Ekspresi wajah langsung berubah dengan gelisah Yang sepertinya telah Rafa sangat tidak nyaman dengan apa yang dikatakan Bian.
Bian langsung terdiam yang sudah terlalu banyak berbicara.
"Hmmm, kak Rafa mungkin kak Bian hanya...."
"Saya ingin melihat desain yang lain!" ucap Rafa yang langsung pergi.
"Akan aku temani," sahut Jesslyn yang langsung menyusul Rafa dengan melihat Bian sebentar yang mana wajah Jesslyn yang menunjukkan kekesalan.
Mata Bian melihat kepergian Jesslyn seperti sangat tidak suka melihat kedekatan Jesslyn dan Rafa. Sementara Maura yang sejak tadi hanya diam dan tidak berkomentar apa-apa. Tetapi mata Naura melihat ekspresi Bian terus.
*******
Maura berada di dalam kamar mandi yang mencuci wajah di wastafel. Setelah selesai mencuci wajah dirinya menatap wajahnya di cermin. Entah apa yang dirasakan Maura dengan pemikiran yang sekarang kemana-mana. Sejak kemarin perasaannya tidak pernah tenang dan teringat terus dengan kata-kata Jesslyn.
"Apa yang aku pikirkan! tidak Maura kamu terlalu banyak berpikir dan mungkin ini karena menjelang hari pernikahan kamu. Jadi ada saja yang mengganggu pikiran kamu dan membuat hati kamu bergejolak dengan penuh kebimbangan," batin Maura dengan menghela nafas yang langsung keluar dari kamar mandi.
Maura berjalan begitu sangat cepat yang terlihat sangat buru-buru sekali.
Bruk.
Alhasil Maura menabrak dada bidang seorang pria dan hampir membuatnya jatuh yang membuat pria itu langsung menahan dengan memegang kedua bahu Maura. Maura yang hampir tersungkur mengangkat kepala dan ternyata pria yang di depannya itu adalah Rafa.
"Maaf!" ucap Maura.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Rafa. Maura mengangguk.
"Aku minta maaf," ucap Maura lagi.
"Kamu sepertinya sangat boros Maaf bukankah kamu barusan saja minta maaf dan kamu minta maaf lagi," sahut Rafa.
"Aku minta maaf untuk hal yang berbeda," sahut Maura.
"Maksudnya?" tanya Rafa heran.
"Tentang kejadian yang baru saja terjadi. Kamu sepertinya sangat tersinggung dengan apa yang dikatakan Bian. Aku minta maaf atas ketidaknyamanan kamu," ucap Maura lagi yang membuat Rafa mendengus
"Jadi kamu meminta maaf atas orang lain," sahut Rafa yang merasa sangat aneh sampai berkacak pinggang.
"Mereka semua adalah keluargaku dan bukan orang lain. Jadi bukan suatu hal yang besar jika meminta maaf atas kesalahan orang lain," sahut Maura dengan singkat.
"Hah!" Rafa mendengus kasar yang seolah tidak bisa berbicara dengan wanita yang dihadapannya yang berpikir terlalu positif.
"Keluarga dan ikatan itu yang kamu tanamkan di dalam diri kamu. Lalu apa menurut kamu mereka menganggapmu keluarga," sahut Rafa tiba-tiba terlihat begitu kesal membuat Maura heran dengan perkataan laki-laki itu.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Maura.
"Kamu bukan gadis yang 7 tahun yang tidak mengerti dalam situasi yang kamu hadapi. Jadi aku rasa kamu bisa mengambil kesimpulan dari semua yang sudah terjadi di depan mata kamu!" tegas Rafa.
"Kau terlalu mudah menjadikan orang-orang sebagai keluarga. Kau merasa jika mereka penting bagimu dan apa kau penting bagi mereka. Kau menganggap mereka semua adalah ikatan dan lalu apa mereka menganggap bagian dari mereka," pernyataan yang dilontarkan Rafa membuat Maura sejak tadi hanya terdiam.
"Jangan terlalu polos Maura dan berhenti berpura-pura tidak tahu agar tetap semua baik-baik saja. Apa yang kamu harapkan ketika kenyataan sudah jelas ada dan kamu hanya menutup mata yang berpura-pura tidak terjadi apa-apa!" tegas Rafa.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan. Arah mana pembicaraan yang sedang kamu katakan. Kamu juga tidak berhak berbicara seperti itu kepadaku. Apalagi menilaiku dan jangan ikut campur tentang urusan privasi keluargaku," ucap Maura yang hendak pergi. Namun tiba-tiba pergelangan tangannya ditahan dan ditarik Rafa sehingga menabrak bidang dadanya.
