Langit masih terlihat semburat jingga di ufuk barat, suasana desa sangat sepi. Semua orang sedang sibuk menyiapkan makan malam mereka. Pulang dari ladang sudah pasti mereka akan langsung, mengisi perut hingga kenyang. Mereka makan hanya 2 kali sehari itu pun sudah termasuk mewah.
Saat Mega semakin menggelap, dirumah keluarga Fen baru saja menyelesaikan masakan untuk makan malam. Karpet anyaman lusuh dengan beberapa alat makan diatasnya, mengingat mereka akan makan dengan nasi beras merah, berhasil membuat perut-perut kerempeng milik Fen Hui dan Fen Mei berbunyi.
Fen Hua dan Fen Qian datang membawa hidangan. Masing-masing membawa sepiring sayur dan sebakul nasi beras merah. Tumis sayur menggunakan minyak dan garam, beberapa bawang merah dan putih. Sedikit irisan cabe merah besar yang tidak membuat pedas sedikitpun, sukses membuat perut semua orang berbunyi.
"Aniang, aku tidak sabar untuk memakannya."Fen Mei mengangkat mangkuk kecil tembikar dan sumpit.
Meminta Ibunya untuk memberikan secentong nasi beras merah, Fen Hua menaruh nasi beras merah diatas karpet, disusul oleh Fen Qian yang menaruh sepiring sayur tumis. Ada hidangan lain membuat makan malam kali ini sangat mewah bagus keluarga Fen. Sebungkus manisan pepaya dengan bentuk panjang seperti korek api. Sebelumnya Fen Hui hanya membuka satu bungkus camilan untuk dimakan bersama, Kakek dan pamannya. Dia tidak membuka bungkus kedua, itu akan menjadi camilan malam ini.
"Wahh... Harum, ini pertama kalinya Mei'er memakan beras merah."Mata Fen Mei membulat sempurna, saat satu centong nasi masuk kedalam mangkuk tembikar kecilnya.
"Hahaha... Bersyukurlah, Kakak ketiga mu membelikan nya."ucap Fen Xiang, membuat adik bungsunya langsung mengucapkan terimakasih pada Fen Hui.
"Terimakasih, Kak! Anda sangat bermurah hati."
Fen Hui berusaha menyembunyikannya senyumnya, Fen Mei sangat bermulut manis. Tangannya mencubit pipi Fen Mei pelan.
"Ya, bekerja lebih keras lagi untuk ku agar mendapatkan banyak sen."seringai Fen Hui.
Uhuk...
Fen Qian terbatuk, dia merasa perkataan Fen Hui ada maksud tersembunyi."sudah, cepat makan sebelum nasinya menjadi dingin."
"Cepat makan dan tidur, besok Aniang harus pergi ke ladang lagi untuk membajak ladang. Hui'er, Kakak perempuan mu yang akan mengantar mu ke kabupaten, Dage kalian harus membantu Aniang di ladang."
Perkataan Fen Hua sukses membuat sumpit yang di pegang Fen Hui terjatuh. Bagaimana dengan rencana menggempur tanah halaman belakang rumah mereka? Itu Artinya tidak bisa dilakukan besok, seakan tahu pemikiran adik ketiganya Fen Xiang berkata.
"Tidak apa-apa, nanti setelah pulang dari ladang. Aku akan menggempur tanah belakang rumah untuk mu."
Kakaknya mencoba menghibur, tapi Fen Hui menggeleng kan kepalanya. Dia tidak ingin membuat Kakak laki-laki nya jatuh sakit karena kelelahan bekerja.
"Besok lusa saja Dage, aku tidak terburu-buru."tolak Fen Hui.
Fen Xiang mengangguk, sebenarnya dia mungkin akan memaksa tubuhnya. Pulang dari ladang itu melelahkan, melakukan pekerjaan tambahan membuat mu semakin mati rasa. Untungnya Fen Hui mau memaklumi hal itu.
Mereka melanjutkan makan malam dengan lahap, mangkuk tembikar berisi nasi beras merah. Mengepulkan uap hangat, rasa pulen nasinya mungkin tidak sebanding dengan nasi beras putih porselen. Di zaman ini nasi putih porselen salah satu makanan mewah, para petani tidak berani memakan itu karena mahal. Walaupun mereka yang menanam nya, merasa sayang dimakan sendiri. Lebih baik menjual dan mendapatkan uang banyak.
Manisan pepaya, hidangan penutup makan malam spesial. Terasa begitu manis di lidah, potongan pepaya yang di masak dengan gula tebu dalam waktu lama. Pepaya segar menyusut perlahan, dan gula tebu berubah menjadi caramel lezat. Menempel pada potongan pepaya, membuat buah itu terasa lengket. Tekstur sedikit keras dan kenyal. Orang yang memakannya tidak bisa berhenti makan.
