Ku rebahkan tubuh ku berusaha menghilangkan penat dalam diri. Lelah juga bolak balik kampung dan asrama namun, bahagia juga rasanya memastikan keadaan orang tua ku yang baik baik saja.
Sudah pukul 7 malam sekarang, aku teringat dengan beberapa tugas yang harus ku kirim besok. Melawan rasa malas dalam diri, aku bangun dari tidur ku membuka kulkas mencari cemilan dan snack yang bisa menemani ku mengerjakan tugas
Untung saja cemilan yang dibelikan Bryan beberapa hari yang lalu masih tersedia. Mengingat nama Bryan membuat ku kembali mengingat kondisi Angga. Ingin sekali rasanya aku menghukum Bryan namun aku tak punya kuasa untuk melakukan itu
Pikiran ku terlalu banyak memikirkan nama Bryan hingga tanpa sengaja di status whatsapp ku aku malah menulis nama Bryan dan sialnya tanpa sengaja aku menyentuh pilihan send dan status itu terkirim
Aku panik bahkan sangat panik, bagaimana aku bisa melakukan hal bodoh itu, dengan panik aku berusaha menghapusnya secepat mungkin namun entah kesialan apalagi kali ini jaringan wifi asrama mendadak lambat koneksinya
Bersama rasa panik ku aku tetap menunggu sampai status itu akhirnya terhapus.
Terlambat, saat status itu terhapus Bryan sudah melihatnya.
"Aku ke asrama mu sekarang!" ucap Bryan membalas status Whatsapp ku
Tak ada yang bisa ku lakukan lagi selain membiarkannya datang sebab bagaimanapun aku berusaha mencegahnya dia pasti akan tetap datang
Kembali ku fokuskan diri ku mengerjakan tugas yang entah kapan berakhirnya
Setiap hari selalu saja ada tugas baru dari kampus
Kuliah dengan beasiswa membuat ku harus belajar lebih giat agar nilai ku tak mengalami penurunan
Dering hp membuyarkan fokus ku.
"HALLO!" ketus ku mengangkat telepon
"Santai aja dong."
"Gua didepan buka pintunya." dia Bryan
Sebenarnya sudah beberapa kali aku mendengar ketukan pintu tapi aku terlalu malas untuk membukanya
"Buka sendiri sandinya 170304." ucap ku
"Terima kasih sudah mempercayai ku." ucapnya membuat ku beberapa detik terdiam sampai aku menyadari kebodohan ku memberi tahu dirinya sandi pintu rumah ku
"Zura!" panggilnya, tak ingin dia masuk ke kamar ku aku segera keluar menghampirinya
"Kenapa?" tanya ku
"Kamu merindukan ku?" ucapnya dengan percaya diri
"Tidak! Jangan kepedean." ucap ku
"Lalu kenapa kamu memanggilku?" tanyanya lalu duduk di sofa depan televisi
"Aku salah tekan!" bohong ku
"Dari banyaknya nama kenapa harus nama ku!" tanyanya lagi. Semakin banyak dirinya bertanya semakin ingin rasanya aku membunuhnya
"Aku tidak sengaja!" jawab ku pelan menahan emosi dalam diri ku
"Aku lapar!"
"Lalu?"
"Buatkan aku makanan," ucapnya menunjuk 2 buah kantung yang di bawanya
"Baiklah tunggu sebentar." ucap ku lalu mengambil kedua kantung itu yang ternyata isinya adalah bahan makanan
"Mau ku bantu?" tanyanya
"Susun saja ini di kulkas." titah ku menyuruhnya menyusun bahan makanan yang ia bawa
Drettt (getar hp)
"Halo! Di asrama Azura." ucap Bryan ditelepon mungkin seseorang menanyakan keberadaannya
Saat aku tengah memotong daging, bel pintu berbunyi.
"Biar aku yang membuka pintu," ucap Bryan. Aku membiarkannya
"Wah ternyata kamar asrama sebagus ini udah ada kamar dan dapurnya kayak apartemen aja!" ucap seseorang, terdengar seperti suara cewek
Aku berbalik mencari arah sumber suara itu, ternyata bukan hanya satu tapi lebih dari itu. Bryan mengundang geng Badvuer dan teman-temannya untuk datang ke rumah ku.
