7. Memulai Misi

Sepasang paruh baya menjadi sosok alasan pintu sebelah terbuka. Titi yang bersembunyi sekaligus mengintip berpikir, keduanya merupakan tuan rumah di kediaman dirinya berada. Tampaknya keduanya baru pulang ditegaskan dari pakaian rapi dan juga tas yang dijinjing oleh masing-masing.

“Bentar, ... ketimbang kabur sekarang, bagaimana jika aku menjebak mereka saja? Aku tetap di sini, tapi aku memasang beberapa kamera pengawas agar mereka tak mengelak ketika aku lapor polisi? Barulah setelah aku mendapatkan bukti, aku boleh lari!” pikir Titi yang jadi bimbang sendiri. Namun dirasa Titi, idenya barusan cukup menguntungkan.

“Menurut dari buku harian Jia, mamanya saja enggak peduli apalagi percaya. Mananya tetap memihak papanya dan bisa jadi karena alasan ekonomi, bucin, sekaligus harga diri. Jadi, andai semua orang di sekitar Jia tidak ada yang mendukung, biar Jia memiliki lembaran hidup baru tanpa mereka saja!”

“Jadi penasaran, sebenarnya Jia tipikal yang seperti apa? Kenapa dia sampai bertahan sejauh ini? Kenapa dia enggak minggat sebelum atau setidaknya, setelah kejadian yang berakhir bikin dia hamil saja?!” Titi yang berbicara dalam hati jadi curiga, bisa jadi rapuhnya tubuh Jia menjadi alasan kuat Jia bertahan meski bagi Titi, kenyataan tersebut sama saja dengan pembodo.han. Atau mungkin, memang ada alasan lain karena Titi hanyalah orang asing yang kebetulan bertransmigrasi ke dalam tubuh Jia?

Setelah mengintai sepasang paruh baya yang akhirnya masuk ke dalam rumah bagian dalam, Titi jadi terusik oleh mobil pelaku tempatnya bersembunyi. “Berarti orang itu memang Jeam. Jeam dan keempat rekannya telah menghan.curkan kehidupanku! Aku harus memberinya pelajaran! Namun jika sekarang, Jeam belum melakukannya. Mungkin nanti setelah aku kembali ke tubuhku. Namun, apakah aku bisa kembali ke tubuhku? Apakah ini juga bagian dari alasanku ada di tubuh Jia?” batin Titi mantap dengan keputusannya.

“Andai ada yang bisa membantuku, aku pasti tak tersesat seperti sekarang ini!” batin Titi lagi.

Berbekal uang yang dimiliki, Titi tetap pergi. Namun alasannya pergi masih untuk kembali. Titi berniat membeli beberapa kamera pengawas untuk ia pasang di dalam kamar. Suasana sudah makin malam disertai gerimis dan mendadak membuat Titi ingin melihat apa yang tengah dirinya lakukan saat ini. Selain itu, Titi juga rindu mamanya. Hingga dengan sengaja, Titi sengaja naik taksi menuju kediaman orang tua Bian selaku tempat dirinya dan sang ibu tinggal.

Menjadi anak dari seorang janda yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dan kebetulan memiliki bos baik, memang membuat hidup Titi maupun sang ibu lebih terjamin. Bahkan sekadar sekolah saja, masih orang tua Bian yang menyekolahkan Titi. Tentunya, Bian berperan kuat menjadi alasan itu terjadi. Terlebih sejauh ini, Titi selalu berprestasi meski hanya di tiga besar satu angkatan di sekolah.

Taksi yang Titi tumpangi berhenti tepat di depan rumah seberang orang tua Bian berada. Keputusan Titi ke sana sungguh membuahkan hasil. Sebab selain bisa melihat sang mama, ia juga bisa melihat Bian. Keduanya begitu buru-buru masuk ke dalam mobil. Ibu Tuti duduk di sebelah Bian yang menyetir mobil langsung.

“Ibu nangis panik gitu. Kak Bian juga enggak kalah panik ... ah iya. Sepertinya sekarang jadi waktu ketika aku kecelakaan di acara kemah yang dilakukan di puncak,” batin Titi.

Menjadi Jia membuat Titi merasa sangat kesepian. Padahal biasanya, Titi sangat ceria khususnya ketika sedang bersama Bian. Membahas Bian, Titi juga jadi teringat dengan hal terakhir yang ia dan Bian lakukan.

“Kejadian itu ... aku yakin memang ada yang salah dengan apa yang aku dan kak Bian makan maupun minum saat di restoran. Sepertinya kami jadi korban salah konsumsi!” pikir Titi yang juga segera meminta sopir taksinya untuk mencari toko CCTV terdekat.

Lagi dan lagi, dalam diamnya Titi dibingungkan dengan pertanyaan, sampai kapan dirinya menempati tubuh Jia? Apakah setelah dirinya berhasil menjebloskan mereka yang sudah zalim ke Jia, ke dalam penjara?

Setelah hampir satu jam menjalani perjalanan, akhirnya Titi sampai di toko CCTV yang dimaksud. Suasana di sana tidak begitu ramai, tapi memang sedang ada beberapa pembeli selain Jia. Namun hampir semua yang melihat Jia, langsung menatapnya ibu. Apalagi Titi juga lupa memakai pakaian panjang untuk menutupi luka-luka Jia. Jia bahkan masih memakai dress kuning berlengan pendek, sementara rambut panjangnya yang tergerai, terbilang berantakan.

“Sori kak Jia. Lain kali, setelah ini, aku akan lebih memedulikan penampilanmu,” batin Titi.

Selain membeli CCTV, Titi juga sengaja membeli beberapa komponen untuk melindungi Jia. Dari beberapa botol semprotan mungil, lada, bubuk cabai, dan juga cairan khusus yang efeknya bisa bikin gatal jika mengenai kulit.

Semuanya sudah langsung Titi racik sebelum dirinya membiarkan tubuh Jia kembali naik taksi. Sampai akhirnya Titi sampai rumah Jeam, kepulangannya justru disambut oleh wanita cantik yang memakai piyama kimono warna putih. Wanita berambut panjang pirang dan sengaja dibuat bergelombang itu menatap malas sekaligus berat kepada Jia.

“Dia mamanya Jia?” batin Titi langsung waspada. Wanita cantik di hadapannya, menatap Jia dengan tatapan tak suka. Ketidaksukaan yang bagi Titi ditegaskan dengan kenyataan si wanita yang sampai bersedekap.

Padahal logikanya, seorang mama yang melihat keadaan putrinya rapuh penuh luka, pasti akan merasa sangat hancu.r. Minimal jika tak bisa menjadi garda terdepan, harusnya sang mama memberi putrinya pelukan kemudian berusaha mengobati luka-luka putrinya. Namun, ini sama sekali tidak.

“Hah!” wanita cantik yang jelas sangat merawat diri itu menghela napas dalam. “Cepat siap-siap. Papa–”

“Sebentar, aku lupa sesuatu,” ucap Titi sengaja memotong ucapan si wanita. Sadar wanita di hadapannya akan menyampaikan hal penting dan bisa dijadikan alat bukti, Titi pura-pura sibuk. Padahal, alasan Titi mencari-cari barang di dalam tas besar yang menghiasi pundak kanannya, murni karena ia menyiapkan rekaman suara di sana untuk merekam obrolan.

“Mungkin, makin cepat aku membantu Jia, makin cepat juga aku kembali ke kehidupanku yang asli. Apalagi sekarang aku tahu, Jeam pelakunya!” batin Titi.

“Cepat siap-siap. Mandi yang bersih karena papa Tomy sudah menunggu! Setengah jam lagi dia akan ke kamarmu!” tegas si wanita mendadak emosional.

“Bentar, ini konteks ucapan mamanya Jia kok bikin aku merinding disko. Aku jadi berpikir bur.uk, yaitu maksudnya, papa Tomy dan sepertinya papa kandungnya Jeam, akan ke ke kamar Jia untuk meminta Jia layani? Heh, yang benar saja? Oke sih, buat bukti. Masalahnya aku tetap takut karena biar bagaimanapun, aku yang mengendalikan tubuh kak Jia!” batin Titi belum apa-apa sudah jadi panas dingin. Namun terlepas dari semuanya, layaknya drama transmigrasi maupun time travel yang kerap Titi tonton, tampaknya Titi juga tidak boleh membiarkan Jia terluka. Hingga ketika akhirnya seseorang mengetuk pintu kamar Jia sekitar lima puluh menit kemudian, Titi sungguh sudah siap mendapatkan bukti.

Lampu sengaja Titi nyalakan terang benderang. Sementara kamera pengawas yang Titi beli juga sudah Titi pasang. Termasuk juga dengan ponsel Titi yang sudah dalam merekam suara.

Di depan pintu kamar Jia yang Titi buka, pak Tomi sudah tersenyum semringah kepadanya. Sementara ketika Titi tak sengaja menoleh ke ujung kanan dan itu keberadaan anak tangga, di sana ada Jem yang menatapnya jengkel khas orang cemburu.

“Naji.s banget cemburu hanya asal cemburu tanpa usaha buat bebasin Jia. Emang dasar minus kamu Jeam. Tunggu pembalasanku. Kamu harus menghadapi aku secara langsung!” batin Titi langsung syok lantaran pak Tomy langsung memeluknya dengan sangat agresif. Pria itu buru-buru menutup pintu, dan apa yang sebelumnya Titi khawatirkan benar-benar nyaris terjadi semuanya!

Terpopuler

Comments

Erina Munir

Erina Munir

tendang aja tuh burungnya biar klojotan mati deh sekalian

2024-07-15

1

Dahwi Khusnia

Dahwi Khusnia

mama jia emang gila

2024-07-01

0

Hilmiya Kasinji

Hilmiya Kasinji

astaghfirullah ... itu ibunya memang ngedukung berarti ya

2024-06-30

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 44 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!