Selesai makan malam mereka berlima memutuskan untuk tidur, sebelum tidur Fen Qian dan Fen Hui membereskan peralatan makan. Mereka berdua mencucinya, setelah itu bergegas pergi tidur. Tidur dengan perut kenyang membuat mu bisa tidur pulas dan nyenyak. Ah rasanya seperti mimpi, bisa memakan nasi beras merah semangkuk penuh. Dan manisan pepaya yang lezat, sulit dilupakan di benak masing-masing keluarga Fen.
Pukul 9 pagi, Fen Qian berdiri dibelakang Fen Hui dengan canggung. Ini pertama kalinya dia dikelilingi banyak orang, niatnya hanya menemani adik kedua dan ketiganya berdagang. Dia menduga dagangan itu tidak akan cepat habis dan lama mendapatkan banyak pelanggan. Dugaannya itu salah, baru saja datang sudah ada beberapa orang menunggu. Fen Hui membawa dua keranjang anyaman, meminta kusir membantunya membawa kedalam pasar. Karena Fen Qian tidak bisa membawa barang berat, tidak seperti Fen Xiang.
"Pesanan ku ada kan Fen Hui?"
"Aku yang kemarin memesan lengkuas, kau sudah menyiapkan bagian ku kan?"
"Hei! Jangan menyerobot, aku duluan yang memesan kunyit pada Fen Hui!"
Kepala Fen Qian terasa akan meledak mendengar begitu banyak, pertanyaan dan seruan dari pelanggan adiknya.
"Paman dan Bibi, tenanglah! Kalian semua mendapatkan bagiannya masing-masing, aku sudah menghitung jumlahnya dengan tepat."teriak Fen Hui lantang.
Membuat semua orang berhenti berbicara, beberapa dari mereka tersenyum senang. Sisanya masih cemberut sehabis bertengkar, tapi buru-buru tersenyum saat mendengar bagian mereka semua ada dengan jumlah tepat. Mereka awalnya tidak percaya gadis itu bisa menghitung cepat, dan menimbang dengan tangan kecil. Tapi begitu ditimbang kembali dirumah, perkataan gadis kecil itu akurat. Kali ini mereka percaya sepenuhnya pada Fen Hui, anak perempuan yang pandai berhitung.
Meskipun pada pemerintahan sekarang anak perempuan sudah di izinkan belajar, tapi itu masih sedikit peminat. Semua orang masih menganggap itu adalah hal tabu, mereka berpikir perempuan seharusnya bekerja dirumah saja. Menjaga anak dan melahirkan anak, membereskan urusan rumah dan memasak masakan untuk para lelaki. Betapa kolot nya pemikiran orang-orang?
Meskipun perempuan bisa bekerja, tapi untuk bekerja di pemerintahan sebagai pegawai kerajaan. Itu mustahil, kebanyakan wanita bekerja di ladang dan berdagang. Atau mereka akan diam dirumah, suami mereka lah yang akan bekerja.
"Gadis cantik siapa ini?"
Kini perhatian semua orang tertuju Fen Qian, membuat gadis itu ingin bersembunyi dari semua tatapan.
"Itu Dajie kami."Fen Mei menjawab.
Semua orang mengangguk, kembali memberikan perhatian mereka pada Fen Hui. Gadis kecil itu masih saja cekatan menyiapkan pesanan orang-orang. Yang berhasil mendapatkan pesanan lebih cepat akan pergi dengan senyum penuh kemenangan. Siapa yang tidak senang mendapatkan barang dengan harga murah?
"Adik kemana kita akan pergi."Fen Qian menatap Fen Hui dan Fen Mei heran.
Begitu selesai melayani pelanggan dan dagangan mereka habis, kedua adiknya mengajak nya pergi kesebuah toko tanaman. Disana ada banyak bibir tanaman, biasanya para petani akan membeli bibit disitu. Kalau bibir yang mereka hasilkan sangat buruk untuk ditanam kembali.
"Untuk apa kita datang kemari?"Fen Qian semakin di buat bingung dengan pemikiran Fen Hui.
Gadis itu menoleh menatap Kakaknya."aku akan membeli benih tanaman,"
"Kami pikir lebih baik jika, kita memiliki ladang kecil yang dipenuhi sayuran."Fen Mei ikut berbicara.
Sebelum tidur mereka berdua sempat saling berbisik untuk bertukar pikiran. Membicarakan hal ini dan bersemangat untuk membuat ladang sayur kecil. Agar keluarga nya tidak perlu pergi ke dekat kaki gunung, mencari sayuran liar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Erna Fkpg
baru kali ini membaca tokoh utamanya benar2 miskin dan lama kayanya dan masak tubuhnya gk risih gk dibersihkan kan tokihnya dr masa depan masak gk ada sungai untuk mandi
2024-08-27
1