Suasana rumah keluarga Fen tampak sunyi, tidak ada suara satupun terdengar di pagi hari. Fen Xiang berusaha pergi tanpa menimbulkan suara, bahkan Fen Lang Ayahnya tampak tertidur tenang setelah seharian penuh menjerit seperti orang tidak waras. Berteriak akan memukul semua orang dan membuat sumpah yang tak masuk akal. Tali yang mengikat nya tidak pernah di buka meskipun lelaki itu menghancurkan isi kamar dan berguling menendang pintu dengan kedua kaki.
Siapa yang akan peduli dengannya? Anak-anak terlanjur membenci ayahnya, dia bahkan masih ingat jelas. Bagaimana Fen Hui memukulnya tanpa ampun menggunakan rak buku miliknya. Lihat saja nanti begitu dia berhasil terbebas, gadis kecil itu akan dia pukul berkali-kali lipat dari yang di berikan nya pada Fen Lang.
Bahkan Istrinya tidak merespon ancaman yang dilontarkannya, dia tidak pernah mendengar suara Istrinya sedikitpun. Mungkin saja wanita itu sudah sekarat menurut Fen Lang.
Di kediaman keluarga Yan, Fen Hui berusaha keluar dengan tidak mencolok. Menggunakan jubah hitam dan diarahkan oleh pelayan pribadi Yan Zhi secara diam-diam untuk keluar. Sepanjang malam gadis itu tidak bisa tertidur nyenyak, dia memikirkan Aniang, kakak, dan adiknya. Seharusnya sejak awal Fen Hui memberitahu Paman Rong agar mengatakan mereka tidak perlu khawatir.
Setelah berhasil keluar dari kediaman Yan Zhi, Fen Hui berjalan menuju pasar. Melewati kedai-kedai yang baru buka, langkahnya terhenti didepan penjual panekuk isi daging. Membelinya satu buah saja untuk mengganjal perut. Dia juga berniat membeli dua pon daging berlemak untuk Aniang yang sedang sakit.
"Aku berharap keadaan Aniang tidak memburuk karena semalam aku tidak pulang."gumam Fen Hui khawatir.
Sekelompok orang melewati nya dengan wajah penuh kekecewaan, dia mendengar keluhan orang-orang yang familiar baginya.
"Sungguh malang nasib gadis itu, Pedagang Song Yongsheng terlalu kejam untuk nya. Bagaimana bisa menindas anak kecil yang bahkan tidak tau apa-apa."
Apa yang di bicarakan mereka? Fen Hui tertarik untuk mendengarkan.
"Kau benar, dia bahkan mengatakan secara terang-terangan bahwa dia sudah menyingkirkan penghemat uang kita. Jika sudah begini bukankah sangat rugi membeli rempah-rempah pada nya dengan harga mahal?"
Kening Fen Hui mengerut, apakah orang-orang itu membicarakan nya? Jika iya seharusnya menyebutkan namanya. Pada akhirnya Fen Hui tidak memikirkan lebih dalam lagi. Langit telah memberikan bocoran hal lain padanya, sayang sekali Fen Hui tidak peka dengan hal itu.
"Bibi berikan aku 2 pon daging berlemak."
"Aku akan membungkus nya untuk mu. Apa kau ingin juga daging tanpa lemak?"
Fen Hui menggeleng,"tidak."
"Baik, ini dagingnya."
Potongan daging berlemak diterima oleh Fen Hui, gadis itu memberikan beberapa Jiao pada pedagangnya. Setelah itu, dia memutuskan untuk membeli beras merah. Dirumah sudah tidak ada lagi sisa beras sedikit pun.
Kedua tangannya dipenuhi beban berat, beberapa orang melirik belanjaan Fen Hui. Rasanya ingin merampas barang milik sosok mungil itu, mereka menahan diri. Itu adalah tindakan buruk, memangnya mereka kekurangan uang sampai harus merampas barang milik orang lain?
Langkah kaki Fen Hui terhenti didepan gerbang kabupaten, sosok jangkung berkulit cokelat karena terpapar sinar matahari setiap hari. Membuat nya tampak begitu mencolok.
