4. Transmigrasi dan Time Travel?

“Apa yang terjadi? Kenapa jiwaku ada di tubuh wanita ini?” Dalam hatinya Titi terus bertanya. Namun setelah Titi awasi, tubuh yang ia tempati tak kalah babak belur dengan tubuh aslinya. Masalahnya, pria yang sempat menindih tubuh wanita yang ia tempati, dirasa Titi kurang waras. Dari cara bicara apalagi menatapnya saja, si pria mirip orang dalam pengaruh obat dan membuat pemakainya ketergantungan. Fatalnya, pria tersebut sampai membawa belati dan terang-terangan seolah akan melukai tubuh yang Titi tempati.

“Jia sayang, ... kemari lah. Bertahun-tahun aku mengincarmu karena kamu sangat mirip dengan istriku,” ucap si pria, lembut tapi tetap terdengar menakutkan bagi Titi.

“Fix, ini enggak bener!” batin Titi yang memilih pergi. Namun belum apa-apa, si pria tak segan melempar belati ke arahnya. Mata kanan wanita yang tubuhnya Titi tempati nyaris menjadi persemayaman belati si pria.

Titi yang sempat histeris, buru-buru pergi. Sia.lnya, pintu kamar dirinya berada dengan si pria justru dikunci!

Ketika Titi panik luar biasa, tidak dengan si pria yang detik itu juga tersenyum puas.

“Enggak ... enggak boleh begini. Aku harus lari! Aku enggak boleh membiarkan wanita ini mengalami apa yang pernah aku alami! Enggak, ... ya Allah biarkan aku lari!” jerit Titi dalam hatinya. Ia yang awalnya mencoba membuka pintu dengan menekan-nekan gagang pintunya, berangsur melipir. Pria psikop.at di hadapannya berusaha mendekat. Iya, pria yang tadi sampai melemparkan belatinya dirasa Titi memang psikopa.t!

“Kemari lah Jia Sayang ... ayo kita bersenang-senang. Aku bersumpah, aku akan membahagiakanmu asal kamu tak pernah meninggalkan apalagi menyelingkuhiku!” ucap si pria.

Geli dan jijik langsung Titi rasakan akibat ucapan si pria. Ucapan yang membuatnya langsung teringat Jeam dan keempat temannya. Sebab ucapan keenamnya intinya sama saja. Bersamaan dengan itu, Titi menyadari bahwa detak jantung tubuh yang ia tempati menjadi makin cepat—tak karuan. Gemetaran juga bisa Titi rasakan mengiringi buih keringat yang membuat tubuh wanita dirinya transmigrasi, basah.

“Apa pun yang terjadi aku harus lari! Aku harus bisa menyelamatkan tubuh ini dan aku juga harus balas dendam kepada kelima pria beja.d itu!” batin Titi. Tekadnya sudah bulat hingga meski pria psiko.pat yang bersamanya berusaha menangkapnya, ia masih bisa melarikan diri.

Namun tubuh yang Titi tempati juga sudah tak berdaya. Hingga meski Titi mencoba melarikan diri, hasilnya juga tak seberapa. Fatalnya, si pria malah kembali mengambil belati yang menancap di lemari pakaian. Kini Titi yang terus melipir sekaligus menghindar, ada di depan cermin rias lagi. Baru Titi sadari, luka di wajahnya bukan hanya lebam dan luka khas tonjokan. Sebab luka-luka garis baik yang di wajah, kedua tangan, bahkan kedua kaki, itu khas ukiran mata belati. Orang waras mana yang tega melakukan itu ke tubuh manusia, bahkan meski tubuh manusia itu tak bernyawa? Keadaan kini membuat Titi makin yakin, bahwa pria tersebut memang tidak waras!

“Ya Allah ... ya Allah ... Allah ... Allah ... tolong hamba! Ibu hamba ... kak Bian ... biarkan hamba menyelesaikan keadaan ini. Tak peduli seberapa pun sakit yang harus hamba rasakan. Tolong mudahkan!” batin Titi bertekad akan kembali ke pintu seiring si pria yang lagi-lagi sudah di hadapannya. Sambil memegang belati, si pria melangkah dan tersenyum penuh kemenangan kepadanya.

“Brakkkk! Braaaakkkkk!!” Dari luar seolah ada yang hendak mendobrak pintu kamar Titi berada. Titi langsung merasa lega dan tak segan meminta tolong.

Berbeda dengan Titi, pria psikop.at yang tengah memojokkan Titi justru terlihat sangat kesal. “Baji.ngan mana yang masih saja berani menggangguku, padahal aku sedang bersenang-senang di rumahku sendiri?!” lirihnya.

