“Jika kamu tidak bisa membahagiakan kedua wanita yang kamu sayangi, sementara kamu belum menikah. Minimal kamu harus tetap menjaga perasaan mama kamu!” tegas pak Hasan emosional. “Papa saksi, mamamu nyaris giiilla hanya karena menanti kehadiranmu. Mamamu mengurusmu penuh cinta, dia berjuang di antara kegersangan kasih sayang setelah kedua orang tuanya terlalu abai kepadanya!”
Pak Hasan mengajak Bian berbicara empat mata di kamar Bian. Keduanya saling berhadapan. Mereka yang sama tingginya, tapi tubuh Bian jauh lebih tegap, nyaris tak berjarak. Sebab pak Hasan yang tengah sangat emosional, seolah akan menerkam Bian hidup-hidup.
Alih-alih menjawab, Bian yang tetap menunduk berangsur berlutut. “Mama punya Papa ... sementara Titi tidak punya siapa-siapa. Kasus yang kita kawal saja sampai dimanipulasi. Apa jadinya jika Titi harus berjuang sendiri?”
“Demi apa pun, Pa ....” Air mata Bian berlinang membasahi pipi. Bian menatap sang papa dengan sangat memelas. “Meski aku dengan Titi, bukan berarti aku meninggalkan baktiku kepada kalian.”
Pak Hasan menepis tataan Bian.
“Apakah karena Titi anak pembantu kita? Dia begitu juga bukan maunya, Pa. Karena andai bisa memilih, Titi pasti minta yang lebih. Titi pasti ingin juga menjadi seperti kita.”
“Titi orang yang ulet, ... dia cerdas. Masa depannya masih akan tetap cerah meski badai dahsyat telah menghanc.urkannya. Asal ada yang menuntun, Titi pasti bisa. Namun jika setelah ini dia justru dibiarkan berjuang sendiri, yang ada dia justru jadi makin terpuruk.”
“Para oknu.m tengah mengintainya. Nyawa Titi dalam bahaya. Jika Papa tak percaya, tanya saja ke mbah Syam!”
“Intinya, ... apa pun yang terjadi kepadaku. Termasuk meski aku dan Titi menikah, beneran tidak akan mengurangi baktiku kepada Papa dan mama sebagai orang tuaku!” Bian benar-benar tengah memohon.
Meski berat, pak Hasan jadi menatap Bian.
“Mama punya Papa. Mama tanggung jawabnya Papa. Dunia masih akan berputar, ... kiamat tidak akan mendadak datang hanya karena aku menikahi anak pembantu yang telah dinoda.i oleh musuhku!” tegas Bian. “Justru andai aku lepas tangan mengikuti arahan kalian, berarti aku pengec.ut!”
“Papa tahu, aku tidak bisa bersama Elra karena Elra tetap hanya ingin dengan Syukur. Sementara sejauh ini, satu-satunya orang yang bisa membuatku semangat hanyalah Titi. Bayangkan jika Papa jadi aku, sementara Titi itu ... mama. sesederhana itu!” ucap Bian yang kemudian kembali menunduk sambil terus berlutut.
Di tempat berbeda, Titi dan ibunya baru saja sampai kontrakan kecil. Kontrakan tersebut ada di kawasan padat penduduk. Selain sangat berisik karena penghuninya juga banyak, keadaan di sana juga terbilang kumuh.
“Kita bisa cari kontrakan yang lebih besar dari ini,” ucap Syukur merasa berat membiarkan Titi dan ibu Tuti tinggal di kontrakan yang baginya terlalu kurang dari kata layak.
“Enggak, Mas Syukur. Ini sudah lebih dari cukup. Sudah, jangan dibantu lagi. Mas sudah terlalu banyak membantu saya!” tolak Titi makin sungkan kepada Syukur.
Syukur yang paham Titi merupakan tipikal yang paling tidak mau merepotkan, berusaha menerima keputusan Titi. “Baiklah. Tunggu di sini. Saya cari makan dulu!”
Pamitnya, Syukur hanya cari makan untuk mereka. Namun selang lima puluh menit dari kepergiannya, Syukur datang bersama satu mobil pick up dan berisi perabotan maupun stok makanan.
“Mas ...?” sergah Titi kebingungan. Di sebelahnya, sang ibu juga tak kalah kebingungan.
“Sudah enggak apa-apa. Biar saya juga bisa tenang untuk membiarkan kalian tinggal di sini. Cukup berdoa yang baik-baik saja!” yakin Syukur.
Setelah sampai ikut membantu menyusun barang-barang, Syukur baru meninggalkan mereka. Kontrakan yang awalnya kosong, kini sudah dihiasi banyak barang. Dari kompor dan perlengkapan dapur. Kasur tanpa dipan lengkap dengan bantal maupun bed cover. Sebuah meja dan dua kursi kayu. Sebuah lemari pakaian plastik, dan juga sembako yang cukup untuk satu bulan.
“Tuh orang kok kok baik banget ya Ti,” ucap ibu Tuti masih heran. Ia masih merasa sulit untuk percaya bahwa di dunia ini ada manusia sebaik Syukur.
“Kita doakan yang terbaik saja ya, Bu. Buat mas Syukur,” lembut Titi sambil tersenyum hangat kepada sang ibu.
Ibu Tuti juga balas tersenyum. Senyum yang terusik oleh dering telepon dari ponsel Titi. Titi bergegas menuju ponselnya yang ada di meja ruang depan. Titi dapati, yang meneleponnya justru kontak Kak Bian. Ibu Tuti yang turut memastikan agar Titi tidak menjawab telepon dari Bian.
“Jangan diangkat, ... jaga jarak! Kalau kamu jaga jarak, den Bian juga pada akhirnya menyerah!” ucap ibu Tuti mendadak galak kepada sang putri.
“Iya, Bu.” Titi juga tidak bisa untuk tidak menurut.
Padahal di tempat berbeda, Bian sudah ada di depan ruang rawat Titi. Namun di dalam sudah ditempati pasien lain, sementara pihak rumah sakit menegaskan bahwa Titi sudah pulang.
“Tetap enggak diangkat juga,” lirih Bian benar-benar gundah. Bian terpaksa mengirimi pesan singkat.
Kak Bian : Kamu di mana? Aku sudah di rumah sakit, tapi kamu enggak ada dan katanya sudah pulang?
Di dalam kamarnya, Titi yang membaca pesan tersebut segera membalasnya. Namun di sebelahnya, sang mama masih memberinya tatapan tajam.
Titi : Aku sudah di tempat tinggal baruku. Aku baik-baik saja.
Kak Bian : Beri aku alamatmu! Keluar dari rumah sakit bahkan sampai sudah punya tempat tinggal, kok enggak kabar-kabar, sih?
“Kenapa enggak diblokir saja? Ujung-ujungnya kamu yang disalahin loh Ti!” tegur ibu Tuti.
“Enggak boleh gitu, Bu. Kita harus selesaikan semuanya dengan baik-baik karena kita pun memulai hubungan ini dengan baik-baik!” yakin Titi.
Dalam hatinya Titi berujar, andai sang ibu tahu. Bahwa sebelum digilir oleh Jeam dan kelima rekannya ia sudah lebih dulu dengan Bian, pasti ibu Tuti akan makin kecewa.
Titi memutuskan untuk mandi. ia membawa pakaian kemudian menggantungnya di paku yang menghiasi dinding. Tiba-tiba saja Titi merenung. Dirinya butuh alamat Jeam.
“Andai nanti aku time travel lagi, ... aku bakalan hafalin alamat rumah Jeam!'' pikir Titi.
“Biar aku juga bisa langsung samperin Jeam!” pikir Titi lagi. Namun kemudian, Titi berinisiatif mencari alamat Jia.
“Iya, bener! Harusnya di berita yang viral, dikit-dikit ada spil alamatnya si Jia. Aku udah enggak mungkin tanya ke kak Bian. Karena mulai hari ini, hubungan kami tak lebih dari mantan pembantu dan majikan.
Beres mandi, Titi sengaja duduk di pinggir tempat tidur. Namun pikirannya tercuri ke botol berisi cairan cabai di ransel tasnya. “Iya, cairan itu!” lirih Titi.
Titi meraih ranselnya kemudian mengambil apa yang tengah ia pikirkan. Tak lama kemudian, botol berisi cairan cabai milik Jia, mendadak bercahaya dan seolah menciptakan lorong waktu. Jiwa Titi maupun botolnya kompak masuk ke dalam lorong waktu. Namun, raga Titi yang ditinggalkan sudah langsung meringkuk di pinggir tempat tidur. Hingga ibu Tuti yang mendapati, mengira sang putri ketiduran. Ibu Tuti sampai menyelimuti tubuh Titi, kemudian melepas handuk dari kepala titi yang masih basah karena Titi memang baru keramas.
❤️❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Ubed Cgm
syukur emang slalu baik pada siapapun .
2024-09-08
1
azka myson28
gara2 bian juga titi sampai digilir...keina si keras kepala sudah pasti akan ada sifat egoisnya menolak keadaan titi tanpa mau melihat dr sisi lain..q kok jadi kangen sama bu arum dan pak kalandra yang tak pernah membeda2kan orang..selalu menebar kasih sayang dan kebaikan pada semua orang
2024-07-17
0
Erina Munir
hahaa seru juga nih crita...
2024-07-15
0