“Pasti ada sebab kenapa semprotan ini sampai terbawa,” batin Titi yang tak bisa berhenti berpikir, kenapa botol berisi cairan bubuk cabai dan cairan lainnya, ada di tangan kirinya.
“Terus, ... apa yang terjadi ke Jia?” pikir Titi lagi, yang kemudian juga berpikir. Jika time travel yang ia alami benar adanya, apakah hadirnya dirinya di masa lalu Jia, ada jejaknya?
“Kenapa masih belum tidur?” khawatir Bian yang baru saja kembali.
Titi refleks menatap Bian, sebelum tatapannya turun mengawasi ponsel di tangan kiri Bian. Tak berselang lama kemudian, ponsel itu telah berpindah ke kedua tangan Titi, setelah Titi meminjamnya dan langsung Bian berikan.
Menggunakan ponsel Bian, Titi mencari berita viral di tahun lalu. Nama Jia menjadi kunci yang Titi tulis di pencarian internet. Betapa terkejutnya Titi ketika hasil dari pencariannya sungguh seperti yang ia bayangkan.
“Semuanya beneran nyata?” batin Titi terbengong-bengong menatap layar ponsel Bian.
“Ada apa, sih?” sergah Bian sangat penasaran. Ia melongok layar ponselnya hingga ia jadi tahu apa yang tengah menyita perhatian Titi.
“Kak, Kakak tahu kasus ini?” lirih Titi sambil menatap Bian. Di hadapannya, Bian mengangguk-angguk.
“Iya, ... sempat rame di masanya,” ucap Bian yang kemudian menatap kedua mata Titi. “Kenapa?”
“Dia saudara tirinya Jeam, kan?” tanya Titi dan langsung membuat Bian agak bengong sambil terus menatap kedua matanya.
“Y—ya, ... kok kamu tahu?” lirih Bian kembali mengangguk-angguk.
“Kakak, ... punya hubungan baik dengan dia?” lanjut Titi yang sangat ingin tahu, bagaimana akhir dari kisah Jia?
Bian menghela napas sambil menggeleng. “Bukan hubungan yang baik, ... tapi. Intinya biasa saja. Aku hanya beberapa kali tak sengaja menolongnya!”
Sambil menyimak balasan Bian, Titi juga sengaja membaca kisah viral tentang Jia. “Kakak bisa membawaku bertemu dengannya?”
“Untuk apa? Kamu belum sembuh. Sebentar lagi pasti polisi juga datang untuk meminta keterangan dari kamu,” ucap Bian.
Di kisah Jia dijelaskan, bahwa kasus Jia sempat mendapat banyak atensi dari masyarakat. Namun, proses penanganannya lambat. Entah apa yang terjadi, pada akhirnya kasus tersebut sepi, menguap begitu saja.
“Mungkin karena ini juga, aku wajib bertindak!” pikir Titi yang kemudian harus menjalani pemindahan ke ruang rawat inap biasa.
Seperti yang Bian sampaikan sebelumnya, bahwa polisi akan datang untuk meminta penjelasan Titi. Ada dua polisi yang datang. Mereka memakai jaket, tapi salah satunya mengusik fokus Titi.
“Siapa, ya? Berasa kenal,” pikir Titi yang kemudian sengaja meraih tangan kanan Bian. Titi menahan Bian agar tidak pergi meninggalkannya di tengah dadanya yang berdetak sangat kencang.
Titi merasa tegang bahkan takut, apalagi jika melihat wajah polisi bernama Pram di hadapannya. Polisi bertubuh kurus tinggi itu, Titi pergoki kerap menatapnya penuh senyuman. Alasan yang membuat tangan kiri Titi makin mengeratkan genggamannya ke tangan kanan Bian.
Diam-diam, Bian juga memperhatikan setiap perubahan emosi Titi. Titi kerap melirik pak Pram, selain pak Pram yang Bian pergoki kerap melirik Titi. Alasan yang membuat Bian jadi sibuk berdeham. Bian sengaja memberi pak Pram kode keras, dan di dehaman ke lima yang Bian lakukan, pak Pram baru sadar.
Padahal, pak Pram hanya mencatat keterangan dari Titi. Sementara pak Sigit rekannya yang melayangkan pertanyaan juga sampai merekam obrolan mereka. Acara yang berlangsung hampir setengah jam tersebut membuat Titi sibuk menerka. Bahkan setelah acaranya usai. Titi terus menggali ingatannya, mengenai sosok pak Pram yang baginya tidak asing. Titi mereka pernah mengenal, bahkan terlibat dalam hal yang tampaknya juga sampai membuat Titi tidak nyaman.
“Apakah, ... dia salah satu penjahat di kehidupan Jia?” pikir Titi yang kemudian refleks menatap botol semprotnya.
