Setelah bel pulang berbunyi di Rosewood International School, para siswa berhamburan keluar dari kelas mereka, bergegas menuju pintu keluar untuk menikmati sisa hari mereka. Koridor sekolah yang biasanya sepi kini penuh dengan aktivitas siswa yang bergerak cepat untuk pulang. Ara dan Kia, yang baru saja keluar dari kelas, berjalan bersama menuju loker mereka untuk mengambil tas.
"Apa rencanamu sore ini?" tanya Kia dengan riang, mencoba menyalakan semangat setelah hari yang panjang di sekolah.
Ara tersenyum lembut, "Aku berencana untuk bersantai di rumah. Mungkin menonton film atau membaca buku."
Sambil mereka berjalan, suasana koridor yang ramai berubah menjadi lebih sibuk ketika Ruby, yang sedang membawa alat-alat laboratorium, muncul dari arah depan. Ruby tampak terburu-buru, matanya fokus pada tumpukan alat di tangannya tanpa memperhatikan sekelilingnya.
Dalam sekejap, Ruby menubruk Ara yang sedang berjalan. Tabung-tabung reaksi, gelas ukur, dan peralatan lainnya terlempar dari tangannya dan berhamburan ke lantai. Beberapa alat pecah, serpihan kaca dan plastik beterbangan ke segala arah. Ara terdorong kuat ke belakang dan jatuh terduduk. Pecahan kaca melukai kedua tangannya, menimbulkan luka berdarah.
"Ahh!" Ara meringis kesakitan, kedua tangannya terluka dan terasa perih. Dia mencoba menahan air matanya agar tidak keluar.
Ruby juga jatuh ke lantai, tetapi tidak terluka parah. Alih-alih merasa bersalah atau prihatin terhadap Ara, Ruby mulai menangis keras, menarik perhatian semua orang di sekitar mereka.
Siswa-siswa yang berada di dekat mereka terdiam, terkejut dengan kejadian tiba-tiba itu. Kia, yang berdiri di samping Ara, terperangah melihat sahabatnya jatuh dan terluka. Dia berjongkok di samping Ara dengan cepat.
"Ara! Kamu tidak apa-apa?" Kia berteriak panik, mencoba membantu Ara untuk bangun, tetapi Ara tidak bisa berdiri karena kakinya terasa lemas akibat syok.
Ara menggigit bibirnya menahan sakit dan menatap Kia dengan mata yang berair. "Tanganku... terluka... Aku tidak bisa berdiri, Kia."
"Tenang, Ara. Aku akan membantu," Kia mencoba menenangkan dirinya sendiri sambil terus mendukung sahabatnya. "Ada seseorang! Tolong bantu kami!"
Di tengah keramaian yang menonton, Arya tiba-tiba muncul. Bukannya membantu, dia malah terlihat kesal dan dengan cepat menyalahkan Ara.
"lo, kenapa tidak hati-hati?" seru Arya dengan nada marah. "lo seharusnya memperhatikan sekeliling!"
Ara menatap Arya dan Ruby dengan tatapan dingin. Rasa muak dan frustasi terlihat jelas di wajahnya. Dia tidak bisa mempercayai bahwa dirinya kini menjadi bagian dari drama yang tak diinginkannya.
Kairi, yang sebelumnya berada tidak jauh dari lokasi kejadian, segera datang setelah mendengar keributan tersebut. Dia melihat Ara yang terduduk di lantai dengan luka di tangannya dan Kia yang panik mencoba membantu. Tanpa berkata-kata, Kairi menghampiri mereka dengan langkah cepat dan mata elangnya memancarkan ketegasan.
"Kamu baik-baik saja, Ara?" Kairi bertanya dengan suara rendah namun penuh perhatian, sambil memeriksa luka di tangan Ara.
Ara mengangguk lemah, matanya masih dipenuhi rasa sakit. "Tanganku... terluka..."
Kairi tidak membuang waktu lagi. Dengan gerakan cepat dan penuh keyakinan, dia mengangkat Ara dalam bridal style, mengangkat tubuhnya dengan hati-hati agar tidak menambah rasa sakit pada luka di tangannya.
Ruby yang masih menangis dan Arya yang tampak marah, hanya bisa terdiam melihat Kairi membawa pergi Ara. Kairi menatap mereka dengan pandangan tajam yang penuh peringatan, membuat mereka merasa tidak nyaman dan canggung.
"Kalian harus lebih berhati-hati," kata Kairi dengan suara dingin kepada Ruby dan Arya, sebelum berbalik dan berjalan pergi, membawa Ara ke tempat yang lebih aman.
Kia mengikuti mereka dengan cepat, masih cemas terhadap keadaan sahabatnya. "Terima kasih, Kairi. Ara butuh bantuan segera."
"Aku tahu," jawab Kairi sambil terus berjalan, membawa Ara dengan penuh perhatian. "Kita harus ke rumah sakit sekarang."
Kerumunan siswa yang menonton mulai bubar, terkejut dengan kejadian dramatis tersebut. Suasana koridor kembali normal perlahan, tetapi peristiwa itu akan menjadi bahan pembicaraan hangat di sekolah untuk beberapa waktu ke depan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
sasip
visual arya sebelumnya sepertinya lebih cucok buat kairi deh 'thor.. visual arya kasih yg lebih jutek ajah, bila perlu yg aga kebanci²an gitu, masa sama perempuan bisa tiba² maki² tanpa tau fakta sesungguhnya yg terjadi? 😠
2024-07-14
4