“Tidak ada pilihan lain. Aku tidak bisa mengandalkan orang lain apalagi mengharapkan pertolongan. Karena tampaknya, ini misi yang harus aku selesaikan!” batin Titi meyakinkan dirinya sendiri.
Setakut apa pun Titi, ia memaksa kedua tangannya bergerak dengan cepat. Segera ia mengambil botol berisi cairan air cabai dan juga racikan lain yang bisa membuat kulit apalagi mata yang terkena, kepanasan.
Pria psikopat tersebut bergerak dengan sangat cepat. Dalam sekejap ia bisa mengunci pinggang Jia menggunakan tangan kiri. Sementara tangan kanan yang memegang belati segera mengukir mata belatinya di leher Jia. Titi yang merasakannya langsung menggeliat sekaligus meringis menahan rasa sakit akibat dampaknya.
Tangan kiri Jia sudah siap menusukkan suntikan ke punggung si pria, sementara tangan kanan baru saja menyemprotkan isi botol kecil ke kedua mata si pria. Namun tahulah kalian apa yang langsung terjadi? Dengan segera, si pria menusukkan belatinya ke dada Jia. Seolah dada rapuh minim daging itu merupakan tempat harusnya belati itu disemayamkan.
“Gila, ini giilaaa! Asli, aku juga merasakan sakit!” batin Titi.
Titi memilih kabur, tanpa berani mencabut belati di dada kanannya. Belati tersebut masih menancap dan memang sampai mengganggu pandangannya. “Jika belati ini dicabut, takutnya Jia justru pendarahan!”
Anehnya, pria psikopat dan Titi curigai merupakan papanya Jia, masih saja mengejar. Titi yang menoleh ke belakang mendapatinya. Dan ternyata, suntikan yang sempat berusaha Titi suntikkan malah berakhir terjatuh di jalan gang.
“Harus lari ke mana, lagi? Ini jalan tembus sampai mana? Jalan tikus gini jangan-jangan hanya sampai kontrakan ujung!” Titi benar-benar ketakutan. Bahkan meski Titi sadar, Jia yang disera.ng.
“Lari ... ayo lari!” ucap si pria psikopat sambil sesekali mengucek matanya. Ia bahkan tetap tersenyum ketika wanita muda rapuh di hadapannya menoleh hingga mereka jadi bertatapan.
“Dia emang enggak waras. Namun, apa yang bikin dia seperti itu? Apa ini masih bagian dari sikap mamanya Jia yang rela Jia disetu.buhi oleh pak Tomy? Sungguh manusia-manusia ibli.s!” batin Titi mendadak oleng ketika seseorang menarik sebelah tangannya.
Betapa kagetnya Titi karena mendadak ada yang menariknya kemudian menuntunnya. Orang itu langsung Titi kenali sebagai Bian. Bian dengan rambut yang masih agak gondrong, berusaha membuka salah satu pintu belakang sebuah kontrakan di sana. Namun ketika pintu tersebut berhasil dibuka, cahaya sangat terang dan membuat Titi merasa sangat silau, malah menarik Titi ke kenyataan berbeda. Kini, di tempat terang benderang, Titi mendengar suara bib bib khas mesin EKG. Ia ada di ruang dengan langit-langit ruangan bercat putih gading. Titi yakin, dirinya ada di sebuah ruang rawat intensif. Sementara ketika Titi menoleh ke sebelah, di sana ada Bian yang duduk sambil menggenggam tangan kirinya menggunakan tangan kanan.
“Kak Bian ...?” batin Titi yang juga mendadak dibingungkan dengan keadaan. Baru juga akan masuk kontrakan, kenapa dirinya seolah sudah ada di dimensi lain?
Genggaman tangan mereka masih sama persis, tapi tidak dengan Bian. Bian yang sekarang tak lagi gondrong dan tubuhnya jauh lebih kekar. Titi jadi berpikir, ia sudah kembali terlempar ke kehidupannya sebagai Titi. Harusnya begitu, tapi benarkah?
Yang membuat Titi lebih tak percaya dan memang tercengang, tangan kanannya yang diinfus, memegang botol mungil berisi racikan cabai bubuk! Merinding, Titi sungguh dibuat bingung dengan keadaan kini.
“Apakah ini berarti, separuh jiwaku memang milik Jia? Lalu, jika aku sudah di sini, apa yang terjadi dengan Jia? Termasuk, ... apakah aku juga akan kembali mengalami time travel maupun transmigrasi lagi? Namun dengan aku bertransmigrasi kemarin, aku jadi tahu bahwa pemilik mobil itu Jeam. Aku juga yakin bahwa pelakunya memang Jeam!” batin Titi gemetaran menatap botol berisi cairan bubuk cabai di tangan kanannya.
“Ti ... Ti, akhirnya kamu sadar!” ucap Bian panik kemudian buru-buru menekan nurse call, sebelum akhirnya dirinya mendekap tubuh Titi menggunakan kedua tangannya.
Titi yang baru mendengar namanya disebut Bian sudah terkejut, makin tegang tak karuan lantaran Bian sampai memeluknya erat.
“Akhirnya aku benar-benar kembali,” pikir Titi.
Awal memasuki tubuh Jia, Titi memang sempat sibuk berpikir bagaimana caranya dirinya kembali. Namun setelah terlalu hanyut dengan misi-misi menyelamatkan Jia, Titi jadi lupa bahwa dirinya pasti bisa kembali.
“Hah? Tiga minggu? Ini aku sudah di sini selama tiga minggu, padahal aku belum genap satu hari menjadi Jia?” batin Titi sampai detik ini masih diam. Justru, Bian lah yang cerewet dan meminta sang perawat untuk memastikan keadaan Titi.
“Ti, katakan sesuatu! Kamu masih bisa ngomong, kan?” sergah Bian.
“Coba mbak Titi dikasih minum dulu, Kak. Mungkin tenggorokannya kering,” ucap salah satu perawat.
Tak tanggung-tanggung, yang mengawasi keadaan Titi ada tiga perawat.
“Sudah tiga minggu. Apakah pelakunya juga sudah diamankan bahkan menjalani proses hukuman?” pikir Titi berangsur membuka sedikit mulutnya lantaran Bian menaruh sedotan untuk mempermudahnya minum.
Seperti biasa, Bian memperlakukan Titi sangat perhatian. Sesekali, bibir berisi milik Bian juga mendarat di kening maupun ubun-ubun Titi. Terlepas dari semuanya, Titi yang jadi insecure kepada Bian atas yang ia alami, masih memilih diam.
Terlepas dari semuanya, Titi menyadari bahwa tubuhnya jauh lebih lemah dari tubuh Jia. “Sepertinya lukaku sangat parah,” pikir Titi yang kemudian tercengang. Sebab di acara televisi yang ada di dinding hadapannya, tengah menayangkan berita mengenai kasusnya. Fatalnya, pelaku yang tengah diwawancara bukan Jeam, melainkan pria asing yang jauh dari watak badung.
“Kasus kamu telanjur viral dan sampai mendapat banyak atensi dari masyarakat. Polisi akhirnya menangkap beberapa pelaku dan terakhir otak dari kejadiannya!” jelas Bian masih berdiri di sebelah wajah Titi.
“Awalnya aku bahkan orang-orang enggak percaya, masa orang setenang dia justru pelaku utamanya. Namun beberapa bukti memang mengarah kepadanya!” ucap Bian lagi, tapi kali ini, langsung dibalas gelengan kepala oleh Titi.
Titi yang jadi sangat emosional juga mencoba duduk, tapi kenyataan tersebut hanya membuatnya jadi kesakitan.
“Tenangkan dirimu! Aku akan selalu ada buat kamu!” tegas Bian yang kembali memeluk Titi. Titi masih berusaha duduk dan tampaknya tengah berusaha mengajaknya berbicara.
“Mungkin ini menjadi salah satu alasanku bertransmigrasi ke tubuh Jia. Karena dengan begitu, aku jadi tahu pelaku yang sudah meru.sakku!” batin Titi yang akhirnya berkata, “Dia bukan pelakunya, Kak! Aku yakin! Aku tahu! Aku ingat, dan dia pun sampai punya video saat aku dibegitukan beramai-ramai oleh mereka!”
Detik itu juga Bian langsung berusaha menatap saksama kedua mata Titi. Ia melakukannya tanpa benar-benar mengakhiri dekapannya ke pada tubuh Titi yang masih sangat rapuh.
“Ya Allah ... beri hamba kekuatan. Agar hamba bisa menghaj.ar Jeam sampai kepalanya pindah menghadap ke belakang secara permanen! Supaya dia tahu, semua masa lalunya membuatnya tak lebih baik dari samp.ah!” batin Titi benar-benar emosi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Erina Munir
bisa begitu ya...botol cabe masih d pegang..😂😂
2024-07-15
1
Dahwi Khusnia
hadduuh kasian yg salah tuduh
2024-07-01
0
Hilmiya Kasinji
selalu dech salah tangkap pak pol ini... ada kambing hitam jadi penjahat aman. kasus selesai
2024-06-30
0