"Oh, yang lagi ribut itu?" Kia menoleh ke arah kerumunan dan mulai menjelaskan.
"Yang lagi ribut itu ada Ruby, Arya, sama Raina. Arya itu pacarnya Raina, tapi Arya selalu lebih dekat sama Ruby. Gw juga nggak ngerti ya, mereka itu gimana, tapi kelihatannya Arya suka sama Ruby. Padahal dari yang gw dengar, Raina itu selalu nemenin Arya dalam situasi apapun sejak mereka kecil. Tapi sejak masuk sekolah ini dan ketemu Ruby, Arya mulai berubah sama Raina. Gw malah lebih kasian sama Raina daripada Ruby. Wajar kan kalo Raina cemburu karena pacarnya lebih mentingin orang lain? Mereka itu termasuk siswa populer karena orang tua mereka yang kaya. Tapi dari antara Arya, Ruby, dan Raina, yang paling kaya itu Raina. Padahal Raina lebih cantik daripada Ruby,” Kia menjelaskan panjang lebar.
Ara terdiam mendengar penjelasan Kia. Semua nama dan situasi ini benar-benar mirip dengan yang ada di novel. Dia berusaha menenangkan pikirannya yang mulai kacau, mencoba mencari logika di balik semua ini.
"Kenapa lo nanya, Ra? Lo kayaknya kaget banget," tanya Kia, menyadari ekspresi bingung di wajah Ara.
"Ah, nggak apa-apa. Gw cuma penasaran aja," jawab Ara sambil tersenyum tipis, meskipun hatinya berdegup kencang.
Ara tahu bahwa ini tidak mungkin hanya sekedar kebetulan. Nama-nama dari novel yang dia baca sepertinya hidup di sekitarnya. Dia harus mencari tahu lebih banyak tentang hal ini. Namun untuk sekarang, dia mencoba fokus kembali pada makanannya dan menikmati sisa hari di sekolah, meskipun pikirannya masih dipenuhi oleh misteri ini.
...****************...
Bel pulang berbunyi, menandakan waktu bagi para siswa untuk kembali ke rumah masing-masing. Ara memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, menggendongnya di pundak, dan berjalan keluar kelas dengan Kia. Mereka menuju lobi sekolah untuk menunggu jemputan.
Ara sudah memberi tahu ayahnya sebelumnya untuk menjemputnya setelah pulang sekolah. Sambil berjalan bersama Kia menuju lobi, Ara melihat murid-murid lain yang sibuk dengan aktivitas mereka—beberapa dijemput orang tua, dan beberapa lainnya berjalan menuju mobil mereka sendiri.
Sesampainya di lobi, Ara duduk di salah satu bangku kosong, sementara Kia tetap berdiri, mengamati sekitar.
"Ra, gw duluan ya. Itu jemputan gw udah dateng," kata Kia sambil melambaikan tangan ke arah mobil yang baru tiba. "Lo nggak apa-apa kan ditinggal sendiri?"
"Iya, Kia, nggak apa-apa. Daddy udah deket kok," jawab Ara sambil tersenyum.
"Yaudah, gw duluan ya," kata Kia sambil melambaikan tangan ke arah Ara dan beranjak pergi.
"Iya, hati-hati di jalan," balas Ara, membalas lambaian tangan Kia.
Setelah Kia pergi, Ara duduk sendiri di lobi. Dia melihat sekeliling dan matanya tertuju pada Arya dan Raina, yang sedang terlibat dalam perdebatan sengit.
Di sisi lain lobi, Raina berdiri dengan wajah penuh emosi, berdebat dengan Arya yang tampak kesal namun tetap berusaha tenang.
"Arya, kenapa sih kamu harus pulang bareng Ruby? Bukannya kita ini pacaran?" Raina bertanya dengan nada tinggi, matanya berkaca-kaca menahan air mata.
"Raina, Ruby itu teman aku. Dia lagi butuh dukungan. Kamu juga tahu kan kalau belakangan ini dia banyak masalah di rumah?" jawab Arya dengan suara tenang, meskipun ketegangan di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
"Teman? Arya, kamu selalu bilang dia cuma teman, tapi kamu lebih sering sama dia daripada sama aku! Kamu tahu nggak sih betapa sakitnya melihat kamu terus-terusan sama dia?" Suara Raina bergetar, penuh dengan rasa sakit dan cemburu yang tertahan.
"Raina, kamu nggak ngerti. Ruby itu... dia sedang melalui masa yang sulit. Aku cuma mau bantu dia melewatinya," Arya mencoba menjelaskan dengan sabar, namun kata-katanya justru membuat Raina semakin terluka.
"Kenapa kamu nggak pernah berpikir kalau aku juga butuh kamu? Kita ini pacaran, Arya! Tapi kamu malah lebih peduli sama Ruby daripada sama aku," Raina terisak, air mata mulai mengalir di pipinya.
Arya terdiam sejenak, menatap Raina dengan perasaan bersalah. "Raina, aku nggak bermaksud buat kamu merasa seperti ini. Tapi sekarang aku harus jemput Ruby. Kita bisa bicara lagi nanti," katanya dengan nada memelas, tapi tetap tegas.
Raina menatap Arya dengan mata yang penuh kecewa dan marah. "Kamu selalu bilang nanti, Arya. Sampai kapan aku harus menunggu?" tanya Raina dengan suara pelan namun penuh penekanan.
Arya tidak menjawab, hanya menatap Raina sebentar sebelum akhirnya berjalan menuju mobilnya di mana Ruby sudah menunggu. Raina hanya bisa berdiri di tempatnya, menyaksikan mobil Arya melaju pergi, meninggalkannya dengan hati yang hancur.
...****************...
Raina
Ruby
Arya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
🟡🌻͜͡ᴀs Yuna ✨•§͜¢•
gak cocok
2024-07-05
1