Melindungi Aleesya

Setibanya Aleesya di apartment Alarich, dia mendapatkan banyak pertanyaan dari tuan rumah. Bahkan Aleesya belum menyimpan tas besarnya. Tasnya saja masih ada dipinggir kakinya.

"Kenapa ponsel kamu tidak aktif? Saya kan sudah bilang ponsel kamu harus selalu aktif. Terus kenapa kamu diantar pria itu? Jawab Aleesya!!" Alarich terlihat marah dia sedikit meninggikan nada suaranya.

Aleesya hanya bisa menunduk dan menitikan airmata. Dia tidak sanggup bicara badannya terasa lelah hari ini. Padahal ini sudah malam Aleesya pun belum mandi lagi semenjak dari rumah tantenya tadi.

Alarich berdiri dia mendekati Aleesya. Memeluknya erat, dia merasa sudah keterlaluan membentak Aleesya. Padahal dia melihat sekilas luka disudut bibir wanita itu. Sungguh Alarich merasa bersalah.

"Maafkan aku...maafkan aku Aleesya. Aku sangat khawatir." Alarich tetiba mengecup kepala gadis pujaannya Lalu mengelus rambut Aleesya.

Aleesya seperti tidak merasakan apa-apa ketika di peluk Alarich. Pandangannya kosong. Aleesya merasa semua orang hanya memanfaatkan dirinya saja. Dia juga tidak membalas perlakuan Alarich. Dia hanya diam mematung.

"Mana yang belum di bereskan mas? Aku mulai bekerja sekarang." Aleesya melepaskan pelukan Alarich dia juga menghapus air matanya. Dia pergi ke dapur tanpa permisi.

Alarich hanya bisa menghela nafas. Sepertinya tindakannya tadi sedikit melukai hati Aleesya. Alarich ke kamarnya menelepon Bastian. Untuk mencari tahu apa yang di alami Aleesya tadi siang sampai sore.

Alarich keluar dari kamarnya lagi, lalu menghampiri Aleesya yang lagi di dapur. Aleesya sedang mengelap meja dapur. Alarich berdiri dibelakangnya lalu memeluknya. Kegiatan Aleesya terhenti seketika.

"Tolong lepas mas, aku lagi kerja!" Ucap Aleesya dengan bibir bergetar tanpa menoleh sedikit pun. Hati dia benar benar kacau sekarang. Dia masih memikirkan perkataan tantenya.

"harusnya kamu ikut ma-ti waktu kecelakaan itu"

Itulah kata-kata yang diucapkan tante Mira. Masih teringat jelas di benak Aleesya.

Alarich membalikan badan Aleesya. "Alee ... Aku benar benar minta maaf. Aku sudah keterlaluan bentak kamu." Alarich membelai wajah cantik Aleesya.

Aleesya hanya bisa memandang Alarich tanpa berkedip. Dia membalikan badannya lagi. Dia juga tidak menjawab permintaan maaf dari Alarich.

Alarich mengalah, dia pergi membiarkan Aleesya sendiri dulu. Mungkin kalau nanti Aleesya merasa baikan, Alarich akan menemuinya lagi.

Alarich pergi ke kamarnya. Lalu Aleesya melanjutkan pekerjaannya dan juga memasak makan malam untuk tuannya itu. Makan malam itu selesai dibuat oleh Aleesya. Dia mengetuk pintu tuannya.

TOK TOK TOK

"Mas ... Makan malamnya sudah siap." Aleesya menunggu diuar pintu. Alarich tak lama keluar sudah dengan kaos hitam polosnya dan celana jogger panjang membuat aura ketampananya bertambah.

Aleesya mengerjap pelan melihat Alarich sudah nampak segar. "Silahkan mas. Aku permisi." Ketika Aleesya ingin pergi.

Tangan Alarich menarik Aleesya "Kamu mau kemana?"

"Aku mau mandi, sama beresin baju-baju!" Aleesya menunjuk tas yang masih ada di ruang tamu. Alarich melepaskan tangannya.

"Aku tunggu. Kita makan bersama."

Tanpa banyak bicara Aleesya mengangguk pelan lalu pergi dari hadapan Alarich menuju kamar sebelah. Dia masuk dan langsung mandi. Juga membereskan sebentar baju baju dan peralatannya.

-

-

-

Selesai mandi, Aleesya keluar kamar. Dia melirik Alarich yang sudah menunggunya. Dia berjalan perlahan mendekati Alarich. "Aku udah selesai." Aleesya masih berdiri.

"Sini duduk sebelah aku." Aleesya dengan langkah ragu dia pun mendekati boss tampannya itu. Dia duduk di pinggir Alarich.

"Ayo makan." Aleesya mengangguk pelan. Dia mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Dia tidak menyadari Alarich tengah memperhatikannya.

"EHM...!" Alarich berdeham.

Aleesya melirik Alarich "Kenapa mas? Engga enak?"

"Nih, harusnya aku dulu yang kamu tuangi nasi." Ucap Alarich yang menyodorkan piring kosongnya ke tangan Aleesya.

Aleesya tanpa membantah dia menuruti keinginan Alarich. Dia mengambilkan nasi dan lauknya. "Ini mas sudah."

Aleesya lanjut makan, dia tidak bicara. Hari ini dia sedikit pendiam. Memang pendiam sebelumnya juga, tapi malam ini Aleesya lebih pendiam lagi.

Alarich melirik Aleesya dari sudut matanya. Hanya suara dentingan sendok dan garpu. Makan malam itu selesai. Aleesya beranjak dari meja makan membawa piring kotor dirinya dan punya Alarich. Dia pergi ke wastafel untuk mencuci piring.

Alarich berdiri dia pindah ke sofa ruang tamu sambil membuka laptopnya. Menunggu Aleesya selesai.

Dia ternyata membuatkan teh hangat untuk Alarich. Dia tak sengaja melihat Alarich serius didepan laptopnya. "Ini mas di minum dulu. Aku permisi mas."

Ketika Aleesya ingin pergi, Alarich berdiri menahan tangan Aleesya. Tatapan mereka bertemu, Aleesya hanya diam tak bicara. Alarich mendekat mengikis jarak. Dia membelai wajah wanitanya yang cantik.

Satu tangan Alarich meraih pinggang Aleesya agar semakin rapat. Aleesya hanya diam dan menatap wajah tampan itu tanpa membalas perlakuannya.

CUP

Alarich mencium bibi merah itu. Alessya sontak membulatkan matanya. Aleesya menelan salivanya. Alarich malah menciumnya lagi dengan lembut.

Aleesya masih belum membuka bibirnya. Dia masih polos dekat dengan pria saja tidak pernah. Baru pertama kali bersama Alarich.

Alarich menciumnya melumatnya, dia menggigit bibir bawah Aleesya. Hingga wanita itu membuka mulutnya. Alarich semakin gencar mengeksplore rongga mulut Aleesya.

Bibir Aleesya sudah basah. Dia akhirnya mencoba mengikuti alur Alarich. Meskipun dia tidak bisa. Dia mencoba membalas ciuman Alarich.

Alarich tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya Aleesya membalasnya. Suara decakan itu memenuhi ruangan di apartment itu.

Aleesya melepaskan ciumannya. Aleesya sendiri tidak bisa menebak isi hatinya seperti apa. Yang jelas dia merasa aman berada dekat Alarich.

"Besok kita ke dokter yah, kita obatin luka di punggung kamu. Maafkan aku yang bodoh ini. Aku akan melindungimu mulai sekarang." Ucap Alarich.

"Iya mas."

"Masih sakit enggak?" Alarich menyentuh pelan ujung sudut bibir Aleesya yang agak memar. "Masih perih sedikit mas, tapi enggak terlalu." Aleesya tersenyum lembut.

Ternyata Alarich sangat perhatian padanya. "Mas, aku boleh tidur duluan? Aku lelah sekali hari ini." Aleesya menunduk dia tak enak sebenarnya tapi dia sangat amat lelah setelah kejadian hari ini.

"Boleh, aku masih ada kerjaan, kamu tidur duluan aja."

Aleesya pamit duluan ke kamarnya. Dia juga langsung memejamkan matanya. Aleesya berlinang air mata dalam tidurnya.

"Mah ...pah ...Aleesya benci tante Mira...! Kenapa mamah papah enggak bawa Aleesya aja? Aleesya sendirian mah, pah!" Aleesya bergumam dalam hatinya sembari memejamkan matanya.

-

-

-

Alarich melihat photo yang dikirimkan Bastian. Disana terlihat Aleesya ditampar lalu di dorong oleh tantenya. Alarich bersumpah akan melindungi wanitanya. Dia akan membuat perhitungan pada perusahaan Lukman, omnya Aleesya.

"Kau akan jatuh perlahan Lukman. Aku paling benci adanya penyiksaan. Jangan harap kalian bisa hidup tenang."

Alarich seringai licik, senyumannya mematikan. Dia memang dari dulu kurang begitu suka dengan Lukman, tapi karena ayahnya yang memaksa dia untuk investasi ke perusahaan Lukman, mau tidak mau dia menuruti perkataan ayahnya.

Episodes
1 Aleesya Shaabira Bagaskara
2 Alarich Dewantara
3 Luka Batin dan Fisik
4 Tinggal bersama (?)
5 Mereka Kekasih?
6 Melindungi Aleesya
7 Peringatan Pertama
8 Orang Tua Alarich
9 Menikah Dadakan
10 Aleesya Anak Nania?
11 Menyelidiki Kecelakaan
12 Honeymoon
13 Honeymoon 2
14 Semakin Cinta Aleesya
15 Rumah Masa Depan
16 Syukuran Rumah Baru
17 Hamil ?
18 Rindu Mamah dan Papah
19 Pulang Ke Rumah
20 Resepsi Aleesya dan Alarich
21 NANIA SUBAGYO & MARIO BAGASKARA
22 Siapa Monica ?
23 Suami Posesive
24 Trauma Aleesya
25 Luka Mendalam
26 Hipnoterapi
27 Babymoon
28 Keluarga Bagaskara
29 Titik Terang
30 Kejahatan Mira dan Lukman
31 Penderitaan Aleesya
32 Penderitaan Miko
33 Mengadu Domba
34 Menjebak Revan Bagaskara
35 Bertemu Keluarga Bagaskara
36 Panggil Opah & Omah
37 Kecelakaan Aleesya
38 Menunggu Aleesya
39 Aleesya Tersadar
40 Tanggung Resikonya
41 Menjadi Mata-Mata
42 Siapa Yang Jatuh Duluan ?
43 Abimana Palsu
44 Mira Minta Maaf
45 Taman Hiburan
46 Siapa Wirya Atmaja ?
47 Tertangkap Sudah
48 TERUNGKAP !
49 Alarich Murka !
50 Menghibur Sang Isteri
51 Lukman & Mira Kabur
52 Penyesalan Abimana
53 Penyergapan Lukman & Mira
54 Menunggumu
55 Keluarga Baru Aleesya
56 4 Bulanan
57 Persidangan
58 Pesta Kejutan
59 Pemilik Baru
60 Pemimpin Baru
61 Bedrest
62 Aleesya Melahirkan
63 Athalla & Alana
64 Jalur Lain
65 Produksi Lagi
66 Panti Asuhan
67 Liburan Bersama
68 Evan & Janisa
69 Jodoh Untuk Nathan
70 Mira Berulah Lagi
71 Revan Kabur !
72 Aleesya Disandera
73 Athala dan Alana Demam
74 Savian Tersadar
75 Bagaskara Berduka
76 Rumah Masa Kecil Aleesya
77 Dia Menyukai Istriku ?
78 Hamil Lagi ?
79 Janisa & Evan Resmi
80 Dinner Romantis
81 Liburan Ke Pantai
82 Pengganggu !!!
83 Kejutan Untuk Alarich
84 Penyesalan Mira
85 Berdamai Dengan Masa Lalu
86 Pertemuan Aleesya dan Mira
87 Kontraksi Palsu
88 Ulang Tahun Athala & Alana
89 Melahirkan Lagi
90 Aqiqah Atharya
91 Nostalgia
92 Orang Misterius
93 Jodoh Nathan?
94 Nathan & Tara
95 Menikah Dadakan ?
96 Merindukanmu
97 First Kiss
98 Nasihat Pernikahan
99 Malam Pertama
100 Dia Lagi ?
101 Alana Possessive
102 Paket C
103 Masa Lalu Nathan
104 Resepsi Nathan dan Tara
105 Di Jodohkan ?
106 Masih Keluarga
107 Masa Lalu Alarich
108 Rujuk Kembali
109 Pernikahan Di Hari Yang Sama
110 Tarra Hamil ?
111 Me Time
112 Permintaan Maaf
113 Burungnya Harus Di Kurung
114 Anak Ke Tiga
115 Cemburunya Bumil
116 Babymoon Ketiga
117 Salah Paham
118 Nambah Lagi
119 Calon Menantu
120 Ulang Tahun Atharya
121 Tarra Melahirkan
122 Janisa Juga Melahirkan
123 Cemburu
124 Ariana Dewantara
125 Me Time Bersama Istri
126 Hadiah Untuk Ariana
127 Bonchap 1
128 Bonchap 2
129 Bonchap 3
130 Bonchap 4
131 Bonchap 5
132 Bonchap 6
133 Bonchap 7
134 Bonchap 8
135 Bonchap 9
136 Bonchap 10
137 Bonchap 11
138 Bonchap 12
139 Bonchap 13
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Aleesya Shaabira Bagaskara
2
Alarich Dewantara
3
Luka Batin dan Fisik
4
Tinggal bersama (?)
5
Mereka Kekasih?
6
Melindungi Aleesya
7
Peringatan Pertama
8
Orang Tua Alarich
9
Menikah Dadakan
10
Aleesya Anak Nania?
11
Menyelidiki Kecelakaan
12
Honeymoon
13
Honeymoon 2
14
Semakin Cinta Aleesya
15
Rumah Masa Depan
16
Syukuran Rumah Baru
17
Hamil ?
18
Rindu Mamah dan Papah
19
Pulang Ke Rumah
20
Resepsi Aleesya dan Alarich
21
NANIA SUBAGYO & MARIO BAGASKARA
22
Siapa Monica ?
23
Suami Posesive
24
Trauma Aleesya
25
Luka Mendalam
26
Hipnoterapi
27
Babymoon
28
Keluarga Bagaskara
29
Titik Terang
30
Kejahatan Mira dan Lukman
31
Penderitaan Aleesya
32
Penderitaan Miko
33
Mengadu Domba
34
Menjebak Revan Bagaskara
35
Bertemu Keluarga Bagaskara
36
Panggil Opah & Omah
37
Kecelakaan Aleesya
38
Menunggu Aleesya
39
Aleesya Tersadar
40
Tanggung Resikonya
41
Menjadi Mata-Mata
42
Siapa Yang Jatuh Duluan ?
43
Abimana Palsu
44
Mira Minta Maaf
45
Taman Hiburan
46
Siapa Wirya Atmaja ?
47
Tertangkap Sudah
48
TERUNGKAP !
49
Alarich Murka !
50
Menghibur Sang Isteri
51
Lukman & Mira Kabur
52
Penyesalan Abimana
53
Penyergapan Lukman & Mira
54
Menunggumu
55
Keluarga Baru Aleesya
56
4 Bulanan
57
Persidangan
58
Pesta Kejutan
59
Pemilik Baru
60
Pemimpin Baru
61
Bedrest
62
Aleesya Melahirkan
63
Athalla & Alana
64
Jalur Lain
65
Produksi Lagi
66
Panti Asuhan
67
Liburan Bersama
68
Evan & Janisa
69
Jodoh Untuk Nathan
70
Mira Berulah Lagi
71
Revan Kabur !
72
Aleesya Disandera
73
Athala dan Alana Demam
74
Savian Tersadar
75
Bagaskara Berduka
76
Rumah Masa Kecil Aleesya
77
Dia Menyukai Istriku ?
78
Hamil Lagi ?
79
Janisa & Evan Resmi
80
Dinner Romantis
81
Liburan Ke Pantai
82
Pengganggu !!!
83
Kejutan Untuk Alarich
84
Penyesalan Mira
85
Berdamai Dengan Masa Lalu
86
Pertemuan Aleesya dan Mira
87
Kontraksi Palsu
88
Ulang Tahun Athala & Alana
89
Melahirkan Lagi
90
Aqiqah Atharya
91
Nostalgia
92
Orang Misterius
93
Jodoh Nathan?
94
Nathan & Tara
95
Menikah Dadakan ?
96
Merindukanmu
97
First Kiss
98
Nasihat Pernikahan
99
Malam Pertama
100
Dia Lagi ?
101
Alana Possessive
102
Paket C
103
Masa Lalu Nathan
104
Resepsi Nathan dan Tara
105
Di Jodohkan ?
106
Masih Keluarga
107
Masa Lalu Alarich
108
Rujuk Kembali
109
Pernikahan Di Hari Yang Sama
110
Tarra Hamil ?
111
Me Time
112
Permintaan Maaf
113
Burungnya Harus Di Kurung
114
Anak Ke Tiga
115
Cemburunya Bumil
116
Babymoon Ketiga
117
Salah Paham
118
Nambah Lagi
119
Calon Menantu
120
Ulang Tahun Atharya
121
Tarra Melahirkan
122
Janisa Juga Melahirkan
123
Cemburu
124
Ariana Dewantara
125
Me Time Bersama Istri
126
Hadiah Untuk Ariana
127
Bonchap 1
128
Bonchap 2
129
Bonchap 3
130
Bonchap 4
131
Bonchap 5
132
Bonchap 6
133
Bonchap 7
134
Bonchap 8
135
Bonchap 9
136
Bonchap 10
137
Bonchap 11
138
Bonchap 12
139
Bonchap 13

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!