Saat mobil Kairi berhenti di depan rumah besar keluarga Darpa, pintu depan segera terbuka, dan Farah, ibu Ara, muncul dengan senyum hangat yang cepat berubah menjadi ekspresi khawatir ketika dia melihat kedua tangan Ara yang diperban dan wajahnya yang tampak lelah serta bekas air mata.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Farah dengan nada cemas, segera mendekat ke arah Ara yang dibantu berjalan oleh Kairi.
Kairi, yang berdiri di samping Ara, menundukkan kepala dengan sopan. “Maaf, Tante. Tadi di sekolah terjadi sedikit insiden. Kedua tangan Ara terkena pecahan kaca,” jelas Kairi dengan sopan dan penuh perhatian.
Farah mengalihkan pandangannya ke Kairi, sejenak terkejut melihat seorang anak laki-laki yang tidak dikenal, namun segera merasakan rasa syukur. “Terima kasih banyak, sudah mengantar Ara pulang dengan selamat. Saya benar-benar berterima kasih,” ucap Farah tulus, matanya penuh dengan penghargaan.
"Tidak masalah, Tante. Saya senang bisa membantu," balas Kairi dengan sopan. Dia tetap mendampingi Ara sampai dia yakin Ara aman bersama ibunya.
Farah memeluk Ara dengan penuh kasih sayang, merasa sakit hati melihat putrinya terluka. “Sayang, kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi?”
Ara mencoba tersenyum untuk menenangkan ibunya meskipun rasa sakit masih terasa di tangannya. “Aku baik-baik saja, Mi. Terima kasih, Kairi, untuk semuanya,” kata Ara, suaranya lembut namun penuh rasa terima kasih.
“Senang bisa membantu. Jaga dirimu, Ara,” jawab Kairi sambil tersenyum sebelum berpamitan dan meninggalkan rumah Darpa.
Setelah Kairi pergi, Farah memeluk Ara erat-erat dan dengan lembut membimbingnya masuk ke dalam rumah. Begitu mereka tiba di ruang TV, Farah duduk bersama Ara di sofa, masih memeluknya erat. Ara mulai bergetar lagi, tanda bahwa tangisannya akan pecah kembali.
“Hiks, hiks, Mami... tanganku sakit sekali,” kata Ara, suara tangisnya menggema di ruangan.
Farah menenangkan putrinya dengan lembut, mengusap punggungnya. “Mami tahu, sayang. Kita akan membuatnya lebih baik. Ceritakan pada Mami apa yang terjadi.”
“Tadi Sepulang sekolah aku sedang berjalan di koridor dengan tenang, tiba-tiba ada yang menabrakku. Kejadiannya begitu cepat sehingga aku tidak bisa menghindar,” Ara menceritakan kejadian di sekolah sambil menangis, air matanya mengalir deras di pipinya.
Farah mendengarkan dengan penuh perhatian, merasakan setiap kata yang diucapkan Ara. “Oh, sayang, mami sangat sedih mendengar itu. Tapi kamu aman sekarang, dan kita akan pastikan kamu pulih secepat mungkin.”
Ara mengangguk pelan, mencoba mengambil kenyamanan dari pelukan ibunya meskipun rasa sakit masih mengganggunya. "Aku... aku merasa sangat sakit."
“Mami di sini, sayang. Kita akan melewati ini bersama,” jawab Farah dengan penuh kasih sayang, mengusap lembut rambut Ara.
Setelah beberapa saat, Farah membantu Ara untuk bangkit dan membawanya ke kamar. Di sana, dia dengan hati-hati membantu Ara mengganti bajunya yang penuh dengan darah dan menyiapkannya untuk tidur. Ara sangat lelah setelah menangis dan rasa sakit yang dialaminya, sehingga dia dengan cepat tertidur di bawah perhatian ibunya.
Farah berdiri di samping tempat tidur, melihat putrinya yang sudah tertidur dengan wajah tenang meskipun masih ada jejak tangis. Dia merasakan kesedihan mendalam melihat Ara harus melalui penderitaan ini. Farah memastikan Ara tertidur dengan nyaman, menutupi tubuhnya dengan selimut lembut.
Dengan lembut, Farah mencium kening Ara sebelum keluar dari kamar, berdoa agar putrinya segera pulih dan kejadian ini tidak akan pernah terulang lagi. Dia tahu bahwa dia harus selalu ada di sana untuk Ara, apapun yang terjadi.
*ilustrasi saat ara menangis dipeluk ibunya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
sasip
ara pake kacamata ya? kalau enggak, ilustrasinya kurang cocok 'thor..
2024-07-14
1
Fauziah Tallya
ditunggu up lagi ka
2024-06-27
0