"Apa ini? Mengapa begitu berantakan?"
Fen Qian mematung melihat kondisi rumahnya sangat kacau, pintu rumah terbuka lebar. Ada rak buku setengah hancur, jejak-jejak kaki serta beberapa tetesan darah berada di lantai tanpa ubin.
Degup jantungnya berdetak cepat, pupil matanya mengecil. Tubuhnya gemetar hebat, seakan tahu apa yang terjadi. Gadis itu berlari masuk kedalam rumah, matanya menangkap pintu kamar miliknya terbuka. Langkah kakinya terhenti diambang pintu kamar, tangisannya pecah saat melihat sosok Ibunya tertidur diatas kasur jerami. Dengan wajah lebam dan beberapa goresan luka. Luka yang di sebabkan oleh hantaman rak, terkena sisi tajam kayu yang kasar.
"Aniang?"
"Fu Qin yang membuat nya seperti itu?"
Melihat kedatang adiknya dengan eskpresi menyedihkan membuat Fen Xiang tak bisa berkata-kata. Fen Hui dan Fen Mei mengintip kedalam kamar, Aniang memiliki banyak lebam di wajah. Goresan luka samar di kulitnya nyaris tak terlihat, Fen Mei berlari menghampiri Ibunya.
"Aniang... Aniang bangun lah, Mei'er sudah pulang. Jangan tidur, bangun..."
Mata besar dan jernihnya berkaca-kaca gadis itu menangis memeluk tubuh Ibunya erat. Dia tidak mengerti, kenapa Aniang nya tidak mau bangun? Padahal Fen Mei sudah menggoncang tubuh Fen Hua cukup kencang.
"Dajie, Dage."gadis itu menatap kedua Kakak nya panik."Aniang tidak mau bangun, dia tidak mau bangun...uuu..."
Kedua Kakaknya hanya terdiam membiarkan adik bungsu mereka menangis, Fen Qian berlari keluar mengabaikan kehadiran Fen Hui yang sedari tadi berdiri diambang pintu
"Aku akan memanggil tabib, jaga Aniang,Gege!"
"Aku akan menjaganya."
Fen Hui masih terdiam ditempat, ingatan masa lalu tubuhnya sedang di putar kembali. Hal ini sering terjadi, baik dirinya ataupun Aniang selalu mendapatkan kekerasan ketika Fen Lang sedang mabuk. Baik pukulan dan tendangan mereka berdua selalu menjadi sasaran empuk. Meskipun begitu Fen Qian ataupun Fen Xiang keduanya juga pernah mendapatkan kekerasan dari Ayah mereka.
"Ini semakin parah."gumam Fen Hui.
Tubuhnya kembali bereaksi diluar keinginan nya, kedua lutut terasa lemas. Gadis itu berjongkok di samping pintu karena tidak sanggup berdiri. Rasa takut kembali merebak kedalam hatinya, mata tajam yang menyala. Seakan sedang menatap buruan dan akan memangsa. Tangan besar yang siap mencabik-cabik tubuh nya membangkitkan trauma asli pemilik tubuh.
Fen Hui tidak bisa mengendalikan tubuhnya, secara refleks kedua tangan menggenggam erat rambut hitam panjang nya. Wajahnya terlihat gelisah, sesekali tangannya akan menarik-narik rambut nya secara kasar.
"Ugh...hen-hentikan...Fu Qin..."
"I-ni me-nyakitkan..."
"To-long.. heuk... sakit."
Fen Hui menangis histeris, bayang-bayang masa lalu pemilik tubuh menghantui. Mendengar tangisan histeris dari luar Fen Xiang bangkit berdiri dan keluar kamar khawatir.
Adiknya terlihat sedang duduk berjongkok disamping pintu, mengacak-acak rambut nya dan meracau sambil menangis. Tubuh kurusnya gemetaran, melihat itu hatinya terasa sakit.
"Aku bersalah, ampuni aku."
"Adik!"
Fen Xiang berjongkok didepan Fen Hui, kedua tangannya memegang bahu adiknya. Fen Hui menjerit keras dan memberontak.
"Fu Qin! Aku bersalah, ampuni aku!"
"Hui'er berhenti, tenang lah... tidak ada Fu Qin sama sekali. Jangan takut Gege akan melindungi mu."
"A-niang...aniang..."
Fen Xiang mendekap adiknya erat, pemuda berusaha menghentikan pergerakan Fen Hui. Tangan nya menepuk punggung Fen Hui lembut, berusaha menenangkan adiknya, dia merasakan pergerakan Fen Hui melambat. Suaranya melemah, yang dia dengar hanya Isak tangis gadis itu.
"Dimana Ibu mu?" Lelaki tua dengan membawa kotak kayu masuk kedalam bersama Fen Qian.
"Dia ada dikamar Paman."
"Baik, antar aku kesana,"
Lelaki itu menatap Fen Xiang Tenga memeluk gadis kecil berkulit putih pucat. Gadis itu terlihat rapuh, dia merasa pelukan Fen Xiang dapat menghancurkan tulang nya.
