Beberapa saat setelah Ara tertidur, pintu depan rumah besar keluarga Darpa terbuka dengan suara terburu-buru. Amaar Darpa, Daddy Ara, masuk dengan ekspresi cemas dan khawatir yang jelas terlihat di wajahnya. Farah, yang sedang duduk di ruang tamu setelah menidurkan Ara, segera berdiri dan mendekati suaminya.
"Ara mana?" tanya Amaar dengan nada penuh kecemasan, matanya berkeliling mencari putri kesayangannya.
"Baru saja tidur," jawab Farah dengan lembut, mencoba menenangkan suaminya. "Dia kelelahan setelah kejadian tadi."
Amaar menghela napas lega mendengar bahwa Ara sudah tidur. "Aku buru-buru pulang begitu mendengar bahwa kedua tangan Ara terluka," katanya dengan nada serius, masih dipenuhi kekhawatiran.
Farah mengerutkan kening, bingung. “Tapi, dari mana kamu tahu? Aku belum sempat meneleponmu.”
Amaar menghela napas dalam-dalam, menunjukkan rasa frustrasi yang menumpuk. “Aku dapat laporan dari bodyguard yang aku tugaskan untuk menjaga Ara dari jauh. Mereka mengabari bahwa ada insiden di sekolah. Tapi, mereka terlambat untuk menyelamatkan Ara dari kejadian itu. Aku sangat kesal memikirkan mereka yang tidak bisa bertindak lebih cepat.”
Farah mengangguk, sekarang mengerti situasi yang lebih jelas. "Jadi, bodyguard itu yang memberitahumu? Aku lupa kalau kamu sudah mengatur agar mereka selalu mengawasi Ara."
"Benar," Amaar menegaskan, masih terlihat marah. "Aku merasa sangat kecewa dengan mereka. Mereka seharusnya lebih cepat bertindak. Ara terluka parah karena kelalaian mereka."
Farah memegang tangan suaminya, mencoba menenangkannya. "Sayang, tenang. Yang terpenting sekarang adalah Ara sudah pulang dengan selamat dan sedang beristirahat. Kecelakaan ini memang tidak terduga, dan kita harus fokus pada pemulihannya."
Amaar mengangguk pelan, tetapi amarahnya belum sepenuhnya mereda. "Aku tetap tidak bisa memaafkan diri sendiri, atau mereka, atas apa yang terjadi. Bagaimana bisa mereka membiarkan Ara terluka seperti itu? Dan siapa anak yang menyebabkan ini? Mereka harus bertanggung jawab."
Farah meremas tangan suaminya dengan lembut. "Ara bilang itu kecelakaan, tapi kita harus memastikan semuanya teratasi. Aku akan menemani Ara untuk beberapa hari ke depan, dan kita bisa menyelidiki lebih lanjut tentang kejadian ini."
Amaar menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Kita harus menjaga Ara lebih baik lagi. Tidak bisa kubayangkan jika sesuatu yang lebih buruk terjadi padanya."
Farah mengangguk, setuju dengan suaminya. "Aku juga sangat khawatir. Tapi yang penting sekarang adalah dia sudah aman di rumah. Mari kita fokus untuk mendukungnya melewati masa-masa sulit ini."
Amaar menarik napas dalam-dalam lagi dan akhirnya mengangguk setuju. "Kamu benar. Ara membutuhkan kita sekarang. Kita akan memastikan dia mendapatkan perawatan terbaik dan menjaga agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi."
Farah tersenyum kecil, berusaha memberikan kekuatan kepada suaminya. "Kita akan melewati ini bersama. Ara adalah prioritas kita, dan kita akan selalu ada untuknya."
Mereka berdua akhirnya saling merangkul, berusaha mendapatkan ketenangan di tengah situasi yang penuh tekanan. Ara, yang tertidur di kamarnya, tidak menyadari betapa besar kasih sayang dan kepedulian kedua orang tuanya terhadap dirinya. Dan sementara mereka berbicara, di dalam hati mereka, baik Amaar maupun Farah bertekad untuk melindungi Ara dengan cara apa pun yang mereka bisa.
Setelah berbicara dengan Farah, Amaar merasa sedikit tenang, meskipun kekhawatiran tentang Ara masih menghantui pikirannya. Dengan langkah berat, dia memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu, berharap bisa meredakan sedikit ketegangan sebelum Ara bangun. Dia tahu bahwa menjaga ketenangan dan kebersihan diri akan membantunya berpikir lebih jernih dan memberikan dukungan terbaik untuk putrinya.
Amaar masuk ke kamar mandi di kamar utama. Di bawah aliran air hangat, dia mencoba meredakan kegelisahannya. Pikiran tentang Ara, dengan kedua tangannya yang terluka dan wajahnya yang mungkin masih menyisakan bekas air mata, terus berputar di benaknya. Selesai mandi, dia mengenakan pakaian yang nyaman dan menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum kembali berhadapan dengan kenyataan yang pahit.
Setelah membersihkan diri, Amaar merasa sedikit lebih segar dan siap untuk menghadapi situasi dengan lebih tenang. Dia berjalan menuju kamar Ara dengan langkah hati-hati, seolah-olah khawatir akan mengganggu tidur putrinya. Pintu kamar Ara sedikit terbuka, dan Amaar mengintip ke dalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments