2. Noda Merah di Seprai

“T—tolong ....” Entah sudah ke berapa ratus kali kata itu terucap dari bibir tipis Titi. Tak beda dengan tubuhnya, bibir Titi juga sudah gemetaran parah. Nyawa Titi seolah dicabut paksa, ia lemas tak berdaya setelah digi—lir oleh Jeam dan keempat teman pria blesteran itu.

Celana Titi sudah diturunkan sempurna, begitu juga dengan bajunya yang disibak sepenuhnya ke atas. Titi tak sampai ditelan.jangi, begitu juga dengan kelima pria yang melakukannya. Mereka yang beramai-ramai melakukannya, hanya agak menurunkan celana levis yang dipakai. Mereka sungguh memperlakukan Titi dengan brutal di tengah tawa yang terus pecah. Mereka tak segan menggunakan kekerasan. Pukulan, jambakan, bahkan tendangan kerap mereka lakukan. Sambil tertawa, mereka juga tak segan meludah.i Titi. Hingga lebam dan darah juga turut mewarnai tubuh Titi.

Air mata dan keringat menyatu membuat tubuh Titi kuyup. Namun, itu bukan hanya keringat Titi. Sebab kelima pria biada.b di sana juga turut andil menyumbang keringat bahkan lebih. Kelimanya yang melakukan perbuatan keji itu di sebuah lahan kosong, juga tak segan mengencingi alat vi.tal, wajah, dan juga bagian tubuh Titi yang lain. Dan semua kejadian itu, sengaja direkam menggunakan ponsel Jeam. Jeam berdalih video tersebut sengaja untuk koleksi atau malah dijadikan hadiah untuk Bian. Namun keempat temannya berdalih bahwa mereka bisa mendapatkan uang andai mereka mau menjual video tersebut ke pihak khusus.

Hujan deras mendadak mengguyur di antara gelegar petir yang sibuk menyambar. Seolah, semesta alam bahkan Pemilik Kehidupan, murka dengan apa yang Jeam dan keempat temannya lakukan. Apalagi, meski sudah menoda.i Titi, kelimanya juga sengaja membuat Titi seolah-olah mengalami kecelakaan lalu lintas tunggal.

Sepeda listrik milik Titi yang sempat Jeam dan keempat temannya tinggal memang sengaja kelimanya angkut. Jeam selaku dalang dari rencana tersebut mendadak memiliki skenario dan dirasanya lebih jitu. Jeam akan membuat seolah Titi mengalami kecelakaan lalulintas tunggal.

Di tengah hujan yang mengguyur, Jeam dan keempat rekannya menaruh tubuh Titi di pinggir trotoar jalan sepi. Sementara sepeda listriknya juga turut mereka geletakkan agak menindih kaki Titi. Bisa Jeam dan keempatnya pastikan, tak ada yang melihat ulah mereka. Skenario sekaligus balas dendam mereka kepada Bian, benar-benar sukses.

“Ya Allah ... izinkan hamba memberi mereka pelajaran! Agar sampah-sampah seperti mereka tak seenaknya merusak hidup orang!” batin Titi mengutuk Jeam dan juga keempat rekannya.

Meski kelima pelaku sengaja menutupi sebagian wajah menggunakan masker, Titi hafal mata, alis, apalagi suara kelimanya. Terlebih ketika kelimanya tertawa dan membuat Titi makin jijik kepada kelimanya.

Titi yang sudah tak berdaya karena bernapas saja nyaris tak sanggup, sengaja mengerahkan sisa tenaganya yang tak seberapa untuk melihat mobil jeep milik Jeam. Titi sengaja menghafal plat mobil Jeam. Iya, Titi sungguh hafal. Meski detik kemudian, ia tak lagi bisa mendengar apa pun bersamaan dengan pandangannya yang benar-benar gelap.

Sekitar lima belas menit kemudian, seorang pria yang kebetulan membonceng ibu-ibu hamil, menemukan Titi. Titi yang sudah kembali memakai pakaian dengan benar, mereka dapati penuh lebam dan bibirnya saja bengkak berdarah. Namun anehnya, motor yang menindih Titi, tak mengalami kerusakan berarti bahkan itu sekadar lecet. Sambil terus berlindung di bawah payung mereka, kedua orang yang menemukan Titi berinisiatif menelepon bantuan.

Sementara itu, di kediaman orang tua Bian yang megah, ibu Tuti selaku ibunya Titi, masih menanti kedatangan sang putri. Titi yang harusnya tak sampai pulang lewat pukul sembilan malam, kini malah belum pulang meski sudah nyaris pukul dua belas malam.

“Ke mana yah, si Titi? Kok sampai sekarang belum pulang? Sebenarnya dia pergi ke apotek mana?” khawatir ibu Tuti yang memang masih batuk.

Ibu Tuti yang memang sampai memakai kardigan, meninggalkan ruang tamu tempat dirinya menunggu sang putri. Gemetaran ia meninggalkan ruangan pertama setelah pintu masuk di kediaman mewah ia berada. Rumah orang tua Bian memang sangat sepi. Sebab semua anggota Bian sedang pergi keluar negeri. Bian menjadi satu-satunya yang memilih tinggal di rumah.

Di dalam kamarnya, Bian yang tidur tengkurap justru baru membuka mata. Namun, menyadari di sebelahnya kosong dan hanya dihiasi tiga helai rambut panjang kecokelatan, kedua mata Bian berangsur terpejam erat. Tubuh tegap yang telah diselimuti hingga punggung itu perlahan gemetaran. Termasuk juga dengan kedua tangannya yang ada di bawah selimut. Kedua tangan Bian mengepal kencang. Perlahan tapi pasti, Bian menggunakan tangan kanannya untuk menyibak selimut biru telur bebek di sebelahnya.

Di tengah napasnya yang jadi tak beraturan, Bian juga berangsur membuka kedua matanya. Butiran bening mengalir dari ujung mata kiri Bian seiring dadanya yang kebas akibat apa yang ia temukan. Darah terbilang lumayan ada di sana, di bekas teman tidurnya harusnya berada. Alasan yang membuat Bian merasa sangat bersalah. Sementara Titi selaku sosok yang Bian yakini sebagai pemiliknya justru sudah tidak ada.

“Maaf, Ti ... ya sudah, ... ayo kita menikah saja. Entah apa yang ada di makanan dan minuman kita. Karena setelah pulang makan dari restoran Elra, kita sama-sama menyadari ada yang berbeda dengan diri kita. Ada yang mengendalikan tubuh kita. Kita sudah berusaha menolak, tapi ....”

Bian berangsur duduk kemudian menghela napas dalam. Ia meremas kepalanya hingga rambut pendek rapinya jadi berantakan. Selain pakaiannya yang sudah ditaruh di meja, Bian juga yakin masih Titi juga yang menyelimutinya.

Ketukan pintu dari luar kamarnya, mengusik Bian. Bian mengalihkan tatapannya dari selimut maupun pakaian dan ia yakini masih serba Titi yang merapikan. Bian pikir, yang datang memang Titi. Namun ternyata itu ibu Tuti yang mengatakan bahwa sampai saat ini, Titi belum pulang.

“Ya sudah, kalau gitu saya yang cari Titi. Ibu di rumah saja, tapi kabari saya jika Titi sudah ada kabar!” sergah Bian buru-buru melakukan pencarian.

Bian melakukan pencarian menggunakan mobil. Namun sebelum pergi, ia juga meminta satpamnya maupun satpam kompleks untuk ikut membantu pencarian.

Hujan tak lagi sederas sebelumnya. Petir yang sempat sibuk menyambar juga tak lagi terdengar. Hanya kilatnya saja yang sesekali tampak dari kejauhan. Di tengah kenyataannya yang gundah gulana, Bian yang menatap saksama kanan kiri jalan yang dilalui jadi khawatir. Jangan-jangan Titi sengaja pergi setelah apa yang terjadi ke mereka.

“Gimana, ya ...? Ya ampun, Ti ... masa iya, kamu yang tahu aku saja, tetap enggak mau nikah sama aku. Apa lagi orang lain, Ti. Kita harus menikah agar Elra dan Syukur bersatu. Apalagi kita sudah ... ah!” Bian yang kembali memakai kemeja lengan panjang warna putih, sampai menggebrak setir mobilnya.

Bian merasa frustrasi sekaligus merasa sangat bersalah kepada Titi. Selain itu, Bian juga khawatir ke Titi terlebih kini sudah malam. Layaknya kekhawatiran Bian, di rumah sakit tempat Titi ditangani, Titi kritis.

Terpopuler

Comments

Nartadi Yana

Nartadi Yana

wah siapa yang naruh obat fimakana bian dan titi kan bisa dicek lewat cctv bukannya itu rumah makan milik mas Kim dan masih kerabat papa hasan

2024-12-26

0

Hilmiya Kasinji

Hilmiya Kasinji

astaghfirullah , jahat banget di jem n Genk nya 🥺🥺 eh , tapi ini berarti si Titi SDH duluan diperawani si Bian ya dlm keadaan gak sadar

2024-06-29

1

Firli Putrawan

Firli Putrawan

oh jd titi jg udah G perawan tp jahat nya tuh orang2 kasian titi gmn bian kl tau y ampun

2024-06-17

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 44 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!