Jarum jam terus berputar, waktu berlalu cepat tanpa terasa kegiatan ospek kampus telah selesai. Ini adalah hari pertama aku masuk kuliah setelah melewati kegiatan ospek yang melelahkan.
Aku sangat bersemangat untuk segera ke kampus, secepatnya aku mengayuh sepeda ku agar cepat sampai ke kampus. Tak sabar rasanya untuk memulai pembelajaran.
Suasana jalan begitu ramai, di penuhi oleh banyak orang yang sepertinya menuju kampus. Untuk menuju ke kampus ada yang berjalan kaki, naik motor dan naik si roda empat serta ada juga yang mengayuh sepeda seperti ku.
Aku masih ingat dengan jelas kala itu hari ulang tahun ku yang ke 16 tahun saat kedua orang tua ku memberikan hadiah berupa sepeda ini katanya agar aku tak perlu berjalan kaki lagi ke sekolah.
Aku sangat menyayangi sepeda ini, aku merawat dan menjaganya agar tak rusak.
Ku lihat jarak ku yang semakin dekat dengan kampus. Jantung ku berdetak lebih cepat sebab tak sabar untuk segera belajar. Sejak kecil aku tak punya hobby yang istimewa. Hobby ku hanya belajar.
Sesampainya diri ku di parkiran kampus, aku segera memarkirkan sepeda ku lalu merantainya agar tak mudah di pindahkan. Meski harganya tak mahal tapi jika di jual tetap menghasilkan uang.
Usai memarkirkan dan memastikan keamanannya. Aku segera masuk ke dalam kampus yang sangat luas
Aku menatap kagum setiap bagian kampus yang terlihat mewah ini, ternyata benar sesuatu yang berkelas selalu indah.
Entah kebodohan apa yang menimpa ku bisa-bisanya aku lupa bertanya keberadaan kelas ku pada Angela. Sambil berjalan masuk aku mengeluarkan handphone ku, lalu ku telepon Angela
"Hallo!" Sapa ku pada Angela
"Kamu dimana?" Tanya ku padanya. Dia diam tak menjawab pertanyaan ku
"Halo! Angela kamu di mana?" Tanya ku padanya. Namun dia kembali tak menjawab
"ANGELA?" Tanya ku sedikit berteriak. Dia tak menjawab.
"Datang ke ruangan X kampus." Ucap seseorang. Suaranya terdengar berat dan tegas. Ini suara seorang pria bukan suara Angela
"Ha-halo ini siapa?" Tanya ku namun orang itu bukannya menjawab justru memutuskan sambungan telepon kami.
Jantung ku berdetak beberapa kali lebih cepat, rasa takut dan khawatir menyelimuti ku membuat ku kebingungan tak dapat berpikir bagaimana baiknya dan apa yang harus ku lakukan. Aku tak memikirkan hal lain lagi selain Angela.
Aku berlari menanyai orang-orang di mana ruangan X berada.
"Kamu tahu dimana ruang x?" Tanya ku sangat panik
"Kamu lurus ke sana!" Ucapnya. Tanpa mendengar semua penjelasannya aku segera berlari
Setelah sampai di tempat yang mereka tunjuk aku kembali bertanya pada orang lainnya
"Kak di mana ruang X?" Tanya ku pada seseorang yang tengah duduk.
"Lurus aja dari sini, nanti ada tertulis X Badvuer." Ucapnya. Sesaat aku terdiam mendengar nama Badvuer sepertinya aku pernah mendengar kata itu.
"Sudahlah Zur, untuk apa memikirkan itu sekarang fokus saja mencari Angela." Lirih ku lalu kembali berlari menuju arah yang mereka tunjukkan.
Langkah ku berhenti usai melihat pintu gerbang yang bertuliskan X Badvuer.
"Gerbangnya terkunci bagaimana aku bisa masuk." Lirih ku
Dalam gerbang yang bertuliskan X Badvuer itu ada sebuah bangunan bertingkat yang terlihat tua dan hampir roboh, pikir ku mungkin itu bekas ruangan kampus yang sudah lama tak di gunakan. Bangunan itu di kelilingi oleh pagar yang di kunci. Ku amati sekeliling pagar itu mencoba mencari tahu jalan untuk masuk
Dretttt
Dering ponsel ku mengalihkan pandangan ku dari pagar dan gerbang itu. Khawatir yang menghubungi ku adalah Angela, aku segera mengeluarkan handphone ku dari saku celana
"Halo!" Ucap ku
"Kamu dimana?" Tanyanya dengan suara berat
"Aku tepat berada di depan gerbang," Jawab ku
"Masuklah sekarang!" Titah
"Bagaimana aku bisa masuk jika gerbangnya terbuka." Ucap ku.