Titi yang mendengar itu langsung mengetahui, bahwa rumah tersebut merupakan rumah si pria. Yang membuat Titi tak percaya, sosok di balik pintu justru Bian! Bian dengan gaya rambut gondrong dan tubuhnya pun belum sekekar sekarang.

“Serius ini Kak Bian ... namun kalau gini keadaannya, ini gaya dia tahun lalu. Yang pas kalau lagi bareng, sampai aku kuncir apa poninya aku jepit! Ini sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Kak Bian ada di sini, tapi gayanya yang di tahun lalu. Ya ampun itu, plester di lehernya gambar hello kitty itu aku yang pasang. Itu leher kena tongket!” batin Titi benar-benar kaget.

“Dasar orang sakit! Bajing.an kamu ya! Sudah aku bilang, jangan ganggu dia karena dia bukan istrimu!” kesal Bian yang langsung melangkah cepat kemudian membogem si pria.

Selain terlihat sangat emosi, Bian juga tak sedikit pun terlihat takut. Bahkan meski belati si pria sampai merobek jaket levis warna hitamnya. Titi yang melihat itu langsung tercengang. Ia menggunakan kedua telapak tangan si wanita yang tubuhnya ia tempati, untuk membekap mulut. Namun tak beda dengan wajah dan bagian tubuh yang lain, kedua telapak tangan si wanita juga tak luput dari luka baret ukiran belati.

“Jaket ini ... sobekan di lengan kiri jaket Kak Bian juga masih aku yang menjahitnya. Aku menjahitnya menggunakan tangan, sedangkan luka baretnya juga masih aku yang mengobati,” batin Titi lagi.

Fakta demi fakta terus Titi temukan. Fakta di mana kejadian yang ada, Titi yakini terjadi satu tahun lalu. Namun karena Titi justru menempati tubuh wanita lain, Titi memilih diam. Titi hanya diam-diam melakukan cocok logi. Beruntung, kali ini ada Bian yang menyelamatkannya. Kenyataan yang juga baru Titi ketahui bahwa Bian mengenal wanita yang ia tempati, terlepas dari pertolongan dari Bian yang membuatnya lega. Karena dengan kata lain, Titi memiliki kesempatan untuk melanjutkan misi balas dendamnya.

Tanpa berkata-kata atau setidaknya menyebut nama, Bian menggandeng tangan kiri wanita yang Titi tempati. Bian membawa Titi pergi dari sana, tapi Titi yakin, Bian membawanya sebagai wanita yang tubuhnya ia tempati. Bian tidak membawanya sebagai Titi.

Mereka ada di sebuah rumah KPR. Titi tahu lokasi perumahan itu. Sebab orang tua Bian juga memiliki satu unit rumah di sana. Bian mengemudikan motor gedenya dan Titi hanya kebingungan menatapnya.

“Kenapa masih bengong? Kamu mau aku lempar ke kandang buaya psikopet itu?” kesal Bian sambil memasang helm hitam dan di bagian punggungnya ada stiker lolipop. Stiker yang amat sangat Titi paham karena Titi juga yang sengaja menempelkannya di sana.

Tak mau membuat Bian marah karena Titi tahu watak Bian yang sangat keras, Titi segera duduk di boncengan motor Bian. Kenyataan wanita yang ia tempati memakai dress selutut warna kuning, membuat Titi agak kurang percaya diri. Dengan kata lain, pertanyaan demi pertanyaan yang menghiasi benak Titi juga akan mendapatkan balasan.

“Suasananya beneran mirip kejadian satu tahun lalu. Itu rumahnya orang tua mas Bian yang sekarang sering ditempati mas Bian. Aku pun sering diajak ke sana buat nemenin,” batin Titi tak sampai berpegangan langsung ke tubuh Bian. Ia memilih berpegangan ke motor bagian belakang khas orang jadul atau orang tua yang sedang naik ojek.

Terpopuler

Comments

Amazing Grace

Amazing Grace

lah kan ini satu tahun kejadian sebelumnya?brrti si titi belum kena perkosa dong

2024-07-21

1

Hilmiya Kasinji

Hilmiya Kasinji

oh berarti ini Titi kembali ke masa lalu tapi di tubuh Jia ya... Jia itu siapanya jiem ?

2024-06-29

0

azka karim

azka karim

aku masih bingung alurnya kak🤔🤔, maaf ya 🙏

2024-06-24

2

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 44 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!