"Wah ramai sekali!" ucap ku tersenyum masam
"Jadi tolong buat masakan untuk kami semua." titah Bryan
"Aku tidak bisa memasak." ucap ku kesal
Tanpa ku sangka saat aku hendak masuk kembali ke dalam kamar ku, Bryan menahan bukan dengan mencengkram tangan ku tapi dengan menarik rambut panjang ku
"Aww sakit!" rintih ku kesakitan
"Masak atau apanih teman teman." ancam Bryan
"Baiklah aku akan memasak." ucap ku
Meski berat hati aku tetap memasak bukan sebab takut dia akan menyakiti ku tapi aku takut dia akan menyakiti keluarga ku
"Anak pintar!" ucapnya mengelus kepala ku. Aku menghempaskan tangannya.
Mereka sibuk bermain sedang aku sibuk memasak di dapur
"Apa aku boleh membantu mu?" ucap seorang wanita ku tebak dia seumuran dengan Bryan. Wajah wanita ini seperti familiar dan sering ku lihat
"Aku seperti pernah melihat mu." ucap ku. Dia tersenyum manis menampakkan gingsulnya.
"Nama ku Bella anastasya kamu bisa memanggil ku Bella!" ucapnya tersenyum manis
"Bella?" namanya seperti pernah ku dengar
"Kamu pemeran sinetron itukan!" ucap ku sumringah dan dia menganggukkan kepala
"Wah aku nggak nyangka bisa ketemu kamu."
"Ternyata benar kata orang-orang kamu seramah ini."
"Nama ku Azura!" ucap ku beruntun tanpa jeda padanya dan dia hanya menganggukkan serta tersenyum
"Kita jadi teman?" ucapnya lalu aku mengangguk
"Selesai ini kita foto bareng yuk!" ajak ku
Dia pun mengangguk
"Apa ada yang bisa ku bantu?" tanyanya. Aku ragu memberikannya pekerjaan sebab dia seorang selebriti tak mungkin bisa mengerjakan pekerjaan rumah seperti ini
"Duduk saja biar aku yang memasak." Lirih ku lembut
"Begini saja aku membantu mu memasak sayuran dan kamu memasak daging." ucapnya penuh semangat
Tak ingin membuatnya kecewa aku membiarkannya melakukan apa yang ia inginkan
"Bella kamu ngapain?" tanya Amel menghampiri kami yang sibuk dengan masakan masing-masing. Aku sedikit tak menyangka seorang Bella yang karirnya begitu sukses ternyata pandai memasak.
"Apa ada yang bisa ku bantu juga?" tanya Amel mungkin merasa tak enak jika hanya melihat tanpa membantu
"Kamu siapakan cemilan dan buah saja." titah Bella pada kekasih presiden kampus itu
"Dimana cemilan dan buahnya?" tanya Amel
"Di kulkas." jawab ku singkat
Hampir sejam memasak akhirnya masakan kami matang. Segera kami hidangkan di atas meja
"Wah udah mateng nih!" ucap pacar Bryan yang baru menghampiri kami setelah masakan matang.
"Iya jadi kamu bisa langsung makan." ketus Bella tersenyum sinis
"Kayaknya enak nih." kata pacar Bryan lagi
"Emang enak kalau langsung makan!" ketus Bella. Membuat pacar Bryan langsung keluar dari dapur
"Nggak punya inisiatif bantu apa kek," lirih Bella namun masih terdengar oleh ku dan Amel.
"Sayang udah mateng?" tanya Zero seraya memeluk tubuh Bella dari belakang
"Mau makan sekarang?" tanya Bella sambil menyusun piring
"Makan kamu." ucap Zero membuat Bella tersenyum malu pada kami
"Apasih bikin malu aja!" keluhnya. Aku dan Amel hanya tersenyum mencoba memaklumi. Saat bersama Bella sikap Zero yang kejam berubah menjadi kucing penurut
"Udah mateng nih?" ucap Daniel menghampiri Amel
Satu persatu dari mereka datang, menyendok makanan
"Rasanya enak." puji Alvaero
"Siapa dulu yang masak cewek gua gitu ucap Zero berbangga diri
"Cewek gua juga." ucap Daniel tersenyum manis pada Amel
"Dan Azura!" ucap Bella
Semuanya duduk makan bersama.
"Eh nyadar nggak sih kita semua punya pasangan cuman Alva dan Zura yang nggak punya, gimana kalau kita jodohin aja mereka!" ucap Anita pacar Bryan
"NGGAK!" ucap Bryan membuat semuanya berbalik menatapnya
"Aku setuju Azura juga cantik kok." ucap Bella
"Alva udah punya istri!" ucap Bryan membuat semuanya kaget. Ku lihat sorot mata Alvaero menajam seakan ingin melenyapkan Bryan
"Bercanda guys! Kalian gimana sih Azura hanya pelayan ku masa mau kita jodohin dengan seorang Alvaero." jelas Bryan. Membuat hati ku sedikit meringis mendengar kata pelayan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments