Hamil ?

Alarich membawa istrinya ke kamar. Dia menenangkan istrinya yang menangis. "Jangan di dengar omongan dia. Bukan salah kamu sayang. Semua sudah takdir Tuhan. Kita hanya manusia tidak bisa menentukan kapan hidup atau mati."

Alarich memeluk istrinya erat "Mas ...mungkin yang di bilang tante Mira benar. Aku memang pem-pembawa sial mas. Dan...mas pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku hiks hiks...." Aleesya semakin sesegukan. Dadanya terasa sakit mendengar ucapan tantenya.

"STOP IT. Kamu anugerah buat aku jangan buat aku marah Aleesya. Lihat aku!! Aku mencintaimu tidak perduli orang lain bilang apa. Aku yang merasakannya bukan orang lain. Dengar, kamu milikku, kamu enggak bisa lepas dari aku.!"

Alarich mencium bibir istrinya mungkin dengan cara ini istrinya bisa sedikit lebih tenang. Ciuman itu semakin dalam Aleesya juga membalas ciuman itu sambil berlinang air mata. Kedua tangannya mengalung di leher suaminya. Alarich semakin merapatkan pinggangnya.

TOK TOK TOK

"Aden ... Si mbok bawain makanan sama cemilan!" Mbok Inem memanggil.

-

-

Ciuman mereka terlepas ketika mendengar suara ketukan pintu. "Aku bukain dulu, kamu duduk sini." CUP

Alarich mengambil nampan berisi makanan yang ada di tangan mbok Inem. Dia duduk di sofa bersama istrinya. Dia menyuapi Aleesya dengan lembut. Mereka makan di satu sendok yang sama.

"Mas ... Enggak jijik makan bekas aku?" Tanya Aleesya lembut. "Kenapa jijik sayang? Kita bahkan udah_!" Aleesya menutup mulut suaminya. Dia menyebikan bibirnya. "Mas ih jangan di bahas malu."

"Iya iyah hahahaha... Kamu lucu banget sih sayang. Habis makan kita main yah !" Alarich menggoda istrinya dengan mata genitnya. "Mas masih siang malu!" Aleesya meng hentakan kakinya pergi ke balkon. Alarich menyusulnya.

"Kok ngambek? Dosa loh nolak suami!" Ucap Alarich yang memeluk istrinya. "Habis mas kayak enggak ada waktu aja, malem kan bisa." Jawab Aleesya yang masih manyun

"Malem yah bener, 3 ronde yah sayang!"

Mata Aleesya melotot dia memukul manja suaminya. Bahkan tidak terasa sama sekali saking lembutnya. Alarich sangat mencintai wanitanya. Mereka malah bercanda di atas balkon.

-

-

Ternyata di balik kemesraan pasutri itu, ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya. Nathan, sepupunya Alarich.

"Seandainya ... Kita lebih dulu kenal, mungkin sekarang kamu jadi istri aku Aleesya." Gumam Nathan di balik celah tembok.

-

-

Seminggu sudah berlalu kehidupan Aleesya berubah 360° dia menjelma menjadi nyonya Alarich. Dia sangat di manjakan oleh suaminya. Sehari harinya di layani oleh para art disana.

Dua hari lagi resepsi akan di gelar. Segala persiapan sudah matang. Hari ini juga terakhi Alarich ke kantor.

HUEEK HUEEKK

Aleesya yang sedang menyiram tanaman tiba tiba mual. Dia berlari ke kamar mandi di ikuti mbok Inem. Aleesya me muntah kan semua isi perutnya. Suaminya sudah berangkat ke kantor dari pagi. "Non Aleesya, kenapa non?" Tanya simbok sembari memijat tengkuk Aleesya.

"Enggak tahu mbok, mual sekali kepala aku pusing." Aleesya lemas sekali, si mbok mengantar nonanya ke kamarnya. Si mbok keluar lagi membuat teh jahe. Si mbok juga langsung menelepon tuan Alarich. Beliau khawatir dengan non Aleesya

-

-

"Kenapa mbok? Saya mau meeting!" Ucap Alarich

"Anu den, non Aleesya muntah muntah, badannya panas. Sekarang ada dikamarnya sedang tidur. Si mbok khawatir den." Jawab si mbok Inem.

"Saya pulang sekarang ." Alarich menutup ponselnya. "Bas, kamu gantiin saya meeting. Aleesya sakit." Alarich segera menyambar kunci mobilnya dia bergegas pulang.

Bastian bahkan belum bicara. Dia melongo melihat tuannya. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Kebiasaan si boss huft ."

-

-

Alarich mengemudikan mobilnya cukup kencang. Dia sampai dirumah lebih cepat dari biasanya, lalu naik keatas dengan langkah panjang. Dia membuka pintu kamarnya. "Sayang...!" Alarich melangkah ke kasur, istrinya tengah meringkuk.

"Mas kok udah pulang?" Ucap Aleesya lembut dengan mata berair. "Iya sayang kita ke_!" Belum selesai suaminya ngomong tiba tiba Aleesya sudah berlari ke kamar mandi.

HUEEEK HUEEEKKK HUEKKK

Bahkan Aleesya melompat dari kasur ke kamar mandi. Suaminya langsung menyusulnya. Dia memijat leher istrinya. Mata Aleesya sampai berair. Badannya bergetar. "Mas aku pusing banget." Aleesya berpegangan pada suaminya lalu dia pingsan.

"Astaga sayang!" Alarich kaget istrinya pingsan di tangannya. Alarich langsung menggendong istrinya ke bawah. Si mbok yang membawa nampan berisi makanan untuk non Aleesya terkejut melihat nonanya di pingsan. "Non Aleesya, kenapa den?" Tanya si mbok

"Suruh pak Agus siapin mobil sekarang!" Titah Alarich. Simbok keluar menemui pak Agus. Alarich dan pak Agus bergegas kerumah sakit. Si mbok juga ikut duduk didepan bersama pak Agus.

"Sayang bangun sayang... Jangan bikin aku khawatir." Alarich menepuk nepuk pipi istrinya yang sangat keringat dingin.

"Pak Agus cepetan toh, kasihan Non Aleesya!" Si mbok juga sama khawatirnya. Pak Agus mengemudikan mobilnya cukup kencang. "Mbok, hubungin mamah sama papah."

Mbok Inem langsung menghubungi tuan dan nyonya besarnya. Mereka juga akan menyusul ke rumah sakit

-

-

Aleesya dibawa oleh dokter dan perawat. Alarich, si mbok dan pak Agus menunggu di luar. Cukup lama dokter itu di dalam memeriksa Aleesya.

Orang tua Alarich juga berlari menghampiri anaknya. "Aleesya kenapa Al?" Tanya mamah Winda panik. "Belum tahu mah, dokter masih di dalam." Jawab Alarich.

Dokter Kayla pun keluar dari ruangan itu. Semua yang menunggunya menghampiri dokter itu. "Gimana dok istri saya?" Tanya Alarich.

"Selamat ya tuan Alarich, isteri anda hamil. Untuk pemeriksaan lebih lanjut bisa ke bagian spesialis kandungan. Nanti sore bisa langsung kesana."

Alarich membeku dia mematung mendapat kabar istrinya sedang hamil. Orang tua Alarich juga ikut senang mendengar kabar bahagia itu. Mamah Winda memeluk anaknya. Alarich berlinang air mata. "Al akan menjadi ayah, mah."

"Terima kasih ya Allah"

Alarich dan keluarganya masuk ke dalam ruangan itu. Papah Arya tengah mengurus administrasi perpindahan kamar perawatan menantunya.

Aleesya sudah siuman dia melihat suami dan mamah mertuanya. "Mas...aku mau pulang." Ucap Aleesya dengan suara lemahnya.

"Sayang... Terimakasih. Sebentar lagi kita akan punya anak. Kamu hamil sayang." Alarich dengan mata yang berkaca kaca memberitahukan pada istrinya tentang kehamilannya.

"Aa-aku hamil mas?"

"Iya nak. Alahmdulillah mamah dan papah akan punya cucu." mamah Winda memeluk menantu kesayangannya itu. Aleesya juga menangis di pelukan mamah mertuanya.

Papah Arya baru masuk ke ruangan itu. Mbok inem dan pak Agus juga setelah membeli makanan untuk Aleesya. "sayang selamat ya, kamu hamil penerus Dewantara." Ucap papah Arya bangga sekali.

Papah Arya bilang Aleesya akan segera dipindahkan ke kamar VVIP tentunya. Menantunya harus mendapatkan fasilitas terbaik. Terlebih Aleesya tengah mengandung cucu pertama dari keluarga Dewantara.

Episodes
1 Aleesya Shaabira Bagaskara
2 Alarich Dewantara
3 Luka Batin dan Fisik
4 Tinggal bersama (?)
5 Mereka Kekasih?
6 Melindungi Aleesya
7 Peringatan Pertama
8 Orang Tua Alarich
9 Menikah Dadakan
10 Aleesya Anak Nania?
11 Menyelidiki Kecelakaan
12 Honeymoon
13 Honeymoon 2
14 Semakin Cinta Aleesya
15 Rumah Masa Depan
16 Syukuran Rumah Baru
17 Hamil ?
18 Rindu Mamah dan Papah
19 Pulang Ke Rumah
20 Resepsi Aleesya dan Alarich
21 NANIA SUBAGYO & MARIO BAGASKARA
22 Siapa Monica ?
23 Suami Posesive
24 Trauma Aleesya
25 Luka Mendalam
26 Hipnoterapi
27 Babymoon
28 Keluarga Bagaskara
29 Titik Terang
30 Kejahatan Mira dan Lukman
31 Penderitaan Aleesya
32 Penderitaan Miko
33 Mengadu Domba
34 Menjebak Revan Bagaskara
35 Bertemu Keluarga Bagaskara
36 Panggil Opah & Omah
37 Kecelakaan Aleesya
38 Menunggu Aleesya
39 Aleesya Tersadar
40 Tanggung Resikonya
41 Menjadi Mata-Mata
42 Siapa Yang Jatuh Duluan ?
43 Abimana Palsu
44 Mira Minta Maaf
45 Taman Hiburan
46 Siapa Wirya Atmaja ?
47 Tertangkap Sudah
48 TERUNGKAP !
49 Alarich Murka !
50 Menghibur Sang Isteri
51 Lukman & Mira Kabur
52 Penyesalan Abimana
53 Penyergapan Lukman & Mira
54 Menunggumu
55 Keluarga Baru Aleesya
56 4 Bulanan
57 Persidangan
58 Pesta Kejutan
59 Pemilik Baru
60 Pemimpin Baru
61 Bedrest
62 Aleesya Melahirkan
63 Athalla & Alana
64 Jalur Lain
65 Produksi Lagi
66 Panti Asuhan
67 Liburan Bersama
68 Evan & Janisa
69 Jodoh Untuk Nathan
70 Mira Berulah Lagi
71 Revan Kabur !
72 Aleesya Disandera
73 Athala dan Alana Demam
74 Savian Tersadar
75 Bagaskara Berduka
76 Rumah Masa Kecil Aleesya
77 Dia Menyukai Istriku ?
78 Hamil Lagi ?
79 Janisa & Evan Resmi
80 Dinner Romantis
81 Liburan Ke Pantai
82 Pengganggu !!!
83 Kejutan Untuk Alarich
84 Penyesalan Mira
85 Berdamai Dengan Masa Lalu
86 Pertemuan Aleesya dan Mira
87 Kontraksi Palsu
88 Ulang Tahun Athala & Alana
89 Melahirkan Lagi
90 Aqiqah Atharya
91 Nostalgia
92 Orang Misterius
93 Jodoh Nathan?
94 Nathan & Tara
95 Menikah Dadakan ?
96 Merindukanmu
97 First Kiss
98 Nasihat Pernikahan
99 Malam Pertama
100 Dia Lagi ?
101 Alana Possessive
102 Paket C
103 Masa Lalu Nathan
104 Resepsi Nathan dan Tara
105 Di Jodohkan ?
106 Masih Keluarga
107 Masa Lalu Alarich
108 Rujuk Kembali
109 Pernikahan Di Hari Yang Sama
110 Tarra Hamil ?
111 Me Time
112 Permintaan Maaf
113 Burungnya Harus Di Kurung
114 Anak Ke Tiga
115 Cemburunya Bumil
116 Babymoon Ketiga
117 Salah Paham
118 Nambah Lagi
119 Calon Menantu
120 Ulang Tahun Atharya
121 Tarra Melahirkan
122 Janisa Juga Melahirkan
123 Cemburu
124 Ariana Dewantara
125 Me Time Bersama Istri
126 Hadiah Untuk Ariana
127 Bonchap 1
128 Bonchap 2
129 Bonchap 3
130 Bonchap 4
131 Bonchap 5
132 Bonchap 6
133 Bonchap 7
134 Bonchap 8
135 Bonchap 9
136 Bonchap 10
137 Bonchap 11
138 Bonchap 12
139 Bonchap 13
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Aleesya Shaabira Bagaskara
