10. Fakta Sesungguhnya dan Kemungkinan

Setelah beberapa menit kembali menempati tubuhnya, Titi merasa jauh lebih baik. Titi juga berangsur duduk dan turut dibantu juga oleh Bian yang masih terjaga di sana. Selanjutnya, yang Titi lakukan ialah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Meski Titi tak sampai menyebut bahwa dirinya sampai menjalani time travel ke kejadian satu tahun lalu, kemudian menempati tubuh wanita malang bernama Jia.

“Bukan, ... bukan dia pelakunya, Kak! Pelakunya itu yang rumahnya di—” Titi ingin menyebut alamat tinggal Jeam. Namun baru Titi sadari, dirinya tak mengetahui alamat rumah Jeam.

Saat menjadi Jia, Titi tak sampai menghafal alamat rumah yang juga turut menjadi tempat tinggal pak Tomy.

“Intinya, ... pelakunya enggak ada yang kucel. Apalagi berprofesi sebagai kuli bangunan, dan otomatis telapak tangannya kasar. Kulit mereka putih bersih, dan telapak tangan mereka lembut khas anak-anak urakan yang enggak pernah kerja keras. Sementara yang mengetuai malah agak bule, blasteran Kak!” Titi menjelaskan.

Adanya kejadian salah tangkap tersangka menjadi alasan Titi sangat emosi. Fatalnya, tersangkanya hanya seorang kuli bangunan! Ditambah lagi sebelum kembali ke tubuhnya, Titi sempat merasakan kekesalan luar biasa kepada polisi yang ia minta bantuan ketika menempati tubuh Jia. Hingga Titi berpikir, jangan-jangan polisi sengaja asal tangkap tersangka hanya agar bisa secepatnya menyelesaikan kasus Titi?

“Total pelaku ada lima orang, dan ketuanya bernama JEAM! DIA KAKAK TIRINYA JIA! Kakak kenal Jia, kan?!” Titi yang sudah bisa duduk sungguh tidak sabar untuk bisa sesegera mungkin balas dendam ke Jeam.

“Jeam ...?” lirih Bian memastikan dan memang sangat terkejut. Namun, Titi yang ia tatap langsung mengangguk tegas. Tak ada sedikit pun keraguan dari tanggapan Titi. Hingga ia tidak bisa untuk tidak percaya. Karena Bian juga langsung yakin, memang Jeam pelakunya.

Dari awal, Bian juga sempat curiga ke Jeam dan itu karena laporan Jia. Namun setelah diusut dan terpantau CCTV, ternyata di malam itu, Jeam terpantau dugem di rumah bersama keempat temannya.

“Bisa jadi, CCTV di rumahnya sudah direkayasa. Apalagi, ... Jeam dan keluarganya itu gillaaa, Kak. Jia saja dijadikan budak naf.su oleh mereka. Jia hamil antara anaknya bapak kandung Jia yang psiko.pat, atau malah anaknya papa Jeam, atau malah Jeam sendiri!” cerita Titi.

Time travel sekaligus transmigrasi yang Titi alami ke tubuh Jia, membuatnya paham keadaan Jeam sekeluarga. “Memang enggak ada yang benar-benar kebetulan. Pasti ada saja makna sekaligus hikmah dari setiap kejadian,” batin Titi.

“Bisa jadi, mungkin karena ini aku mengalami transmigrasi sekaligus time travel. Semuanya sungguh di luar dugaan, tapi ternyata semuanya juga masih berkaitan dengan kasusku,” pikir Titi yang kemudian mengabarkan plat nomor mobil jeep hitam milik Jeam, kepada Bian.

“Sepertinya itu memang mobil jeep Jeam. Baji.ngan memang tuh orang!” batin Bian seiring kedua tangannya yang makin mengepal kencang. Tak beda dengan Titi, Bian juga tak sabar untuk memberi Jeam pelajaran. Bila perlu, Jeam harus membayar dengan nyawa Jeam sendiri!

“Saat kejadian, ... mereka menutupi wajah mereka menggunakan masker. Dengan sangat keji mereka merekam aksi mereka kepadaku menggunakan ponsel. Namun sepertinya, ponsel yang mereka gunakan merupakan ponsel Jeam. Harusnya masih ada, meski sebelumnya sengaja dihapus untuk cari aman,” ucap Titi lagi yang kemudian berkata, “Kakak bilang, ... aku sudah tiga minggu di sini. Sedangkan batas pemulihan file yang dihapus dalam sebuah ponsel, biasanya tiga puluh hari setelah penghapusan!”

Terlepas dari semua keterangan Titi dan bagi Bian jauh lebih masuk akal ketimbang keterangan dari polisi. Bian juga yakin, sudah ada rekayasa dan Jeam memang sengaja dilindungi!

“Paling bener memang Mbah Syam saja yang menangani!” pikir Bian benar-benar geram kepada polisi apalagi Jeam dan pihaknya. Akan tetapi, keluhan dari Titi yang kesakitan membuat Bian terjaga.

“Tangan kiriku,” keluh Titi ke tangan kirinya yang diperban. Bian berdalih tulang pergelangan tangan kiri Titi memang patah.

Perhatian dari Bian, terlepas apa yang sudah terjadi ke mereka, membuat Titi berpikir. Jika di dunia nyatanya, ia memiliki sosok yang bisa diandalkan, apa kabar Jia yang sebelum ia tinggalkan, masih dikejar-kejar sang papa?

Bian meminta Titi untuk kembali tiduran sekaligus istirahat. Apalagi sebentar lagi, Titi akan dipindah ke ruang rawat inap biasa, bukan ICU lagi. Selain itu Bian juga berdalih, bahwa bisa jadi sebentar lagi, pihal kepolisian yang menangani kasus Titi juga akan datang. Sementara kini, Bian sengaja pergi ke depan tangga darurat untuk menghubungi sang mbah atau itu kakek. Kakek Bian yang bernama Syam, dan merupakan papa dari papanya, merupakan ketua sekaligus bos mafia. Bian sengaja meminta tolong ke mbah Syam karena ia tak lagi bisa percaya ke polisi.

“Ceritakan sejelas-jelasnya. Karena Mbah merasa, ada hal yang belum kamu sampaikan,” ucap Mbah Syam dari seberang sana dan memang sengaja wanti-wanti.

“Titi sudah sadar dan berdalih pelakunya ada lima. Masalahnya ini Mbah juga baru dapat laporan perkembangan kasus Titi. Karena memang, Mbah sengaja mengawal secara khusus kasus ini,” ucap mbah Syam.

“Penyelidikan yang orang-orang Mbah jalani, nyaris mirip dengan keterangan Titi. Kami bahkan sudah mengantongi beberapa CCTV di TKP dan semuanya memiliki banyak kesesuaian. Masalahnya, ternyata untuk urusan rekap medis Titi juga direkayasa, tapi orang-orang Mbah, berhasil menemukan yang asli. Baik yang sudah dicetak dan sampai dibuang ke tong sam.pah, maupun yang masih di komputer rumah sakit.”

“Namun di rekap ini ditemukan ada enam sperma berbeda. Sementara orang Mbah ada yang bilang bahwa kamu sempat bilang, sebelum Titi mengalami kejadian naas, kami sudah melakukannya lebih dulu ke Titi? Fakta tersebut dikuatkan dengan noda darah di sprai milikmu ketika orang Mbah, melakukan penyelidikan!”

Menyimak itu, jujur Bian jadi ketakutan. Bian deg-degan parah, gemetaran, panas dingin, dan juga berkeringat. Bukan karena Bian ketahuan sudah berhubungan ba.dan dengan Titi padahal mereka belum menikah. Melainkan Bian yakin, ada fakta lain dan itu sangat fatal yang berkaitan dengan sperma miliknya. Namun dengan gentleman, Bian mengaku, termasuk kenyataannya yang sebelum kejadian sudah sampai mengajak Titi menikah. Tak lupa, Bian juga menceritakan mengenai sajian yang ia dan Titi konsumsi di restoran milik Elra. Karena setelah menyantap hidangan di sana, Bian dan Titi sama-sama tak bisa mengontrol diri.

“Jadi, ... apa kemungkinan fatal yang akan terjadi andai kita maju dengan bukti versi orang-orang Mbah, Mbah?” tanya Bian jadi harap-harap cemas.

“Jika kita ungkap semuanya, kemungkinan besar justru kamu yang ditetapkan sebagai dalang kejadian. Namun jika kita tetap mengikuti proses yang bergulir dan itu versi polisi, selain pelaku yang tetap bebas, orang-orang tak bersalah bahkan itu rakyat kecil, akan menjadi tumbal!” tegas mbah Syam dan nyaris persis dengan yang sempat Bian duga.

Terpopuler

Comments

Erina Munir

Erina Munir

perlu d selidiki dri awal

2024-07-15

1

Dahwi Khusnia

Dahwi Khusnia

hadduhh

2024-07-01

0

Hilmiya Kasinji

Hilmiya Kasinji

pak Syam beraksi. apa mungkin memang bian sengaja dijebak , jadi kalo ada apa2 bian ikut terseret ya

2024-06-30

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 44 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!