Mutiara tersenyum mendengar celotehan Jeje yang semakin kesana kemari.
"Kak, mau tanya dong" Sutan berucap hati-hati
"Tanya apa?" Mutiara bertanya balik
"Anu, itu berarti selama ini kami makan mie bekas setan dong" Sutan berbicara pelan karena takut menyinggung yang punya cafe
"Menurut mu" Mutiara kembali bertanya sambil tersenyum
"Huek" Sutan secara reflek mual dan ingin muntah
"Jorok, sana jauh-jauh kalau mau muntah" tegur Rio
"Bodoh sekaki sih jualan pakai setan" Jeje
"Supaya laris, Je" Kalisa
"Kalau mie nya beneran enak pasti ramai juga yang beli lah, nggak mungkin sepi apalagi tempatnya cocok untuk anak muda" Rio
"Mau lihat seperti itu bagaimana caranya?" Sutan
"Yakin mau lihat? Apa yang sudah dibuka sulit di tutup" Mutiara
"Nggak jadi deh, jadi yang sekarang udah benar" Sutan menegakan duduknya
"Sejak kapan kak Mutiara bisa melihat" Jeje
"Saat keluar dari kandungan mungkin kakak sudah melihat cuma buram aja kali ya" Mutiara senyum
"Maksud Jeje itu hantu" kesal Jeje
"Usia 6 tahun secara nggak sengaja, aku pernah melihat seorang bapak jalan jam 11 malam bilangnya lagi ronda saat aku perhatikan tangan dia selalu kebelakangan pas di dekati ternyata itu anak kecil matanya hijau kepalanya botak ya tanpa busana sekarang ya dipanggilnya tuyul" Mutiara
"Aku kira hal mistis itu hanya hoax kak, jujur aku nggak begitu percaya" Rio
"Kakak nggak minta kalian untuk percaya, sudah kakak tegaskan dari awal juga tetapi harus menghargai orang yang memiliki kelebihan jangan pernah menghina mereka dengan mengatakan kafir atau nggak punya iman" Mutiara
"Berani sekali yang ngatain, minta dirujak netizen. Hahaha" Jeje
"Papa ku pakai pesugihan nggak ya" pikir Kalisa sebab orangtuanya juga membuka usaha kedai kebab
"Hayo loh, Sa. Kamu jadi tumbal" Jeje tertawa
"Tan, cium si Jeje kalau ngomong nggak bisa di filter" kesal Kalisa
"Eh Jeje, bisa jadi bapakmu juga main yang begituan apalagi bapakmu banyak kenalan di Kalimantan. Konon katanya Kalimantan pedalaman itu masih sangat kental dengan hal mistis atau gaib" Rio menimpali
"Astaghfirullah, semoga papi Jeje nggak begitu" Jeje memejamkan mata sambil berdoa
"Anak pak haji nyebut. Hahaha" ledek Rio
"Papi Jeje kan udah haji pasti usaha nya di jalur aman" Jeje baru sadar
"Haji itu nggak menjamin ketebalan iman seseorang. Hanya gelar ya kan kak Mut?" Kalisa
"Hu'um benar, haji hanya gelar dan cuma ada di Indonesia" Mutiara santai
"Maksud cuma Indonesia?" pikir Rio
"Panggilan pak haji, bu haji ya hanya untuk Indonesia. Negara lain itu pulang ibadah haji nggak ada sebutan haji. Misal namanya Robert kelahiran Inggris seorang muslim pergi ibadah haji selesai ibadah pulang ke Inggris nggak ada orang panggil dia pak haji Robert tetap saja orang panggilnya pak Robert atau Robert saja" tutur Mutiara
"Oh jadi hanya orang Indonesia aja yang punya gelar haji baru tempe aku" Jeje
"Tempe bacem enak, Je" Nur
"Pakai sambal dan nasi hangat, nikmat sekali" Jeje
"Jangan lupa lalapannya" timpal Kalisa tertawa
"Makanya di arab sana pedagang itu kalau menawarkan dagangan, haji haji 5 riyal" Sutan
"Kata siapa?" Jeje
"Begini-begini aku sudah pernah ibadah kecil, Jengkol" Sutan kesal menoyor kepala Jeje
"Ada nggak ya yang jual jengkol crispy" pikir Jeje
"Ngawur kamu, mana ada jengkol crispy" Nur memukul bahu Jeje
"Oke kita bikin usaha Jengkol Crispy" ide Jeje
"Cara buatnya gimana supaya jengkol jadi crispy" Mutiara menanggapi ide Jeje
"Geprek aja sampe penyet" Jeje senang
"Namanya jadi jengkol geprek sambal penyet" sahut Rio
"Ini ngobrol apa sih, makin lama diluar jalur terus" Nur badmood
"Ya sekali-kali nggak jelas boleh dong" Jeje
"Setiap saat kita nggak jelas, TAU!!" Nur
"Mak kalau marah ngeri" ledek Jeje melihat Nur
"Habis ini kita bubar ya" Mutiara
"Cepat banget kita berpisah, pasti bakal kangen deh" Jeje mulai drama
"Pagi-pagi sekali kita bertemu lagi Jeje" Kalisa gemas mencubit kedua pipi Jeje
"Bayar tuh, Je." Rio memberikan tagihan
"Lah, katanya kak Mut yang traktir" Jeje kaget di kasih bill
"Yang ulang tahun kamu, emang kamu tega kak Mutiara yang bayar" Sutan
"Sudah, sini bill nya dari awal memang kakak yang bilang mau traktir" Mutiara mengambil bill di tangan Jeje
"YES!! YUHUU!!" teriak Jeje senang
"Je, dilihati banyak orang" tegur Nur
"Mereka punya mata biarkan saja, peduli banget sama orang yang kasih makan kita buka orang lain" Jeje melirik sinis
Setelah Mutiara menyelesaikan pembayaran semuanya bubar di cafe itu.
