20. Bantuan Dari Syukur

“Aku mohon tolong aku!” ucap Bian berat kepada Syukur yang ia tatap. Ia menghela napas dalam di tengah kegaduhan jauh di lubuk dadanya yang paling dalam.

Di hadapan Bian, Syukur yang kembali memakai jaket kulit langsung menyikapinya penuh keseriusan.

“Karena apa yang Titi alami, hubungan kami makin jauh dari restu.” Selain berat, kali ini Bian juga berucap sambil menahan tangis

“Tolong ceritakan semuanya kepadaku. Apa pun itu, ... aku akan selalu membantumu!” tegas Syukur sungguh-sungguh.

Balasan penuh kesungguhan dari Syukur membuat Bian mengakhiri tatapannya dari Syukur. Namun bersamaan dengan itu, isak tangisnya pecah. Bian menangis tersedu-sedu bahkan sampai sesenggukan. Tangis yang terdengar sangat memilukan bahkan di telinga Bian sendiri.

Di depan restoran milik Elra dan itu masih di tempat parkir, Syukur sengaja memberikan pelukannya.

Suasana yang agak ramai pengunjung restoran membuat kebersamaan Bian dan Syukur menjadi pusat perhatian. Namun, baik Bian maupun Syukur tak peduli.

Kini, semesta alam bahkan Sang Pemilik Kehidupan menjadi saksi untuk keakuran kedua pria tersebut. Karena sebelumnya, keduanya apalagi Bian, anti dan selalu menghindari Syukur. Semua ini terjadi karena mereka sama-sama mencintai Elra. Bedanya, ketika Bian terus mengejar Elra hingga yang dikejar ketakutan, Syukur justru sibuk menghindari Elra karena tidak enak pada Bian sekeluarga.

“Menjadi keluarga angkat saya, bisa membuat hubungan ibu dengan keluarga mas Bian, tidak begitu runyam. Kasihan juga Titi dan mas Bian andai mereka harus berpisah hanya karena perbedaan kasta di antara mereka,” ucap Syukur yang duduk sila di hadapan ibu Tuti.

Syukur dan ibu Tuti duduk di ruang depan. Namun karena suasana terlalu sepi, Titi yang baru kembali dari tubuh Jia, bisa mendengarnya. Lebih tepatnya, keadaan Titi seolah dirinya baru saja bangun tidur. Tubuhnya diselimuti di tengah tempat tidur. Padahal, ia telah menjalani perjalanan waktu. *Time travel* bahkan transmigrasi kehidupan.

“Kira-kira, apa saja yang sudah terjadi? Ini aku beneran baru bangun, atau ada yang sudah berubah lagi?” pikir Titi yang kemudian langsung ingat ponsel Jeam.

Titi sengaja membawa ponsel Jeam untuk membuktikan bahwa di ponsel Jeam di tahun sekarang, ada videonya saat digili.r.

Ajaibnya, ponsel tersebut sungguh ada di tangan kanan Titi. Titi meraihnya dari balik selimut tebal warna kuning yang menyelimuti tubuhnya.

“Beneran!” heboh Titi yang langsung memastikannya. Masalahnya, sandi di ponsel Jeam tak mungkin bisa Titi buka karena jari Jeam saja tak ada di sana.

“Aku beneran kecolongan ...,” batin Titi langsung menunduk lemas.

Namun kemudian, Titi yang merenung serius berpikir, apakah hari ini dirinya akan bertemu Jeam? Karena kemarin saja, dirinya bisa langsung bertemu polisi Pram tak lama setelah Titi menjadi dirinya lagi.

Titi yakin, dalam waktu dekat, ia akan dipertemukan dengan Jeam. “Selain ponsel, apa yang harus aku bawa? Jika aku membun.uhnya seperti saat kemarin, apakah keadaan juga akan menjadi kecelakaan?” pikir Titi.

Beberapa saat kemudian, ibu Tuti masuk ke dalam kamar. Karena sekat pembatas hanya berupa gorden, ia bisa dengan sangat mudah dalam melakukannya.

“Cepat ke sini. Mas Syukur ingin berbicara denganmu,” ucap ibu Tuti berat.

Titi tidak tahu, kenapa kini hidupnya tak lebih dari hanya untuk balas dendam? Selebihnya, Titi tak memiliki pilihan lain, selain dari Titi yang berniat untuk selalu menghindari Bian.

Mau tak mau Titi menemui Syukur. Biar bagaimanapun Syukur sudah sangat berjasa kepadanya. Selain itu, sejauh mengenal pun Syukur selalu bersikap baik. Meski sebenarnya, Titi juga khawatir bahwa hadirnya Syukur masih ada hubungannya dengan Bian.

“Mas Syukur akan mengangkat aku sebagai adiknya agar bisa mempermudah hubungan kami?” pikir Titi yang kemudian berkata, “Aku tidak mengharapkan apa pun selain aku yang tak ingin merusa.k hubungan anak dan orang tua, Mas. Aku tidak mau mengambil kak Bian dari keluarga apalagi orang tuanya!” ucap Titi sangat santun.

“Biarkan kak Bian menikah dengan wanita lain sesuai restu orang tuanya. Karena aku tidak mungkin melakukannya dengan siapa pun. Aku sadar diri!” yakin Titi sambil menunduk dalam.

“Ti, ... konsepnya tidak begitu,” lirih Syukur.

“Ini beneran yang terbaik loh, Mas. Bayangkan saja kalau Mas yang ada di posisi saya. Bayangkan saja andai Mas yang ada di posisi orang tua apalagi mamanya kak Bian,” yakin Titi yang kali ini memberanikan diri untuk menatap Syukur. Ia melakukannya sambil susah payah menahan tangis. Agar air matanya tidak berlinang meski keadaannya benar-benar menyakitkan. Hatinya terlalu pedih, terlebih jika Bian terus mengharapkannya.

“Aku tidak akan menikah, jadi biarkan kak Bian saja yang melakukannya. Sumpah aku tidak akan menikah. Biar semuanya tidak berlarut-larut,” lanjut Titi yang pada akhirnya tetap berlinang air mata meski ia sudah susah payah menahannya.

Di balik tirai, di depan kasur, ibu Tuti yang mendengar ucapan sang putri juga jadi menangis tersedu-sedu. Namun, layaknya Titi, ia juga susah payah menahannya. Kedua tangannya menekap wajah erat, agar suara tangisnya tak terdengar orang lain.

“Beginilah sakitnya jadi orang kecil, Ti! Namun andai kamu ikut papamu, ... andai dia tahu bahwa ini kamu ... semua orang pasti akan segan kepadamu,” batin ibu Tuti masih sesenggukan parah.

Suasana di luar masih cukup cerah karena hari ini memang agak mendung. Titi berniat keluar kontrakan agar dirinya bisa secepatnya bertemu Jeam.

“Aku mau coba cari pekerjaan. Mumpung masih siang dan suasananya cerah, Mas!” Sambil mengelap air matanya, Titi sengaja mengakhiri pertemuan mereka.

“Lanjutkan pendidikanmu. Tidak usah bekerja, biar sku yang mengurus semuanya!” tegas Syukur.

“Enggak, Kak. Tidak perlu!” yakin Titi jadi takut jika Syukur terus ingin memberinya pertolongan.

“Kamu tahu, setiap gerakmu diawasi? Aku lihat, kamu menjalani dua kehidupan, dua kisah, tapi satu pemeran utama,” ucap Syukur yang lagi-lagi melihat sosok Jia di dalam diri Titi. Kebetulan, Syukur memang seorang indigo yang bisa melihat kejadian tak kasatmata tanpa disertai suara. Selain itu, Syukur juga bisa melihat masa lalu maupun masa depan.

“Aku melihat wanita penuh luka. Dia berusia lebih dewasa dari kamu. Dia memiliki sebagian kehidupanmu,” ucap Syukur lagi.

“Hah ...? Mas Syukur bisa melihat yang *begituan*, ya? Dia indigo?” pikir Titi jadi ketar-ketir sendiri.

“Katakan kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi agar aku bisa membantumu!” sergah Syukur lagi. “Karena yang kemarin saja, ... itu sangat aneh dan di luar nalar!”

“Sebenarnya, ... aku mengetahui pelaku utamanya, Mas!” tegas Titi yang juga menyinggung pemuda bertato kalajengking di tangan kirinya.

“Dan sekarang, aku punya ponsel pelaku utamanya, Mas! Saat kejadian, hape ini yang digunakan untuk mengabadikan perbuatan biadab yang mereka lakukan kepadaku!” yakin Titi lagi sampai detik masih berbisik-bisik agar tidak terdengar orang lain. Syukur makin menyikapinya penuh keseriusan.

“Coba aku lihat. Harusnya ada jejak sandi di layar. Sandi pola setipis apa pun jejaknya!” yakin Syukur optimis, terlepas dari dirinya yang juga nota bene merupakan ketua mafia utusan mbah Syam. Karenanya, ia juga ingin menolong Titi hingga tuntas.

Terpopuler

Comments

Erina Munir

Erina Munir

sakit jiwa si jeam

2024-07-15

1

Arni

Arni

semoga syukur bs membuka dan tahu sandinya

2024-07-02

0

Firli Putrawan

Firli Putrawan

alhamdulillah syukur bs mau bantu titi, bian udah bs menerima syukur dan minta tolong biar cpt ada solusi semua masalah titi sm bian

2024-07-02

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 44 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!