Detik itu juga Titi jadi merinding. Dunianya sungguh jadi tidak baik-baik saja setelah dirinya mengalami kejadian naas oleh Jeam dan rekannya.
“Aku ingin secepatnya pulang. Namun, sepertinya selang.kanganku cukup bermasalah. Perutku tidak nyaman, dan—” Titi yang berbicara dalam hati merasa sangat ngeri pada apa yang ia alami dari Jeam dan kelima rekannya.
“Itu beneran menakutkan. Itu ... aku bahkan jadi sulit mengontrol emosiku. Aku takut, ... aku jijik pada diriku sendiri. Namun, aku tidak boleh lemah. Aku harus kuat! Aku harus membalas mereka semua. Apalagi, sekarang aku tidak hanya dihadapkan pada kasusku. Karena aku juga harus memberikan keadilan untuk Jia. Jia menggantungkan harapannya kepadaku. Terlebih pada akhirnya, kasus Jia sepi, menguap tanpa hasil,” pikir Titi sambil menunduk dalam. Rasa takutnya yang membuncah sampai membuat tubuhnya gemetaran sekaligus berkeringat parah.
Bian yang masih di sana refleks memeluk Titi. Bian yakin Titi sedang ketakutan hingga ia bermaksud menjadikan pelukan yang ia lakukan untuk menenangkannya. Hanya saja, apa yang ia lakukan malah membuat Titi ketakutan.
“Ini aku, ....” Bian meyakinkan secara lembut.
Titi terdiam kemudian menghela napas dalam beberapa kali. Titi berusaha menenangkan diri. Kebetulan, ada yang datang lagi dan itu orang tua Bian maupun ibu Tuti.
Rasa sedih sekaligus malu, langsung membuat perasaan Titi terombang-ambing. Tak bisa Titi pungkiri bahwa pengaruh apa yang Jeam dan kelima rekannya sangat dahsyat. Titi menyadari mentalnya terluka parah. Akan tetapi, keadaan memaksanya untuk tegar. Padahal yang harus lebih dulu Titi lakukan ialah menyembuhkan mentalnya.
“Bagaimana keadaanmu, Ti?” tanya ibu Keina sambil menggenggam tangan kiri Titi.
Titi tersenyum haru, dan bisa Titi pastikan senyumnya benar-benar garing.
“Kamu harus istirahat. Jaga pola makan. Fokus bahagia,” ucap pak Hasan, selaku papanya Bian.
Titi yang terus menunduk berangsur mengangguk. “Iya, Pak. Makasih banyak.”
Setelah obrolan basa basi di sana, Bian sengaja berdeham. Bian bermaksud mengatakan niat baiknya yaitu menikah Titi.
“HAH?!” ibu Keina amat sangat terkejut. Putranya akan menikahi Titi yang hampir seluruh rakyat di negaranya tahu telah digi.lir oleh enam oknu.m jahat?
Memikirkan keadaan Titi, yang ada ibu Keina langsung pusing. Ibu Keina sempoyongan dan langsung dirangkul oleh pak Hasan.
“Sayang, ayo pulang. Banyak hal sekaligus pekerjaan penting yang harus kita bahas,” ucap ibu Keina benar-benar mirip orang linglung.
“Ma, ini aku dan Titi,” sergah Bian bermaksud menceritakan bahwa sebelum Titi digi.lir oleh Jeam dan kelima rekan Jeam, sebenarnya ia sudah lebih dulu melakukannya kepada Titi.
“Nanti saja dibahas di rumah,” ucap ibu Keina.
Pak Hasan yang sudah paham watak istrinya, juga jadi angkat bicara. Pak Hasan meminta Bian untuk menuruti kemauan ibu Keina.
“Pulang dulu,” ucap pak Hasan serius.
Meski bukan penolakan secara gamblang, apa yang orang tua Bian lakukan sudah langsung membuat hati Titi mengerdil. Titi merasa ko.tor, merasa tak layak ada di antara mereka. Padahal, tentu bukan mau Titi digili.r dan sampai viral.
Bersamaan dengan itu, mata Titi terasa panas sekaligus basah. Ia yang duduk selonjor memilih bungkam dan memang makin bingung jika Bian tetap di sana. Titi berharap, Bian menuruti orang tuanya saja. Dan untungnya, Bian pamit.
“Nanti aku ke sini lagi,” lembut Bian sambil mengelus kepala Titi.
Susah payah Titi menahan air matanya agar tidak berjatuhan dari kedua matanya. “Kalau bisa, Kakak enggak usah kembali,” batin Titi. Dadanya terasa sangat sesak dan air matanya berjatuhan bersama kepergian Bian
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Erina Munir
kesian titik....klo ga kuat titik bisa kena mentalnya...bisa2 jdi stress
2024-07-15
1
Dahwi Khusnia
sabar titi
2024-07-01
0
Hilmiya Kasinji
Ya Allah ... mewek aku kak Ros .
2024-06-30
0