Rumah pak Min
"Fahmi pergi ke kedai sana bantuin bapakmu" bu Intan
"Malas bu, ibu aja yang bantuin bapak" Fahmi tanpa melihat ke arah ibu nya
"Mulai ngelawan sama ibu, kamu ya" bentak bu Intan
"Fahmi nggak akan melawan ibu, jika ibu bisa tinggalkan laki-laki yang sering jalan dengan ibu" Fahmi menatap ibu nya
"Ibu nggak paham" bu Intan berusaha mencari alasan
"Ibu kira aku nggak tau apa yang ibu lakukan di belakangan bapak selama ini. Ibu berselingkuh, ibu punya simpanan laki-laki. Fahmi yakin ini semua ada pengaruh dari bu Sarah" cecar Fahmi tidak ingin memendam lagi
"Jaga ucapan mu, Fahmi. Ibu nggak pernah selingkuh dari bapakmu" bentak bu Intan
"Fahmi bukan bocah berusia 5 tahun yang gampang ibu bodoh-bodohkan. Fahmi sudah kuliah bu dan Fahmi tau mana orang yang lagi selingkuh dengan orang yang hanya main sesaat" teriak Fahmi
"FAHMI" teriak Fatimah terkejut melihat adiknya membentak bahkan meneriaki di depan wajah sang ibu
Fahmi diam tidak berani menatap kakak nya.
"Kurang ajar kamu bicara sama ibu seperti itu" tegur Fatimah
"Siapa yang mengajarkan kamu seperti ini" Fatimah mendorong bahu adiknya
"Tatap mata teteh, Fahmi" ucap Fatimah memegang wajah adiknya
Bu Intan menghela nafasnya, beruntung sekali Fatimah datang.
Tanpa menjawab pertanyaan Fatimah, Fahmi pergi dari rumah menggunakan sepeda motornya.
"Fahmi tunggu, teteh belum selesai bicara" teriak Fatimah berusaha mengejar adiknya
"Fatimah, sudah nak" cegah bu Intan
"Bu, sebenarnya kenapa dengan Fahmi. Kok bisa sampai membentak ibu" Fatimah penasaran
"Ini salah ibu, ibu tadi minta tolong adik mu ke kedai bantuin bapak tapi dia marah dan bentak ibu. Harusnya ibu nggak nyuruh dia kesana apalagi Fahmi baru pulang kuliah" bu Intan beralibi pura-pura menangis
"Sudah ibu jangan nangis, nanti Fatimah yang tegur Fahmi. Kenapa anak itu jadi sering membantah, main dengan siapa coba" pikir Fatimah
"Seperti semenjak adik mu mulai akrab dengan Arifin deh, adik ipar Agus" bu Intan tersenyum kecil
Bersambung....
...🍍Happy Reading🍍...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
🍁FAIZ❣️💋🄻🄴🄱🄰🅁🄰🄽👻ᴸᴷ
orang klo udah serong tuh pasti ketagihan jadi sulit sembuhnya
2024-09-05
0
𝓐𝔂⃝❥EᷤIᷴNᷫAͥ●⑅⃝ᷟ◌ͩ🏡 ⃝⃯᷵Ꭲᶬ
kenapa juga si fahmi diem aja kasitahu dong ke tetehnya kelakuan ibunya itu, haish si ibu juga mau tutup salah malah fitnah org bener2 dah.
2024-09-04
0
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞𝐀⃝🥀иσνιєℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥࿐
Coba apa reaksi Fatimah jika dia yang melihat ibunya berselingkuh dan bukan Fahmi.. kalau seperti ini taunya Fahmi yang salah karena membentak ibunya tanpa tau duduk permasalahannya.
2024-08-06
1