“Malam-malam lewat jendela. Apa lagi ini? Apakah dia mau minta jatah? Apakah begini sudah menjadi hal biasa? Apakah ini yang dinamakan cinta? Dia bahkan membiarkan Jia jadi buda.k nafsu papanya! Bajing.an! Bre.ngsek!” batin Titi yang masih mengendalikan tubuh Jia.
Tanpa pikir panjang. Alih-alih memberi Jeam uluran kedua tangan hingga memudahkan pemuda itu masuk. Atau setidaknya melipir dan memberinya jalan, Titi sengaja membuat Jia mendorong Jeam sekuat tenaga.
Semesta alam seolah menyaksikan aksi balas dendam utama yang memang harus Titi lakukan. Malam yang awalnya dihiasi banyak bintang, mendadak digantikan dengan kegelapan. Tak ada lagi bintang apalagi bulan di langit malam ini. Yang ada hanyalah awan hitam yang benar-benar hitam.
“Beb ...?!” teriak Jeam benar-benar syok. Ia ketakutan luar biasa. Jantungnya berdetak sangat kencang, sementara napasnya menjadi tak beraturan. Tubuhnya terlempar melayang di udara dan terancam jatuh ke bawah sana.
Dengan kedua mata Jia yang menjadi sibuk menitikkan air mata, Titi menyaksikan pemuda yang sudah meru.saknya melayang di udara. Tubuh Jeam terlempar tanpa harus membuatnya mengo.tori kedua tangan Jia. Namun, dunia seolah berhenti berputar dan gemuruh petir mendadak terdengar mengerikan. Angin kencang mengiringi hujan deras yang turun. Setelah keadaan mendadak berubah, tubuh Jeam kembali terlempar ke bawah sana dengan cepat.
Dalam diamnya, Titi teringat semua perbuatan Jeam di malam itu. Jeam membawa keempat rekannya. Perbuatan diad.ab kelimanya yang tak segan menghan.curkannya. Pukulan, ludah, tendangan, cacian, bahkan urin yang sengaja diguyurkan ke Titi setelah kelimanya puas menggi.lir Titi. Sungguh ekspresi dan suara antara Jeam saat meru.sak Titi masih sama dengan Jeam yang kali ini menjerit ketakutan. Jeam terus meminta tolong kepada Jia yang Jeam panggil Beb.
“Dasar ib.lis berwujud manusia! Musnah lah kamu dari kehidupan kami! Musnah dan jangan pernah ada lagiiiii! Orang seperti kamu tak pantas ada di kehidupan kami!” teriak Titi jauh di lubuk hati Jia. Teriakan yang membuat Titi merasa sesak luar biasa. Titi sampai membuat Jia sesenggukan parah.
Perbuatan Jeam dan keempat rekannya membuat Titi sangat sakit hati. Titi masih sangat dendam. Apalagi ketimbang masih bertahan hidup dan harus menanggung segala risiko termasuk risiko menyakiti orang-orang yang disayangi, Titi lebih memilih mati. Hingga jerit ketakutan dari pemuda blasteran di bawah sana membuat dada Jia bergemuruh hebat. Jia seolah menyatu dengan ingatan maupun dendam-dendam Titi.
“Bug!”
Suara jatuh baru saja terdengar. Titi yang masih mengendalikan tubuh Jia bisa mendengarnya.
“Apakah dia benar-benar mati? Lalu, di mana dia ketika kasusku justru membuat orang lain menjadi tersangka?” pikir Titi yang segera bergegas pergi.
Tanpa terlebih dulu menutup jendela, Titi membuat tubuh Jia meninggalkan kamar. Padahal, hujan deras yang masih berlangsung disertai angin kencang, sudah membuat gorden tipis maupun gorden tebal basah. Lantai di sekitar sana juga tak kalah basah.
Tanpa terlebih dulu memakai payung, Titi tetap membuat tubuh jia keluar dari rumah. Titi menuju kebun samping rumah selaku tempat Jeam jatuh. Titi prediksi, Jeam jatuh tak jauh dari makam polisi Pram.
Setelah dekat lokasi, benar saja tubuh Jeam justru jatuh di atas makam polisi Pram. Jeam dalam keadaan terbaring sementara kedua matanya melotot. Titi yang membuat tubuh Jia kuyup, mengawasinya dari kejauhan.
