08

Ara yang menyaksikan perdebatan itu dari jauh merasa terkejut. Perasaan yang berkecamuk di hatinya membuatnya sulit mencerna semua ini. Nama-nama dan situasi yang dia lihat terasa begitu akrab, seolah-olah mereka keluar langsung dari halaman novel yang dia baca sebelum meninggal.

Saat Ara mencoba mengalihkan pandangannya dari adegan menyakitkan itu, sebuah mobil mewah mendekat ke lobi sekolah. Itu adalah mobil ayahnya. Ara merasa lega melihat kedatangan ayahnya yang tepat waktu.

“Daddy sudah sampai, sayang. Gimana hari pertama di sekolah?” tanya Daddy sambil membuka pintu mobil untuk Ara.

Ara tersenyum dan berjalan menuju mobil. “Baik, Daddy. Hari ini penuh kejutan, banyak yang harus aku ceritakan nanti.”

"Baiklah, Daddy nggak sabar denger ceritanya. Yuk, kita pulang," kata ayahnya sambil tersenyum penuh kasih.

Ara masuk ke dalam mobil, dan mereka pun melaju meninggalkan sekolah. Dalam perjalanan pulang, Ara merenungkan hari pertamanya yang penuh dengan kejutan dan mulai mencari jawaban atas semua kejadian aneh yang dia alami.

“Daddy, hari ini benar-benar luar biasa,” gumam Ara pelan, namun cukup keras untuk didengar oleh ayahnya yang tersenyum penuh kehangatan.

“Daddy senang kamu menikmati harimu, Ara. Kita akan selalu ada untukmu,” kata ayahnya sambil memegang tangannya erat.

Ara tersenyum, merasakan kehangatan dari dukungan orang tuanya. Namun, di dalam hatinya, dia tahu bahwa perjalanan barunya di sekolah ini akan membawa lebih banyak kejutan dan mungkin juga jawaban atas misteri yang membingungkannya.

...****************...

Pada malam itu, di dalam kamarnya, Ara duduk di meja belajarnya sambil menuliskan kembali kejadian-kejadian yang terdapat dalam novel yang diingatnya.

"Mulai dari mana ya?" gumam Ara, sedikit bingung.

"Kalau begitu, kita mulai dari awal pertemuan mereka saja. Arya dan Ruby pertama kali bertemu saat masuk ke sekolah. Ruby membantu Arya membawa buku ke perpustakaan, dan dari situlah mereka sering pergi ke perpustakaan bersama."

"Kemudian, Raina mulai mengganggu Ruby ketika tahu bahwa Ruby dekat dengan pacarnya. Mungkin 'mengganggu' bukan kata yang tepat; lebih tepatnya, Raina merasa cemburu karena pacarnya lebih memilih orang lain. Raina sebenarnya bukan antagonis, hanya terjadi kesalahpahaman antara Arya dan dia, yang sering menuduh Raina jahat terhadap Ruby padahal sebenarnya tidak."

"Nanti, Ruby akan diurungkan di gudang dan Arya menyalahkan Raina, padahal bukan Raina yang melakukan itu."

"Kemudian, ada seorang antagonis laki-laki yang bertemu dengan Ruby. Dia jatuh cinta pada Ruby yang sederhana."

"Masalahnya, aku tidak tahu siapa nama dan jati diri dari antagonisnya. Namanya disebut dalam novel, tapi aku tidak ingat karena terlalu samar."

"Ada juga seorang figuran yang menjadi korban karena menyelamatkan Ruby. Padahal, si figuran tidak bersalah dan dia mati hanya karena kesalahan kecerobohan Ruby."

"Tapi aku tidak tahu siapa identitas sebenarnya dari figuran itu, karena tidak disebut dalam novel."

"Selain itu, Ara dan Kia merasa tidak adil karena mereka tidak dimasukkan ke dalam cerita novel, entah sebagai pemeran sampingan atau figuran."

"Apa lagi ya? Aku sudah lupa. Ah, mungkin lebih baik aku tidur saja sekarang."

Setelah mengakhiri pemikirannya, Ara berdiri dari meja belajarnya dan berjalan menuju tempat tidurnya. Dengan langkah yang pelan, dia meletakkan buku catatan novelnya di meja kecil di samping tempat tidur. Dengan lembut, dia merentangkan tubuhnya di atas kasur yang nyaman, menutup mata, dan akhirnya terlelap dalam tidurnya yang damai.

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!