"Ada apa dengan nya Fen Xiang?"
"Paman Ding, adik ku sangat terpukul dengan kejadian ini."
Paman Ding, tabib satu-satunya di desa itu hanya menghela nafas. Dari sekian banyak keluarga yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Hanya keluarga Fen kecil saja, dia sudah sering datang kemari jadi hapal melihat Fen Hui seperti itu.
"Aku sangat berharap Ayah kalian segera bertobat."dia tidak bisa melakukan apapun, segera masuk kedalam kamar untuk mengobati Fen Hua.
Fen Qian mengusap kepala Fen Hui, kemudian menyusul Paman Ding. Dia juga berusaha menenangkan Fen Mei, gadis kecil itu tidak tau apapun tentang kondisi keluarga nya. Fen Qian selalu menyembunyikan Fen Mei ketika keributan terjadi dirumah, sayangnya gadis itu tidak pernah berpikir untuk membawa pergi Fen Hui juga. Akibatnya Fen Hui yang selalu berada dirumah terkena imbas pertengkaran orang tuanya.
"Adik, apa sudah tenang?"tanya Fen Xiang hati-hati.
Dia tidak mendengar jawaban apapun dari Fen Hui, saat melepaskan pelukannya. Pemuda itu membeku saat sorot mata Fen Hui terlihat kosong dan hampa. Gadis itu seakan kembali seperti dulu lagi, tidak! Tidak boleh terjadi, dia tidak rela semangat hidup Fen Hui kembali meredup.
"Hui'er, coba lihat Gege."
Keduanya saling bertatapan, Fen Hui tidak merespon ucapan Fen Xiang. Benaknya masih bertempur dan jalan pemikiran nya rumit. Fen Hui sedang berjuang melawan keinginan pemilik tubuh, dia sudah menduga jiwa pemilik tubuh asli tak sepenuhnya menghilang.
"Tidak apa-apa, jangan takut Fu Qin tidak akan melukai mu kembali."
Mendengar Ayah nya di sebut, Fen Hui seakan kembali mendapatkan sedikit kesadaran nya.
"Fu Qin?"
"Dimana?"
"Tidak ada Fu Qin sudah ku ikat di kamarnya."
Fen Hui berdiri membuat Fen Xiang bingung, adiknya berjalan kearah kamar. Tanahnya meraih rak buku setengah hancur dan menyeretnya. Membuka kunci sederhana kamar itu, Fen Xiang mengejar adiknya dia tidak tau apa yang akan di lakukan Fen Hui.
"Mati..."gumam Fen Hui.
Sorot matanya terlihat sangat dingin, menatap lelaki dengan tangan dan kaki terikat. Tertidur nyenyak diatas kasur jerami, tangan kurus Fen Hui mengangkat rak tinggi. Fen Xiang terkejut melihat tindakan Fen Hui.
"Adik hentikan!"
Gadis kecil yang di panggilnya menoleh, ujung bibirnya terangkat tinggi."aku membencinya, bolehkah aku memukulnya?"
Fen Xiang tidak bisa berkata-kata saat rak buku dihantamkan pada tubuh Fen Lang, Ayahnya hanya mengerang kesakitan tapi tak kunjung bangun. Efek araknya begitu kuat, membuat Fen Hui semakin menjadi-jadi. Hantaman demi hantaman di berikan pada Fen Lang hingga Rak buku rusak sepenuhnya.
Gadis itu berhenti memukul, dia tertawa lega. Tujuan hidup nya sejak awal ingin makan enak dan tidur nyaman. Melihat laki-laki yang meninggalkan jejak trauma pada pemilik tubuh serta mengusik kedamaian rumah. Fen Hui merasa Fu Qin nya pengganggu yang harus di singkirkan.
"Fu Qin, aku tidak mau durhaka pada mu tapi kau duluan yang memulai."
Fen Hui menatap Kakaknya, pemuda itu hanya berdiri kaku melihat aksi adik ketiganya. Sangat kejam dan tidak berbelas kasih, mungkinkah kepribadian adiknya berubah karena penderitaan nya?
"Apa kita perlu membawa nya ke hakim daerah?"
"Jangan, itu akan mengeluarkan uang banyak untuk menuntut."tolak Fen Xiang.
Dia sangat menginginkan nya, Fen Hui tidak harus mengeluarkan uang hanya untuk membuat Ayah mereka di penjara.
"Kalau begitu kepribadian nya harus di ubah Gege."senyum gadis itu terasa mengerikan.
Fen Hui masih mengingat nasihat orang tuanya di kehidupan sebelumnya, jika ada yang mengusik kenyamanan hidup. Tidak perlu segan untuk menghancurkan nya, gadis itu bertekad akan membuat Ayahnya dikehidupan sekarang menjadi lebih patuh padanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Solekah
bagus.patahkan kaki dan tangannya biar kapok.dasarnya otak udang ikut tes berapakalipun gak bakal lulus
2024-10-15
1
Armyati
😭😭😭byk bawang
2024-07-24
2
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭
2024-07-08
1