Jam pelajaran berlangsung seperti biasa namun fokus Azura tak seperti biasanya
Bukannya memperhatikan apa yang di jelaskan oleh Dosen, Azura justru terpaku melihat jam dinding
"AZURA APA YANG KAMU LIHAT." teriak seorang wanita yang berprofesi sebagai dosen
"Ma-maaf bu saya s-salah, salah fokus dengan cicak di belakang jam dinding." gelapan Azura berbohong
"Perhatikan materi yang saya sampaikan!" ucap Dosen itu
Hampir sejam pelajaran berlangsung tak ada satupun materi yang tersimpan di kepala Azura, fokusnya teralihkan sebab memikirkan keadaan ibunya di kampung.
"Halo Ibu ada apa?" tanya Azura di telepon. Dari sekian banyaknya tempat di kampusnya Azura memilih duduk di kursi taman kampus. Suasana taman kampus yang sunyi membuat Azura merasa bebas hendak berkata apa saja
"Semalam asam lambung ibu kambuh nak!" ucap Ibunda Azura di telepon
"Lalu bagaimana?" tanya Azura
"Ibu pasti lupa makan lagi karena sibuk mengurus warung, ibu jangan lupa makan atau Zura pulang aja nemenin ibu?" omel Azura
"Kamu bisa pulang sekarang nggak, soalnya ibu mau minta di temenin ke rumah sakit."
"Iya boleh Bu, Zura pulang sekarang yah." ucap Azura lalu mematikan sambungan teleponnya
Secepatnya Azura menuju tempat parkiran mengeluarkan sepedanya lalu ia ayuhkan menuju asrama tempat ia tinggal. Sesampainya di asrama Azura langsung menganti tasnya.
Setelah menganti tas, Azura segera berjalan menuju halte bus. Jarak Asrama dan halte sangatlah jauh, di butuhkan waktu sejam untuk berjalan kaki sampai di halte bus. Sebenarnya ada banyak ojek di sekitaran Asrama namun harga ojek disini sangatlah mahal membuat Azura memilih untuk berjalan kaki saja.
Tepat pukul 11 siang, Azura sampai di halte bus, dan tak selang beberapa menit bus menuju desanya datang.
Jarak kota dan desanya sangatlah jauh.
Tepat pukul 1 siang akhirnya Azura sampai di desanya. Berbeda dengan di kota harga ojek di desanya sangatlah murah.
"Ibuuuu!" teriak Azura saat ia tepat berada di depan rumahnya.
"Syukurlah kamu datang nak." ucap wanita tua itu sambil berjalan menyambut kedatangan putri semata wayangnya
"Ayo Bu, kita ke rumah sakit." ajak Azura ketika baru memasuki rumah tempat kepulangannya
"Ibu siap-siap dulu." jawab Ibu Azura berlalu masuk ke dalam kamar
"Ibu, ayah ku dimana?" tanya Azura
"Dia di ladang."
"Ayo kita berangkat." ajak Ibu ketika selesai menganti pakaiannya
**************************************
Di dalam angkutan umum Azura dan ibunya duduk.
"Kamu sakit?" tanya Azura kepada seorang pria yang penampilannya acak acakan dan wajahnya penuh lebam
"Iya!" jawab pria itu singkat sembari tersenyum simpul
"Kamu dipukuli?" ucap Ibu membuat semua orang didalam angkutan berbalik melihat kearah pria itu
"Tidak, saya sakit kok buk." elak pria itu
Didalam angkutan suasana kembali hening tak ada suara apapun.
"Minggir pak!" ucap Azura ketika sudah berada tepat di depan rumah sakit yang ia tuju.
Bersama Ibu dan pria itu. Azura masuk ke dalam rumah sakit
"Kamu bisakan berjalan masuk?" tanya ibu pada pria itu yang terlihat kesulitan berjalan
"Bisa kok Bu!" ucap pria itu
Brukkk
Pria itu jatuh pingsan tepat di hadapan Azura dan ibunya
"SUSTER! DOKTER!" teriak ibu Azura sebab panik.
Mendengar suara teriakan, beberapa perawat berlari
"Ada apa bu?" tanya seorang pria berseragam putih
"Dia pingsan!"
