5. Jia Dan Jeam

Titi tidak begitu paham dengan lokasi yang mereka tuju. Bian mengantarnya ke sebuah rumah mewah dan lokasinya jauh dari rumah Bian.

“I—ini ...?” ucap Titi ragu untuk bertanya. Ia juga ragu untuk turun meski dari cara Bian menunggunya, pemuda itu mengharapkan Titi melakukannya.

Seorang satpam yang berjaga dan awalnya hanya melihat-lihat dari balik gerbang, berseru dengan nada khawatir.

“N—non ...? Non Jia akhirnya pulang, Non!” ucap sang satpam dengan nada suara bergetar. Ia buru-buru membuka gembok gerbang kemudian menghampiri wanita yang tubuhnya Titi tempati.

“Nama tubuh ini, ... Jia?” pikir Titi makin yakin.

Terlepas dari semuanya, mungkin karena luka-luka di tubuh Jia, Titi merasa kesakitan luar biasa. Tubuh Titi terasa lemas sekaligus meriang.

“Lain kali kamu harus hati-hati,” pesan Bian yang sekadar berbicara maupun melirik Jia saja, enggan.

“Alasan Kak Bian bisa menemukanku?” tanya Jia.

“Ealah ... kan kamu yang telepon aku. Sudah kubilang jangan ke kompleks perumahanku karena di sana ada psikopet yang sangat terobsesi kepadamu!” balas Bian yang meski berucap lirih, memang marah-marah.

Karena Titi merasa tersesat akibat apa yang ia alami, ia juga jadi menanyakan apa yang ingin ia ketahui. Tanpa terkecuali, kabar ibu dan juga dirinya. “Apa kabar ibu Tuti dan juga putrinya, Kak?”

Disinggung ibu Tuti berikut sang putri yang tak lain Titi, Bian refleks menatap bingung Jia. “Kamu kenal ibu Tuti?” lirihnya tanpa kembali emosi.

Jia yang masih menatap Bian berkata, “Titi masih kelas dua SMA, ya? Kamu mau ikut dia kemah di puncak karena kamu khawatir, Titi kenapa-kenapa?” lembut Jia, dan yang ditanya ia dapati makin bingung.

“Bukan urusanmu!” sebal Bian yang kembali emosional. Ia memilih meninggalkan Jia yang sudah turun dari motornya.

“Kenapa aku merasa, hidup wanita bernama Jia ini sangat kesepian? Apakah Jia mencintai kak Bian? Lalu, kenapa aku sampai bertransmigrasi ke tubuh Jia? Aku bahkan sampai terlempar ke kejadian satu tahun sebelum aku dirudap.aksa. Apakah ini masih ada kaitannya dengan apa yang aku alami? Dan kenapa juga kak Bian masih ada di dalam kehidupan baruku, meski aku bukan sebagai Titi? Apakah semua ini masih saling berkaitan?” bingung Titi terus bertanya dalam hatinya. Ia bahkan tak memedulikan sang satpam yang terus menanyakan keadaannya. Sesekali, satpam tersebut juga mengabarkan kedatangan Jia melalui hate di tangan kanannya.

Pusing, sakit, lemas, dan juga tak berdaya Titi rasa menggerogoti tubuh Jia. Beberapa pemuda datang keluar dari rumah yang harusnya merupakan tempat tinggal Jia. Dari postur tubuh, gaya rambut, dan juga gaya berpakaian, Titi merasa tidak asing kepada pemuda tersebut.

“Pemuda ini ... aku seperti mengenali mereka. Namun di mana? Dia siapa? Bibirnya terus berbicara tapi aku tak bisa mendengar apa pun. Padahal harusnya, dari gerak bibir sekaligus mimik wajah saja, dia kelihatan emosi banget. Saking emosinya, sekadar bicara saja dia melakukannya sambil teriak,” batin Titi yang perlahan tak bisa melihat apa pun setelah pendengarannya juga tak berfungsi. Alasan yang membuat Titi tak bisa mendengar ucapan si pria berbibir tipis dan tampangnya khas orang blasteran bule.

Jeam merupakan pemuda yang tengah Titi hadapi. Jeam dengan sigap langsung membopong tubuh Jia yang jatuh pingsan.

“Tadi Jia pulang dengan siapa, Pak? Siapa yang mengantarnya pulang?” sergah Jeam hingga ia tahu, Bian yang mengantar Jia pulang. Sebab Bian terekam CCTV ketika mengantar Jia.

°°°°

Ketika akhirnya Titi terbangun, Titi berharap dirinya melakukannya di tubuhnya sendiri. Namun, ia masih ada di tubuh Jia. Semuanya masih sama. Baik pakaian maupun luka-luka di tubuh Jia. Titi berangsur duduk, dalam hatinya Titi menegaskan untuk segera melakukan penyelidikan. Mengenai apa yang harus ia lakukan di tubuh Jia? Apa juga yang harus ia lakukan agar bisa kembali menempati tubuhnya?

Baru akan duduk, seseorang membuka pintu. Jeam menjadi pelakunya dan sekali lagi, Titi merasa tidak asing. Postur tubuh dan gaya rambut Jeam masih sama. Mata agak sipit dan alis tebal. Termasuk juga ketika akhirnya Jeam bersuara lantaran saat menggilir Titi, Jeam melakukannya sambil memakai masker.

“Aku enggak bisa berhenti merinding. Aku yakin, pemuda ini mirip dengan yang sudah menggilirku dengan keji. Benarkah? Atas dasar apa? Namun, tampaknya dia sangat membenci kak Bian. Dia tidak suka Jia dekat-dekat dengan kak Bian,” pikir Titi hanya diam. Hingga tangan kanan Jeam mendorong kening Jia sangat kuat.

Tubuh Jia yang masih sangat rapuh, langsung terbanting.

“Jangan bikin malu, ... tahu-tahu Bian musuh bebuyutanku! Apa kata dunia jika mereka tahu, kamu justru terus bergantung kepadanya? Karena meski hubungan kita sudah berakhir setelah orang tua kita malah menikah, bukan berarti aku akan melepaskanmu begitu saja!” tegas Jeam sangat tempramental. Ia mendekati tubuh Jia yang masih meringkuk di kasur, tapi dengan segera kedua kaki Jia silih berganti menendang wajah maupun dadanya. Kenyataan yang sungguh membuatnya terkejut.

Kenyataan Jeam yang langsung tercengang atas ulahnya, dirasa Titi karena selama ini, Jia tidak pernah melawan. Hingga dengan begitu mudah, Jeam semena-mena kepadanya.

“Berani kamu mengatur-ngatur hidupku. Apalagi sekarang orang tua kita sudah menikah ... aku tak segan berbuat lebih! Camkan itu!” tegas Titi mengendalikan Jia. Sekali lagi ia mendapati keterkejutan luar biasa dari seorang Jeam yang tampak sangat tak bisa menerima perlakuannya.

Padahal semestinya, jika Jeam peduli kepada Jia, minimal dia mengobati Jia. Bukan malah marah-marah karena keadaan Jia saja sangat memprihatinkan.

Setelah susah payah bangun, Jia malah didekati Jeam. Jeam sampai naik ke tempat tidur tapi dengan segera, Jia turun. Jia mengambil sebuah vas bunga dari atas lemari kecil di sebelahnya. Ia tak segan menggunakan vas berbahan kaca transparan itu ke kepala Jeam sekuat tenaga.

“Jiiiiiaaaaa! Kep.arat kamu!” umpat Jeam sambil memegangi pelipis kirinya yang berlumur dar.ah.

Yang membuat Jeam heran, Jia yang biasanya rapuh dan hanya diam menangis meski ia memukulinya, kini sampai melakukan perlawanan. Seorang Jia yang ia ketahui lemah, sampai membuat pelipisnya berdarah. Kini dari kesibukan Jia, tampaknya wanita berusia dua puluh tiga tahun itu tengah mencari sesuatu.

“Aku harus segera pergi dari sini. Namun sebelum itu, aku harus memiliki modal uang dulu. Harusnya Jia juga punya uang. Di mana Jia menaruh uangnya!” batin Titi.

“Jiiiiaaaa!” teriak Jeam.

Karena Jeam kembali berulah, Titi memilih pergi dari sana. “Aku harus pergi dari sini sebelum pria itu melukaiku. Namun, apakah pergi dari sini merupakan keputusan tepat? Bagaimana jika kepergianku malah berdampak kepada kak Bian? Karena meski ini kejadian satu tahun sebelum kejadian naas yang menimpaku, tampaknya apa yang kulakukan juga akan berpengaruh pada masa depan,” pikir Titi berusaha mengambil keputusan sekaligus tindakan terbaik.

Terpopuler

Comments

Siscka Sari

Siscka Sari

bentar otak ku yang ngak bisa nyerna atau gimana sih kok gini to bingung jadinya

2024-08-28

1

Erina Munir

Erina Munir

bingung aku mau komen..

2024-07-15

0

Hilmiya Kasinji

Hilmiya Kasinji

masih menerka2 ini

2024-06-30

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 44 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!