Langit mulai gelap, Fen Qian duduk di bangku panjang dengan penuh rasa khawatir. Kemana adiknya pergi? Paman Rong datang hanya mengantarkan keranjang anyaman milik adiknya.
"Sampai kapan Dajie akan duduk disana?"Fen Mei muncul dari dalam rumah.
Matanya menangkap kegelisahan Fen Qian, gadis kecil itu berjalan mendekati Fen Qian dan duduk disampingnya. Menatap langit dengan sedikit penuh pertanyaan.
"Hui'er belum juga pulang, aku khawatir dengan nya."
"Aniang harus tau."Fen Mei meloncat turun, dia berlari kedalam rumah menemui Fen Hua.
Fen Xiang datang sambil membawa peralatan bertani, dia pulang terlambat karena ada pekerjaan lain selesai dari ladang. Melihat Fen Qian bangkit berdiri dan berjalan bolak balik menimbulkan tanda tanya besar untuknya.
"Hari sudah gelap, mengapa kau tidak masuk?"tanya Fen Xiang.
Adiknya hanya menghela nafas berat dan menggeleng,"tidak, aku tidak mau. Hui'er belum pulang bagaimana aku bisa duduk didalam rumah dengan tenang? Aku takut sesuatu buruk terjadi padanya."
"Dia seharusnya pulang bersama Paman Rong."
"Paman Rong sudah datang terlebih dahulu, membawakan keranjang titipan dari Hui'er. Dia bilang Hui'er sedang menghabiskan waktu dengan anak laki-laki seusianya."
Rasanya Fen Xiang tidak percaya dengan itu, Fen Hui tidak pernah memiliki teman laki-laki seusianya. Dia dan Fen Qian selalu mengawasi anak itu dengan ketat secara bergantian.
"Sepertinya dia mengenal seseorang tanpa kita ketahui hari ini."Fen Qian menatap Fen Xiang gelisah.
"Bagaimana jika dia ditipu oleh anak itu lalu terjadi penculikan?"
Melihat adiknya sudah berpikir negatif, tidak diragukan juga dirinya memiliki pikiran lebih negatif.
"Aku akan pergi mencarinya."Fen Xiang menaruh Peralatan bertani ke dapur.
"Tidak, ini sudah gelap. Tidak ada kendaraan apapun saat malam."
"Aku bisa meminjam lembu dan kereta milik kepala desa."Fen Xiang bersikeras untuk pergi.
Fen Qian memegangi lengan Kakaknya erat, dia khawatir dengan Fen Hui tapi tidak ingin mengundang bahaya untuk Kakaknya.
"Besok saja! Apa kau mau di rampok oleh bandit? Mereka lebih kuat dari mu."
Kedua Kakak beradik itu saling menatap tajam, mereka tidak mau mengalah. Pada akhirnya Fen Xiang menahan diri untuk mencari Fen Hui.
"Besok saja, kita akan pergi bersama-sama ke kabupaten."ucap Fen Qian, menarik lengan Fen Xiang untuk masuk kedalam rumah.
"Aku saja yang pergi, Fu Qin masih suka membuat keributan. Lebih baik kau menjaga Aniang di rumah."
"Baiklah, mari masuk. Tidak baik berlama-lama di luar."
Bau dupa memenuhi ruangan bernuansa klasik, tempat tidur yang disekat papan kayu berukir. Meja dan kursi kayu biasa untuk menerima tamu pribadi, dan satu sekat papan kayu di seberang ruangan berisi rak-rak buku dan meja belajar. Lantai ubin hangat dilapisi karpet berbulu, kondisi kamar dan luasnya hampir sebesar rumah kecil Fen Hui.
Pemuda bermata elang tengah membalut lukanya di punggung, di bantu seorang pelayan wanita berusia 20 tahun. Pelayan itu tidak berani menanyakan sesuatu pada majikannya, matanya sesekali melirik gadis yang terbaring di kasur dengan mata terpejam.
"Jangan beritahu kepala keluarga, kau dengar kan?"
"Saya mendengar nya Tuan muda, lukanya sudah selesai di balut."
"Gantikan pakaiannya, gunakan saja pakaian ku. Dia terluka balut juga lukanya."
"Baik, Tuan muda Yan Zhi."
Yan Zhi menatap Fen Hui sejenak, sorot matanya melembut. Tangannya bergerak menyingkirkan beberapa helai rambut, yang menutupi sebagian wajah Fen Hui. Yan Zhi menarik tangan nya cepat, dia bangkit berdiri dan pergi ke ruang belajar nya. Pelayan nya tercengang melihat tindakan majikannya. Ini pertama kali dia melihat Yan Zhi berinisiatif untuk menyentuh perempuan.
Tuan muda nya datang saat hari sudah gelap, menggendong gadis seusia nya dengan pakaian penuh lumpur. Bahkan pakaian mereka rusak serta memiliki noda darah. Pelayan itu menebak sesuatu buruk telah terjadi pada keduanya. Dia melepas semua pakaian Fen Hui, membersihkan debu dan noda yang menempel. Mengobati dan membalut luka Fen Hui, kemudian memakaikan pakaian baru pada gadis itu.
"Kau beruntung sekali, Tuan muda yang dingin itu membantu mu."gumamnya.
Gerakan tangannya dipercepat, dia sudah menyelesaikan pekerjaan nya. Memberitahu pada Yan Zhi perintahnya telah di selesaikan. Pelayan itu di perbolehkan untuk pergi, Yan Zhi kembali ke tempat tidurnya.
Duduk di kursi samping ranjang, memandangi Fen Hui lekat-lekat. Sementara pikiran nya mulai berjalan rumit. Pedagang Song Yongsheng, pelaku kejadian hari ini. Yan Zhi sudah mengorek banyak informasi dari banyak pihak. Saat mencari semua hal berkaitan dengan Fen Hui. Pemuda itu tak sengaja mengetahui niat busuk pedagang rempah terbaik di Kabupaten kecil.
"Dia terlalu berlebihan pada pedagang kecil, harga yang ditawarkan Fen Hui tidak akan terlalu memengaruhi harga pasar. Faktanya banyak pedagang kecil menjual rempah lebih murah karena ketidaktahuan harga pasar."
"Dia berani menyinggung ku, tentu tidak bisa dilepaskan begitu saja."Yan Zhi tersenyum miring.
Ekspresi nya berubah menjadi datar begitu melihat tanda-tanda Fen Hui akan terbangun. Kelopak mata gadis itu terbuka perlahan, menatap langit-langit kamar yang asing. Bau dupa menyerang hidungnya karena menyengat. Pandangan nya bertabrakan dengan Yan Zhi, matanya mengerjap lucu. Fen Hui tidka percaya bahwa sosok didepannya pemuda yang memukul preman bayaran untuk menolong nya.
"Kau?"
Fen Hui tidak bisa berkata-kata, dia tidak tau harus berkata apa padanya. Mungkin terima kasih karena menolong nya?
"Yan Zhi."jawab Yan Zhi singkat.
Dia mengira Fen Hui menanyakan namanya, tapi gadis itu hanya sekedar berbicara saja karena bingung.
"Terimakasih sudah menolong ku."
"Hanya membalas Budi."
Fen Hui menunduk, merasa berat bahwa pemuda itu membalas budinya hampir membahayakan nyawanya sendiri. Suasana tampak canggung, rasanya tidak terbiasa dengan kehadiran satu sama lain. Apa lagi berada di ruangan kosong bersama.
"Sekarang aku dimana?"
"Kamar ku."
Ucapan Yan Zhi membuat Fen Hui tersentak kaget, dia berada di kamar pemuda yang baru dikenalinya. Bukankah itu tidak sopan? Gadis itu buru-buru bergerak turun dari ranjang. Gerakannya terhenti karena Yan Zhi menahan pergerakan nya.
"Jangan pergi, hari sudah gelap untuk malam ini lebih baik kau tidur disini saja."
Sorot mata Fen Hui terlihat ragu."bagaimana dengan mu? Maksud ku, kau akan tidur dimana?"
"Aku akan tidur di ruang belajar, tidur lah. Lebih baik kau sekarang kembali beristirahat."Yan Zhi mendorong pelan tubuh Fen Hui kembali merebahkan di atas ranjang kasur.
Menyelimuti tubuh gadis itu tanpa diminta, dia bangkit berdiri berniat pergi agar Fen Hui bisa tidur tanpa rasa terganggu oleh kehadiran nya.
"Nama ku Fen Hui, kau harus ingat itu Yan Zhi."
Ujung bibir Yan Zhi terangkat, pemuda itu sudah mengetahui nama Fen Hui. Dia ingin tertawa tapi menahan diri dan hanya mengangguk sebelum pergi. Fen Hui menarik selimutnya sampai menutupi wajah, dia merasa gelisah. Baru teringat pada orang-orang dirumah. Sepertinya gadis itu sudah berhasil membuat semua orang di rumah khawatir dan cemas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Me Ta
sayang sekali fen Hui ngga punya keahlian beladiri
2024-09-09
2
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuuuutttt
2024-07-11
2
De Ryanti
lanjut thor...semangaaddd
2024-07-11
2