Tangan kurus Fen Hui menumpuk keranjang anyaman, dia berniat untuk membeli beberapa pon daging dan sayuran. Sebuah bayangan muncul menaungi gadis itu. Membuat Fen Hui mendongak menatap sepasang mata elang yang menatapnya tajam.
"Ah, kau yang kemarin."Fen Hui tersenyum tipis.
Anak lelaki yang ditolongnya berdiri didepan gadis itu, ekspresi anak laki-laki terlihat datar. Bahkan tidak membalas senyuman Fen Hui sedikitpun.
"Kau punya waktu luang?"tanya nya.
Fen Hui mengangguk tanpa berpikir."memang nya kenapa?"
"Ikut aku sebentar."tanpa banyak bicara anak itu meraih keranjang anyaman milik Fen Hui.
Membawa nya tanpa persetujuan Fen Hui, gadis itu berdecak dalam hati. Pemuda didepannya sangat menggangu, dia ingin membeli daging dan sayuran harus tertunda.
"Kemana kau membawa ku pergi?"
Pemuda itu menghentikan langkah nya, meraih tangan kurus Fen Hui saat menggenggam nya dia merasa harus berhati-hati. Karena tangan gadis penolong nya terasa sangat rapuh.
"Ikut saja."
Kali ini Fen Hui tidak memprotes, membiarkan pemuda itu membawanya. Ternyata gadis itu di bawa ke parkiran kuda, dia berhenti didepan kuda poni berwarna hitam. Paman Rong melihat nya langsung mendekati, dia menatap pemuda asing yang menggenggam tangan Fen Hui.
"Fen Hui, apa dia kekasih mu?"
Mendengar itu Fen Hui nyaris tersedak ludahnya. Dia merasa Paman Rong berniat menggoda nya. Buru-buru mengeluarkan 4 sen dan memberikan nya pada Paman Rong
"Bukan, dia teman ku Paman, aku pulang terlambat ada urusan jadi tidak bisa bersama mu. Bisakah membawa keranjang ku dan memberikannya pada Kakak ku?"
Paman Rong tersenyum lebar, dia mengira Fen Hui akan berkencan dengan Pemuda asing itu. Apa lagi wajah nya sangat tampan untuk seusianya, jadi hanya menyetujui dan pergi membawa 4 sen bersama 2 keranjang anyaman.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"tanya Fen Hui.
Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres, Pemuda itu menarik nya mendekat ke tubuh kuda poni. Memberi isyarat agar gadis itu menaikinya. Fen Hui ingin menolak tapi tubuhnya terlanjur diangkat oleh Pemuda tanpa nama.
"Diam, kita harus pergi dari sini secepatnya."
"Apa maksudnya? Kau harus menjelaskan, mengapa kau mengajak ku pergi bersama?"
Fen Hui semakin tidak mengerti, pemuda itu duduk dibelakang nya meraih tali kendali. Dan membawa mereka berdua keluar dari Kabupeten, dia semakin curiga karena Pemuda itu tidak menjelaskan apapun.
"Lihat kebelakang."
Kepala Fen Hui menoleh kebelakang, 3 orang pria dewasa bertubuh besar menaiki kuda berjalan pelan. Apa ada yang aneh? Wajah mereka terlihat sangar, seperti preman. Tiba-tiba dia teringat cerita Bibi Guo, wajah nya menjadi pucat.
"Mereka mengincar ku."
"Ya, kau sangat pintar."ujung bibir pemuda itu terangkat.
Dia memacu kudanya untuk berlari cepat, karena melihat pergerakan tiga orang di belakang nya semakin cepat. Fen Hui memeluk leher kuda erat, tidak yakin kuda poni kecil bisa menyaingi kuda dewasa yang berlari cepat.
Dia tidak tau mengapa pemuda itu tau dirinya di buntuti, bahkan diawasi. Dia juga tidak tau alasan pemuda itu menolongnya. Sungguh saat ini tidak berani berpikir untuk hal semacam itu nyawa lebih penting.
"Siapa yang kau singgung akhir-akhir ini?"
"Tidak ada, aku tidak pernah menyinggung banyak orang."
Kening Pemuda itu mengerut tak percaya."ku dengar kau berjualan rempah dengan harga murah, menarik pelanggan tetap pedagang lain. Kemungkinan mereka sewaan pedangan lain yang tidak menyukai mu."
"Sudah ku duga."Fen Hui menghela nafas berat.
Melihat Respon Fen Hui yang tidak panik, pemuda itu semakin yakin dengan pilihannya. Semenjak Fen Hui menolong nya, dia memutuskan untuk mencari tau tentang Fen Hui, gadis petani biasa tinggal di desa kecil. Ayahnya selalu gagal ujian tes, memiliki temperamen buruk. Gadis itu pernah mengalami tekanan mental beberapa tahun, tapi sekarang sepertinya Fen Hui berhasil mengatasi masalahnya.
