Cahaya matahari menyelinap melalui celah gorden kamar Arabella, perlahan membangunkannya dari tidur. Pusing yang ia rasakan kemarin sudah jauh berkurang; mungkin sebentar lagi ia akan sepenuhnya sembuh.
Saat Arabella duduk dan bersandar di tempat tidurnya, pintu kamar terbuka, menampakkan ibunya yang membawa nampan berisi makanan.
“Selamat pagi, sayang,” sapa Mami dengan lembut sambil meletakkan nampan di samping tempat tidur dan berjalan menuju jendela. Ia membuka gorden dan jendela, membiarkan udara segar mengalir ke dalam kamar putrinya.
“Pagi juga, Mami,” jawab Arabella dengan suara serak.
“Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah lebih baik, kan?” tanya Mami, duduk di tepi tempat tidur dan menatap Arabella dengan perhatian.
“Jauh lebih baik dari kemarin, Mami,” kata Arabella sambil tersenyum tipis.
“Baiklah, sekarang kamu sarapan dulu, atau mau cuci muka dulu?” tanya Mami lagi, penuh perhatian.
“Aku mau ke kamar mandi dulu, Mami,” jawab Arabella.
“Baiklah, Mami bantu, ya,” kata Mami, lalu membantu Arabella berdiri dan menuntunnya ke kamar mandi.
Setelah Arabella mencuci muka dan menggosok gigi, ia kembali ke tempat tidur dan mulai disuapi oleh Mami. Dengan penuh kasih sayang, Mami menyuapi Arabella dengan telaten.
“Kalau kamu sembuh hari ini, besok kamu bisa kembali ke sekolah,” kata Mami. “Kamu kan kemarin terus merengek ingin tetap masuk sekolah meski sedang sakit begini.”
“Iya, Mami,” jawab Arabella sambil mengunyah perlahan.
Setelah selesai menyuapi dan memberi Arabella obat, Mami menyarankan agar Arabella berjemur di balkon kamarnya. Mami kemudian meninggalkan kamar untuk menuju dapur, sementara Arabella duduk di balkon, menikmati sinar matahari pagi yang hangat.
Sambil menikmati cahaya matahari yang menyinari wajahnya, Arabella merenung tentang kehidupannya. Tentang bagaimana ia menjalani hidup di tubuh orang lain tanpa mengenal siapa pun.
Setelah beberapa saat, Arabella bangkit dari duduknya untuk mencari telepon genggam yang belum ia lihat sejak kemarin. Setelah menemukannya, ia kembali duduk di balkon dan membuka aplikasi WhatsApp. Di sana, ia hanya menemukan tiga kontak: Daddy, Mami, dan Saskia. Sangat membosankan, pikir Arabella.
Tak ada yang menarik dari isi telepon genggam itu, sehingga ia meletakkannya di sampingnya dan memejamkan mata, menikmati sinar matahari.
Tiba-tiba, ia merasakan ciuman lembut di keningnya. Secara refleks, Arabella membuka mata dan menjauh.
“Oh, sayang, apa Daddy mengagetkanmu?” tanya seorang pria dewasa yang menyebut dirinya Daddy.
“Maaf ya, pasti kaget. Daddy cuma khawatir sama kamu karena sakit. Maaf ya kemarin Daddy ada urusan di luar kota jadi nggak bisa menemani putri Daddy,” ujar Daddy dengan nada penuh penyesalan.
“Iya, Daddy, tidak apa-apa. Aku ngerti kok,” jawab Arabella setelah mengatasi keterkejutannya.
“Boleh Daddy duduk di sini?” tanya Daddy meminta izin duduk di samping Arabella.
“Iya, boleh,” jawab Arabella.
Daddy pun duduk di samping Arabella dan langsung menyentuh dahinya. Setelah merasa tidak ada panas lagi, ia bernapas lega.
“Syukurlah, tidak panas lagi. Kamu tahu, Daddy sangat khawatir dan terus memikirkan kamu yang sedang sakit, tapi Daddy malah jauh dari kamu,” kata Daddy dengan nada menyesal.
Daddy kemudian membimbing kepala Arabella untuk bersandar di dadanya.
Arabella merasa terharu karena di sini ia mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tanpa terasa, ia pun menangis.
Melihat putrinya menangis, Daddy memeluk Arabella erat-erat dan mencoba menenangkannya.
“Cup, cup, cup, tidak apa-apa sayang. Daddy ada di sini. Kamu pasti takut ya kemarin, karena Daddy nggak ada di samping kamu,” kata Daddy sambil menenangkan.
Arabella menangis lama sampai akhirnya tidak ada suara. Ketika dilihat, ternyata ia tertidur. Daddy pun dengan hati-hati mengangkat Arabella dan membaringkannya di tempat tidur, membetulkan selimutnya, lalu mencium keningnya.
“Daddy sayang Ara,” bisik Daddy pelan.
Setelah menutup pintu kamar Arabella, Mami menghampiri Daddy.
“Sudah tidur?” tanya Mami.
“Iya, sudah. Kelelahan habis menangis,” jawab Daddy.
“Kenapa malah dibikin nangis sih kamu?” tanya Mami sedikit kesal.
“Iya, maaf ya. Mungkin Ara kesal karena kemarin aku nggak ada,” jawab Daddy dengan nada penuh penyesalan.
“Ya sudah, biarkan Ara istirahat dulu,” kata Mami sambil menggandeng Daddy untuk meninggalkan kamar.
---
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Hemalinep Hema
kok gak sama panggilan orang tua nya daddy dan mani seharus nya kan mommy
2024-07-23
1
selir Caesars
aku juga mau tauu digituin hihi
2024-07-22
1
ayah dan ibu arbela adalah orang tua terbaik
2024-07-19
3