“Dia manusia biasa. Harusnya dia mati atau minimal sekarat. Harusnya andai dia tidak ditolong, keadaannya makin parah. Namun, besok si Bibi pasti datang. Aku harus telepon bibi dan bilang agar besok sampai satu minggu ke depan, dia libur dulu,” pikir Titi yang juga langsung melakukan rencananya.
“Terlalu mudah caramu dalam mereg.ang nyawa. Namun setidaknya, kamu akan merasakan kesakitan luar biasa. Karena di detik-detik kesakitanmu, tak ada satu pun yang menolong!” batin Titi.
ART di rumah polisi Pram memang tidak sampai tinggal di sana. Sang ART yang mendadak Titi lupa namanya selalu datang di pagi hari dan akan pulang malamnya.
Setelah menghubungi ART polisi Pram, Titi jadi kepikiran Jeam. Tubuh Jia yang masih basah kuyup Titi bawa lagi ke Jeam. Titi sengaja memeriksa ponsel Jeam.
“Ke aku saja yang jelas-jelas perbuatan krim.inal, dia berani rekam. Jangan-jangan, ke Jia juga. Makanya Jia tunduk bahkan lemah!” pikir Titi.
Setelah menggeledah saku jaket levis Jeam, Titi tak menemukan ponsel di sana. Titi menemukan ponsel Jeam di saku celana jeans hitam panjang sebelah kanan milik Jeam. Bergegas Titi membawa gawai canggih warna hitam tersebut masuk, sesaat setelah menggunakan sidik jari Jeam untuk membuka sandinya.
Sambil terus melangkah, Titi membuka galeri di ponsel Jeam. Isinya sungguh membuat Titi sibuk istighfar. Galeri ponsel Jeam hanya dipenuhi video dan itu video seno.noh Jia. Dari yang sedang bersama Jeam, atau Jia yang beraksi sendiri.
“Ini kesannya Jia yang kirim. Apa ... Jia diancam dan wajib kirim—” Memikirkan itu, Titi jadi berinisiatif mengecek pesan. Dari pesan biasa, maupun aplik.asi chating di ponsel Jeam.
“Emang sakit nih si Jeam. Gillla!” batin Titi yang memang menemukan kecurigaannya. Bahwa pada kenyataannya, Jeam serba mengancam Jia.
Dari jejak pesan antara Jeam dan Jia, Jeam selalu menjadikan jabatan pak Tomy, untuk mengancam Jia. Karir polisi Pram sampai diseret-seret. Ibaratnya, Jeam tipikal yang manipulatif. Tentunya, video Jia yang telanjur Jeam koleksi juga terus menjadi bahan ancaman.
Setelah melihat semua itu, Titi sengaja menghapus semua video, poto, bahkan isi galeri di ponsel Jeam. Kemudian, Titi juga sengaja membuat ponsel Jeam kembali ke setelan pabrik hingga ponsel itu menjadi kosong tak ada isinya lagi.
“Andai aku membawa ponsel ini ke duniaku sebagai Titi, apakah aku juga akan menemukan bukti videoku?” pikir Titi.
“Bahkan aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.”
“Namun aku harus tetap memegang ponsel ini, agar saat aku kembali ke duniaku sebagai Titi, aku bisa mencari tahu isi ponsel Jeam. Harusnya tetap ada videoku!” batin Titi yang sengaja mencoba tidur.
Di tengah tubuh Jia yang masih kuyup, Titi langsung memakai selimut.
“Ini enggak nyaman. Jia bisa sakit,” pikir Titi karena ia tetap tidak bisa membuat Jia tidur.
Titi sengaja membuat Jia ganti pakaian di kamar mandi. Setelah itu, Titi juga sengaja mengganti bed cover Jia. Semua yang diganti, Titi tumpuk di sebelah pintu kamar mandi.
“Ayo kita tidur dan kembali lagi ke duniaku sebagai Titi. Meski jujur saja, aku sudah tidak memiliki semangat untuk hidup menjadi Titi. Namun andai aku diminta tetap jadi Jia, aku juga tidak mau!” batin Titi.
Berbeda dari sebelumnya, kali ini dengan keadaan jauh lebih nyaman, Titi bisa membuat Jia tidur dengan nyenyak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Dahwi Khusnia
kasian banget hidup jia
2024-07-01
2
Hilmiya Kasinji
biasanya update setiap berapa hari sekali kak Ros ?
2024-06-30
0
Firli Putrawan
oh matikah s jeam syukurlah kl mati, tp pas d titi dia msh ada gmn titi bs merubah takdir
2024-06-30
0