“Sudah Ibu bilang, ... jangan dekat-dekat dengan den Bian!” tegur ibu Titi yang sekadar bernapas saja terdengar sangat sesak.
Apa yang sang ibu katakan mengusik Titi yang detik itu juga menghapus air matanya menggunakan kedua jemarinya.
“Mulai sekarang, kamu harus batasi hubungan kalian. Kalau tidak, kita berhenti kerja saja. Besok juga, kita harus keluar dari sini. Kerja belasan tahun cuma buat bayar biaya pengobatanmu. Kamu beneran enggak mungkin bisa lanjut kuliah. Apalagi sekarang di mana-mana, sedang bahas kamu,” ucap ibu Tuti merasa putus asa. Ia duduk di sofa depan.
Sofa yang ibu Tuti duduki, memang berada tepat di hadapan Titi. Namun kedua mata ibu Tuti yang terus menitikkan butiran bening, tak sedikit pun melirik Titi.
“Maaf, Bu!” berat Titi yang jadi kembali berlinang air mata.
“Harusnya Ibu yang minta maaf. Karena andai Ibu enggak minta kamu beliin Ibu obat. Namun apa daya, Ti. Ibu hanya orang miskin yang juga enggak berpendidikan. Yang bisa Ibu lakukan hanyalah teriak-teriak memohon keadilan. Alhamdullilah, dapat dukungan karena viral. Namun setelah melihat pelakunya, kok Ibu enggak yakin kalau dia pelakunya,” lemas ibu Tuti makin berlinang air mata dan kali ini sengaja menatap Titi.
“Memang bukan dia pelakunya, Bu. Tadi aku juga sudah bilang ke polisi kalau dia bukan pelakunya. Aku masih ingat!” sergah Titi yang mendadak ingin cepat-cepat ganti hari. Karena selain besok dirinya akan keluar dari rumah sakit, besok juga Titi akan langsung mencari Jeam.
“Breaaakkk!”
Terdengar bunyi berisik dari depan. Ibu Tuti segera memastikan lantaran tidak biasanya di rumah sakit dan itu ruang VIP, ada berisik-berisik padahal sudah malam. Karena jika itu petugas kebersihan yang mengangkut sam.pah, harusnya juga bukan karena kini sudah pukul setengah sepuluh malam.
Ternyata yang datang itu polisi Pram. Polisi Pram awalnya berusaha mengintip bahkan lebih kamar rawat Titi. Namun, seorang pria muda berpakaian jaket serba hitam, mencekal tangannya. Sampai sekarang pun, pria muda itu masih mengejar polisi Pram yang sama-sama memakai topi hitam layaknya dirinya. Polisi Pram melewati tangga darurat dan berusaha menyerang si pria muda yang mengejar. Karenanya, ketika ibu Tuti mencari-cari sumber berisik di luar, yang ibu Tuti temukan hanya tong sam.pah berukuran besar yang jatuh.
“Kok bisa jatuh, ya? Padahal enggak ada kucing. Enggak ada angin juga,” batin ibu Tuti sambil membenarkan tong sampa.hnya.
“Siapa, Bu?” sergah Titi ketika sang ibu masuk, tapi ekspresi sang ibu khas orang bingung sekaligus takut.
“Enggak ada siapa-siapa,” ucap ibu Tuti ragu.
“Owh ...,” refleks Titi yang dalam hatinya jadi merasa, hidupnya seolah sedang diawasi.
“Masa iya, orang-orang Jia juga jadi tertarik sekaligus masuk ke dalam dimensi kehidupan aku?” pikir Titi.
Pria muda yang pada akhirnya berhasil memiting polisi Pram merupakan Syukur dan tak lain kepercayaan mbah Syam. Syukur diutus secara khusus untuk menjaga Titi. Namun, dengan gesit polisi Pram membela diri menggunakan tanda pengenalnya sebagai polisi.
“Saya sedang memantau keadaan korban kasus—” polisi Pram melirik bengis sosok Syukur yang tetap memitingnya.
“Kalaupun kamu memang polisi, berarti kamu sudah menyalahkan jabatanmu!” lirih Syukur yang tanpa pikir panjang memban.ting tubuh jangkung polisi Pram.
“Aaaaa! Aiiissss! Kau!” kesal polisi Pram terengah-engah. Namun Syukur yang pandai bela diri malah tak segan menaruh kaki kanannya di tengah-tengah dada polisi Pram.
“Sekali lagi aku melihatmu mengganggu Titi, aku pastikan dada kamu jebol!” tegas Syukur mengangkat kaki kanannya dengan emosi meluap.
Polisi Pram yang mengira Syukur benar-benar akan membuat dadanya jebol, refleks teriak. Padahal, yang Syukur lakukan adalah pergi dari sana. Syukur melangkah pergi sambil membenarkan topi hitamnya.
“Hah ... bajing.an!” lirih polisi Pram dengan napas terengah-engah.
Tak lama kemudian, Syukur masuk ke dalam ruang rawat Titi. Ibu Tuti maupun Titi langsung mengenalinya karena Syukur masih orang dari kerabat keluarga Bian.
