Siang itu Fen Xiang membawa satu karung singkong besar, dia membawanya dari ladang. Di area pinggir ladang ditanami tanaman singkong, dia mencabutnya karena memang sudah waktunya dipanen. Aniang membawakan karung untuknya, kemudian menyeretnya ke rumah. Ketiga adiknya sedang bersantai di halaman mereka duduk diatas bangku panjang, sambil memakan kentang goreng.
"Hari ini pulang lebih awal, apa dagangan tidak laku?"Fen Xiang berhenti didepan ketiga adiknya.
"Itu tidak benar, dagangan nya laku lebih awal. Hanya saja stoknya sedikit jadi habis begitu cepat."sahut Fen Hui.
Fen Qian melirik karung yang di bawa Kakaknya."apa yang kau bawa?"
"Singkong, ini sudah waktunya dipanen."
Fen Mei meloncat turun dan membuka karung tersebut, dia melihat singkong berukuran sedang dan besar. Malam ini keluarga nya pasti akan memakan singkong kukus hangat dan pulen. Fen Hui terdiam menatap singkong yang ditarik keluar oleh adiknya. Matanya seketika bersinar, kedua tangannya refleks bertepuk seakan mendapatkan ide bagus.
"Adik ketiga ada apa dengan mu?"Fen Xiang menatap Fen Hui heran.
"Itu benar Dage! Singkong nya bisa kita jual."mata almond gadis itu berbinar. Dia sangat bersemangat sekali, mengingat dia bisa mengolah singkong menjadi makanan enak.
"Jual? Kau memiliki ide apa lagi di otak mu?"Fen Qian tertarik saat melihat Fen Hui seperti mendapatkan ide dan inovasi baru mencari uang.
"Ya aku memiliki idenya, Dage bisa kah kau mencarikan daun pisang untuk ku? Fen Mei yang baik hati, kau bisakah kau membelikan gula merah 2 kg?"
Dua orang yang dimintai tolong itu mengerut tak suka, mereka ingin duduk dan bersantai. Memakan kentang goreng dengan tenang, tapi begitu Fen Hui mengeluarkan 2 sen, Fen Xiang mengangguk menyetujui.
"Kau memang bos kecil, aku akan mencarikan nya setelah membawa singkong nya ke dapur."
Fen Hui mengangguk senang, dia menoleh menatap adiknya Fen Mei sudah menadahkan tangan.
"Mei'er akan pergi ke toko milik Paman Tjong, berikan satu sen untuk jasa nya."gadis itu tersenyum licik.
Paman Tjong membuka warung kecil, tapi itu adalah toko satu-satunya di desa. Semua hal di tokonya begitu lengkap, kebutuhan pokok, camilan lezat dan hal lainnya. Paman Tjong menjualnya! Dia akan pergi kesana dengan senang hati.
"Bagus, ini uang nya. Simpan baik-baik di kantung mu karena aku memberikan 10 sen."
Fen Mei menyimpan uangnya dengan baik dan berlari pergi. Kini tersisa hanya Fen Qian dan Fen Hui. Kedua gadis itu saling bertatapan dan tersenyum simpul. Mereka berjalan pergi ke dapur, mengambil pisau besar pemotong daging serta pisau kecil.
Pertama mereka akan mencuci bersih singkongnya, kemudian memotongnya beberapa bagian dan mengupas nya. Setelah itu Fen Qian memarut singkong yang sudah di kupas, sesuai permintaan Fen Hui. Gadis itu berjalan mengitari dapur mencari sesuatu dan menemukan nya. Sebuah kelapa tanpa cangkang dan serabut nya. Daging kelapa itu di ambil, gadis itu mencari parutan lain. Setelah menemukan nya, dia mulai memarut kelapanya. Kelapa yang di parut untuk sementara di pisahkan ke wadah lain.
Dia membantu Kakaknya memarut singkong, gerakan mereka dipercepat agar cepat selesai. Meskipun begitu harus berhati-hati agar jari jemari mereka tidak terluka. Fen Mei datang membawa 2 kg gula merah, dia mengatakan 1 kg gula 5 sen. Jadi uang yang di berikan oleh Fen Hui sangat pas, dia melihat kedua Kakaknya mencampurkan parutan singkong dan kelapa.
"Mei'er tolong ambilkan gula tebu dan garam."
Gadis kecil itu segera mengambil barang yang diinginkan Kakaknya,"apa ini akan dipotong halus?"
Fen Qian menunjuk gula merah dengan pisau besar, Fen Hui mengangguk. Kakaknya dengan cekatan memotong halus semua gula merah. Selesai memotongnya dia memasukkan gula merah kedalam campuran singkong dan kelapa. Fen Hui memberikan beberapa sendok makan gula tebu kedalam campuran bahan. Dia sedikit memberikan garam sekitar setengah sendok makan, lalu mengadukannya dengan centong nasi.
"Adik kedua, aku membawakan yang kau mau."Fen Xiang pulang membawa gulungan daun pisang.
Dia memotong dua buah daun pisang besar, memisahkan daun dari batang nya. Mencuci bersih daun pisang di sungai, jadi adiknya tinggal menggunakan saja. Tanpa repot-repot memisahkan daun dan batang, lalu mencuci dan mengeringkan nya butuh waktu lama.
"Wah, Dage kau membawa banyak daun."Fen Hui meraih gulungan daun pisang.
"Tentu, aku sudah membersihkan nya dan mengelapnya hingga kering. Langsung saja digunakan, bukankah sangat praktis? Kau tidak perlu repot-repot lagi."ucap Fen Xiang bangga.
Fen Qian segera memotong gulungan daun menjadi beberapa bagian. Mengambil dua sendok makan adonan, menaruh nya diatas daun pisang dan membungkus dengan hati-hati. Fen Xiang ikut membantu pekerjaan kedua adiknya, mengambil adonan dan membungkus nya. Sementara Fen Mei hanya diam, sesekali mengambil sedikit adonan untuk mencicipi.
"Fen Mei berhenti mengambil adonannya, tunggu setelah matang baru kau bisa memakan nya."tegur Fen Qian saat mengetahui adiknya mengambil sedikit adonan.
Fen Mei hanya tersenyum lebar dan tertawa malu, semua adonan sudah di bungkus. Fen Hui mengambil panci besar, mengisinya dengan air dan menyalakan api. Menunggu air matang baru memasukkan semua adonan yang dibungkus.
"Nah sekarang kita tunggu matang!"Fen Hui menepuk tangannya.
Mereka berempat keluar dari dapur, kembali duduk di halaman memakan kentang goreng renyah. Mungkin kalau ditambah dengan segelas es limun akan lebih baik.
"Dajie, aku ingin belajar menyulam! Tangjie sangat hebat dalam menyulam, bisakah kau meminta nya mengajari ku?"pinta Fen Mei penuh harap.
Semalam dia tidak berani meminta Tangjie secara langsung, Fen Qian berpikir tangan kecil Fen Mei masih sedikit rapuh. Jadi dia tidak akan terlalu memikirkan hal itu, gadis kecil itu terus merengek.
"Dajie...jika adik mu ini bisa menyulam maka, adik mu ini akan memiliki penghasilan."rengek Fen Mei, di otaknya sekarang hanya ada uang dan uang.
Gadis kecil itu seperti terkena virus dari Fen Hui."berhenti merengek, Dajie akan mengajari mu."
"Apakah Dajie bisa menyulam?"Fen Mei menatap Kakak perempuan pertamanya tak percaya.
"Kakak perempuan mu sangat ahli dalam menyulam! Keahliannya jauh lebih baik dari Tangjie."Fen Xiang mengatakan hal itu bukan sekedar membual, nyatanya adik perempuan pertamanya membantu keekonomian keluarga dengan hasil sulaman nya.
Dia suka menyulam saat semua orang tidak melihatnya, menjualnya diam-diam tanpa sepengetahuan Aniang. Memberikan penghasilan nya saat keluarga sedang krisis. Adiknya bisa di andalkan, selain mengurus rumah dan menjaga kedua adik perempuannya. Tidak ada orang lain yang bisa diandalkan saat dirinya dan Aniang pergi ke ladang.
"Itu sangat menakjubkan, Dajie. Mei'er akan berusaha keras belajar menyulam nya."
"Sebelum belajar, lebih baik kumpulkan banyak sen untuk membeli peralatan menyulam."Fen Qian mendorong pelan dahi Fen Mei dengan jari telunjuk nya.
"Aku juga ingin belajar."Fen Hui menatapnya penuh harap, Adik dan Kakaknya mengerut kening.
"Kau sudah ahli berdagang, mengapa ingin belajar menyulam?"tanya Fen Qian.
"Menyulam menghasilkan uang, mengapa aku harus melewatkan kesempatan emas ini?"
Melihat seringai licik adiknya Fen Qian hanya bisa menghela nafas. Dia bangkit berdiri, pergi ke dapur mengecek makanan yang mereka buat sudah matang atau belum. Mengatur besar dan kecil nya api, setelah memastikan makanannya matang. Fen Qian mematikan api dan membuka penutup panci. Mengambil beberapa bungkus dan memisahkan nya dari air.
"Sepertinya sudah matang."Fen Xiang datang kedapur dengan perasaan tak sabar.
"Ini sudah matang, aku akan membagi dua. Satu untuk di jual dan satu lagi untuk kita makan."
Fen Xiang mengacungkan dua ibu jarinya, Aniang sebentar lagi pulang. Mereka akan memakannya bersama Aniang, pasti akan menyenangkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Solekah
benar2 kehidupan desa di masa lampau
2024-10-15
0
RJ 💜🐑
semoga mereka mendapatkan uang yang banyak
2024-08-06
2