Akhir-akhir ini dia juga mengawasi pergerakan gadis itu, entah rasanya ada yang menarik memperhatikan Fen Hui dari jauh. Dia tidak tau dengan perasaan aneh yang bersarang dihatinya.
Kuda milik ketiga preman semakin mendekat menyusul mereka berdua dengan mudah, Fen Hui merasa nyawanya tak aman, dia bahkan tidak tau kemana pemuda itu membawanya pergi.
"Kenapa tidak mengambil jalan utama? Aku ingin cepat sampai dirumah."
"Tidak lupakan itu, jika aku membawa mu pulang mereka akan tau kediaman mu, dengan mudahnya akan menghancurkan apapun yang ada di sana."
Menyadari kebod*han nya sendiri Fen Hui tidak bisa berkata-kata, mereka mengambil jalan pintas yang sulit. Jauh masuk kedalam hutan, dia mendengar teriakan dari belakang.
"Kejar gadis itu, kita tidak boleh kehilangan nya."
"Baik!"
"Sial,"pemuda dibelakang nya mengumpat kesal.
Jalan yang dipilihnya salah, semakin dalam masuk ke pelosok hutan semakin sulit untuk kuda poni berjalan. Dia buta arah!
"Sekarang apa kita tersesat?"tanya Fen Hui gugup.
"Sepertinya begitu."
Wajah Fen Hui tertekuk,"aku tidak pernah kesini sama sekali."
"Hanya sekali aku kemari."
Pemuda itu menghentikan kuda poni saat hutan semakin sulit di masuki, banyak tumbuhan liar bahkan orang yang mengejar melepaskan kuda mereka dan berlari terus mengejar.
"Ayo turun dan lari, kudanya kesulitan untuk menerobos hutan kondisi tanah basah dan licin bisa-bisa kita terjatuh."
"Umm."
"Ini seperti perpaduan buta map dan bod*h."decak Fen Hui.
Dia menggenggam tangan pemuda itu erat, keduanya berlari sambil berpegangan agar tidak terpisah.
"Berhenti! Kau bocah sial*n."
Wusss...
"Akhh..."Fen Hui menjerit kencang.
Sebuah anak panah menembus bahunya, wajah pucat nya semakin pucat pasi hampir tidak ada darah satupun terlihat diwajahnya. Langkah gadis itu terhenti saat rasa sakit merambat di bahu.
"Si*l aku tidak tau mereka membawa senjata."
Fen Hui mendesah pelan, dia memaksa kan diri untuk terus berlari. Membuat pemuda disampingnya cemas, bagaimana bisa Fen Hui menahan rasa sakit seperti itu? Dia hampir tidak bisa mendengar bunyi anak panah bergesekan dengan udara. Tangannya menarik Fen Hui berlindung dibalik pohon, bertepatan dengan itu anak panah menancap di batang pohon.
"Apa masih bisa ditahan?"
"Apanya?"
"Rasa sakit di bahu mu."
Fen Hui menggeleng, dia sebenarnya ingin berhenti bergerak. Rasa sakit tusukan panah hampir membuat nya menangis, gadis itu menahan semuanya meskipun matanya sudah memerah.
"Bisa, masih bisa."angguk Fen Hui.
Pemuda itu merasa ragu, tangannya mengeluarkan sesuatu dari balik baju. Dia sudah menyiapkan semuanya dengan baik, begitu tau niat busuk yang tak sengaja dia ketahui.
Batang bambu kecil dengan lubang yang bisa di masuki sesuatu, Pemuda itu mengarahkan pada salah satu Preman dan meniupnya. Jarum kecil yang sudah di olesi obat pelumpuh meluncur cepat.
"Ini hanya menahan mereka sebentar, saat perhatian mereka teralihkan pada teman mereka, kita akan langsung berlari cepat."
"Umm."Fen Hui mengangguk patuh.
Disaat bersamaan itu juga salah satu dari ketiga preman jatuh tersungkur, jarum telah menancapkan di leher mengenai titik vital. Beruntung nya yang di incar adalah orang yang membawa panah.
"Saudara! Apa yang terjadi pada mu?"
"Bangun lah, si*l pasti ini ulah bocah-bocah itu."
"Lari."
Fen Hui berlari kencang saat satu kata dari pemuda yang melindunginya, disaat nyawanya merasa di ujung tanduk. Gadis itu merasa luka dari panah tidak sakit sama sekali.
"Aku ingin hidup."desah Fen Hui, embun bening bergantung di pelupuk matanya.
Pandangannya mengabur, dia bisa mendengar suara teriakan dari para preman yang mengejar mereka kembali.
"Fokus lah, kita harus selamat."
"Mereka tidak boleh lepas, tembak!"
Wuss..
Sebuah anak panah kembali melesat, mengarahkan nya pada tubuh Fen Hui. Akan tetapi Pemuda di samping nya menggunakan punggungnya sebagai tameng.
Brugh....
"Ugh, lari saja! Kau harus selamat."
Fen Hui menghentikan langkah kakinya, dia menarik tubuh pemuda itu penuh tenaga.
"Kau gil*? Kita harus selamat bersama-sama, kalau mau mati mengapa tidak bersama saja?"ketus Fen Hui jengkel.
Pemuda itu tertawa, dia kembali mengumpulkan tenaga dan hendak berlari. Akan tetapi, sebuah tendangan muncul menghantam kepalanya.
Tubuhnya terjatuh ketanah, dengan rasa pusing dan sakit menyerang kepala. Dia kehilangan kesadaran nya, tendangan itu bukan sekadar tendangan biasa!
"Seharusnya seperti ini dari awal."
"Gadis kecil, kemana kau akan lari lagi?"
Tubuh Fen Hui membeku saat dua orang preman tersisa berhasil mengejar mereka. Dua badan besar dan kekar itu berdiri tepat didepan matanya. Menarik kerah bajunya membuat Fen Hui merasa sesak.
"Le-pas!"
"Tidak semudah itu, bagaimana ini? Klien ku menginginkan mu untuk mati. Kau sudah menyiapkan nyawa mu dengan baik."
"Saudara, kita sudah mendapatkan nya, ayo pergi bawa dia ke klien."
"Ya."
Fen Hui memberontak, berusaha melepaskan cengkraman lelaki yang mencengkeram kerah lehernya. Dengan mudah nya lelaki itu menyeret tubuh Fen Hui secara kasar. Kerah baju yang ditarik secara tidak langsung mencekik leher Fen Hui.
"Lepaskan aku brengs*k."
"Ugh."
Fen Hui merasa akan kehabisan nafas, kakinya menendang pemuda yang masih tak sadarkan diri saat dirinya terseret melewati tubuh pemuda itu.
"Bangun, kau bilang akan melindungi ku."
Meskipun tau itu adalah omong kosong, pemuda itu tidak pernah mengatakan akan melindungi nya, Fen Hui hanya sedikit berharap meskipun itu mustahil. Matanya memerah berakhir mengeluarkan embun secara deras, kedua pria yang membawanya hanya menikmati suara kepanikan Fen Hui. Membiarkan tubuh gadis itu menabrak apapun di tanah, baik tergores atau tidak mereka tidak peduli.
Fen Hui melupakan sesuatu, hidup di zaman seperti ini tidak lah sama dengan zaman modern. Kekejaman orang-orang zaman sekarang bermain nyawa bukan mental. Dia tidak mempersiapkan apapun dan menyesalinya.
"Berapa banyak yang kita dapatkan dari gadis kecil ini?"
"Sekitar 30 Yuan."
"Aku tidak percaya bocah ini memiliki harga tinggi."
"Jangan banyak bicara, kita harus keluar dari hutan ini."
Rasanya kesadaran Fen Hui semakin menipis, matanya yang berkabut merasa melihat pergerakan sosok asing. Sosok itu mengejar secepat mungkin sambil berusaha tidak menimbulkan suara. Tangannya menggenggam kayu berukuran lumayan panjang dan pas di cengkraman tangan nya. Itu mampu untuk membuat seseorang pingsan, kalau memukul di bagian tertentu.
Bugh...
Bugh...
Dua pukulan berturut-turut mengenai leher belakang kedua lelaki bertubuh besar, dalam hitungan detik mereka jatuh tak sadarkan diri. Fen Hui terdiam menatap sepasang mata elang, dengan perasaan tak berdaya. Dia tersenyum sinis, saat pemuda didepannya mengangkat tubuhnya dan menggendong Fen Hui.
"Aku menepati perkataan ku bukan?"
"Ya,"Fen Hui mengangguk dan diam.
Tangannya memeluk leher pemuda itu, tubuh nya gemetar hebat. Ketakutan nya yang sudah tidak bisa di tahan, tak lagi di sembunyikan. Matanya terpejam rapat, dia kehilangan kesadaran nya akibat rasa tercekik tadi.
"Tidak buruk, kau berhasil mempertahankan kesadaran mu sampai aku datang. Kita akan pulang dan mengobati luka mu."gumam pemuda itu.
Pemuda itu merasa mereka habis keluar dari neraka bersama-sama, rasanya ada perasaan lain kembali menggelitik hati nya. Dia akan membawa Fen Hui pulang ke kediaman nya. Malam akan tiba, beruntung pemuda itu masih hapal jalan yang mereka lewati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Sita Sit
kerasnya kehidupan Feng hui
2024-10-24
0
Solekah
kasih kekuatan dikit atuh thor kasihan masak lemah gitu
2024-10-15
0
Erna Fkpg
tk kirain tersesat dihutan dan mendapat peninggalan ilmu bela diri dan harta seperti cerita kolosal lainnya
2024-08-27
1