum menggunakan sedotan.
"Coba ulangi sekali lagi," ucap Elin kesulitan bicara.
"Aku ingin menikah dengan Rafa," ucap Maura lagi.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.
Elin kembali batuk-batuk. Tenggorokan itu begitu sakit karena saking kagetnya.
"Ellin kamu apa-apaan sih!" kesal Maura.
"Ka- kamu jangan bercanda," sahut Ellin.
"Siapa yang bercanda. Aku serius ingin menikah dengan Rafa!" tegas Maura.
"Maura, kamu tahu bukan jika aku adalah bagian dari keluarga Rafa. Aku sepupu Rafa!" tegas Ellin.
"Aku tahu dan maka dari itu aku mengajak kamu bertemu!" tegas Maura yang memang ada udang di balik bakwan.
"Tunggu-tunggu, ini pasti ada kesalahan. Maura setahu aku Rafa itu dekat dengan Jesslyn adik kamu dan setahu aku kamu akan menikah. Lalu apa ini? kenapa tiba-tiba seperti ini. Ini sangat tidak masuk akal. Kamu jangan jadikan semua lelucon Maura!" tegas Elin dengan kebingungan.
"Ini memang bukan lelucon dan siapa bilang ini lelucon. Aku serius!" tega Maura Maura.
"Kamu tidak jadi menikah dengan Bian?" tanya Ellin. Maura mengangguk.
"Ya lalu..."
"Ellin, Jesslyn dan Bian memiliki hubungan di belakangku dan kamu tahu tidak jika dia menikah denganku hanya supaya dekat-dekat dengan dengan Jesslyn dia hanya memanfaatkanku!" jelas Maura.
"Jadi kamu akhirnya paham," sahut Ellin dengan santai dan bukan kaget mendengar kata-kata Maura tentang perselingkuhan itu.
"Maksud kamu?" tanya Maura menautkan ke-alisnya.
"Orang baru pertama kali bertemu dengan kamu dan juga bertemu dengan mereka berdua juga akan tahu jika mereka berdua itu punya hubungan. Kamu saja yang bodoh selama ini tidak menyadari bagaimana mereka berdua, yang sering tersenyum bersama, punya dunia sendiri bersama dan bahkan menatap sesama yang sangat menjanjikan," menceritakan hal itu membuat Ellin terasa geli.
Ellin juga sering bertemu dengan Bian dan Jesslyn yang kerap kali pergi bersamaan. Ellin juga bisa melihat gerak-gerik dari pasangan itu tetapi sahabatnya saja yang sangat bodoh atau pura-pura tidak tahu
Bahkan Ellin begitu jijik dengan Jesslyn yang terlihat bermuka dua dan sok baik di depan Maura. Dia juga sering beberapa kali mengingatkan Maura dan Maura yang menganggap tidak mungkin keluarga melakukan hal itu.
"Dan justru itu aku ingin menikah dengan Rafa," sahut Maura.
"Apa ini seperti balas dendam?" tebak Ellin yang menarik kesimpulan dengan cepat.
"Iya. Mereka sangat jahat, mama dan Jesslyn tidak pernah menganggap ku dan aku ingin membalas perbuatan mereka yang tidak memberikan keadilan padaku!" tegas Maura.
Wajah itu sangat menyeramkan yang terlihat dendam membara. Ellin bahkan geleng-geleng kepala melihat aura wajah sahabatnya yang sangat berbeda.
"Lalu hubungannya denganku?" tanya Ellin
"Aku tidak terlalu mengenal keluarga Rafa dan aku hanya tahu. Kamu sepupu Rafa. Tetapi sepertinya sangat sulit untuk masuk kedalam keluarga itu. Aku pasti akan di remehkan mama dan Jesslyn. Karena tidak akan mungkin diterima oleh keluarga Rafa, mereka akan mengejekku. Jadi aku ingin melakukan pendekatan pada keluarga Rafa. Agar aku diterima dengan baik dan balas dendamku sempurna," jelas Maura.
Dia memang hanya tinggal menjalankan rencana masuk kedalam keluarga Rafa.
Bersambung .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Sunaryati
Lanjutkan misimu Maura, tapi dengan jadi wanita cerdas, cantik, dan wibawa dengan menunjukkan kemampuan dan tingkatkan karirmu
2024-08-03
0