Mata Fen Mei terlihat membengkak besar, dia menangis sepanjang malam. Beberapa kali Fen Hua harus menenangkan si bungsu. Hingga tertidur lelap didekapannya, Fen Qian juga tak bisa tertidur nyenyak, hanya bisa menatap langit-langit dengan pikiran kosong. Kejadian sore menguras banyak pikirannya, tapi gadis itu tidak berani membicarakan didepan Ibunya.
Dia melirik Fen Hui yang tertidur disampingnya, tubuhnya menghadap dinding melihat gerak gerik adiknya. Gadis itu tahu Fen Hui tidak bisa tertidur malam ini, tangannya mengusap lembut punggung Fen Hui mencoba mengusir kekhawatiran adiknya.
"Dajie..."bisik Fen Hui setengah terkejut.
"Tidurlah, ini sudah larut malam."Fen Qian membalas bisikan Fen Hui.
Tidak ada jawaban dari adiknya, dia tidak tau apa yang dipikirkan adiknya selama berjam-jam. Tubuh Fen Hui berbalik menghadap Fen Qian, gadis itu memeluk erat tubuh Kakaknya dan mencoba untuk tidur. Ada rasa hangat saat sapuan tangan lembut menyentuh punggung nya, Fen Hui menyukai perasaan itu.
Keesokan paginya Fen Qian tengah sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi, hari ini dia tidak bisa pergi bersama Fen Hui. Dia harus dirumah untuk menjaga Aniang, Fen Mei juga menolak pergi walaupun sudah di iming-iming akan naik gaji oleh Fen Hui. Gadis itu terlihat murung berdiri didepan gerbang desa menunggu kusir antar jemput langganan nya.
"Ini diluar ekspektasi ku, tapi mau bagaimana lagi, jika Qin'er ikut ke kabupaten lalu Fu Qin membuat ulah itu akan berbahaya."Fen Xiang mencoba membujuk Fen Hui.
Dia mengira Fen Hui mengambek, faktanya gadis itu kesal bukan karena Fen Qian tidak menemani nya. Dia kesal karena Fen Mei tak mau ikut, itu artinya tidak memiliki asisten kecil. Sebuah gerbong kereta kuda berhenti didepan gerbang desa. Didalam nya ada beberapa orang yang hendak pergi ke kabupaten.
"Fen Xiang, kali ini kau yang menemani Fen Hui?"kepala Kusir muncul dari depan gerbong kereta.
"Tidak."
Fen Hui melambai pada Paman kusir."Paman Rong, seperti biasa."
"Baik."
Paman Rong turun dari tempat kusir membantu Fen Xiang mengangkat dua keranjang anyaman. Ini adalah panen terakhir kunyit, jahe dan lengkuas. Fen Hui berpikir akan menjual singkong gula merah saja sambil menunggu waktu panen tanamannya.
"Paman Rong bisakah nanti kau bantu mengangkat barang dagangan ku ketempat biasa? Aku akan memberimu 2 sen!"ucap Fen Hui setengah berbisik.
Paman Rong menyetujui nya."tentu gadis kecil, selama ada uang jalan aku bisa membantu mu."
Mereka berdua saling berjabat tangan dengan senyum puas, Fen Xiang tercengang melihat nya. Dalam waktu beberapa hari Fen Hui sudah menjadikan Paman Rong bawahan bayaran. Uang memang tidak bisa ditolak oleh siapapun, Fen Xiang belajar itu.
"Dage, aku berangkat."
Fen Hui naik kedalam gerbong kereta, Fen Xiang mengangguk dan melambaikan tangan. Menyaksikan adiknya pergi bersama Paman Rong. Setelah memastikan Gem Hui hilang dari pandangan nya, Fen Xiang segera pulang mengambil peralatan bertani. Dia akan pergi berladang dan bekerja lebih keras karena Ibunya sedang sakit.
"Fen Hui, apa kau menjual Singkong kukus gula merah hari ini?"tanya Bibi Guo.
Bibi Guo setiap hari akan menaiki gerbong yang sama dengan Fen Hui, dia pergi ke kabupaten untuk menjual hasil sulaman. Terkadang beberapa hari dia tidak pergi, wanita itu hapal Fen Hui menjual kunyit, jahe dan lengkuas. Terkadang dia juga ikut membeli beberapa kali dagangan milik Fen Hui.
"Tidak untuk hari ini Bibi."Fen Hui menggeleng.
Bibi Guo mendesah, anaknya yang paling kecil menyukai makanan lezat itu. Dia merengek sepanjang hari untuk minta dibelikan.
"Bisakah besok kau menjualnya? Aku ingin memesan 10 buah untuk orang-orang dirumah."
"Bisa, nanti sepulang dari kabupaten akan di buat kan."
"Bagus, senang sekali."Bibi Guo menatap Fen Hui senang.
Dia mencondongkan tubuhnya kedepan Fen Hui dan berbisik."Xiao Fen, kau tau akhir-akhir ini banyak pedagang rempah yang di ganggu oleh preman bayaran, berhati-hatilah aku khawatir dengan itu."
"Benarkah? Aku baru mengetahui itu Bibi."Fen Hui terkejut mendengar nya.
Itu berarti dia harus berhati-hati, kalau-kalau ada pedagang rempah lain tak menyukainya karena harganya sangat murah dan merusak harga pasar, bisa-bisa dia mendapatkan ancaman.
"Karena itu aku memberitahumu."Bibi Guo tersenyum bangga.
"Karena barang dagangan ku tidak ada lagi di gunung, aku akan menjual singkong kukus gula merah saja kedepannya."
Bibi Gue mengacungkan jempol, itu berarti ada dia bisa makan camilan singkong setiap dia bertemu Fen Hui. Saat sampai di Kabupaten kecil, Fen Hui dan Bibi Guo berpisah, beberapa penumpang lain juga sudah melarikan diri untuk kepentingan masing-masing, Paman Rong membawa dua keranjang anyaman menaruh nya di tempat biasa Fen Hui berjualan.
"Pelanggan mu sangat banyak."Paman Rong berdecak kagum.
Fen Hui merasa malu saat orang-orang yang menunggu barang pesanan mereka melambaikan tangan dengan semangat, gadis kecil itu sudah memberitahu mereka bahwa tidak ada lagi kunyit, jahe dan lengkuas. Hari ini menjadi hari terakhir dan menunggu panen rempah yang telah ditanam. Itu masih lama, mereka akan berebut hari ini karena jumlah barang tidak bisa di pastikan.
"Ini akan merepotkan."desah Fen Hui.
"Fen Hui datang,"
"Aku akan membeli lebih dulu dari kalian."
"Enak saja, kau tidak boleh curang."
Paman Rong mengerut kening, para pelanggan Fen Hui malah berdebat. Dia mencoba membantu Fen Hui agar tidak terkena hal berbahaya apapun itu.
"Tuan-tuan, kalian tidak bisa berdebat datang dan berbaris rapih, tidakkah kalian merasa bahwa Fen Hui di buat kesulitan oleh kalian?"
Mendengar teguran halus, mereka berhenti berdebat, menatap Paman Rong sejenak lalu berbaris rapih seakan sadar berdebat belum tentu mendapatkan barang yang mereka mau.
"Terimakasih Paman Rong."
"Tidak apa-apa aku pergi dulu dan akan menunggu mu."
"Ya."
"Fen kecil, kami minta maaf seharusnya orang dewasa seperti kami memberikan contoh yang baik pada mu."
"Itu benar, karena itu beri aku sedikit lebih banyak."
"Kau tidak bisa seperti itu."
"Gadis kecil bisakah kau membaginya dengan adil."
"Ya, itu bagus."
"Biar saya hitung kalian semua untuk memastikan berapa jumlah yang bisa kalian dapat."Fen Hui menyanggupinya.
Semua orang tersenyum senang, faktanya mereka mendapatkan tidak lebih dari 1kg dalam masing-masing barang. Tidak masalah mendapatkan sedikit, karena harganya murah lagi pula mereka bisa beli ke tengkulak lainnya meskipun sedikit lebih mahal.
Fen Hui membagi barang dagangan nya, menerima beberapa keping tembaga dan perak, hingga satu genggaman terakhir habis. Alih-alih langsung membubarkan diri orang-orang itu masih berkerumun didekat Fen Hui.
"Nak, kalau rempah yang kau jual habis, selanjutnya apa yang akan kau jual?"
Mereka penasaran dengan isi otak gadis kecil didepan mereka, rasanya Fen Hui seakan membawa banyak keberuntungan pada mereka. Sementara Fen Hui hanya terdiam, lalu menjawab.
"Saya akan menjual Singkong kukus gula merah sementara waktu sampai rempah yang saya tanam akan panen,"
"Kalau bisa, kau carilah rempah lain ada banyak pemasok yang bisa kau hubungi."
"Sayangnya, saya tidak memiliki koneksi."Fen Hui tersenyum hambar.
Tuan-tuan itu mendesah, mereka harap Fen Hui mendapatkan rempah lain sebagai pengganti nya. Harga yang di berikan Fen Hui sedikit lebih murah itu bisa menghemat pengeluaran mereka. Tapi Singkong kukus gula merah terdengar lezat. Jadi mereka tidak akan protes sama sekali, dan membubarkan diri, beberapa dari mereka mengeluarkan bungkusan dari kantong mereka.
"Ini, permen susu terkenal di kabupaten, bersemangat lah untuk terus berjualan."
Fen Hui menatap bungkusan permen, pemberi yang memberikan camilan itu tersenyum tulus tidak menyembunyikan sesuatu dimata Fen Hui.
"Terimakasih Tuan,"Fen Hui menerima permen susu dengan senang hati.
Tuan itu pergi, Fen Hui tidak pernah menanyakan nama-nama mereka. Tidak berani takutnya menyinggung seseorang, karena merasa tak pantas Fen Hui mengetahui nama mereka. Dilihat dari Pakaian yang tidak sederhana, meskipun menggunakan kain linen yang biasa rakyat kecil kenakan.
Tapi kulit bersih dan lembut, serta rambut harum tidak kusut bahkan mengeluarkan banyak perak dan tembaga. Fen Hui curiga identitas pelanggan nya tidak biasa.
"Apa yang sebenarnya mereka lakukan?"gumam Fen Hui menatap kepergian orang-orang.
Dari kejauhan dalam gang kecil yang sempit, beberapa orang lelaki bertubuh besar menatap tajam kearah Fen Hui, senyum licik mengembang di bibir mereka. Mangsa kecil yang rapuh seperti kliennya bilang sangat mudah diatasi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Lala Kusumah
hati-hati Hui'er.... lanjuuuuuuuuuuutttt
2024-07-09
2