“Mas Syukur merupakan laki-laki yang sangat kak Elra cintai. Sementara kak Elra merupakan wanita yang sangat kak Bian cintai. Siklus hubungan mereka begitu,” batin Titi.
“Untuk sementara aku akan ikut jaga di sini,” sergah Syukur yang kemudian duduk di sofa sebelah pintu.
“Apakah ini bertanda kak Bian tak akan ke sini?” pikir Titi yang tetap ragu. Karena yang.Titi tahu, Bian tidak menyukai atau setidaknya mau akur dengan Syukur. Tentu keadaan tersebut terjadi karena cinta Bian ke Elra bertepuk sebelah tangan.
“Ma,” mohon Bian ketika dirinya turun dari mobilnya. Ia buru-buru menyusul sang mama yang sudah sampai teras rumah mereka.
“Enggak!” tegas ibu Keina sambil menatap tegas sang putra tak lama setelah ia balik badan.
“Mas, ... tolong jangan memaksa! Kasihan Titi-nya. Jangan sampai, hubungan yang belasan tahun kita jalin dengan baik, berakhir pelik!” tegur pak Hasan yang berdiri di sebelah ibu Keina.
“Masalahnya sebelum kejadian Titi mengalami kejadian itu, ... aku sudah lebih dulu melakukannya ke Titi, Pa. Bahkan sebelum itu, siangnya, aku baru saja mengajaknya menikah!” tegas Bian kepada sang papa. Namun dari sebelah, tangan kanan ibu Keina, menampar pipi kiri Bian.
Detik itu juga perhatian pak Hasan maupun perhatian Bian, tertuju kepada ibu Keina. Ibu Keina yang tampak sangat kecewa, menatap Bian sambil berlinang air mata.
“Makanya, aku bisa menjadi tersangka utama di kasus Titi karena penanganan kasus Titi, tidak sesuai dengan keadaan. Hasil rekap medis Titi yang ada di BAP kasus Titi salah! Karena di hasil medis yang asli, ditemukan enam sperma berbeda dan salah satunya pasti milikku!” tegas Bian. “Aku sudah bahas ini dengan mbah Syam, dan Mbah akan bantu!” sergah Bian tetap dengan tujuannya yaitu tanggung jawab kepada Titi. Ia sungguh akan tetap maju menikahi Titi, meski kedua orang tuanya tak memberi restu.
“Masuk kamar!” tegas ibu Keina lirih. Air matanya makin sibuk berlinang. Ia menatap sang putra dengan banyak kepedihan. “Mama ... buat hamil kamu saja, Mama hampir gil.a. Urus kamu pun, ... Mama sempat baby blues parah. Mama tahu, andai bisa kamu pasti enggak mau Mama lahirkan karena kamu pasti ingin memiliki Mama yang lebih baik dari Mama. Namun, apa pun itu, Mama lakukan agar kamu mendapatkan yang terbaik!” tegas ibu Keina masih berucap lirih tanpa bisa menyudahi air mata maupun kesedihannya. Lagi-lagi, ia membiarkan sang suami merangkulnya.
“Masuk, ... kita jelaskan di dalam. Tolong jangan egois. Kamu sudah dewasa, jangan dibiasakan membuat orang lain apalagi mamamu berkorban, Mas! Kita selesaikan baik-baik!” lembut pak Hasan dan Bian tak memiliki pilihan lain.
Keesokan harinya, Syukur membayar semua beaya pengobatan Titi. Titi dan ibu Tuti memutuskan untuk menyudahi pengobatan Titi. Namun Syukur yang sadar biaya pengobatan Titi tidak murah, sengaja membayarkannya. Tentu saja awalnya Titi dan ibu Tuti menolak. Namun, Syukur berhasil meyakinkan.
“Saya tetap akan mencicil ya Mas!” yakin Titi. Karena meski ia memaksa membayar menggunakan tabungan sang ibu, ternyata tetap kurang.
“Ya sudah, ... daripada kamu terus merasa berhutang budi,” sergah Syukur sudah langsung menenteng ransel maupun kantong berisi barang-barang Titi. Kebetulan, barang mereka tidak banyak hingga mereka tidak kerepotan dalam memboyongnya.
Syukur memimpin langkah. Sementara di belakangnya ada ibu Tuti yang menggandeng Titi. Sampai detik ini, tangan kiri Titi yang ada di dalam kantong jaket, masih memegang botol kecil berisi cairan bubuk cabai milik Jia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
azka myson28
nyesek yaa kalo si miskin berurusan dengan si kaya...hanya doa yang bisa dipanjatkan selain itu tidak punya apa2 untuk membalas kejahatan si kaya
2024-07-17
1
Erina Munir
buat jaga2 ya tik
2024-07-15
0
Hilmiya Kasinji
sikap mama keina wajar sih ya , org tua kadang pingin yg terbaik buat anaknya. tapi seharusnya setelah denger cerita bian agak sedikit rasa bertanggung jawab... tapi ya itu mungkin karna malu juga ya
2024-06-30
0