Ara terbaring dengan tenang di tempat tidurnya, masih dalam keadaan tertidur. Wajahnya yang biasanya ceria tampak pucat, dan kedua tangannya yang terbalut perban tergeletak di sampingnya. Amaar merasa hatinya tersayat melihat putrinya dalam keadaan seperti itu. Dia mendekati tempat tidur dengan perlahan, memastikan langkahnya tidak membuat suara yang bisa mengganggu tidur Ara.
Dengan hati-hati, Amaar duduk di kursi di samping tempat tidur Ara. Dia mengamati wajah putrinya dengan cermat, mencari tanda-tanda ketidaknyamanan atau rasa sakit. Ara terlihat lebih tenang sekarang, meskipun sesekali wajahnya meringis kecil, mungkin akibat mimpi buruk atau rasa sakit yang masih tersisa.
Amaar merasakan dorongan untuk menyentuh Ara, untuk memastikan bahwa dia benar-benar ada di sana dan aman. Dengan lembut, dia mengambil salah satu tangan Ara yang terbalut perban dan menggenggamnya dengan hati-hati. Sentuhan itu membangunkan Ara perlahan-lahan. Matanya yang masih setengah tertutup membuka sedikit, dan dia melihat sosok ayahnya duduk di samping tempat tidur.
"Daddy..." suara Ara terdengar lemah dan penuh kelegaan. Dia merasa nyaman dengan kehadiran ayahnya di sisinya.
"Hei, sayang," Amaar berkata lembut, suaranya penuh kasih sayang. "Bagaimana perasaanmu sekarang?"
Ara menghela napas pelan. "Masih sakit, tapi lebih baik daripada tadi," jawabnya dengan suara serak.
Amaar mengangguk, mencoba menenangkan putrinya dengan senyuman hangat. "Kamu sudah menjadi gadis yang sangat kuat, Ara. Daddy sangat bangga padamu."
Ara tersenyum kecil meskipun rasa sakit masih terasa. "Aku tidak menyangka ini akan terjadi, Dad. Semua terjadi begitu cepat."
Amaar merasa hatinya teriris mendengar itu. "Daddy tahu, sayang. Ini adalah kecelakaan yang tidak terduga. Tapi yang paling penting sekarang adalah kamu sudah pulang dan aman. Kami akan menjaga dan merawatmu sampai kamu pulih sepenuhnya."
Farah masuk ke kamar dengan secangkir teh hangat, mendekati Ara dan suaminya. Dia menempatkan cangkir itu di meja samping tempat tidur dan duduk di sebelah Amaar, menatap putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana perasaanmu, sayang?" tanya Farah, menyentuh pipi Ara dengan lembut
Ara mengangguk pelan. "Lebih baik, Mi. Terima kasih sudah ada di sini."
Farah tersenyum lembut. "Tentu saja, sayang. Kita semua di sini untukmu. Kamu hanya perlu fokus pada pemulihanmu."
Amaar menatap Farah dan kemudian kembali ke Ara. "Kami akan memastikan bahwa tidak ada lagi yang terjadi padamu, Ara. Dan tentang anak yang menabrakmu, kita akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Ara terlihat bingung dan sedikit cemas. "Daddy, itu bukan salah siapa-siapa. Itu hanya kecelakaan." Ya sebenarnya ara sudah mempunyai rencana lain dan takut Daddynya bertindak tidak sesuai keinginannya.
Farah meremas tangan Amaar, mencoba menenangkan suaminya. "Ara benar. Mari kita fokus pada kesembuhan Ara dulu."
Amaar menghela napas panjang dan mengangguk. "Baiklah, kita akan lakukan itu. Tapi, daddy tetap ingin memastikan bahwa semuanya sudah tertangani dengan baik."
Ara tersenyum tipis, merasa lega karena orang tuanya ada di sana untuknya. "Terima kasih, Daddy, Mami. Aku merasa lebih baik hanya dengan kalian di sini."
Setelah beberapa saat, Farah membantu Ara untuk berbaring lebih nyaman dan mengganti bajunya yang penuh dengan bekas darah dari luka tadi.
Mereka melakukannya dengan hati-hati, berusaha untuk tidak menambah rasa sakit pada tangan Ara yang terluka. Ara meringis sedikit, tetapi dia merasa tenang dengan kehadiran orang tuanya.
"Sekarang, tidurlah, sayang," kata Farah, membenarkan selimut di sekitar tubuh Ara. "Kamu butuh banyak istirahat untuk pulih."
Amaar mengelus rambut Ara dengan lembut. "Kami ada di sini, Ara. Kamu tidak sendirian."
Ara mengangguk pelan, matanya mulai menutup kembali. "Terima kasih, Daddy, Mami," gumamnya sebelum tertidur lagi.
Farah dan Amaar duduk di samping tempat tidur Ara, memastikan putri mereka tertidur dengan nyaman. Mereka saling bertukar pandang, penuh dengan kasih sayang dan kekhawatiran yang dalam, berjanji untuk melindungi Ara dengan segala cara yang mereka bisa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments