12 ( Sudah Revisi )

Pagi ini adalah hari Senin, hari di mana banyak siswa merasa malas untuk kembali ke sekolah setelah akhir pekan yang singkat. Namun, pagi ini ada sesuatu yang berbeda di udara, terutama bagi satu orang yang pikirannya penuh dengan bayangan seorang gadis cantik.

Di rumah besar keluarga Darpa, Arabella Paramita Darpa, atau yang akrab dipanggil Ara, sedang bersiap-siap seperti biasanya. Setelah berpakaian rapi dalam seragam Rosewood International School-nya, dia bergabung dengan kedua orang tuanya untuk sarapan.

"Selamat pagi, sayang," sapa Farah, mami Ara, dengan senyum hangat.

"Pagi, Mi, Dad," jawab Ara sambil duduk di meja makan yang megah. "Hari ini aku akan berangkat lebih pagi. Ingin sampai di sekolah sebelum bel masuk."

Amaar, ayah Ara, mengangguk dengan bangga. "Hebat, Ara. Mengemudikan mobil sendiri lagi?"

"Ya, Dad. Kupikir sudah waktunya aku memyetir sendiri lagi," balas Ara dengan senyum semangat.

Setelah menyelesaikan sarapannya, Ara berpamitan dan mencium pipi kedua orang tuanya dan berjalan keluar menuju mobilnya. Mobil sport putih yang elegan itu sudah siap di halaman depan, dan Ara dengan cekatan mengambil alih kemudi.

Sementara itu, di sebuah mansion yang tidak kalah mewahnya, Kairi Jett Evans sedang dalam suasana hati yang berbeda. Biasanya, Senin pagi adalah momen yang tidak dia sukai. Tetapi hari ini, dia merasa bersemangat luar biasa. Setelah membaca informasi tentang Ara semalam, dia tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu.

Pikirannya terus berputar tentang bagaimana pertemuan mereka berikutnya akan berjalan.

Kairi bergegas mengenakan seragam sekolahnya dan dengan cepat menuju keluar rumah. Di halaman, Luke dan Marva, kedua teman dekatnya, sudah menunggunya dengan ekspresi heran.

“tumben pagi-pagi udah siap,” sindir Luke, tersenyum lebar. “Apa yang buat lo semangat seperti ini, Kairi?”

Marva menambahkan, “Iya, biasanya lo ngga pernah pergi kesekolah sepagi ini, terutama di hari Senin.”

Kairi hanya tersenyum misterius. "Hari ini gw punya alasan khusus untuk datang lebih awal," jawabnya sambil melangkah masuk ke mobilnya. Kedua temannya mengikuti, penasaran dengan sikap Kairi yang tidak biasa.

Pagi hari di sekolah pada hari Senin terasa berbeda. Langit masih berselimut warna biru pucat saat para siswa mulai berdatangan, beberapa dengan mata yang masih mengantuk setelah akhir pekan yang terasa terlalu singkat. Di gerbang sekolah, terdengar riuh suara sapaan dan tawa kecil dari teman-teman yang lama tak bertemu sejak Jumat lalu.

Di lapangan, bendera merah putih berkibar pelan, menanti upacara bendera yang sudah menjadi tradisi setiap Senin pagi. Siswa-siswi berseragam rapi berbaris di halaman, dengan rambut yang tertata rapi dan sepatu yang berkilat, meskipun beberapa di antaranya diam-diam berusaha menghilangkan rasa kantuk. Guru-guru berdiri dengan penuh wibawa di depan barisan, memantau para siswa yang berbisik-bisik satu sama lain.

Dari lapangan sekolah, mulai terdengar alunan lagu kebangsaan yang mulai diputar, menandakan upacara akan segera dimulai. Suasana pagi itu campuran antara tenang dan sibuk—di satu sisi ada rasa malas yang belum sepenuhnya hilang dari akhir pekan, namun di sisi lain ada semangat baru untuk menghadapi pekan yang baru. Sinar matahari mulai menghangatkan tanah, dan perlahan suasana sekolah hidup kembali dengan aktivitas, canda tawa, dan semangat khas hari Senin.

Di Rosewood International School, suasana tampak seperti biasanya: sibuk dan ramai dengan siswa-siswa yang bersiap untuk memulai hari Pelajaran setelah upacara selesai. Namun, ada sesuatu yang berbeda di kantin pagi ini. Kehadiran Kairi Jett Evans bersama kedua temannya, Luke dan Marva, langsung menarik perhatian seluruh ruangan. Ketiganya adalah sosok populer dan tampan di sekolah ini, dan terutama Kairi yang terkenal dengan wajah tampan serta sikap dinginnya.

Kairi, dengan mata elang yang tajam dan pandangan cuek, biasanya menghindari tempat umum seperti kantin, lebih suka menikmati kesendiriannya di sudut yang tenang. Namun, hari ini dia berjalan masuk dengan tenang, memimpin grupnya seperti seorang raja yang kembali ke istananya. Setiap langkahnya diiringi oleh bisikan-bisikan kagum dan penasaran dari para siswa yang memperhatikannya.

"Astaga, itu Kairi," bisik seorang siswi kepada temannya dengan nada hampir tidak percaya. "Apa yang dia lakukan di sini pagi-pagi begini?"

"Dia sudah lama tidak muncul di kantin. Pasti ada sesuatu yang menarik," sahut temannya, matanya terpaku pada sosok Kairi.

Kairi tidak mengindahkan tatapan dan bisikan yang mengikutinya. Dia dengan tenang berjalan menuju salah satu meja kosong di sudut, tempat yang strategis namun cukup tersembunyi dari pusat keramaian kantin. Luke dan Marva duduk di sampingnya, masih mencoba memahami alasan di balik perubahan sikap Kairi yang tiba-tiba.

"Hey, bro, ada apa denganmu hari ini?" tanya Luke sambil menyeringai. "lo biasanya menghindari tempat seperti ini."

Marva mengangguk setuju, senyum nakal tersungging di bibirnya. "Iya, apa yang buat lo memutuskan untuk bergabung dengan kami di kantin, Kairi? Biasanya lo selalu sibuk dengan urusan lo sendiri."

Kairi hanya mengangkat bahu, wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi. "Tidak ada yang istimewa," jawabnya singkat, matanya mengamati sekeliling kantin sejenak sebelum kembali beralih ke teman-temannya. "gw hanya merasa ingin mencoba suasana baru."

Luke dan Marva saling bertukar pandang, tersenyum penuh arti. Mereka tahu bahwa sesuatu telah mempengaruhi Kairi, meskipun dia tidak mengatakannya dengan jelas. Namun, mereka juga tahu bahwa memaksa Kairi untuk berbicara lebih jauh tidak akan berhasil. Kairi selalu menjaga jarak emosional dengan orang lain, dan mereka menghargai itu.

Kairi jett evans

Luke

Marva

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!