Ketika Titi membuka mata, Titi kembali dikejutkan oleh kenyataan berbeda. Sebab langit-langit ruangan, apalagi tubuh yang Titi tempati bukan lagi bagian dari Jia. Melainkan tubuh Titi sendiri. Titi ada di kontrakan tempat tinggal barunya.
“Aku sudah kembali ke tubuhku ...,” pikir Titi yang berangsur duduk. Yang membuat Titi terkejut, ada yang mengganjal di balik pinggang kanannya. “Masa iya, aku membawa pisau itu?” pikir Titi dan langsung dibuat tak percaya. Sebab apa yang ia pikirkan sungguh kebenaran yang ada.
Pisau yang Titi selipkan di pinggang kanan Jia terbawa olehnya. Pisau bergagang hijau tersebut masih terbungkus kain lap. Keadaan pisau tersebut sama persis dengan keadaan pisau sebelum Titi gunakan untuk mengha.bisi polisi Pram.
“Kenapa pisaunya terkesan belum dipakai?” bingung Titi yang juga jadi ketar-ketir sendiri.
“Jika Den Bian terus memaksa mendekati Titi, yang ada hanya akan membuat keadaan makin runyam.”
Suara barusan Titi kenali sebagai suara sang ibu. Sementara untuk konteks pembicaraannya, Titi yakin karena Bian ada di sana. Akhirnya Bian menemukannya. Sebenarnya Titi kasihan kepada Bian. Terlebih sejauh ini, yang Titi tahu Bian sangat kesepian. Alasan itu terjadi karena rasa cinta Bian yang begitu besar kepada Elra, tapi yang Elra cintai hanya Syukur.
Cinta memang sangat rumit. Setulus apa pun cinta yang mendekat, jika cinta yang dimiliki masih bisa diperjuangkan, cinta yang mendekat pasti akan ditolak. Itulah yang terjadi pada Elra yang terus menolak Bian dan Titi mengetahuinya. Sebab sejauh ini, Titi selalu menjadi tempat curhat Bian. Sementara untuk Elra dan Syukur, Titi yakini keduanya saling mencintai.
Ibu Tuti sedang menasehati Bian. Di ruang kontrakan bagian depan, kebersamaan tersebut terjadi. Diam-diam, Titi mengintip dari balik tirai yang sedikit ia geser. Titi berdiri di sebelah tirai selaku pemisah ruang kamar dan ruang depan.
Setelah menunggu agak lama, akhirnya Bian pergi. Titi bergegas kembali ke kasur, tiduran, dan seolah dirinya baru bangun tak lama sang ibu datang. Selain Titi sengaja memilih diam, ibu Tuti juga tak membahas apa pun mengenai kedatangan Bian.
“Kak, ... semoga kamu dapat istri terbaik. Moga saja kamu dijodohkan oleh orang tua kamu dengan wanita yang juga mampu membuatmu sangat mencintainya. Aamiin!” batin Titi yang kemudian pamit ke kamar mandi. Ia tetap membuat pisaunya ada di balik pinggangnya.
Setelah membasuh wajah kemudian sisiran, Titi sengaja pamit.
“Mau ke mana?”
“Cari kerja, Bu.”
“Cari kerja apa menemui Den Bian?”
“Cari kerja Bu.”
Setelah hanya menatap kecewa sang putri, ibu Tuti berkata. “Tadi den Bian ke sini. Dia bilang semuanya. Dia bersikukuh ingin menikahi kamu karena dia ingin tanggung jawab. Namun Ibu bilang dia tidak perlu tanggung jawab kepadamu meski dia mengaku. Bahwa sebelum kamu menjadi korban malam itu, ... dia sudah lebih dulu melakukannya kepadamu!” Ibu Tuti menyadari bahwa dirinya menjadi bersikap makin dingin kepada sang putri.
“Ya sudah, apa yang Ibu katakan sudah benar.” Titi meraih tasnya dan segera menyalami tangan kanan ibunya dengan takzim.
Ibu Tuti yang mendadak merasa sangat kecewa kepada sang putri semata wayang, tak sedikit pun menggubris Titi. Jangankan melepas kepergian Titi hingga depan kontrakan. Sekadar membalas salam serta melirik kepergian Titi saja, tak lagi ia lakukan. “Padahal biar bagaimanapun, putriku korban. Namun rasa kecewa ini benar-benar tak kuasa aku redam!” batin ibu Titi menyesali keadaannya. Ia menangis tanpa suara bahkan sekadar air mata. Namun, dadanya terasa amat sesak hingga ia jadi kerap menghela napas untuk beberapa kali.
Titi melewati setiap gang sempit yang kanan kirinya merupakan kontrakan padat. Ia berjalan kaki dan sesekali harus berbagi jalan dengan orang lain. Suasana di sana tetap ramai meski kini Titi dapati sudah pukul setengah dua siang. Seperti kejadian sebelumnya, meski Titi menghabiskan waktu cukup lama ketika menjadi Jia, saat kembali menjadi dirinya, perbedaan waktu yang Titi lewatkan memang tak terduga.
“Ketika seorang wanita menjadi korban pelec.ehan sek.sual. Mereka sungguh hancur dan harus menanggung malu seumur hidup mereka. Dan itu juga yang sedang aku rasakan. Cara orang-orang memperlakukanku seolah aku wanita hina yang telah dengan sengaja jual di.ri. Seolah aku menikmati apalagi memetik hasil melimpah dari keadaanku,” batin Titi.
“Parahnya, bukan hanya orang lain yang akan menganggap aku jadi berbeda—hina. Karena orang terdekatku, termasuk ibu, juga sudah melakukannya,” batin Titi lagi. Ia berangsur menyeka sekitar matanya yang basah oleh air mata.
“Lalu, bagaimana dengan kelanjutan kasusku? Orang-orang yang ditetapkan sebagai tersangka bukanlah pelaku yang sesungguhnya. Terus, apa kabar Jeam sekarang? Ah iya ... pak Tomy merupakan petinggi. Satu tahun lalu pak Tomy masih berstatus sebagai jendral.” Titi yang masih berbicara dalam hati segera mengeluarkan ponselnya. Ia berdiri persis di sebelah pintu masuk gang menuju kontrakannya.
Jendral Tomy menjadi kata kunci yang Titi ketik di pencarian internet. Tanpa menunggu lama, sederet foto maupun artikel langsung bermunculan. Dari artikel kesuksesan sang jendral dalam bekerja, juga beberapa foto sang jendral termasuk ketika sedang bersama Jeam. Setelah Titi cari lagi, ternyata sampai ada foto pak Tomy dengan ibu Jihan.
“Ini foto-foto dari dua tahun lalu. Terakhir itu postingan setengah tahun lalu. Pantas kasusku sat set tapi asal tangkap biar dianggap sudah kelar. Ternyata permainan sang jendral!” batin Titi yang kemudian dibuat syok oleh kehadiran polisi Pram.
“Apakah ini alasan pisau dapurnya sampai ikut kepadaku?” pikir Titi.
Polisi Pram sungguh masih hidup. Pria itu tampak sehat meski tubuhnya makin kurus dan sekitar matanya pun hitam cekung. Jantung Titi langsung berdetak sangat cepat, tapi sebisa mungkin Titi sengaja menghindar. Sambil mengantongi ponselnya ke dalam tas, Titi melipir. Titi pura-pura tak melihat polisi Pram. Namun, tangan kanan polisi Pram dengan segera meraih lengan kiri Titi kemudian menariknya. Tubuh Titi yang mungil dan memang sangat kurus, langsung tertarik dengan sangat mudah.
Tanpa berkata apa pun, polisi Pram langsung menyeret paksa Titi masuk ke dalam mobil pajero warna putih di sebelahnya.
“Apakah akan ada pembu.nuhan kepadanya lagi?!” pikir Titi yang dikejutkan oleh kemunculan Syukur.
Syukur yang mendadak datang dari gang sebelah, sudah langsung membogem wajah polisi Pram dengan brutal. Sementara di waktu yang sama, mobil Bian juga mundur kemudian berhenti tak jauh dari mereka. Selain itu, Bian juga turun dari mobil. Titi menyaksikan semua itu, meski pada akhirnya, dirinya tetap dibawa kabur menggunakan mobil pajero tersebut. Karena di depan memang sudah ada yang duduk di belakang kemudi.
Meski sempat diamuk Syukur, polisi Pram yang seolah memiliki banyak nyawa juga segera lari menyusul mobil pajero yang mengangkut Titi. Polisi Pram bahkan berhasil masuk, meski sebelumnya sempat dihadang Bian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Erina Munir
wahh bingung nih aku dengan critanya
2024-07-15
1
Dahwi Khusnia
hadduh kok masih hidup
2024-07-01
0
Hilmiya Kasinji
ya Allah Jia kasian banget ya .. punya ortu semua bejat.
ini Pram ya masih hidup ya ,
2024-06-30
0