Seorang perawat rumah sakit segera mengangkat pria yang pingsan itu
"Nama pasiennya siapa?" tanya seorang suster pada Azura yang berdiri tepat didepan pintu kamar, tempat pria itu dirawat
"Kami tidak tahu siapa namanya." jawab Ibu
"Lalu bagaimana saya harus mengisi formulirnya?" ucap perawat itu
"Apa saya boleh masuk ke dalam?" tanya Azura dan dijawab anggukan kepala oleh perawat itu
Tepat saat Azura membuka pintu, pria itu sadar dari pingsannya
"Nama mu siapa?" tanya Azura pada pria yang terbaring lemah di tempat tidur itu
"A-angga." lirih pria itu, pelan namun masih bisa didengar oleh Azura
"Ini uang untuk bayar biaya berobat ku." ucap Angga menyerahkan sebuah amplop pada Azura.
Azura segera keluar dari ruangan Angga menuju ruangan resepsionis
"Namanya siapa?"
"Angga, ini ktpnya." ucap Azura menyerahkan ktp Angga yang diberikan padanya
"Biaya pengobatannya berapa?" tanya Azura
"Untuk biaya belum dapat kami tentukan karena pemeriksaaan masih akan dilakukan." ucap perawat itu
"Ibu gimana pemeriksaannya?" tanya Azura menghampiri ibunya yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan
"Nggak ada yang perlu kamu khawatirkan." ucap ibunya menyerahkan sebuah map berisi hasil pemeriksaan
"Syukurlah bu!"
"Pria itu bagaimana keadaanya?"
"Dokter baru akan memeriksanya." ucap Azura. Bersama ibunya Azura kembali masuk ke dalam kamar dirawatnya Angga
"Ini bukan sebab penyakit, apa kamu dipukuli?" Suara Dokter dari dalam kamar Angga.
Azura terdiam di depan kamar mendengar apa yang dikatakan dokter
"Kenapa kamu berhenti?" tanya ibu membuat Azura membuka pintu kamar
terlihat seorang dokter yang memeriksa tubuh Angga
"Kita harus melakukan pemeriksaaan takutnya ada kondisi tulang mu yang retak." ucap Dokter
"Baik dok!"
"Baiklah saya keluar dulu sebentar lagi dokter ahli yang akan melakukan pemeriksaaan." ucap Dokter lalu keluar dari kamar Angga
"Siapa yang memukuli mu?" tanya Ibu panik
"Bukan siapa-siapa buk." jawab Angga
"Kamu bukan anak ibu tapi ibu kasihan melihat mu."
"Kamu di keroyok?" tanya Azura. Angga menganggukkan kepala
"Siapa?" tanya Azura seraya berjalan mendekat menghampiri pria yang baru saja dikenalnya itu
"Kenapa nggak lapor polisi?" tanya Azura lagi
"Mereka bukan orang sembarangan!" ucap Angga
"Memangnya mereka siapa?" tanya Azura. Terlihat dari sorot matanya Azura sangat kesal
Meski Angga bukanlah orang yang mereka kenal namun rasa kasihan membuat Azura kesal melihat keadaan Angga
"Semua orang mengenal mereka." tutur Angga
"Mereka siapa?" tanya Azura
"Aku tidak tahu nama mereka tapi aku tahu wajah dan asal mereka." jelas Angga
"Salah seorang dari mereka adalah pangeran kerjaan Alfyr ini." ucap Angga membuat Azura terdiam. Memikirkan apa mungkin Bryan yang melakukannya
Azura mengeluarkan handphonenya dari dalam tas lalu memperlihatkan sebuah foto pada Angga
"Apa ini mereka?" tanya Azura
"Iya tapi yang ini tidak." ucap Angga menunjuk foto Daniel
"Dugaan ku benar ternyata mereka." lirih Azura
"Apa kamu tidak ingin melaporkan kejahatan mereka di kantor polisi?" tanya Azura
"Mana mungkin dia adalah putra kerajaan bagaimana bisa aku melaporkannya?" lirih Angga
"kita mungkin bisa melaporkannya hanya pada raja langsung." tambah Angga
"Sifat pangeran ini sangat berbeda dengan sifat raja kita, entah bagaimana nasib kerajaan ini jika di pimpin olehnya." tutur Ibu Azura
"Kita doakan saja semoga dirinya bisa berubah menjadi lebih baik." ucap Angga
"Ini sudah jam 3 sore, kamu harus kembali ke asrama mu." titah Ibu
"Apa kamu punya keluarga?"
"Maksud ku yang akan menemani atau mengurus mu?" jelas Azura
"Pacar ku akan datang." jawab Angga
"Syukurlah!"
"Kami pulang dulu, ini uang mu pembayaran yang belum bisa dilakukan sebab harus menunggu pemeriksaan lanjut." ucap Azura mengembalikan amplop milih Angga
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 22 Episodes
Comments