18. Mengubah Takdir yang Nyata Adanya

Darah di kedua tangannya menjadi alasan Titi ketakutan. Termasuk juga keadaan kedua pria yang ada di sana. Keadaan tersebut membuat Titi mendadak halusinasi. Titi bahkan tetap diam meski mobil yang membawanya sudah lepas kendali. Sebab si tato kalajengking tak lagi mengemudikannya lagi.

“Kenapa aku jadi sebrutal ini?” batin Titi yang kemudian menjadi introspeksi. Benarkah membunuh orang yang telah melukainya dengan sangat keji, masih tetap dibenarkan?

Di hadapan Titi, kedua pria yang bersamanya telah terkapar penuh darah. Namun di ingatan Titi, keduanya masih memperlakukannya maupun Jia dengan sangat keji. Hanya itu yang terus Titi pikirkan. Titi mendadak tak memikirkan hal lain lagi. Terlebih, ibunya saja sudah tak lagi memberinya dukungan. Titi sungguh lupa dengan acara balas dendamnya.

“Kecepatan mobil itu makin tak terkendali!” batin Bian yang terus menyusul.

Mobil sport warna merah milik Bian, sengaja Syukur gunakan untuk menghadang mobil polisi Pram. Karena jika tidak begitu, mobil polisi Pram pasti terlempar ke jurang. Namun karena ulah Syukur tersebut pula, malah dirinya berikut mobil Bian yang terperosok ke jurang setelah sebelumnya tertabrak dan terpental.

“Astaga!” jerit Bian di dalam hatinya. Kejadian mencekam benar-benar baru ia lihat menggunakan kedua matanya.

Mobil polisi Pram yang sempat melaju sangat kencang kemudian Syukur hadang, berakhir terbalik. Pintu sebelah kemudi sampai terbuka dan Bian buru-buru menghampirinya.

“Tiiiii!” panik Bian lantaran ia mendapati kedua pria di sana sudah terkapar. Namun, Bian tak melihat Titi ada di sana.

“Titi ke mana?” bingung Bian yang jadi menatap sekitar dengan saksama.

“Hati-hati ...,” lirih Syukur yang menatap heran Titi.

Tiba-tiba saja, Titi ada di sebelah Syukur. dengan kedua tangan penuh darah termasuk juga pisau di tangan kanannya. Namun, Titi terlihat sangat ketakutan khas orang trauma. Anehnya, pelan tapi pasti, darah di tubuh apalagi kedua tangan Titi juga perlahan hilang. Syukur yang termangu mengawasi semua itu jadi menatapnya penuh terka. Hanya tersisa pisau bergagang hijau penuh darah di tangan kanan Titi.

“Jatuhkan pisaunya ....” Syukur yang sadar bahwa Titi ketakutan khas orang trauma juga berkata, “Semuanya baik-baik saja!”

Ucapan Syukur barusan membuat Titi berangsur menjatuhkan pisaunya begitu saja.

Mobil sport warna merah milik Bian memang sampai terbalik tertahan di batang pohon besar sebelum jurang. Namun kejadian aneh kembali mereka alami. Baik Syukur maupun Titi sama-sama menyaksikan, pisau yang Titi lempar perlahan menghilang. Seolah, pisau tersebut memang tidak nyata sekaligus tidak pernah ada. Layaknya darah-darah di kedua tangan maupun bagian tubuh Titi yang lain.

Kini, Syukur menatap heran Titi. Namun di pandangannya, ada sosok Jia yang juga seolah menyatu dengan sosok Titi. Sosok Jia penuh luka dan tampak sangat bergantung kepada Titi.

Mengenai keanehan yang terjadi, bukan hanya darah di tubuh Titi, juga pisau bergagang hijau yang menghilang dengan misterius. Karena ketika dievakuasi, baik polisi Pram maupun si pria bertato kalajengking, dinyatakan meninggal karena kecelakaan lalulintas tunggal. Jejak tembakan yang Syukur lakukan juga tak ada. Termasuk itu bekas tikam.an pisaunya Titi. Semuanya sungguh hilang hingga Titi makin bertanya-tanya.

“Apakah ini masih bagian dari transmigrasi sekaligus time travel yang aku ikuti? Takdir membuatku lepas dari keterlibatan kematian mereka,” pikir Titi yang juga tak sampai terluka sedikit pun.

Padahal Syukur saja terluka. Namun, tubuh Titi yang mendadak pindan dan ada di dalam mobil Bian, memang baik-baik saja. Kini, mobil sport warna merah milik Bian sedang diderek dan memang mengalami kerus.akan parah.

“Aku beneran enggak bisa mencerna, kenapa keadaan mendadak ... sulit dimengerti,” lirih Bian.

“Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan Titi. Ada kehidupan lain yang seolah Titi miliki. Apa malah sengaja bergantung kepada Titi,” pikir Syukur sempat melihat wajah Jia yang penuh luka, di diri Titi. Kebetulan, Syukur memang seorang indigo yang bisa melihat tanpa bisa mendengar suara tak kasatmata-nya.

Kecelakaan yang menimpa mobil polisi Pram masih menyita perhatian. Beberapa orang termasuk polisi berkerumun di sana. Termasuk juga dengan Bian, Titi, dan juga Syukur. Namun, ketiganya berangsur pergi mengiringi mobil Bian yang diderek.

Titi dan Bian naik taksi, sementara Syukur sudah kembali memakai motor. Sepanjang perjalanan, Titi dan Bian sama-sama diam. Namun, Bian begitu mengkhawatirkan keadaan Titi. Fatalnya, Titi memintanya menjaga jarak dari Titi. Titi bahkan dengan tegas meminta Bian untuk melupakan hubungan mereka.

“Lebih baik kamu kesepian tapi kamu masih punya keluarga. Daripada kamu bersamaku tapi itu bikin aku mengambil kamu dari keluargamu, Kak!” lirih Titi ketika akhirnya, taksi yang mengantarkan mereka sampai di jalan depan gang kontrakannya berada.

“Bukan hanya orang tua Kakak yang tidak setuju. Karena ibuku juga tidak setuju!” tegas Titi yang tak berniat memperpanjang kebersamaan mereka. Bahkan meski Bian menangis memintanya untuk selalu bersamanya.

Kepulangan Titi membuat ibu Tuti terkejut. Wanita itu membiarkan tangan kanannya disalami dengan sangat takzim oleh sang putri. Sebenarnya, ibu Tuti merasa ada yang aneh dengan Titi. Namun, ibu Tuti tak berniat bertanya. Ibu Tuti yakin, alasan Titi begitu karena kasus Titi. Hingga meski ibu Tuti menanyakannya, yang ada mereka akan sama-sama mengorek luka lama.

Setelah masuk ke dalam kamar, Titi duduk di pinggir kasur dengan tidak bersemangat. “Sebenarnya aku kasihan ke kak Bian. Namun lebih kasihan lagi kalau aku tetap mau bersamanya. Sudah bikin dia berseteru dengan keluarganya, yang ada dia juga harus dapat aku yang teno.da!” pikir Titi yang berangsur tiduran.

Titi sudah siap kembali ke tubuh Jia dan melanjutkan misinya. Meski tidak tahu akhir atau setidaknya kelanjutan kisahnya, Titi akan melakukannya dengan segenap jiwa. Apalagi, mengubah takdir yang Titi jalani nyata adanya dan Titi sudah mengalaminya.

Sampai akhirnya Titi ketiduran, ia sungguh terbangun di tubuh Jia lagi. Berbeda dari sebelum-sebelumnya, kali ini Titi sudah jauh lebih siap. Selain itu, Titi juga merasa jauh lebih sehat. Tubuh Jia yang ia tempati tak lagi selelah sebelumnya.

Tokk ... tok ... tok ....

Ada suara ketukan, tapi itu bukan di pintu. Ketukan tersebut terjadi di jendela kamar Jia yang ada balkonnya.

“Itu siapa?” pikir Titi yang membuat tubuh Jia bangun kemudian duduk dengan hati-hati.

Malam-malam ada yang mengetuk jendela dan membuat Titi langsung tegang luar biasa.

Took .... tokkkk ....

“Polisi Pram enggak mungkin bangkit dari kubur terus hidup lagi, kan? Karena selain sudah dua kali meninggal, pisau itu saja sudah menghilang?” pikir Titi segera membuat Jia siap-siap. Semprotan bubuk cabai Jia bawa di tangan kirinya, sementara raket nyamuk Titi buat digenggam tangan kanan Jia.

Ketika jendela Titi buka, ... ternyata di sana ada Jeam!

Terpopuler

Comments

Erina Munir

Erina Munir

semprot aja matanyanitu tik

2024-07-15

1

Dahwi Khusnia

Dahwi Khusnia

hadduuhh si keina juga egois banget

2024-07-01

0

Hilmiya Kasinji

Hilmiya Kasinji

haduw....jeam ya selanjutnya

2024-06-30

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 44 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!