06

Jam istirahat pun tiba, dan suasana sekolah menjadi riuh dengan murid-murid yang berbondong-bondong menuju kantin untuk membeli makanan. Ara dan Kia, sahabat setianya, memutuskan untuk pergi ke kantin barat. Kantin ini adalah yang paling populer di antara para siswa karena sering menjadi tempat berkumpulnya para siswa yang terkenal.

Ara dan Kia tidak termasuk dalam kelompok siswa yang populer. Meskipun Ara memiliki penampilan yang sangat menarik, dia tidak tertarik menjadi pusat perhatian. Mereka lebih memilih menjadi bagian dari kerumunan biasa dan hanya mengenal teman-teman sekelas mereka saja.

Sesampainya di kantin, Ara dan Kia mencari tempat duduk yang kosong di tengah keramaian.

"Ra, mendingan lo cari tempat duduk kosong. Biar gw yang pesen makanan. Lo mau makan apa?" tanya Kia sambil melihat ke arah antrian panjang di depan stand makanan.

"Eum, ada apa aja sih?" Ara bertanya sambil melirik menu di dinding kantin.

"Ya ampun, Ra. Kayak baru pertama kali beli makanan di sini aja," kata Kia sambil tertawa kecil.

"Bukan gitu, Kia. Gw cuma mau tau lagi aja," Ara mencoba berdalih, tersenyum kikuk. "Atau samain aja deh sama lo."

"Gw sih mau nasi goreng sama jus jeruk," jawab Kia.

"Yaudah, sana lo pesen. Gw cari tempat dulu," kata Ara sambil melambaikan tangan ke Kia.

"Oke, tunggu di sana, ya," balas Kia sebelum pergi mengantri untuk memesan makanan.

Ara pun mulai mencari tempat duduk yang kosong. Dia menemukan sebuah meja di pojok kantin yang tampak sepi. "Tempat ini pasti tidak akan menarik perhatian siapapun," pikirnya sambil berjalan ke arah meja tersebut dan duduk dengan nyaman. Dia memperhatikan sekeliling dan melihat Kia yang kebingungan mencarinya di kerumunan.

"KIA!" panggil Ara sambil melambaikan tangan agar Kia melihatnya.

Kia akhirnya melihat Ara dan berjalan ke arahnya dengan membawa seorang pelayan yang mengantar pesanan mereka.

"Gw tadi bingung nyari lo, Ra," kata Kia sambil duduk dan menaruh pesanan makanan mereka di meja.

"Hehe, tempat kosong cuma ada di sini," jawab Ara sambil tersenyum.

"Padahal tadi gw liat ada yang kosong di tengah," kata Kia.

"Gw nggak mau jadi pusat perhatian. Nanti malah banyak yang liat gw," kata Ara dengan nada setengah bercanda. Kenyataannya, banyak siswa yang memang mencuri-curi pandang ke arahnya.

"Iya juga sih. Lo sih terlalu cantik. Yaudah, sekarang mending kita makan. Gw laper banget," kata Kia sambil tertawa kecil.

"Eum," jawab Ara singkat sambil mengangguk.

Mereka mulai menikmati makanan dengan tenang. Namun, ketenangan mereka terganggu oleh keributan di meja tengah kantin.

“PRENG!” Suara piring jatuh memecah keheningan, disusul dengan seseorang yang terjatuh terduduk.

"Ups, sorry, nggak sengaja. Lo sih ngehalangin jalan gw," kata seorang perempuan yang berdiri menghadap gadis yang terjatuh.

"Iya, Raina. Aku nggak apa-apa kok," ucap gadis yang terjatuh itu dengan suara terbata-bata, sambil melihat ke arah perempuan yang dia sebut Raina.

"Bagus deh kalau nggak apa-apa. Lain kali hati-hati ya," balas Raina dengan nada angkuh.

Tiba-tiba, dari arah belakang Raina, ada seseorang yang berteriak memanggil gadis yang terjatuh itu.

"RUBY!" Seorang laki-laki khawatir datang menghampiri gadis yang terjatuh dan mendorong Raina untuk menyingkir dari jalan.

"Ruby, kamu nggak apa-apa kan?" tanya laki-laki itu sambil berlutut, membantu Ruby bangkit, dan menatap Raina dengan sinis.

"Aku nggak apa-apa, Arya. Ini salahku, aku nggak liat jalan," jawab Ruby berusaha meyakinkan Arya.

"Aku nggak percaya. Pasti ini ulah dia, kan?" kata Arya dengan nada marah sambil menunjuk Raina.

"Kok kamu malah nuduh aku sih? Yang salah dia! Terus kenapa juga kamu malah nuduh pacar kamu? Pacar kamu itu dia atau aku sih?" ucap Raina kesal karena dituduh.

"Gw nggak nuduh sembarangan. Buktinya Ruby yang jatuh dan lo nggak kenapa-kenapa. Gw juga nggak ngebela lo, karena di sini yang salah itu lo," balas Arya dengan tegas.

"Tapi aku beneran nggak salah! Dia yang lebay. Padahal aku yang disenggol dia, tapi malah dia yang jatuh," kata Raina membela diri.

Sementara itu, Ara yang sedang duduk di pojok kantin, menonton drama tersebut dengan penuh perhatian. Nama-nama itu terdengar sangat familiar baginya. Ara terus berpikir, berusaha mengingat di mana dia pernah mendengar nama-nama tersebut.

Tiba-tiba, sebuah ingatan muncul. Novel yang dia baca sehari sebelum kematiannya, yang berjudul "RUBY". Nama-nama itu sepertinya berasal dari novel tersebut. Ara merasa kebetulan ini terlalu aneh untuk diabaikan.

"Kia, lo tau nggak mereka siapa?" tanya Ara ke Kia, mencoba memastikan dugaannya.

"Oh, itu yang lagi ribut itu?" jawab Kia sambil menatap ke arah kerumunan.

"Iya," balas Ara, penasaran.

Kia kemudian melihat ke arah yang ditunjuk Ara dan mulai menjelaskan siapa mereka.

Terpopuler

Comments

Xi Feng Jiu

Xi Feng Jiu

Kok jadi begini bunyinya😭

2024-08-17

0

Ayu Dani

Ayu Dani

like like

2024-07-12

0

Dálvaca

Dálvaca

Menghanyutkan banget.

2024-06-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!