"Apa yang Dage lakukan disini?"
Fen Hui berlari menghampiri Fen Xiang, pemuda itu tampak bingung jalan mana yang harus dia telusuri. Meksipun kabupaten ini terbilang kecil, tapi dengan jalan kaki sama saja terasa luasnya.
"Bocah itu benar-benar membuat orang marah."tangannya menyisir rambut hitamnya kebelakang.
Fen Xiang berdecak kesal karena tidak memikirkan matang-matang tindakan nya, dahinya berkerut saat sosok berjubah hitam menghampirinya. Sosok itu menenteng kain berisi daging dan beras merah 10 kati. Berhenti tepat didepannya dan berjongkok kelelahan.
"Apa kau baik-baik saja?"tanya Fen Xiang khawatir.
Dia tidak tau bahwa sosok itu adalah Fen Hui, saat gadis itu mendongak menatap sepasang mata bermanik hitam. Fen Xiang terkejut setengah mati, menyadari bahwa sosok didepannya adalah Fen Hui.
"Dage."
Sudut bibir Fen Xiang berkedut kesal, melihat adiknya datang dengan wajah tanpa bersalah. Membuat tangannya gatal ingin menampar wajah milik Fen Hui.
"Pulang."ketus Fen Xiang dingin.
"Baiklah, bisakah Dage membawakan ini untuk ku? Tangan ku tidak kuat membawanya lama-lama."
Pemuda itu meraih barang bawaan Fen Hui, mendorong gadis itu agar mengikuti nya pulang. Fen Hui tidak protes karena tindakan Fen Xiang terlihat kasar. Dia tahu kakak nya sedang marah, memutuskan untuk diam dan mengikutinya dari belakang. Paman Rong memperhatikan kedua Kakak beradik itu saat mereka masuk kedalam gerbong. Keduanya terlihat sangat muram, dia tidak berkata apapun dan kembali fokus menyetir kudanya.
Butuh beberapa jam untuk sampai ke desa, mereka berdua melewati rumah-rumah yang tampak sepi. Paman Rong tidak bisa masuk kedalam desa karena mengantarkan pelanggan lain. Hari ini seperti biasa, semua orang sibuk pergi ke ladang. Mau tidak mau rumah akan sepi tidak ada penghuni, semua anak laki-laki biasanya bermain di lapangan dan pulang ketika sore. Setidaknya yang sudah remaja akan membantu kedua orang tuanya di ladang, tidak akan bermain di lapangan bersama yang lain.
"Dage, apa Aniang baik-baik saja?"Fen Hui membuka percakapan setelah keduanya diam sepanjang perjalanan.
"Kau masih berani bertanya tentang Aniang?"Fen Xiang menatap adiknya tajam.
Fen Hui terdegun mendengar nada sinis di ucapan Fen Xiang, rasa dingin menusuk hatinya. Gadis itu menunduk menatap jalanan tanah yang tidak rata seperti aspal. Tidak berani untuk bertanya kembali, dia memiliki firasat buruk. Aniang marah... Marah besar!
Saat sudah tiba di pekarangan rumah nya, Fen Hui merasa ragu untuk mendekati wanita dewasa yang duduk di bangku panjang. Menikmati hangatnya sinar matahari, tubuhnya terbungkus selimut. Matanya tertutup dan wajahnya terlihat kedamaian abadi. Langkah Fen Hui terhenti, dia takut Aniang akan marah. Jantungnya berdegup kencang saat Fen Hua membuka kelopak matanya.
Dia menatap Puteri keduanya dengan sorot mata dingin, bangkit berdiri melangkah menghampiri Fen Hui. Tangan kurus penuh tenaga, bergerak menampar pipi kanan Fen Hui. Suara telapak tangan menghantam pipinya terdengar begitu keras. Meninggalkan jejak merah dengan rasa perih menjalar, Fen Qian menjerit kaget melihat tindakan Ibunya.
Sementara Fen Hui bergeming ditempat nya, tidak bergerak sedikitpun. Matanya melebar tak percaya Aniang akan menampar pipinya. Tubuhnya gemetar sebagai reaksi alami, gadis itu mendongak menatap ibunya dengan tatapan tak percaya.
"Apa kau masih berani pulang kerumah, setelah mencoreng nama baik mu sendiri?"
"Aniang..."
"Pergi, jangan mengotori pandangan ku Fen Hui."
Mata Fen Hui berkaca-kaca, nafasnya tersendat-sendat. Rasa sakit menghujani hatinya, sakit yang tidak bisa terlukis kan oleh kata-kata. Meremas erat hati seakan ingin meledakkan nya. Manik mata jernih Fen Hui dipenuhi embun bening yang berdesakan keluar meloloskan diri.
"Aniang, apa aku terlihat begitu kotor saat ini?"
Pertanyaan Fen Hui membuat hati Fen Hua tergetar, amarahnya goyah. Melihat sosok rapuh dihadapannya seperti akan hancur berkeping-keping. Tapi benaknya berkata untuk tidak segan pada puteri nya. Menghabiskan waktu dengan seorang laki-laki tak dikenal, bahkan tidak memiliki hubungan erat seperti tunangan. Bukankah itu menghancurkan harga diri dan namanya sendiri?
Laki-laki mana yang akan menikah dengan wanita yang mencoreng namanya sendiri.
Bukan hanya itu Fen Hui menodai nama keluarga Fen! Apa yang harus dia katakan pada Ayah mertua, kalau beliau mengetahui Fen Hui tak pulang semalam dan menghabiskan waktu dengan lelaki asing.
"Aniang, aku tau kau marah, maaf karena aku tidak berbakti."
Fen Hua tak menjawab, dia tidak tega melihat Fen Hui menangis. Gadis itu menahan suara tangisnya, berbicara seolah tidak terjadi apapun. Siapapun tahu tangisan tanpa suara merupakan hal yang paling menyakitkan. Fen Hua memilih untuk masuk kedalam rumah, meninggalkan Fen Hui di pekarangan.
"Aniang Maaf."lirih Fen Hui, dia menatap kepergian Ibunya tanpa memberikan respon apapun padanya.
Fen Xiang melirik adiknya sebentar sebelum menyusul Fen Hua kedalam rumah. Tatapan Fen Hui jatuh pada Fen Qian, Kakaknya berpura-pura tidak melihat Fen Hui mengikuti langkah Fen Xiang. Semua orang terlihat tidak memedulikan nya, Fen Hui tersenyum sinis. Tangannya menghapus jejak air mata, dia berdeham sedikit. Mengatur nafasnya yang tak beraturan dan duduk di bangku panjang.
"Tidak apa-apa, tidak perlu menangisi hal apapun. Setidaknya mereka tidak tau kejadian kemarin."Fen Hui berusaha meyakinkan hatinya.
Dia mengusap bekas tamparan Aniang, masih terasa perih dan panas. Bibirnya mengerucut tak suka, dia tidak tau apakah dia ingin menangis atau tidak. Hatinya terlalu hampa saat ini. Hal-hal menyakitkan seperti ini tidak sebanding dengan perasaan takut kehilangan nyawa. Siapa yang tidak takut dengan kematian? Fen Hui terkekeh seperti orang gila, kewarasan gadis itu seakan menjadi tipis.
"Jangan buang-buang perasaan untuk hal ini, aku harus mengurus Fu Qin. Beliau seperti bom waktu yang siap meledak kapan pun."
Fen Hui sudah bertekad, untuk sementara waktu dia tidak akan pergi kekabupaten. Mendisiplinkan Ayahnya adalah prioritas nya saat ini. Jika Lelaki itu tidak bisa di jinakkan maka, Fen Hui akan memikirkan cara lain untuk menyingkirkan nya. Tanpa sadar gadis itu memiliki pemikiran yang gelap, secara perlahan mengubahnya menjadi sosok lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Solekah
ternyata emaknya gak jauh beda gak punya otak
2024-10-15
0
Lala Kusumah
Hui'er kuat ya Nak.... lanjuuuuuuuuuuutttt
2024-07-12
4