2
Alarich Dewantara
3
Luka Batin dan Fisik
4
Tinggal bersama (?)
5
Mereka Kekasih?
6
Melindungi Aleesya
7
Peringatan Pertama
8
Orang Tua Alarich
9
Menikah Dadakan
10
Aleesya Anak Nania?
11
Menyelidiki Kecelakaan
12
Honeymoon
13
Honeymoon 2
14
Semakin Cinta Aleesya
15
Rumah Masa Depan
16
Syukuran Rumah Baru
17
Hamil ?
18
Rindu Mamah dan Papah
19
Pulang Ke Rumah
20
Resepsi Aleesya dan Alarich
21
NANIA SUBAGYO & MARIO BAGASKARA
22
Siapa Monica ?
23
Suami Posesive
24
Trauma Aleesya
25
Luka Mendalam
26
Hipnoterapi
27
Babymoon
28
Keluarga Bagaskara
29
Titik Terang
30
Kejahatan Mira dan Lukman
31
Penderitaan Aleesya
32
Penderitaan Miko
33
Mengadu Domba
34
Menjebak Revan Bagaskara
35
Bertemu Keluarga Bagaskara
36
Panggil Opah & Omah
37
Kecelakaan Aleesya
38
Menunggu Aleesya
39
Aleesya Tersadar
40
Tanggung Resikonya
41
Menjadi Mata-Mata
42
Siapa Yang Jatuh Duluan ?
43
Abimana Palsu
44
Mira Minta Maaf
45
Taman Hiburan
46
Siapa Wirya Atmaja ?
47
Tertangkap Sudah
48
TERUNGKAP !
49
Alarich Murka !
50
Menghibur Sang Isteri
51
Lukman & Mira Kabur
52
Penyesalan Abimana
53
Penyergapan Lukman & Mira
54
Menunggumu
55
Keluarga Baru Aleesya
56
4 Bulanan
57
Persidangan
58
Pesta Kejutan
59
Pemilik Baru
60
Pemimpin Baru
61
Bedrest
62
Aleesya Melahirkan
63
Athalla & Alana
64
Jalur Lain
65
Produksi Lagi
66
Panti Asuhan
67
Liburan Bersama
68
Evan & Janisa
69
Jodoh Untuk Nathan
70
Mira Berulah Lagi
71
Revan Kabur !
72
Aleesya Disandera
73
Athala dan Alana Demam
74
Savian Tersadar
75
Bagaskara Berduka
76
Rumah Masa Kecil Aleesya
77
Dia Menyukai Istriku ?
78
Hamil Lagi ?
79
Janisa & Evan Resmi
80
Dinner Romantis
81
Liburan Ke Pantai
82
Pengganggu !!!
83
Kejutan Untuk Alarich
84
Penyesalan Mira
85
Berdamai Dengan Masa Lalu
86
Pertemuan Aleesya dan Mira
87
Kontraksi Palsu
88
Ulang Tahun Athala & Alana
89
Melahirkan Lagi
90
Aqiqah Atharya
91
Nostalgia
92
Orang Misterius
93
Jodoh Nathan?
94
Nathan & Tara
95
Menikah Dadakan ?
96
Merindukanmu
97
First Kiss
98
Nasihat Pernikahan
99
Malam Pertama
100
Dia Lagi ?
101
Alana Possessive
102
Paket C
103
Masa Lalu Nathan
104
Resepsi Nathan dan Tara
105
Di Jodohkan ?
106
Masih Keluarga
107
Masa Lalu Alarich
108
Rujuk Kembali
109
Pernikahan Di Hari Yang Sama
110
Tarra Hamil ?
111
Me Time
112
Permintaan Maaf
113
Burungnya Harus Di Kurung
114
Anak Ke Tiga
115
Cemburunya Bumil
116
Babymoon Ketiga
117
Salah Paham
118
Nambah Lagi
119
Calon Menantu
120
Ulang Tahun Atharya
121
Tarra Melahirkan
122
Janisa Juga Melahirkan
123
Cemburu
124
Ariana Dewantara
125
Me Time Bersama Istri
126
Hadiah Untuk Ariana
127
Bonchap 1
128
Bonchap 2
129
Bonchap 3
130
Bonchap 4
131
Bonchap 5
132
Bonchap 6
133
Bonchap 7
134
Bonchap 8
135
Bonchap 9
136
Bonchap 10
137
Bonchap 11
138
Bonchap 12
139
Bonchap 13

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!