Tut tut tut (dia memutuskan sambungan telepon kami). Beberapa menit kemudian seorang pria datang membuka pintu gerbang
POV AZURA OFF
************************************************
Seorang pemuda datang membukakan pintu gerbang untuk Azura.
"Dimana Angela?" Tanya Azura pada pemuda itu.
Dia tak menjawab hanya terus membuka rantai yang melilit di pintu gerbang
"Kau siapa?" Tanya Azura, seperti sebelumnya pemuda itu tak menjawab
"Apa kau bisu?" Tanya Azura
Setelah pintu gerbang terbuka Azura langsung masuk, tanpa berbalik pada pemuda tadi.
"Aku harus ke mana?" Tanya Azura sembari berbalik ke belakang mengira pemuda. Ia mengira pemuda itu mengikutinya masuk ternyata tidak.
"Ke mana dia?" Lirih Azura sambil berjalan
Melawan rasa takutnya Azura berjalan menyusuri gedung yang tiap lorongnya ada sarang Laba-laba, suasana gedung sangat sunyi dan hampir gelap. Hanya melalui sela-sela atap yang rusak sinar matahari bisa masuk
Tanpa di sangka sangka, saat berjalan sesuatu menimpa kepala Azura.
"Aww." Lirih Azura lalu mengelus kepalanya.
Hendak ingin melanjutkan perjalanannya, langkah Azura berhenti melihat apa yang menimpa kepalanya. Ternyata sebuah gulungan kertas.
Azura segera mengambil kertas itu lalu membukanya
"Lurus ke depan belok kiri"
-Isi gulungan kertas itu-
Sambil memegang kertas itu, Azura melanjutkan perjalanannya mengikuti petunjuk dari kertas tersebut. Azura terus berjalan sampai dia melihat sebuah cahaya yang terang. Azura berjalan mendekati cahaya itu, semakin melangkah semakin dekat Azura sampai kemudian Azura tepat berada di depan cahaya itu. di hadapan Azura ada sebuah pintu besar. Azura melangkahkan kakinya melewati pintu itu
"SELAMAT DATANG!" Teriak semua orang saat Azura melewati pintu. Azura kaget ternyata petunjuk itu membawanya ke tempat yang tak pernah ia duga. tempat ini seperti sebuah lapangan yang di keliling oleh gedung, lapangan yang berbentuk seperti lingkaran.
Azura kaget semuanya tak seperti yang ia pikirkan, ia mengira hanya ada beberapa orang ternyata ada banyak orang. Azura semakin syok melihat orang-orang yang ia tanyai tentang tempat ini juga ada disini bahkan pemuda yang membuka pintu gerbang juga.
Di tengah lapangan, di kelilingi orang-orang. Angela terduduk terikat dengan kursi tempat duduknya. tanpa memperdulikan semua orang, Azura berlari menuju tempat duduk sahabatnya itu.
"ANGELA!" teriak Azura
"Ada apa ini?" tanya Azura seraya berusaha membuka ikatan yang melilit di tubuh Angela
"AZURA!" ucap seseorang membuat Azura berhenti membuka ikatan Angela
"Kenapa dia diikat?" tanya Azura lalu berbalik mencari seseorang yang menyebut namanya itu.
Dia Bryan, pria yang Zura tumpahkan minuman di bar, pria yang ia tabrak ketika ospek, pria yang tersenyum padanya kala itu, Bola matanya yang bak kristal itu membesar, tatapan mata elangnya seakan yang seakan menusuk menatap mata polos milik Azura.
"Sebelumnya aku mengira kau adalah gadis kecil yang baik dan polos,"
"Ternyata!"
"TIDAK! KAU SUDAH BERANI BERMAIN MAIN DENGAN KU!" Teriak Bryan mengagetkan Azura.