Wajah mereka berdua yang tampak sangat berdekatan tanpa ada jarak dengan nafas yang saling menerpa dan tatapan mata yang begitu dalam dengan wajah Maura yang terlihat lebih menjurus panik yang tidak mengerti dengan apa yang dilakukan pria yang dia tahu adalah memiliki hubungan yang sangat dekat dengan adiknya.
"Apa kamu sama sekali tidak bisa berhenti untuk berpura-pura!" ucap Rafa dengan suara berat.
"Apa yang kau katakan?" tanya Maura dengan suara yang sangat bergetar.
"Pura-pura tidak tahu yang kamu lakukan tidak akan membuat semua baik-baik saja Tidak akan membuat semua menjadi lancar!" tegas Rafa.
"Lepaskan aku. Kamu terlalu lancang memperlakukanku seperti ini!" ucap Maura dengan sorot mata yang tajam menetap Rafa.
Perlahan tangan Rafa melepaskan pergelangan tangan itu yang merasa dia sedikit berlebihan yang terlalu ikut campur dalam urusan Maura.
"Jangan melebihi batas dan sok tahu. Kita tidak terlalu mengenal dan juga tidak dekat. Jadi jangan pernah mencampuri urusanku atau ingin memberiku nasehat atau mempengaruhi pikiranku. Apa yang terjadi di dalam hidupku adalah urusanku! keluarga adalah keluargaku dan kamu tidak akan mengerti," tegas Maura yang memberikan penekanan dalam setiap kata yang diucapkan dan Maura yang tidak mengatakan apa-apa lagi langsung pergi dari hadapan Rafa.
Rafa melihat kepergian itu hanya mendengus kasar dengan geleng-geleng kepala.
Maura yang berjalan di koridor gedung tersebut dengan beberapa kali membuang nafas ke depan. Dia bahkan mengingat apa yang dikatakan Rafa.
"Siapa dia yang harus ikut campur dalam urusanku," batin Maura.
"Jesslyn tunggu!" langkah maura tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara Jesslyn yang dipanggil suara seorang pria yang sangat dia kenal membuat Maura melihat ke arah suara tersebut.
Sesuai dengan apa yang telah dia tebak jika laki-laki itu adalah Bian yang mengejar Jesslyn sampai menahan tangan Jesslyn.
"Lepaskan aku!" tegas Jesslyn.
"Jesslyn aku benar-benar minta maaf atas sikapku tadi. Aku tidak bermaksud untuk mengatakan hal seperti itu dan itu refleks dari hatiku sendiri," ucap menjelaskan.
"Tetapi seharusnya Kakak tidak ikut campur," sahut Jesslyn yang terlihat begitu besar.
"Iya aku menyadari kesalahanku dan aku benar-benar minta maaf. Jesslyn Aku tahu kamu sedang takut pada acara ini yang tidak berhasil dengan sempurna. Aku hanya ingin memberikan dukungan penuh untuk kamu," Bian yang tiba-tiba melembutkan suaranya.
"Kenapa harus terus memikirkanku seperti itu?" tanya Jesslyn.
"Kamu jawabannya. Aku mana mungkin tidak bisa memikirkan hal itu. Karena kamu sudah tahu jika kamu adalah duniaku," ucap Bian.
Deg.
Jantung Maura berdebar dengan kencang mendengar pernyataan dari pria yang akan menjadi calon suaminya itu.
"Kamu tahu bukan jika di dunia ini aku hanya mencintai kamu," lanjut Bian.
Kata-kata yang semakin diperjelas Itu membuat dada Maura seketika menjadi sesak seolah ada ikatan tali tambak yang begitu kuat. Maura seakan ingin berhenti bernafas mendengar kata-kata yang keluar dari mulut pria itu.
Langkah Maura yang perlahan mundur yang seolah tidak ingin mendengar lanjutan dari ucapan pria itu. Maura dengan cepat membalikkan tubuh yang ingin berlari secepat mungkin.
"Jika mencintaiku lalu kenapa menikah dengan kak Maura?" langkah Maura harus kembali terhenti seolah ingin mendengar jawaban dari Bian.
"Aku terpaksa menikah dengan Maura. Agar aku terus bisa dekat dengan. Hanya dengan cara Aku menikah dengannya kita juga akan tinggal satu atap dan aku bisa terus memberikan semangat dan ada di sisimu sampai kapanpun," jawab Bian.
Air mata Maura langsung jatuh mendengar pernyataan pria itu. Maura sangat tidak percaya jika dirinya selama ini bukan hanya dikhianati tetapi juga justru dimanfaatkan.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
ˢ⍣⃟ₛ 𝐀⃝🥀💜⃞⃟𝓛 Jibril Adinda
jika memang mencintai jeslyn harusnya yg di kejar jeslyn bukan memanfatkan Maura.
t
batalkan saja pertunangan mu dg bian. benar kata Rafa jangan berputar tidak tau
2024-09-07
0