3. Mendadak Ada Di Tubuh Wanita Lain

“Aku butuh banyak orang untuk mencari Titi. Langsung banyak saja, Mbah!” Bian mengerahkan banyak bantuan. Sebab waktu sudah tidak mendukung. Sudah pukul tiga pagi dan Titi pun belum ada tanda-tanda akan kembali.

“Kapan dia pergi? Cek CCTV di sekitar rute tujuannya,” ucap lawan bicara Bian.

“Waktunya enggak mendukung, Mbah. Itu baru bisa dilakukan besok!” balas Bian sambil terus menyetir kemudian menatap saksama kanan kirinya.

Sunyi sepi bahkan dingin menyelimuti keadaan di sana. Namun kini, tanpa Bian ketahui, dirinya baru saja melewati lahan kosong Titi sempat dieksekusi. Lahan kosong yang lokasinya memang cukup jauh dari rumah orang tua Bian.

“Coba ditelepon!” sergah lawan bicara Bian dan tak lain sang kakek yang memang Bian panggil Mbah.

“Dia enggak bawa ponsel, Mbah. Karena ponselnya malah ada di aku. Aku juga curiga bahwa sebenarnya dia sampai enggak bawa kartu identitas!” sergah Bian.

“Ya sudah, ... Mbah langsung kirim dua puluh orang sekarang juga!” balas mbah Bian dan menjadi akhir dari komunikasi sambungan telepon keduanya.

Padahal di tempat berbeda, di rumah Jeam yang tak kalah luas, kelima pelaku justru masih melanjutkan kebahagiaan mereka. Di dalam kamar Jeam yang beberapa di antaranya dihiasi poster motor gede, kelimanya menyetel musik disko kencang. Asap rokok sudah tak karuan dan beberapa botol minuman juga tergeletak di sebelah tangan masing-masing.

Di luar kamar Jeam, seorang wanita kurus berwajah pucat, jadi bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya tengah dirayakan oleh kelimanya di dalam sana? Kebetulan, kamar Jeam tak sampai dikunci, hingga ia diam-diam bisa memastikannya. Setelah membuka sedikit pintunya, Jia sang wanita meyakini, bahwa dugaannya benar.

“Mereka habis balapan li.ar lagi dan mengalahkan kak Bian?” pikir Jia yang memilih kembali menutup pintu kamar Jeam dengan hati-hati.

Jia melangkah tak bersemangat. Hatinya diselimuti banyak kekhawatiran hingga dirinya tidak bisa tenang. Malahan meski ia sudah masuk ke dalam kamar dan waktu pun sudah nyaris subuh. Jia jadi sangat mengkhawatirkan Bian.

Setelah meraih ponselnya di meja sebelah bantal tempat tidur, Jia sengaja menulis kemudian mengirim pesan kepada kontak bernama : Kak Bian.

***

Jia : Kakakku dan teman-temannya sedang berpesta di dalam kamar. Aku pikir, satu-satunya alasan mereka sampai terlihat sebahagia itu karena penderitaan Kakak. Kak Bian, ... baik-baik saja, kan?

Adzan subuh tengah berkumandang ketika akhirnya, Bian membaca pesan tersebut. Bian belum pulang ke rumah karena masih melakukan pencarian. Bian tengah berhenti di depan masjid, dan pesan dari Jia memang langsung mengusiknya

“Jeam ... benarkah menghilangnya Titi masih berkaitan dengan Jeam?” pikir Bian.

Baru juga akan menulis telepon balasan ke Jia, Bian sudah terusik oleh telepon masuk dari sang mbah. Di ponselnya, kontak Mbah Syam, sudah menunggu untuk segera ia balas.

“Assalamualaikum, Mbah?” jawaban tersebut mengantarkan Bian pada rumah sakit di dekat sana. Rumah sakit dan sang mbah kabarkan sebagai tempat Titi ditemukan. Fatalnya, di salah satu IGD, Titi masih kritis!

“T—Ti ..?!” Hati Bian hancur, air matanya luruh membasahi pipi. Ia tatap dengan saksama keadaan wajah Titi. Wajah cantik yang selalu menebarkan keceriaan itu penuh lebam. Bibir dan juga hidung Titi berdarah. Sementara rambut Titi berantakan tampak karena sudah berulang kali dijambak.

Bian yang sampai mencium kening Titi menemukan aroma tak sedap. Dirasa Bian, alasan tubuh termasuk wajah dan kepala Titi kuyup tak semata karena hujan. Aroma pesing sungguh Bian temukan di wajah, kepala, termasuk pakaian Titi.

“Sebentar, ... kenapa rasanya tidak wajar. Lebam ... darah, ... luka ini bukan khas luka kecelakaan. Ini ... luka-luka mirip hasil penganiayaan!” batin Bian yang segera meminta orang sang mbah dan nota bene seorang mafia, untuk melakukan pelaporan kepada polisi.

Bian akan langsung melakukan penyelidikan. Tak semata melibatkan polisi agar pelakunya bisa dijerat dengan hukuman setimpal. Namun para mafia yang juga akan turut Bian kerahkan.

“Ti ... siapa yang melakukan ini? Benarkah mereka mereka yang dikabarkan Jia?” pikir Bian sudah langsung mengirim beberapa orang sang Mbah ke kediaman Jeam.

Bian terus menggenggam tangan Titi yang tak sampai diinfus. Sampai akhirnya polisi datang mengutus pihak rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Ketika dipastikan, pakaian apalagi pakaian dal.am Titi tak terpasang dengan semestinya. Ditemukan banyak cairan spe.rma, dan juga sisa cairan urin. Bian yang sadar, sebelumnya telah melakukan hubungan ba.dan dengan Titi sempat berpikir, bahwa sperm.a yang ditemukan itu miliknya. Masalahnya, sper.ma yang dimaksud ada di sel.angkangan, paha, dan juga celana maupun baju Titi. Berarti itu bukan hanya milik Bian. Sebab ketika Bian melakukannya dengan Titi, Titi masih memakai kebaya perpisahan untuk kelulusan. Sementara kini, Titi sudah memakai kaus dan celana panjang. Bisa Bian pastikan pula, Titi sudah sampai membersihkan diri, sebelum akhirnya pergi ke apotek untuk membelikan sang ibu obat.

Keadaan Titi yang penuh lebam, luka khas tendangan, jambakan, diyakini karena telah menjadi korban penga.niayaan. Namun karena kewanit.aan Titi juga sampai bengkak parah sekaligus berdarah. Bisa dipastikan bahwa Titi telah menjadi korban pemer.kosaan disertai penganiay.aan dan pelakunya lebih dari satu orang.

“Siapa yang melakukan semua ini dan sampai lebih dari satu pelaku?!” batin Bian benar-benar dendam. Tangannya mengepal kencang. Tubuh Titi yang kritis diboyong ke ruang ICU dan Bian masih menemaninya.

Koma menjadi keadaan terakhir dari Titi. Namun, jauh di bawah alam sadarnya, Titi melihat kejadian naas yang menyebabkannya berakhir seperti sekarang. Kejadian naas saat dirinya disekap kemudian dirudap.aksa secara bergilir oleh Jeam dan empat temannya. Kelimanya memperlakukan Titi dengan sangat kejam. Terakhir, kelimanya sampai membuang Titi dan membuatnya, seolah apa yang Titi alami murni karena kecelakaan.

Semua kejadian itu Titi lihat layaknya sebuah drama. Termasuk sumpah serapah yang sempat terucap dari bibir tipis Titi dan tak luput dari luka. Iya, Titi masih ingat bahwa dirinya akan balas dendam. Titi akan memberi sampah-sampah seperti Jeam dan keempat temannya hukuman setimpal.

“Anak saya diperkosa! Siapa yang akan bertanggung jawab sementara sekarang dia koma! Mana mungkin saya bisa tenang, jika anak saya saja seperti itu!” Suara histeris ibu Tuti masih bisa Titi dengar. Hati Titi hancur mendengarnya. Namun apa daya, jangankan membalas kemudian menenangkan sang ibu. Sekadar mengendalikan tubuh, atau setidaknya membuka kedua matanya saja, Titi tidak bisa.

“Ya Allah ... biarkan aku hidup. Biarkan aku balas dendam ke mereka. Izinkan aku memberi mereka balasan setimpal bagaimanapun caranya!” Hati kecil Titi terus menjerit sampai akhirnya mendadak terdengar suara nguingan sangat bising dan sampai membuat Titi kesakitan.

“Sakit ...!” lirih suara seseorang dan bisa Titi dengar. Suara asing yang terlahir di setiap Titi berbicara.

“Tunggu!” batin Titi yang bahkan bisa membuka mata. Hanya saja, apa yang ia lihat langsung membuat nyawanya seolah dicabut paksa.

Wajah seorang pria dewasa berberewok ada di atas wajah Titi. Wajah mereka benar-benar nyaris tak berjarak. Parahnya, tubuh Titi juga terasa sangat berat seperti dikunci dan memang ditindih oleh si pria yang hanya memakai celana levis.

“Lepas!” teriak Titi berusaha memberontak. Titi menggunakan kedua tangannya untuk menendang si pria. Alih-alih marah, pria yang menghiasi tangan kanannya dengan pisau belati itu justru tertawa santai mirip orang kurang waras.

Yang membuat Titi tak mengerti, ketika ia menoleh ke sebelah dan itu cermin rias, yang ia lihat bukanlah dirinya. Yang ada di sana justru sosok asing dan sebelumnya belum pernah Titi kenal atau setidaknya lihat.

“Ini ... ini apa maksudnya?” batin Titi sambil meraba wajahnya. Itu sungguh bukan dirinya dan dari segi usia saja, mereka berbeda.

Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa Titi mendadak ada di tubuh wanita lain?

Terpopuler

Comments

Hilmiya Kasinji

Hilmiya Kasinji

astaghfirullah....itu Titi ada di tubuh orang yang mau diperkosa juga kah?

2024-06-29

1

Firli Putrawan

Firli Putrawan

iih blm paham ini gmn ceritanya

2024-06-17

1

Arryanti Ar

Arryanti Ar

wiiih masuk k tubuh siapa ya,,,

2024-06-17

1

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 44 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!