"Apa maksud mu kak? aku tidak melakukan apapun." ucap Azura
"Kau tidak melakukan apapun?" kata Bryan seraya mengangkat dagu Azura
"Semua orang tahu seperti apa aku, mereka juga tahu perbuatan ku tapi mereka diam sebab tahu aku bisa melakukan apapun." ucap Bryan
"Kau marah kepada ku, lalu kenapa menghukum sahabat ku?" tanya Azura
"Aku tidak menghukumnya hanya mengikatnya untuk memancing mu datang pada ku!" ucap Bryan mengelus pucuk kepala Azura
"LEPASKAN ANGELA." titah Bryan. Bagai pelayan yang taat pada tuannya seperti itu mereka. mendengar titah Bryan mereka langsung melakukannya
"Maafkan aku Angela, sekarang kau boleh pergi." ucap Bryan seraya menyatukan kedua telapak tanggannya seakan memohon maaf lalu mempersilahkan Angela pergi
Setelah ikatannya terlepas bukannya pergi Angela justru duduk bersimpuh tepat di kaki Bryan
"Maafkan Azura kak!" ucap Angela seraya menyatukan kedua telapak tangannya
"Angel, ayo berdiri jangan seperti ini." ajak Azura seraya menarik tangan Angela agar berdiri
"Tolong maafkan Azura kak!" ucapnya lagi
"Kenapa kau terus meminta maaf memang apa yang bisa di lakukan pada ku," ucap Azura membuat api amarah Bryan menyala nyala
"LIHATLAH APA YANG BISA KU LAKUKAN SEKARANG!" tegas Bryan
"Pindahkan Angela!" titah Bryan, beberapa orang wanita datang mengangkat Angela membawanya duduk di samping orang-orang yang tengah menonton mereka
"Jangan kak!" teriak Angela
"TEMAN TEMAN PERLIHATKAN PADANYA APA YANG BISA KU LAKUKAN!" teriak Bryan. semua orang yang berada di dekat Azura menjauh meninggal Azura di tengah-tengah. Azura mengerutkan dahi sebab bingung dengan pergerakan semua orang.
Brakk""/Brakk/Brakk
Semua orang yang menontonnya melemparinya dengan telur. Azura tak bisa melakukan apapun selain duduk memeluk dirinya sendiri.
sampai bau busuk dari telur itu membuatnya mual
"MAU LIHAT LAGI APA YANG BISA KU LAKUKAN?" tanya Bryan seraya menghampiri Azura yang tubuhnya sudah di penuhi pecahan telur.
"Aku akan melaporkan mu pada direktorat kampus." ucap Azura kembali berdiri menghadapi Bryan. semua orang tertawa melihat penampilan Azura yang di penuhi telur itu
"Lepaskan dia kak!" teriak Angel. Angela tak bisa melakukan apapun karena di jaga oleh dua orang wanita
"Azura diam dan minta maaf padanya!" titah Angela
"Tidak memangnya dia siapa?" tantang Azura membuat Api kemarahan Bryan menyala bagai tersiram minyak tanah
"Kamu ingin lihat aku siapa?" ucap Bryan
"Baiklah," lirih Bryan. Azura terdiam sampai kemudian ia kembali di kagetkan dengan semprotan air di tubuhnya.
"Kamu masih mau tahu siapa aku?" tanya Bryan pada Azura yang sedang meringkuk kedinginan
"Jika aku mau, aku bisa mengeluarkan mu dari kampus ini sekarang juga," ucap Bryan seraya mencolek dagu milik Azura lalu hendak pergi meninggalkan gadis itu
"Tanah milik ayah mu atau warung milik ibu mu? yang mana kamu pilih?" tanya Bryan seraya membungkukkan tubuhnya di depan Azura yang masih bersimpuh. mendengar pertanyaan Bryan itu. sontak saja kepala Azura yang tertunduk langsung terangkat menatap mata Bryan
"Aku mohon jangan sakiti keluarga ku kak!" ucap Azura memohon pada Bryan
"Tentukan pilihan mu atau kau mau kehilangan keduanya?" ancam Bryan. Azura menggelengkan kepalanya
"Kamu boleh menghukum ku kak tapi jangan hancurkan orang tua ku." ucap Azura sambil menangis ia bersimpuh di kaki Bryan
"Tolong maafkan aku kak!" mohon Zura sembari memegang kedua kaki Bryan.
Melihat keadaan temannya itu, Angela hanya menangis sebab tak bisa melakukan apapun
"Aku mohon jangan hancurkan mimpi orang tua ku!" ucap Azura sembari menangis.
"Baiklah, aku tidak akan menyakiti orang tua mu tapi kau harus menurut pada ku!" ucap Bryan. Azura tak membangkang lagi, dia justru menganggukkan kepala sebagai jawaban setuju dengan ucapan Bryan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments