Pagi harinya Fen Hui terpaksa bangun lebih awal, melihat Ibunya sudah bersiap-siap untuk pergi ke ladang di waktu subuh. Membuat nya tidak bisa tidur nyenyak, Fen Xiang membawa peralatan bertani sedangkan Fen Qian menyiapkan sarapan untuk dibawa.
"Jaga rumah dengan baik, kami akan pulang sore nanti."pinta Fen Hua, saat melihat Fen Hui berdiri diambang pintu.
Mengantar kepergian mereka bertiga."umm, mengerti."
"Aku sudah menyisakan beberapa ubi ungu kukus untuk kau dan Mei'er sarapan."ucap Fen Qian sebelum pergi.
"Berhati-hatilah dijalan,"angguk Fen Hui.
Dia menutup pintu rumah, dan berniat membangunkan Fen Mei. Melihat adiknya tidur dengan nyenyak, dia tidak tega membangunkannya. Berjalan pelan keluar dari rumah, menatap pekarangan dengan pikiran penuh.
"Ada baiknya menanam sayuran di halaman depan atau belakang."ucapnya.
Dia menatap kearah kaki gunung, ada niat terselubung untuk pergi kesana. Kakinya mengenakan sandal jerami, ini adalah hadiah dari Ibunya beberapa tahun yang lalu. Untungnya masih muat di kakinya, hadiah itu sangat mahal untuk keluarga mereka. Tapi berhubung Ibunya membuat sandal jerami itu sendiri.
Jadi Fen Hua tidak mengeluarkan banyak sen untuknya, saat hendak pergi pintu rumah terbuka. Fen Mei melihat Fen Hui akan pergi segera menutup pintu dan berlari menyusulnya.
"Kakak, tunggu."Fen Mei mengejar Fen Hui,"mau kemana?"
"Aku mau pergi ke kaki gunung lebih dekat."Fen Hui meraih tangan mungil Fen Mei.
Mereka berdua berjalan bersama hingga sampai di kawasan Kaki gunung, ada banyak hal disana sebuah tanah luas yang ditumbuhi banyak sayuran liar. Ataupun rempah-rempah liar seperti kunyit, jahe ataupun lengkuas.
"Ini bagus, kita akan mengambilnya."Fen Hui berjongkok.
Mencoba menggali kunyit dengan batang kayu, untungnya tanah tidak terlalu keras. Cukup lunak hingga mempermudahkan nya menarik kunyit itu.
"Wooo...! Banyak, sangat banyak!"Fen Mei berseru senang.
Dia membantu Kakaknya mengumpulkan kunyit, meskipun dia tahu kunyit bukanlah sumber makanan pokok.
"Hmm, aku akan mencabut banyak kunyit kau harus mengumpulkan semuanya."
"Baik!"
Dengan patuh Fen Mei mengumpulkan kunyit yang sudah dicabut, ukuran kunyit liar itu lumayan besar. Terlihat segar dan memiliki aroma yang khas, dia berpikir untuk mengambil keranjang anyaman dirumah. Meminta izin pada Fen Hui untuk pulang sebentar.
"Bagus, aku bisa menjual nya ke kabupaten terdekat."seringai nakal muncul disudut bibir Fen Hui.
"Aku membawanya! Aku membawanya!"
Gadis kecil berusia 6 tahun melompat-lompat kegirangan, tangan kecilnya membawa keranjang anyaman. Fen Hui meraih anyaman itu dan memasukkan semua kunyit yang dipanennya. Jahe yang sempat dicabut olehnya juga dimasukkan kedalam keranjang.
"Kak, apa yang akan kita lakukan dengan kunyit ini?"tanya Fen Mei penasaran.
Seringai licik muncul disudut bibir Fen Hui, dia menatap adiknya dengan semangat. Tangannya masih mengumpulkan kunyit dan jahe. Dia tidak mencabut talas, tidak untuk sekarang.
"Aku akan menjualnya ke Kabupaten hari ini, meksipun jalannya sangat jauh. Kau pergi saja ke ladang menemui Ibu dan aku akan pergi sendirian."
"Itu mustahil, Kabupaten berjarak sangat jauh dengan kecepatan jalan kaki Kakak hanya kecapekan dijalan."Fen Mei merasa cemas.
"Aku akan ikut!"
Fen Hui terdiam menatap adiknya, dia mengangguk kecil."jangan beritahu Ibu, dia akan khawatir."
"Eumm... janji,"angguk Fen Mei.
Kedua kakak beradik itu kembali ke rumah jerami mereka, mengambil tabung bambu berisi air. Ditutupi dengan potongan bambu lainnya sebagai tutup. Membawa beberapa biji ubi kukus yang sudah dingin. Memasukkan semua itu kedalam keranjang anyaman.
"Aku akan meninggalkan mu di jalan, jika mengeluh karena lelah."ancam Fen Hui.
Fen Mei menggeleng dia tidak akan mengeluh, karena ini pilihan nya. Gadis kecil itu merasa cemas kalau Fen Hui pergi seorang diri.
"Aku hapal jalannya, Ibu pernah membawa ku ke Kabupaten."
"Hmm... kita berangkat sekarang."
"Iya."
Mereka berdua saling berpegangan tangan, berjalan keluar desa dan menempuh jarak 60 meter untuk sampai di Kabupaten. Bukan hal mudah untuk dilakukan oleh anak kecil, tenaga mereka di kuras banyak. Melihat orang-orang menaiki kereta yang di tarik oleh sapi. Fen Mei merasa iri, dia menelan semua keluhannya karena sudah berjanji.
Melihat adiknya sudah kelelahan, Fen Hui memutus kan untuk duduk di pinggir jalan sebentar. Memberikan seteguk air pada adiknya lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Sampai di Kabupaten, kedua pasang mata itu berair. Seluruh tubuh mereka sangat berkeringat, bahkan kedua kaki yang menopang tubuh pun terus menerus gemetaran karena berjalan cukup lama.
"Ugh... Akhir kita sampai."Fen Mei menghela nafas lega.
Fen Hui menuntun Fen Mei menuju pasar, meskipun sudah siang pasar sedikit ramai. Ada banyak pedagang berteriak menjajakan dagangannya, Fen Hui mencari tempat strategis. Dia menaruh keranjangnya diatas tanah, membiarkan Fen Mei duduk di belakang nya karena kelelahan.
"Minum dan makan ubi nya, aku akan berjualan disini."
"Baik."angguk Fen Mei patuh.
Fen Hui menarik nafasnya dalam-dalam,"kunyit segar! Kunyit segar! Baru dipetik pagi ini, tidak kering dan tidak busuk! Mari datang dan beli lah. Kunyit ini sangat besar dan jahenya juga memiliki aroma yang kuat."
Gadis itu terus berteriak kencang, sekelompok wanita dewasa hendak melewati nya. Mendengar kata 'Segar' sungguh menarik perhatiannya, mereka melirik keranjang anyaman berisikan Kunyit dan Jahe. Ukurannya memang sedikit lebih besar dari pada yang biasa mereka beli di pedagang lain.
Ada jejak tanah basah sedikit kering di sela-sela jahe dan kunyit. Salah satu dari mereka berhenti didepan Fen Hui, matanya berbinar menatap Jahe berukuran besar.
"Berapa harga setengah kilo Jahe nya gadis kecil?"
"Nyonya, anda sangat beruntung hari ini aku memetik banyak Jahe dan anda yang pertama kali membelinya jadi aku akan memberi harga dengan diskon."Fen Hui menatap wanita itu dengan senang."harganya hanya 2 sen!"
"Ya ampun baik sekali, berikan Jahenya pada ku."
Wanita itu membuka keranjang jinjing, Fen Hui memasukkan beberapa genggaman Jahe. Dia bisa menimbang dengan tangan dan tepat.
"Nyonya, jika anda khawatir berat nya tidak sama, silahkan ditimbang dirumah kalaupun kurang datang lah kembali."
Fen Hui menerima 2 sen miliknya, wanita itu pergi. Dari kejauhan terlihat wanita dewasa itu berbicara dengan teman-temannya. Dalam hitungan detik wanita-wanita dewasa lain menghampiri Fen Hui untuk membeli Jahe dan kunyit.
"Ini sangat segar! Gadis kecil dari mana kau mendapatkan nya?"
"Nyonya, aku mendapatkan nya dari kaki gunung, ini adalah Jahe dan kunyit liar."
"Hoho... Sangat jujur aku suka, berikan 1 kg Jahe untuk ku gadis kecil."
"Umm,"
Tangan kecil Fen Hui dengan cepat menimbang Jahe, memberikan beberapa genggaman setelah di perkirakan beratnya. Butuh waktu beberapa jam untuk menghabiskan dagangan nya.
Dia tidak pernah menyangka dagangan nya akan habis terjual! Dia mendapatkan 1 Jiao, ini benar-benar uang yang banyak untuknya.
Mata Fen Mei berbinar-binar melihat uang yang banyak di genggaman Fen Hui, ini pertama kalinya dia melihat uang sebanyak itu.
"Apa yang akan kita lakukan dengan uang ini Kak?"
Kakak perempuan nya sangat hebat, satu keranjang anyaman sebesar punggungnya menghasilkan 1 Jiao! Bukankah itu bisa membuat nya makan enak?
"Kita akan kembali kerumah dan menyimpan uang ini."
"Apa kita tidak bisa membeli makanan enak?"Fen Mei menahan air matanya.
Sangat sayang untuk tidak membelanjakan uang itu, tapi dia tidak bisa berkomentar lagi. Fen Hui terdiam, dia mengambil 1 sen pada Fen Mei jarinya menunjuk ke pedagang makanan.
"Beli lah 1 panekuk untuk mu sendiri, kita tidak boleh memakai banyak uang."
"Wah, Kakak sangat baik."
Gadis kecil itu berlari menghampiri penjual panekuk isi lobak. Fen Hui memperhatikan nya dari jarak jauh, dia sebenarnya masih bingung harus membeli apa. Tapi teringat suatu saat pasti keluarga nya akan mengeluarkan uang banyak. Entah untuk apa itu, tapi dia tidak boleh pelit untuk urusan makanan.
"Gadis kecil ku dengar kau menjual kunyit segar."lelaki dewasa menghampiri Fen Hui.
Gadis itu mendongak dan tersenyum,"benar Paman, aku menjual kunyit segar tapi untuk sekarang Kunyitnya sudah habis terjual."
Sudut bibir Lelaki itu melengkung kebawah,"apa besok kau akan datang kemari?"
"Tentu, kalau anda mau datang lah sekitar pukul 8 pagi."
"Baik, aku sangat membutuhkan kunyit itu."
Lelaki itu berjalan pergi bertepatan dengan Fen Mei, gadis kecil itu membawa 1 panekuk besar isi lobak."apa kita akan pulang?"
"Makan saja dulu, kita akan segera pulang sebelum sore datang."
"Umm."
Fen Mei membelah dua panekuk itu, dia memberikan setengahnya pada Fen Hui. Gadis itu tidak menolak, dia memakannya dengan lahap.
"Ayo pulang."
Keranjang anyaman diangkat dan bertengger manis di punggung Fen Hui, tangan kanannya menggenggam erat tangan Fen Mei. Kedua Kakak beradik itu kembali menempuh perjalanan panjang.
...****************...
Alo... ada sedikit penjelasan dalam 1 Yuan ada 10 Jiao, dan dalam 1 Jiao ada 10 sen. Author agak kurang ngerti mata uang Tiongkok, mungkin harganya terlalu murah buat yang diatas hehe... Mohon untuk memaklumi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Sita Sit
awal baca udah keren ,aku suka genre transmigrasi kayak gini
2024-10-23
0
RJ 💜🐑
aku suka sama ceritanya thor 💪🏻💪🏻👍🏻👍🏻😍
2024-08-06
2
Suket Tekikapisan
jarak ke kabupaten katanya jauh, eh taunya cm 60 meter
2024-07-27
1